Jumat, 30 Agustus 2013

Tentara Juga Manusia



Pernah terpikirkan mengapa tentara harus menjalani latihan yang berat, dengan beban yang berat pula? Sebelumnya saya juga tak pernah berpikir jauh kesana, sampai kemudian saya membaca salah satu buku yang masuk list 1001 Books You Must Read Before You Die, sebuah buku dengan tema peperangan, tema yang juga sesuai dengan tantangan SRC bulan Agustus 2013 dan baca bareng buku bersama komunitas BBI. Jadi, apa jawaban pertanyaan di atas? Sebentar, sebelumnya saya akan memperkenalkan buku yang saya baca, judul buku tersebut adalah The Things They Carried, penulisnya ialah Tim O’Brien, beliau merupakan alumni prajurit Amerika Serikat yang berperang di Vietnam. Perang Vietnam, sebuah perang yang terkenal dan legendaris antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, dengan ditunggangi oleh masing-masing pihak yang sok punya kepentingan, salah satunya Amerika Serikat ini. Dari judul buku ini seolah yang dibahas di buku dengan ketebalan 338 halaman ini hanya seputar barang-barang yang para tentara bawa ketika berperang, tetapi sebenarnya buku ini berisi kumpulan cerita pendek tentang perang Vietnam, tepatnya tentang hal-hal di belakang layar yang terjadi ketika perang Vietnam, jadi buku ini tak membahas perangnya secara membosankan, tetapi membahas hal-hal yang berada di balik perang tersebut. Kembali ke pertanyaan di atas, jawaban dari pertanyaan ini dapat diketahui di bab pertama buku ini. Tahu dong apa saja bawaan utama tentara? Ya, senjata, perlengkapan perang sampai hal-hal remeh-temeh yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Nah, jangan pikir senjata-senjata dan perlengkapan perang yang dibawa itu ringan, maka disinilah perlunya latihan berat dilakukan oleh para tentara tersebut. Jangan salah, bahkan di antara perlengkapan-perlengkapan perang tersebut ada yang dibawa secara bergantian oleh para tentara saking beratnya bawaan mereka tersebut. Setelah pertanyaan tersebut terjawab, ternyata masih ada hal-hal yang dibawa oleh para tentara tersebut, seperti disebut sebelumnya, barang-barang itu merupakan hal-hal yang remeh-temeh bahkan konyol! Ternyata, tak hanya orang Indonesia yang memercayai klenik, tentara Amerika pun demikian, bayangkan saja seorang tentara ada yang membawa foto pacarnya sampai stoking kekasihnya! Bahkan, mereka menggunakan barang-barang tersebut sebagai jimat, terdengar menarik bukan? Apabila jimat-jimat tersebut belum cukup mencengangkan, lihat bawaan lain mereka:  alkitab, makanan ringan (seperti M n M’s), bahkan komik! Ternyata, tentara juga manusia, di balik kesangaran mereka masih terselip kasih sayang dan kebutuhan akan hiburan.

Tidak hanya tentang seputar perang Vietnam, penulis pun menceritakan kehidupan tentara-tentara tersebut sebelum dan pasca perang Vietnam. Contohnya saja si penulis sendiri, ia adalah lulusan SMU yang pintar, namun wajib militer yang diadakan oleh pemerintah mengharuskannya mengikuti perang Vietnam ini. Padahal, di hati kecilnya, si penulis tidak mendukung langkah Amerika ini dalam mencampuri urusan dalam negeri Vietnam. Bahkan, ia mempunyai pemikiran yang memang masuk akal, mengapa tidak orang-orang yang mendukung ikutcampurnya Amerika saja yang berangkat berperang, mengapa mesti melibatkan orang-orang yang hanya ingin hidup damai guna ikut berperang, sungguh sangat tidak masuk akal. Itu adalah salah satu contoh tulisan tentang sebelum perang, ada pula kisah tentang hal pasca perang, bagaimana para prajurit yang telah terbiasa hidup bergerilya dan dekat dengan maut mengalami kebosanan ketika perang berakhir, ya, karena para prajurit ini bukan tentara “beneran”, tak sedikit alumni perang Vietnam yang justru stres dan hidup menggelandang setelah perang selesai, mereka tak tahu harus berbuat apa, mengingat lapangan pekerjaan yang ada pun hanya untuk pekerjaan yang serabutan. Di bagian ini saya melihat cermin dari atlit-atlit yang di masa mudanya membela Indonesia namun terlunta-lunta ketika telah pensiun. Sama-sama kurang kepedulain dari pemerintah.

