Minggu, 14 Juli 2013

Buku tentang Bulutangkis



Out of the box! Sempat bertanya-tanya, apakah buku berjudul “2” ini akan serupa dan segenre dengan karya Donny sebelumnya, “5 cm”. Ternyata sangat berbeda jauh, sangat mengejutkan ketika Donny mengangkat tema olahraga secara penuh dalam buku keduanya ini. Bulutangkis, olahraga paling berprestasi di Indonesia inilah yang coba diangkat oleh Donny dalam buku keduanya ini. Seingat saya, inilah buku Indonesia pertama yang saya baca yang bertema olahraga, unik, hanya itulah yang bisa saya katakan.

Tak hanya mengangkat bulutangkis, tema kekeluargaan dan sedikit bumbu percintaan pun coba Donny angkat dalam buku setebal 417 halaman ini. Bercerita tentang seorang anak yang “berbeda” bernama Gusni. Gusni ini diceritakan semenjak kelahirannya hingga masa ia dewasa. Bisa dibilang, ini adalah biografi Gusni secara tidak resmi. Mengapa Gusni dibilang anak yang “berbeda”? Bayangkan saja, ia terlahir sebagai bayi raksasa, dengan berat mencapai 6,25 kg pada saat kelahirannya. Masalahnya, ia terlahir dari keluarga dengan ukuran badan yang normal, bahkan kakaknya, Gita, pun normal.

Bagian awal buku terbitan Grasindo ini menceritakan tentang proses kelahiran Gusni. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari sini, terutama bagi saya. Bagaimana memberi pengertian pada sang kakak bahwa adiknya akan lahir dan bagaimana memberi pengertian ketika perhatian yang tadinya tercurah kepada sang kakak akan terbagi seiring kelahiran sang adik. Entah, saya merasa bagian ini sangat menyentuh.

Perjalanan berlanjut ketika Gusni bersekolah di SD. Perseteruan-perseteruan masa kecil di sekolah dasar antara cowok dan cewek secara apik Donny ceritakan disini, begitu klasik. Contohnya saja, bagaimana cewek menganggap cowok itu makhluk yang bau, dekil dan jorok, juga sebaliknya, bagaimana cowok menganggap cewek itu makhluk yang cengeng dan sangat mendewakan tempat pensil berwarna pink. Gusni, yang berbadan ekstra besar semula berpikiran serupa seperti itu, apalagi dengan dukungan dari teman se-gengnya yang mempunyai ukuran tubuh yang sama, Nuni dan Ani. Pemikiran Gusni berubah perlahan, apalagi ketika ia bertemu Harry, cowok yang bertubuh serupa pula dan mempunyai makanan favorit yang sama, onde-onde dan choki-choki! Bersama Harry, Gusni saling mencurahkan isi hati, juga berbagi impian dan cita-cita apabila sudah besar nanti, sampai pada tahun 1998, restoran Bakmi Nusantara milik ayah Harry yang juga menjadi impian dan cita-cita Harry hancur akibat kerusuhan yang menimpa Indonesia, dan Harry pun menghilang.

Kehidupan terus berlanjut bagi Gusni, dan disinilah bulutangkis mulai merasuk kedalam jiwa Gusni. Menjadi atlit bulutangkis, itulah impian Gusni sewaktu kecil. Apalagi, Gita merupakan atlit bulutangkis nasional, semakin kuatlah cita-cita Gusni untuk mengikuti jejak kakaknya. Sementara berat badan Gusni tidak juga beranjak turun, akhirnya Gusni mulai berlatih kembali bulutangkis. Sebenarnya, ketika kecil Gusni telah berlatih bulutangkis, namun semua terpaksa berhenti ketika tiba-tiba Gusni pingsan ketika latihan. Disinilah ketegangan buku bercover merah ini dimulai. Serunya pertandingan bulutangkis diceritakan secara apik oleh Donny, walaupun saya sempat bertanya-tanya, apakah bakal sepanjang buku pertandingan ini berlangsung? Syukurnya, hal ini tidak terjadi, karena banyak kejutan yang diselipkan Donny pada bagian-bagian ini, membuat buku ini menjadi agak sulit untuk ditebak. Di bagian ini pun terungkap mengapa Gusni berbeda daripada keluarga lainnya, yang sesungguhnya inilah motivasi terbesar Gusni dalam bermain bulutangkis.

Tidak ada yang sempurna. Itu pulalah yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Saya merasa buku ini agak nanggung. Bagian-bagian awal saya merasa buku ini cenderung komedi, bagaimana keluguan ayah dari Gusni menggambarkan hal ini. Juga banyaknya kata-kata yang ber-italic, cukup mengganggu karena terkadang bagian ini tidak terlalu penting. Juga ada kesalahan fatal menyangkut angka di dalam buku ini. Pembaca yang telah membaca buku ini pasti juga mengalaminya pada saat bagian 130 kg dan 125 kg, sebuah paradoks yang mungkin terlewatkan oleh Donny dan editor buku ini.


Tiga bintang untuk buku yang mempunyai kutipan sangat memotivasi ini: “Jangan pernah meremehkan kekuatan manusia, karena Tuhan sedikit pun tak pernah”. Juga sangat direkomendasikan bagi para pecinta bulutangkis, pecinta nasionalisme serta para pencari motivasi yang ingin belajar tentang semangat dan kekuatan hidup dari seorang Gusni.


Judul: 2
Penulis: Donny Dhirgantoro
Penerbit: Grasindo
Tebal: 418 hal.
Tahun Terbit: 2011
Rate: 3/5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar