Jumat, 19 April 2013

Pusat dan Bayang-bayang



Judul: Lalita
Penulis: Ayu Utami
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal: 256 hal.
Terbit: September 2012
Rate: 4/5




Sastra. Mudahnya, sastra merupakan sebuah tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Dalam cakupan yang (sangat) sempit, menurut saya pribadi sastra merupakan tulisan yang di dalamnya mengandung kata-kata yang tidak lazim dipakai. Dengan kata lain, sebenarnya kata-kata tersebut memang ada dan masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, namun sangat jarang orang mempergunakannya dalam kegiatan dan percakapan sehari-hari. Bahkan, sekedar artinya pun kebanyakan orang tidak tahu. Maka itulah definisi sastra menurut (kesempitan pandangan) saya.

Sastra Indonesia. Setiap karya sastra yang dibuat di Indonesia, maupun yang menggunakan Bahasa Melayu sebagai akarnya, dapat dikategorikan sebagai Sastra Indonesia. 28 April, sebagai hari wafatnya Chairil Anwar “dahulu” diperingati sebagai hari sastra nasional, ini sebelum adanya “pengesahan” pemerintah yang akhirnya menetapkan 3 Juli sebagai hari sastra nasional.

Salah satu angkatan yang ada pada dunia sastra di Indonesia ialah Angkatan 2000-an. Angkatan ini melahirkan sastrawan-satrawan yang mempunyai karya sastra yang tidak kalah dengan angkatan-angkatan sebelumnya. Bahkan, ada beberapa karya angkatan ini yang telah dialihbahasakan ke dalam bahasa asing, sungguh sebuah prestasi yang tidak main-main. Ayu Utami merupakan salah satu sastrawan yang masuk ke dalam Angkatan 2000-an ini. Salah satu bukunya yang terbit pada tahun 2012 kemarin, Lalita, dalam pandangan sempit saya bisa dikategorikan sebagai karya sastra, karena tidak sedikit kata-kata yang beliau gunakan merupakan kata-kata yang asing dan sastra banget.

Dalam buku ini banyak disinggung mengenai Pusat dan Bayang-bayang. Penjabaran sederhana tentang “pusat” dan “bayang-bayang” ini secara cerdas Ayu menggunakan sebuah daun semanggi (clover). Pusat; ia memberikan contoh sebuah Peta Daun Semanggi (Clover Leaf Map) karya Heinrich B├╝nting, dimana sebuah kota yang bernama Jerusalem ia gambarkan sebagai pusat dunia yang berada di tengah-tengah benua Asia, Eropa, dan Afrika (lihat gambar). Bayang-bayang; ia gambarkan juga sebuah daun semanggi berwarna hijau dengan titik hitam di tengahnya. Apa kaitannya dengan bayang-bayang? Akan saya jabarkan kemudian melalui percobaan sederhana di akhir bahasan ini.

Spoilerfor Pusat


Spoilerfor Bayang-bayang


Seperti buku-buku yang telah Ayu tulis sebelumnya, ia membagi buku ini ke dalam beberapa bagian yang terdiri dari beberapa bab. Lalita ini terdiri dari tiga bagian, yaitu Indigo, Hitam, dan Merah. Perlu diingat dan diketahui, Lalita ini merupakan serial dari buku Bilangan Fu, jadi tokoh-tokoh utama yang ada di dalam Bilangan Fu, yaitu Sandi Yuda, Parang Jati, dan Marja, menjadi tokoh utama pula di dalam buku ini.



Indigo
Latar belakang cerita berada di Jakarta. Warna-warna digunakan Ayu sebagai gambaran tentang kota Jakarta yang menjadi bagian kehidupan Sandi Yuda. Warna kusam-kumuh dan hitam-putih untuk suasana jalanan Jakarta yang penuh polusi dan kendaraan umum yang semrawut. Warna digital untuk Plaza Indonesia yang begitu gemerlap, penuh dengan lampu dan berkebalikan seratusdelapanpuluh derajat dengan suasana di luar. Di bab awal ini pulalah Yuda bertemu dengan Lalita, seorang perempuan indigo, baik dalam arti tersirat maupun tersurat.

Indigo. Sebuah warna biru keunguan. Indigo. Kemampuan indera keenam, melihat hantu, meramal masa depan, bahkan melihat masa lalu. Secara tersurat, Lalita berpenampilan indigo, tanktop ungu ketat, sepatu biru gelap, lensa kontak nila, sepuhan mata warna bulu merak, sampai menghisap rokok ramping ungu. Secara tersirat, Lalita mengakui bahwa ia indigo, bisa melihat masa lalu, bahkan mengakui bahwa ia telah hidup di masa lalu. Abad ke-9 ketika pembangunan candi Borobudur berlangsung; pada suatu masa di Tibet; dan di Transylvania, ketika dongeng, mitos, cerita tentang vampir dan drakula secara luas beredar.

Lalita. Nama lengkapnya ialah Lalita Vistara. Nama ini diambil dari sebuah relief di candi Borobudur yang menceritakan tentang riwayat hidup Buddha. Bisa dibilang Lalita sangat tergila-gila pada sejarah Borobudur ini, sehingga nama Lalita ini ia gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Ada pula pengaruh pastlife-nya ketika hidup di abad ke-9 yang menyebabkan ia mengganti namanya menjadi Lalita Vistara. Lalita ini seakan hidup dibalik topeng indigonya. Jarang orang melihat ia tanpa kostum dan riasan indigo-nya, bahkan kakaknya sendiri menyatakan bahwa Lalita berpenampilan tanpa indigo hanya ketika ia mati.

