Selasa, 26 Maret 2013

Cerita tentang Holly dan Tiffany


Perkenalkan, namaku adalah Lulamae. Nama panjangku? Hm, biar aku jawab di akhir saja, karena akhir atau ending yang mengejutkan itu selalu menarik. Aku adalah salah satu tokoh utama di buku Breakfast at Tiffany’s. Ya, buku karangan Truman Capote ini merupakan buku yang fenomenal. Buku ini bahkan dapat dikatakan sebagai legenda. Apa sebabnya? Lihat saja efek yang berhasil buku ini ciptakan. Tepatnya sih, efek yang berhasil buku DAN film ini ciptakan, karena justru filmnya-lah yang menciptakan hal-hal yang spesial terpatri di pikiran setiap orang. Tetapi walaupun begitu, tak akan ada film Breakfast at Tiffany’s apabila buku ini tidak ditulis. Buku yang terbit tahun 1958 ini diekranisasikan pada tahun 1961, dengan Audrey Hepburn berperan sebagai tokoh utamanya. Sebenarnya, Mr. Capote ingin Marilyn Monroe yang menjadi tokoh utama film ini, makanya ia merasa tertipu oleh Paramount sebagai rumah produksi dari film ini. Adapun hal-hal yang menjadikan judul ini sebagai legenda (hingga masuk list 1001 books you must read before you die) akan kubahas belakangan, karena sebelumnya aku akan membahas isi dari buku ini terlebih dahulu.

Terima kasih sebelumnya kepada penerbit Serambi yang telah menerbitkan buku ini pada tahun 2009. Dengan tebal yang “hanya” 163 halaman buku ini dikemas apik dalam ukuran yang tidak terlalu besar dan juga ukuran huruf yang wajar, sehingga enak untuk dibaca. Satu hal yang agak mengganjal ialah bagaimana buku ini beruntaian kata-kata tanpa bab pemisah, sehingga kejadian per kejadian yang ada seolah berlangsung terus menerus dengan alur yang tanpa flash back. Memang, ada kalanya suatu paragraf berakhir dan dipisahkan oleh jeda yang agak panjang dengan paragraf berikutnya, tetapi tetap saja tanpa nomor dan judul bab. Dari tampilan muka buku ini, tergambar seorang perempuan berbaju terusan hitam dengan memegang pipa rokok panjang serta seekor kucing besar yang melingkari lehernya. Wanita di cover buku ini ialah Holly Golightly, si tokoh utama buku ini, si tokoh utama yang melakukan sarapan di Tiffany, si tokoh utama yang tergambarkan sebagai seorang wanita yang hedonis, suka berganti-ganti pasangan, dan hidupnya bebas, tanpa aturan. Aku sendiri? Bukan, aku bukan nama kucing yang melingkar di leher Holly. Kucing ini tidak Mr. Capote beri nama di dalam buku ini, sehingga Holly sering memanggil kucingnya di dalam percakapan-percakapannya sebagai kucingku atau kucing itu. Lalu, apakah cover ini adalah Audrey Hepburn? Si pemeran wanita dalam versi film Breakfast at Tiffany’s? Aku kira bukan, karena kekhasan Hepburn di dalam mengenakan baju terusan hitam dan membawa pipa rokok panjang kurang tergambarkan di dalam cover ini. Itu menurutku lho…

