Selasa, 05 Maret 2013

Sebuah Review untuk Sebuah Fantasi




Kami terikat dengan dirimu
Jiwa kami adalah jiwamu
Ragamu adalah milik kami
Dan kekuatan kami adalah milikmu


Itu merupakan ikatan antara naga dan para pengendalinya. Suatu hubungan timbal balik yang sebenarnya agak timpang. Mengapa demikian? Karena sebagai seorang pengendali naga, apabila si pengendali mati maka sang naga akan tetap hidup guna mencari tuan yang baru nantinya, sementara apabila sang naga yang mati, maka otomatis si pengendali naga pun akan mati. Tetapi para pengendali naga seolah tidak pernah memikirkan hal tersebut, dia akan sekuat tenaga untuk tetap berjuang bersama sang naga, guna tetap mempertahankan perjanjian yang telah terucap sejak lama antara kaum naga dan kaum manusia.

Buku ini merupakan buku fantasi lokal kedua yang saya baca setelah Nibiru-nya Tasaro GK. Seingat saya belum ada lagi cerita atau buku fantasi lokal yang saya baca dan begitu berkesan selain kedua buku ini. Buku ini ialah buku karangan seorang teman di salah satu forum terbesar di Indonesia, yaitu kaskus. Dicetak melalui jalur indie melalui Leutika Prio, jujur saja saya agak tercengang melihat penampakan dari buku ini. Dengan ketebalan 600-an halaman, kertas putih HVS, ilustrasi naga yang ada pada setiap bab-nya, hingga pembatas buku yang juga berilustrasikan sang naga membuat buku ini berkesan pada pandangan pertama. Tetapi jujur saja, saya kurang melihat korelasi antara cover buku dan ilustrasi-ilustrasi yang ada dengan naga-naga yang ada di dalam cerita. Seolah gambar naga pada cover hanya sebagai formalitas bahwa buku ini mempunyai judul yang berkaitan dengan naga.

Siyan, sang tokoh utama buku ini merupakan tetua naga provinsi Timur, salah satu provinsi dari enam provinsi yang dimiliki oleh kerajaan Avriedhas. Avriedhas ini memiliki seorang raja yaitu Azel. Seorang raja yang sangat berambisi untuk memusnahkan semua pengendali naga, terutama tetua naga dari keenam provinsi guna menghancurkan perjanjian yang telah dibuat semenjak dahulu kala antara kaum naga dan manusia. Tujuan Azel sebenarnya ialah untuk melanggengkan kekuasaannya dan meminiminalkan ancaman dari para tetua naga terhadap posisinya sebagai raja. Provinsi Timur ini merupakan salah satu provinsi selain Barat Daya dan Tenggara yang tetuanya belum takluk kepada raja atau dibunuh oleh sesama warga dari provinsi tersebut guna menghindari siksaan yang lebih berat dari raja. Siyan, yang mempunyai dendam pribadi terhadap Avriedhas akibat perbuatan raja dan ajudan-ajudannya membunuh ayah serta kedua kakak laki-lakinya, hingga membawa kabur ibu dan kakak perempuannya, diam-diam merencanakan untuk melakukan pemberontakan dan meruntuhkan tirani raja Azel. Apalagi posisinya sebagai Tetua Naga Provinsi Timur merupakan posisi yang juga sangat diincar raja untuk dihancurkan, makin memanaskan ambisi Siyan untuk menghancurkan Raja Azel. Mampukah Siyan memberontak dan meruntuhkan Avriedhas?

Dari isi cerita, sebelumnya perhatian pasti bakal tertuju kepada nama tokoh-tokoh yang terkesan aneh dan sulit diucapkan. Siyan, Xiesht, Alant, Lalita, Hises, dan lain-lain. Belum lagi nama-nama tempat dan istilah-istilah yang ada seperti Avriedhas, Da’anrha, Sarakhan, cukup sulit untuk diingat dan dihapalkan, apalagi dilafalkan. Namun, satu pujian layak diberikan atas penamaan klan manusia pada buku ini. Contohnya saja Siyan. Ia memiliki nama ayah Arest Restellyn Dion, maka nama panjangnya menjadi Siyan Restellyn Arest. Begitu pula Arest, dari namanya dapat ditebak bahwa nama ayahnya yang juga kakek dari Siyan ialah Dion, menarik!