Indigo di bagian awal buku ini pun merujuk kepada sebuah buku. Dinamakan buku indigo karena warnanya. Isinya bukan sembarangan, karena buku ini merupakan warisan turun-temurun dari kakek Lalita yang berhubungan dengan kehidupan di Tibet, Borobudur dan sebuah ilmu yang dipelajari oleh kakeknya bersama dengan Sigmund Freud, seorang tokoh nonfiksi, yaitu ilmu psikoanalisa.

Di dalam bagian indigo ini pula saya menyimpulkan buku ini termasuk kategori sastra. Kata-kata seperti wewajah, pepohon, merupakan kata yang sangat jarang digunakan. Bahkan, Ayu pun dengan jeli memadukan kata-kata tersebut dengan kata-kata modern, seperti jayus, futuristik, robotik, sehingga tercipta sebuah karya sastra yang enak dibaca, tidak terkesan lawas tetapi juga masih memiliki unsur “lawas” tersebut.




Hitam
Dari Indonesia, sejenak kita beralih ke Paris, sekitar tahun 1889. Anshel Eibensch├╝tz, kakek dari Lalita, pemilik sekaligus penulis buku indigo yang dimiliki oleh Lalita. Selain Sigmund Freud, muncul pula tokoh nonfiksi yang dengan apik di-mix oleh Ayu Utami dengan cerita fiksi ini. Tokoh ini ialah Carl Gustav Jung, seorang psikolog. Di sini diceritakan bahwa Carl ialah sahabat kental Anshel. Mereka berdua berguru pada guru yang sama, yaitu Sigmund Freud. Namun semuanya tampak hitam bagi Anshel. Perbedaan prinsip dan pandangan antara dirinya dengan Freud membuatnya dicampakkan oleh Freud. Hal ini memaksanya berjalan sendiri di keyakinan yang diyakininya.

Hitam bagi Anshel bukan dalam hal ini saja, ketika kehilangan ayahnya pun Anshel mengalami hal yang tidak mengenakkan. Ayahnya tewas dan hilang begitu saja ketika sedang mengalami perjalanan. Faktor keyahudian beliaulah yang membuatnya tewas. Dari sinilah Anshel merasakan hitamnya akalbudi manusia yang telah mati.

Di bagian “hitam” ini, diceritakan pula kakek moyang dari Anshel. Siapa yang tidak mengenal Vlad Dracula? Ya, Dracula merupakan kakek moyang Anshel. Berhubungan dengan hitam dan kegelapan pula, siapa yang tidak mengenal kekejaman Dracula? Salah satu tindakan terkenal dan tersadisnya ialah menyula. Menyula ialah suatu cara untuk membunuh manusia dengan pasak kayu yaitu dengan cara menusukkannya lewat punggung menembus dada/perut, atau dari lubang (maaf) dubur hingga menembus mulut. Tidak hanya itu saja, Dracula mempunyai suatu kebiasaan ganjil, yaitu membariskan mayat-mayat yang ia sula secara rapi dan berjajar. Ilustrasi di buku ini dapat dilihat pada halaman 91.

Sula dan menyula pun menjadi sebuah kata baru bagi saya, dan semakin menegaskan karya ini sebagai sebuah sastra. Sekali lagi, dalam pandangan sempit saya.

Spoilerfor Sula


Merah
Kembali lagi ke masa kini dan kembali berlatarbelakang di Indonesia. “Merah” kembali bercerita tentang Yuda, Jati dan Marja. Lalita menjadi tokoh yang dicari oleh Yuda pada bagian ini. Bukan hanya Lalita, buku indigo-nya pun banyak dicari orang dengan berbagai motif. Salah satu pihak yang mencari buku ini ialah negara berbendera warna merah yang mempunyai masalah dengan negeri Tibet. Bahkan negara itu sampai mengirim intelnya untuk merebut buku tersebut.

Satu hal lagi yang menarik tentang pencampuran fiksi dan nonfiksi di dalam buku ini ialah munculnya Buddha Bar. Ya, sebuah tempat yang cukup kontroversi beberapa waktu lalu ini diceritakan “sejarah fiksinya”, mulai dari pesta pembukaannya, hingga penutupannya. Jujur saja, saya sangat kagum atas kejelian Ayu Utami melihat dan menceritakan serta menggabungkan faktor fiksi dan nonfiksi ini.

Terakhir, berkaitan dengan paragraf-paragraf awal di atas. Mengenai “bayang-bayang” dan hubungannya dengan warna merah. Hal ini sebenarnya tercantum di bagian belakang cover Lalita ini, sebuah percobaan yang cukup sederhana. Tataplah gambar daun semanggi berwarna hijau di atas tepat pada titik hitam di tengahnya selama sekitar 20 detik, lalu pejamkan mata atau alihkan pandang ke suatu bidang putih. Bunga merah muda akan tampak sebagai bayangan, ya, sebuah bayang-bayang. Mengapa? Karena hijau dan merah adalah pasangan yang berkebalikan.




Quote:Setiap kita memiliki bayang-bayang. Bukan musuh, melainkan pasangan yang berkebalikan. (p. 233)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar