Kamis, 31 Oktober 2013

Tara, Ello dan Alfons: Katarsis



Tara Johandi, seorang gadis belia berpikiran dewasa, putri dari pasangan Bara dan Tari Johandi yang merasa lahir dari orang tua yang salah. Sejak kecil Tara sudah membenci kedua orangtuanya, namanya, dan keadaan di sekitarnya. Tak ada panggilan ayah atau ibu kepada kedua orangtuanya, yang ada hanyalah panggilan nama, Bara, atau Tari kepada mereka. Saking bencinya, Tara juga tak ingin dipanggil sesuai namanya, nama gabungan antara Bara dan Tari. Obsesi Tara sejak kecil memang sudah terlihat aneh, ia akan merasa berdesir dan mempunyai sebuah perasaan yang tak tergambarkan apabila ia melihat atau membaui darah, hal ini pula yang membuatnya tak takut kepada siapapun, bahkan untuk melakukan tindakan keji sekalipun. Empat orang anggota keluarga telah menjadi korban kebiadabannya, suatu kebiadaban yang didasarkan rasa benci pada mereka, serta rasa takjub terhadap darah. Satu lagi obsesi aneh Tara yaitu mengenai uang logam lima rupiah. Uang yang selalu dipegangnya, dibawanya kemana saja, hasil dari pengalaman waktu kecilnya saat ia bertemu seseorang yang nantinya mempunyai obsesi besar terhadap diri Tara.

Marcello Ponty, biasa dipanggil Ello, seorang laki-laki yang lahir dari keluarga brokenhome. Ello mempunyai sebuah kelainan yaitu tidak bisa merasaka rasa sakit. Ini kali kedua saya menemukan tokoh yang mengalami kelainan ini. Sebelumnya, ada seorang tokoh di buku The Girl Who Played with Fire yang juga mengalami keadaan seperti ini. Ello yang jauh dari ayahnya tiba-tiba pulang ke rumah ayahnya, ia tahu semua yang telah dilakukan oleh ayahnya, mengenai kotak perkakas, serta mengenai obsesi ayahnya terhadap permainan harta karun dengan menggunakan kotak perkakas sebagai kotak harta karun dan manusia yang dimasukkan ke dalamnya sebagi harta karunnya. Ia mengikuti jejak ayahnya bermain pencarian harta karun dengan satu orang gadis obsesinya selama ini, yaitu Tara Johandi, yang dulu merupakan seorang gadis kecil yang ia beri koin lima rupiah sebagai obat untuk menahan rasa sakit.

Katarsis memiliki arti penyucian diri; suatu metode psikologi untuk menghilangkan beban mental seseorang; dan kelegaan jiwa / emosional diri. Bisa dibilang arti dari katarsis sendiri ketiga-tiganya tergambarkan di dalam novel ini. Arti pertama yaitu mengenai penyucian diri, ini terjadi kepada Ello dan ayahnya. Mereka berdua, terutama ayah dari Ello menganggap dengan bermain harta karun dengan manusia sebagai hartanya mereka telah mencapai sebuah tingkatan diri menjadi lebih suci. Ada rasa puas tersendiri ketika mereka melakukan hal ini, terutama ketika mayat yang berada dalam kotak perkakas ini ditemukan oleh masyarakat luas. Memang, terdengar psycho, tapi ini kenyataannya. Poin kedua yaitu mengenai metode psikologi yang dilakukan guna menghilangkan beban mental sesoerang dengan membiarkan orang itu menceritakan segala yang dirasakannya. Hal ini lah yang dilakukan Alfons terhadap Tara sebagai psikiater. Ini pula dapat terlihat dari diri Tara yang tidak menolak dipanggil dengan nama Tara apabila Alfons yang memanggilnya, sebuah metode yang cukup efektif untuk orang yang berkepribadian seperti Tara. Arti ketiga yaitu mengenai kelegaan jiwa / emosional diri. Inilah yang Tara lakukan terhadap keluarganya sebelum ia bertemu Alfons. Hal-hal yang ia benci ia hilangkan dengan cara apapun bahkan dengan tindakan yang begitu sadis. Terbukti hal ini menimbulkan kelegaan pada diri Tara dengan tak adanya rasa penyesalan sama sekali, bahkan cenderung puas karena ia telah menghilangkan hal yang ia benci. Ya, psycho juga sih.


Dengan sudut pandang orang pertama bergantian antara Tara dan Ello, penulis tidak membedakan font atau memberi keterangan siapa yang sedang berbicara. Hal ini membuat pembaca dibawa untuk berpikir siapakah yang sedang berbicara, apakah Ello atau Tara. Memang, banyak yang mengeluhkan PoV seperti ini, tapi menurut saya hal ini sangat menarik, membuat bertanya-tanya, serta menambah kesan misterius ketika membaca buku ini. Dengan bagian per-babnya yang pendek-pendek, membuat buku ini pun enak untuk dibaca. Namun hati-hati, banyak adegan kekerasan, darah, hingga mutilasi di buku ini, sehingga buku ini terkesan mengerikan ketika dibaca. untuk saya, buku ini memang agak mengerikan ketika bagian awalnya, saya tak bisa membayangkan memiliki putri seperti Tara, yang sedari kecil memiliki rasa benci terhadap orangtuanya, bagian ini membuat saya merinding apabila terjadi dalam kejadian nyata. Lima bintang untuk buku ini.


Judul: Katarsis
Penulis: Anastasia Aemilia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 264 hal.
Tahun Terbit: 2013
Rate: 5/5

4 komentar:

  1. huaaa jadi penasaran abis baca review ini. pernah pengen baca tapi agak ngeri...kayaknya ini lebih berbau psikologi thriller gitu ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. thriller benerann pokoknya, kalo ngilu2 baca mutilasi2, gak direkomendasikan :D

      Hapus
  2. wow, seru ya ceritanya. baca ah buat posbar bulan november besok :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. banngeeeet.. ayo, ditunggu reviewnya mbak :D

      Hapus