Rabu, 20 Juni 2012

Genggaman tangan




Solo, Jawa tengah, pertengahan 1998.

Liburan sekolah kali ini aku bersama keluargaku mengunjungi paman-bibiku di kota Solo. Sebenarnya di Karang Anyar sih, tapi entah kenapa lebih familiar dengan sebutan Solo saja di keluarga kami. Sekitar pertengahan tahun ini sebenarnya sedang ada pesta sepakbola dunia di Prancis, tapi apa boleh buat, terpaksa aku tertinggal beberapa pertandingan, biar nanti aku menonton di rumah bibiku saja, batinku.

Beberapa hari di Solo, kami jalan-jalan seolah gak mau rugi, mulai candi Prambanan, Candi Borobudur, hingga Keraton Yogya kami kunjungi. Tidak lupa juga toko baju dagadu kami sambangi, maklum, belum begitu banyak produk dagadu yang ada di daerah kami, jadi mumpung jalan-jalan ke Jawa Tengah, sekalian saja mampir.

Hari terakhir di Solo, rencana dadakan muncul, yaitu untuk mengunjungi Tawang Mangu atau Grojogan Sewu. Ya, setelah berputar-putar di Jawa Tengah – Yogya, rasanya ironis apabila obyek wisata yang dekat dengan rumah bibi tidak kamu kunjungi, maka dari itu diputuskan siang itu untuk berangkat. Sekitar pukul 13.00 kami berangkat, cuaca cerah dan lumayan agak panas. Perjalanan pun memakan cukup waktu, maka kuhabiskan waktuku untuk tidur di mobil. Sekitar pukul 15.30 kami sampai di Tawang Mangu, akhirnya aku berhasil menginjakkan kaki disini, setelah sebelumnya hanya mengetahui tentang Tawang Mangu ini di teks buku Bahasa Indonesia. Tanpa pemberitahuan, tiba-tiba hujan muncul, tidak terlalu besar, namun menyurutkan niat keluargaku untuk turun dari mobil. Ayahku akhirnya memutuskan untuk turun hanya berdua saja denganku, karena beliau melihat betapa aku sangat ingin untuk mengunjunginya.

Disinilah aku, di bawah hujan rintik-rintik, aku menyaksikan air terjun Tawang Mangu dari dekat, juga ikut merasakan air yang ada disana, yang dipercaya orang sebagai air yang suci, air yang bisa menyembuhkan penyakit. Kami juga menyaksikan monyet-monyet yang memang banyak tersebar di Tawang Mangu. Tidak lama aku disana, karena hujan semakin deras. Kuputuskan untuk menyudahi perjalanan ini, dan mulai naik kembali menyusuri Grojogan Sewu. Tak disangka, di tengah perjalanan, banyak ranting yang jatuh hampir menimpa kami. Aku pun menggenggam tangan ayah keras-keras, karena takut kehilangan pegangan dan juga tertimpa ranting-ranting yang berjatuhan. Bisa dibilang inilah saat pertama kami berpegangan tangan dengan erat, karena sudah menjadi rahasia umum di keluarga kami, bahwa aku dan ayah seperti tikus dan kucing, tak pernah akur, apalagi sampai bergenggaman tangan. Setelah perjalanan yang agak melelahkan, kami pun sampai di mobil, tanpa kurang apapun, dan untungnya tidak tertimpa ranting-ranting yang berjatuhan.

Malamnya, kami sekeluarga mengakhiri liburan dan melanjutkan perjalanan pulang. Malam itu adalah malam final pesta sepakbola dunia antara Brazil dan Prancis, dan aku harus puas hanya mendengarkan siaran langsung final ini di radio mobil.


Juni 2012

Aku menulis cerita ini di suatu tempat, mungkin kau bisa menyebutnya surga. Malam di saat kami pulang itu, telah terjadi kecelakaan hebat yang menimpa mobil kami. Perjalanan pulang yang berlangsung tengah malam, disertai hujan lebat dan juga kurangnya konsentrasi ayahku ketika mengendarai mobil karena terbagi dengan mendengar siaran langsung sepakbola, telah merenggut nyawa kami sekeluarga. Mobil kami menabrak pembatas jalan, dan terjun ke jurang setinggi 10 meter. Hingga saat ini, mobil beserta seluruh jenazah keluargaku masih belum bisa ditemukan polisi.

Oh ya, genggaman tangan antara ayah dan aku yang terjadi pertama kali di Grojogan Sewu itu akhirnya juga menjadi genggaman tangan terakhir di antara kami. Di dunia.

20 komentar:

  1. kenapa harus jauh banget setting waktunya? dari tahun 1998 ke 2012?
    overall, bagus pooh
    aku merinding

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya juga ya?:think:
      mungkin udah agak dewasa kali di "sana" :O

      makasih mbak mot :beer:

      Hapus
    2. yee... emangnya orang mati nambah umur, ntar mati lagi dah tuh #hammer

      Hapus
    3. *sigh*
      jawaban pamungkas: namanya juga fiksi...

      Hapus
  2. Wow... catatan dari surga :D

    BalasHapus
  3. cerita ini bikin gw inget si Katy Perry
    "And in another life
    I would be your girl
    We keep all our promises
    Be us against the world"

    matinya taon 1998 bikin suratnya 2012, 14 taon di surga ngapain aja hayoooo...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akhirnya gw tau jawabannya: kenapa baru menulis sekarang? karena baru ada acara #FF ini sekarang :cool:

      btw, apa hubungannya ama KatPer?:bingung

      Hapus
    2. :hammer:
      baca liriknya dong puh :p

      Hapus
    3. gak ngerti english :malu:

      lagian aneh, ini kan bukan cerita cinta...:ngacir;

      Hapus
    4. emang bukan, gw kan memposisikan diri gw jadi ceweknya tokoh yang mati di cerita ini.. :P

      Hapus
    5. 98 woy, masih SMP, belom pacar2an :O

      Hapus
  4. lha, cinta mah ga kenal umur puh.. :D/

    BalasHapus
  5. ternyata surga jauh lebih modern daripada Indonesia ya.. Internet sudah menjangkau surga tapi sada bagian dr Indonesia yang listrik aja belum terjangkau. semoga 2 tahun lagi ada kesebelasan surga ikut piala dunia ya ;)

    BalasHapus
  6. Itu sih, belum di surga kali puh,.. harusnya bukan catatan dari surga, tapi catatan dari alam barzah,.. kan belum kiamat,.. wkwkwkwk.... :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Korban Nephilim dan sejenisnya,.. hihi,.. :D
      Jadi ini kategorinya fiksi fantasi y puh? :p

      Hapus
    2. fiksi fantasi :nohope:

      sebenernya ini fiksi non fiksi fantasi :D

      Hapus