Breakfast at Tiffany’s. Sebelum kalian memiliki bayangan mengenai judul ini, kalian pasti membayangkan bahwa Tiffany itu sebuah nama restoran atau kafe, atau bahkan nama seseorang, aku yakin itu! Kalian salah, karena Tiffany itu merupakan salah satu toko perhiasan terkenal yang ada di Amerika Serikat. Lalu apa maksudnya judul ini? Apabila kalian menonton filmnya, pasti adegan awal film ini begitu membekas di pikiran kalian. Bagaimana seorang Holly turun dari taksi, berdiri di depan Tiffany, lalu mulai mengeluarkan croissant dan minuman ringan yang dibawanya dan mulai sarapan di sana. Itulah sejarah mengenai pemberian judul buku ini. Bisa dibilang Holly ini cukup tergila-gila kepada yang namanya kekayaan, hingga memandangi perhiasan di etalase Tiffany pun dilakukannya sembari sarapan. Berbeda dengan di film, adegan pertama yang melibatkan Holly yang terjadi di buku ialah ketika Holly pulang tengah malam buta dan membunyikan bel di apartemennya sehingga mengganggu Mr. Yunioshi, seorang Jepang. Ada hal menarik mengenai Mr. Yunioshi ini. Penggambaran dirinya amat berbeda antara di buku dan film, sangat berbeda 180 derajat. Beliau memang pemarah, tetapi di film, Mr. Yunioshi digambarkan sebagai seseorang yang konyol dan ceroboh, yang selalu membuat penonton tersenyum.

Kehidupan Holly yang hedonis dan sering berganti-ganti pasangan tergambar jelas di buku ini. Bayangkan saja banyak lelaki yang berlomba-lomba untuk mendekatinya. Tokoh utama selain Holly di buku ini yaitu “aku” (“aku” disini bukan Lulamae; Mr. Capote menggunakan “aku” ini sebagai sudut pandang pertama di dalam buku. Belakangan si “aku” dikenal dengan nama Paul Varjak, tetapi ini pun gara-gara filmnya, entah Mr. Capote mengakuinya atau tidak), yang oleh Holly dipanggil Fred karena kesamaan faktor fisik dengan kakak Holly yaitu Fred Holightly. “Aku” ini seorang penulis lepas, pemuja rahasia Holly, dan tidak sengaja menjadi dekat dengan Holly gara-gara Holly mulai beralih mengganggu si “aku” apabila ia pulang larut malam dan memencet bel. Si “aku” inilah yang bercerita sepenuhnya di buku ini, tentunya juga tentang hubungan Holly dengan para lelaki-lelaki pemujanya. O.J. Berman, Jose, dan Rusty Strawler ialah beberapa lelaki pemuja Holly diantaranya. Hubungan Holly dengan mereka berlangsung pasang surut, namun hubungannya yang paling serius ialah dengan Jose, seorang kaya raya dari Brazil. Bahkan, mereka berdua telah merencanakan menikah dan berbulan madu di Brazil.

Perlu kalian tahu, buku ini tidak hanya berkisar tentang kehidupan hedonis Holly. Ada pula cerita tentang sisi humanis Holly, yaitu ketika ia setiap hari kamis berkunjung ke Sing Sing, sebuah penjara, untuk menemui Sally Tomato, seorang pimpinan mafia. Memang, Holly tidak murni melakukan ini dengan sukarela, karena atas kunjungannya ini Holly mendapat upah dari pengacara Sally. Tugas Holly sebenarnya hanya menemani Sally mengobrol untuk sekedar mengiburnya di penjara. Namun siapa sangka Holly ternyata dijebak dan terlibat dengan sindikat narkotika yang sangat diburu oleh polisi. Oh, Holly yang malang.

Mengenai diriku sendiri, aku baru muncul di pertengahan buku, yaitu ketika Doc Golightly muncul. Doc sendiri ialah seorang tokoh yang mempunyai peranan penting bagi Holly, terutama di masa lalu Holly ketika ia dan Fred terlantar gara-gara menjadi yatim-piatu. Hingga akhirnya Doc mengadopsinya dan mengijinkan Holly tinggal bersamanya di kediamannya. Saat itu, Holly baru berusia empat belas tahun, ketika ia memutuskan untuk pergi dari rumah Doc. Aku turut menjadi saksi kejadian ini, kejadian yang sangat membekas di dalam pikiranku.