Hal lain yang dibahas di buku terbitan Serambi ini ialah bagaimana para prajurit mengusir kebosanan ketika sedang tidak berperang. Ada sebagian tentara yang bermain lempar-lemparan bom berkekuatan rendah, ada pula tentara yang “gila” yaitu tentara-tentara yang ber-halloween ria dengan cara mengetuk rumah penduduk sedangkan ia bertelanjang bulat dan tak segan menjarah isi dari rumah penduduk tersebut, sungguh absurd. Kisah-kisah tragis pun tak luput untuk diceritakan di buku yang terbit pada tahun 1990 ini. Memang, yang namanya perang pastinya memakan korban, tetapi tidak semua korban perang meninggal gara-gara peperangan, contohnya saja, ada salah seorang rekan penulis yang bernama Kiowa, ia tewas dalam lumpur yang berisikan tinja! Ceritanya begini, pasukan Amerika memutuskan untuk berkemah di sebuah lapang yang luas, tanpa mereka ketahui, sebenarnya lapangan itu merupakan ladang tinja bagi penduduk Vietnam kala itu. Mungkin kalia bertanya-tanya, kok ada sih ladang tinja? Jangan lupa, setting di buku ini yaitu pada sekitar tahun 1970-an ketika terjadi perang Vietnam. Sebab dahulu masyarakat belum terlalu peduli pula pada kesehatan, maka seenaknyalah lapangan tersebut dijadikan toilet umum raksasa. Nah, lapangan yang tadinya kering kerontang, berubah menjadi lautan lumpur (yang tentunya berisi tinja campur lumpur) ketika sialnya pada malam itu terjadi hujan badai. Lebih sial lagi, Kiowa tertembak oleh tentara Viet Cong tanpa bisa diselamatkan rekan-rekannya. Makin sial ketika ia malah terhisap lumpur yang berisikan tinja tersebut dengan sukses, tanpa mampu tertolong lagi nyawanya. Masih banyak kisah-kisah yang di luar nalar kita terutama yang awam dengan medan peperangan di dalam buku ini, ada pula kisah tentang seorang tentara yang berhasil mendatangkan kekasihnya ke medan perang di Vietnam ini, luar biasa bukan? Sayangnya kisah tentara ini berakhir agak tragis karena si wanita akhirnya ikut terjerumus dalam dunia peperangan dan menjadi wanita yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.

Kumpulan cerita dari Tim O’Brien ini sangat layakk masuk list 1001 Books You Must Read Before You Die, selain membuka wawasan baru tentang dunia peperangan, terselip juga beberapa kutipan atau petuah dari penulis, yang intinya bahwa perang itu tidak menguntungkan siapa-siapa, hanya akan muncul penderitaan dari sebuah peperangan. Membaca buku ini pun membuat pembacanya seolah merasakan seperti apa medan perang sesungguhnya, dan juga seakan ingin menerangkan kepada masyarakat banyak bahwa tentara juga manusia, punya rasa punya hati walaupun senjata mereka pisau belati. Oh ya, satu hal lagi, tak seperti buku-buku 1001 pada umumnya yang berat untuk dicerna, buku ini mudah dimengerti, bahkan terjemahannya pun enak dibaca, apalagi banyak hal-hal baru yang dapat dieksplorasi dan diketahui dari buku ini. Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca, baik itu pecinta militer ataupun bukan, karena menurut saya buku ini sangat layak mendapatkan bintang lima.


NB: kisah ini merupakan kisah fiksi yang terinspirasi dari kejadian-kejadian non fiksi yang terjadi pada perang Vietnam di tahun 1957 sampai tahun 1975.


Judul: The Things They Carried
Penulis: Tim O'Brien
Penerbit: Serambi
Tebal: 338 hal.
Tahun Terbit: 1990 (1st) / 2008 (terjemahan)
Rate: 5/5

2 komentar:

  1. terjemahannya bagus nggak puh?

    BalasHapus
  2. Bagus puh, ga ada kata2 yg ganjel kok menurut saya mah

    BalasHapus