Ada lagi sedikit ketidaknyamanan dalam membaca buku ini, suara-suara yang menurut saya kurang penting untuk dibahas, seperti suara pintu dibuka, suara langkah kecil, suara jantung yang berdebar selalu ditulis dalam tulisan yang mengganggu pandangan. Contoh penulisan ini ada prolog awal: ““KRESK...” Suara langkah kecil yang samar terdengar dari arah belakang.”. tulisan “KRESK” ini yang mengganggu, sebabnya tulisan-tulisan ini tidak muncul satu-dua kali, namun hampir sering terjadi, seperti “DEG”, “CKLEK”, dan banyak lagi. Ada baiknya penulis mengurangi penggunaan bunyi-bunyian tersebut. Atau mungkin dapat agak diminimalisir dengan tidak menulisnya dengan huruf kapital semua. Satu hal lagi, nampaknya penulis berhasrat untuk menjadi desainer pakaian. Ini terlihat dari sangat lengkapnya deskripsi pakaian yang digunakan oleh masing-masing tokoh di buku ini. Seperti contoh di halaman 33: “Gadis itu mengenakan pakaian lengan panjang yang longgar, mirip seperti kemeja laki-laki dengan panjang sampai ke lutut. Di pinggangnya terdapat kain putih yang melilit, dengan ikatan yang masuk ke dalam lilitan kain sehingga membuatnya terlihat lebih rapi. Celana panjangnya berwarna senada dengan warna pakaiannya, putih gading, dengan panjang sampai ke mata kaki“. Saya pikir untuk deskripsi pakaian tidak perlu sepanjang itu, karena jujur saja, saya tidak mau pusing-pusing membayangkan pakaian seperti apa yang dideskripsikan tersebut, lebih banyak saya banyak sekilas saja pada saat membahas “mode-mode” tersebut. Ada lagi sih masalah tentang makanan yang sepertinya kok Indonesia banget, sayur bayam, tempe goreng, sambal, sampai-sampai saya berpikir, apakah ini rumah makan sunda? Hehehe. Tapi hal ini tidak terlalu mengganggu dibanding dua hal di atas tadi.

Walaupun paragraf sebelumnya agak banyak keluhan tentang suara-suara dan fashion, namun dari sisi cerita saya sangat menyukainya. Seru, membuat penasaran, jalan ceritanya pun mengalir.  Pembaca seolah dibawa ke alam para pengendali naga, merasakan pertempuran-pertempuran yang terjadi, hingga membayangkan memiliki naga seperti yang dialami Siyan dengan Flyker-nya (Flyker adalah nama naga dari Siyan), membuat iri! Selain unsur action dan petualangan, ada pula unsur romance pada buku ini. Hubungan antar anak manusia yang begitu unik dan mungkin saja benar terjadi di dunia nyata. Satu hal yang membuat kaget ada di akhir buku ini, ketika terjadi sebuah adegan kekerasan yang menurut saya terlalu sadis, sehingga pemikiran bahwa buku ini cocok untuk anak-anak seketika sirna ketika membaca adegan tersebut. Tapi hal ini bukan merupakan nilai minus, karena wajar saja apabila di dalam suatu pertempuran terjadi hal yang demikian. Overall, bintang empat saya berikan untuk buku ini, good job Mbak Dhia, walaupun ending ceritanya sangatlah kentaaaaaaaaaaaaaaang....


Judul: Para Pengendali Naga: Nyanyian Perang di Tanah Naga
Penulis: Dhia Citrahayi
Penerbit: LeutikaPrio
Tebal: 631 hal.
Rate: 4/5

4 komentar:

  1. wah kayaknya menarik nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas, bagus bukunya, cuma di atas itu aja kekurangannya :))

      Hapus
  2. aku baru bisa kasih rate 2 :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. cemugudz ce!
      kenapa cuma bintang 2?

      Hapus