Film Breakfast at Tiffany’s sendiri, seperti telah dibahas di atas dirilis pada tahun 1961. Tepatnya pada tanggal 5 Oktober 1961 di New York untuk penayangan perdananya. Untuk penghargaan yang diraih, film ini berhasil memenangkan dua buah piala oscar dalam kategori Best Music (Original Song) dengan lagu Moon River yang legendaris yang dibawakan oleh Audrey Hepburn (seperti dalam gambar),

serta Best Music untuk Scoring of a Dramatic or Comedy Picture. Sayangnya Hepburn gagal dalam meraih piala oscar dalam kategori Best Actress. Bagaimanapun, Hepburn telah berhasil mematenkan ciri khas Holly dalam balutan longdress hitamnya seperti dalam gambar.



Seperti laiknya beberapa film hasil adaptasi dari buku, ada beberapa adegan yang cukup berbeda antara film dan buku. Hal paling mencolok ialah ending yang terjadi, ending “nanggung” pada buku, sangatlah berbeda dengan film, karena di film ending yang diciptakan ialah ending khas Hollywood. Ada pula beberapa tokoh yang hanya muncul di film atau di buku saja. Seperti 2-E (ini nama orang lho), “kekasih” dari “aku” alias Paul Varjak hanya ada di film saja, sedangkan Joe Bell, seorang kawan Varjak, pemilik sebuah bar, tidak ada sama sekali di dalam film, padahal ia mempunyai peran yang cukup penting di dalam buku. Namun inilah perbedaan dunia industri film dan buku, pasti ada perbedaan. Yang paling penting ialah aku, Lulamae, selalu hadir baik itu di dalam buku maupun film.


Nah, sekarang akan aku bahas mengapa buku (dan film) ini menjadi legenda. Legenda disini mungkin mengacu pada masuknya buku (dan film) ini ke dalam list 1001 Before You Die. Ya, buku ini masuk ke dalam list 1001 Books You Must Read Before You Die dan filmnya masuk ke dalam list 1001 Movies You Must See Before You Die. Sebenarnya, di buku terbitan Serambi akan kalian temukan bagain khusus di akhir buku tentang pengaruh-pengaruh dari buku ini. Diantaranya ialah dipakainya kata-kata “Breakfast at Tiffany’s” dalam lagu “Let Me Entertaint You” yang dinyanyikan oleh band rock legendari Queen. Selain itu, kartun legendaris The Simpsons pun di dalam salah satu episodenya: “I’m with Cupid” (season 10, episode 14), membuat adegan seperti ini: beberapa lelaki memata-matai tokoh Apu di Springfield’s Tiffany & Co. Alih-alih membeli berlian seperti yang mereka duga, Apu keluar dari toko itu dengan membawa sepotong croissant. Tokoh Chief Wiggum lalu berkata, “Aw, that’s right, they have breakfast at Tiffany’s now.” Ada juga sebuah grup band rock yaitu Deep Blue Something pada tahun 1996 merilis sebuah lagu yang diberi judul Breakfast at Tiffany’s. Bisa dibayangkan bukan, bagaimana populernya Holly dan Tiffany akibat buku karangan Truman Capote ini.

Yah, akhirnya aku harus membuka identitas asliku. Tetapi sebelumnya, aku ingin memberi nilai terhadap buku dan film ini secara keseluruhan. Walaupun aku terlibat di dalam keseluruhan ceritanya, seperti sistem rating di Goodreads, aku menyukai buku dan film ini, jadi bisa disimpulkan sendiri dong berapa bintangnya. Oke, namaku yang sebenarnya ialah Lulamae Barnes, namun setelah menikah aku lebih dikenal dengan nama Lulamae Golightly. Lalu, apa hubunganku dengan Doc, dan terutama dengan Holly? Baca atau tonton filmnya, untuk mendapatkan jawabannya.



Buku | Film
Judul: Breakfast at Tiffany's
Tebal: 163 hal. | Durasi: 115 min.
1958 | First Published | 1961
Penerbit (Edisi Indonesia): Serambi, 2009 | Distributed by: Paramount Pictures
Penulis: Truman Capote | Directed by: Blake Edwards
Cast: Audrey Hepburn, George Peppard, Patricia Neal, Buddy Ebsen
Rate: 3/5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar