Selasa, 29 Mei 2012

Bukan Battle Royale




Satu kata untuk buku ini: Brilian!

Mengapa? Karena jujur saja saya sempat skeptis setelah buku pertama Hunger Games yang begitu berbeda, menawarkan suatu aksi-thriller yang menkjubkan, dan ending yang sangat mengejutkan. Dengan ending yang seperti itu, mungkin banyak pembac buku bertanya-tanya, setelah Hunger Games lalu apalagi? Bukankah Katniss & Peeta telah selamat? Bakal seperti apa buku keduanya? Nah, inilah jawabannya. Suzanne Collins, yang banyak dicibir gara-gara Hunger Games-nya diklaim plagiat dari kisah Battle Royale, akhirnya melepaskan diri dari bayang-bayang itu. Buku kedua ini seperti telah saya bilang di atas, merupakan karya yang sangat brilian, masterpiece. Saya yakin Collins berpikir keras seperti Katniss. Katniss berpikir keras untuk menampilkan hal yang baru dan berbekas serta berkelas, sedangkan Collins berpikir keras tidak hanya untuk Katniss, tetapi juga untuk Peeta dan juga untuk Hunger Games secara keseluruhan. Hasilnya ialah Hunger Games yang lain, Hunger Games yang bisa dibilang best of the best dari Hunger Games yang pernah ada, bertepatan dengan usia ¾ Hunger Games tersebut di negara Panem.

Yang saya salut dari buku ini ialah, bagaimana ide untuk membuat Katniss dan Peeta melakukan hal yang mustahil di depan para juri merupakan hal yang sangat berhasil membuat pembaca tercengang. Siapakah yang menyangka Katniss dan Peeta bakal melakukan hal itu? Saya yakin, para pembaca buku ini pasti juga seperti saya, bertanya-tanya ketika mereka akan tampil di depan juri. Dan hasilnya, voila... dibutuhkan spoiler tingkat tinggi untuk mengungkapkannya.

Ide tentang pemberontakan yang “tidak sengaja” dipicu oleh katniss membuat buku ini berbeda dengan Battle Royale, apalagi dengan setting yang sangat modern di buku ini, membuat bayangan tentang bagaimana Hunger Games itu bisa berlangsung dan berjalan di bawah kendali Capitol hanya bisa dilihat dari ide visual para pembuat film dalam memvisualisasikan dan menerjemahkan teknologi-teknologi di buku ini dalam bentuk film. Jujur saja, mungkin Collins sedikit terbantu dengan adanya film pertama Hunger Games. Bagaimana kamera-kamera bisa memantau para peserta, hingga bagaimana creature-creature yang muncul dalam Games bisa secara tiba-tiba muncul di arena pertarungan. So, film Catching Fire ini saya yakin bakal lebih ditunggu, karena pemvisualisasian keadaan pemberontakan di Capitol bakal lebih terekspos  dan secara jelas lebih terterjemahkan oleh otak kita.

Buku ini sangat layak dibaca oleh siapapun terutama penggemar Hunger Games yang sama seperti saya, skeptis tentang kelanjutan dari buku pertama. Buku ini juga memberi kita pelajaran bahwa kekuatan massa yang tertindas akan lebih memberi pengaruh terhadap terjadinya perjuangan melawan status quo. Saya beri rate 5 dari 5 untuk buku ini. Salut buat Suzanne Collins!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar