Minggu, 22 September 2013

Epilog: Akhir Perjalanan Roy



Siapa tak kenal dia, Roy anak orang kaya...

Ups salah, itu sih Boy, bukan Roy. Roy justru bukan seorang yang kaya raya, untuk bekal sehari-hari saja ia bekerja sebagai penulis lepas di sebuah majalah. Hebatnya, dari pekerjaan menulisnya tersebut Roy bisa traveling keliling Indonesia bahkan dunia! Di buku yang saya baca ini, Balada Si Roy: Epilog, Roy bahkan sedang berada di India. Dengan gaya backpackernya, pembaca seolah dibawa Gola Gong untuk ikut menyelami dunia backpacker, sambil berkelana berkeliling dunia guna melihat hal-hal apa sajakah yang terjadi di sekeliling Roy, baik itu mengenai dunia backpackernya, hingga adat istiadat serta tradisi yang ada di daerah yang disinggahi Roy.

Kali ini, Roy bertemu dengan tradisi Holy di India sana. Tradisi ini pada awalnya ialah tradisi dimana pada hari  itu Dewa Wisnu diagung-agungkan. Hari itu pula menjadi holy karena menurut legenda, Shinta mengadakan persembahan nyawanya bagi Rama (yang telah dititis oleh Dewa Wisnu) dengan menceburkan diri pada nyala kobaran api. Hari itu juga hari dimana Shinta membuktikan dirinya masih utuh dan suci kepada Rama. Modern ini, tradisi tersebut mulai berubah, dimana orang-orang kini membawa-bawa Holy Water, yaitu air yang sudah diberi pewarna untuk dicoret-coretkan ke orang lain, selain itu, ujung-ujungnya tradisi ini seolah menjadi celah untuk para kaum homo merayakan pesta mereka secara diam-diam.

Dunia backpacker pun tak luput dari kisah cinta. Roy, yang sebenarnya sudah memiliki kekasih bernama Suci di Indonesia, mulai tertarik kepada lawan jenis yang berasal dari Jerman yang bernama Ina. Entah karena memang kesepian atau memang gara-gara benar-benar cinta, Roy mulai dekat dengan Ina bahkan bercita-cita untuk ikut Ina ke Berlin, Jerman. Penulis menceritakan, bahwa kisah cinta sesaat di dunia backpacker ini lazim terjadi, apalagi bagi backpacker tunggal yang lama bertraveling kemana-mana, pasti butuh tambatan hati guna mengisi kekosongan dan kesepian hidupnya. Roy sendiri merasa bahwa ia telah mengkhianati Suci gara-gara hal ini, namun Roy yang dasarnya memang bandel mencoba untuk memaklumi jalan hidupnya ini.

Ada pula cerita ringan lain tentang keseharian Roy di India, dimana Roy memiliki seorang teman anak kecil bernama Kay. Seorang anak yang malang yang mempunyai ayah tukang mabuk, sehingga ia dan ibunya otomatis menjadi tulang punggung keluarga. Belum berakhir sampai situ, tak jarang penghasilan Kay dan ibunya dirampas paksa oleh ayahnya, sebuah kenyataan pahit yang mungkin saja masih terjadi hingga saat ini. Ada pula cerita tentang tukang obat yang ujungnya memoroti orang-orang para penontonnya guna membeli produknya akibat jebakan-jebakan yang  mereka buat dengan sengaja. Sekilas, kehidupan di India dan Indonesia memang tak jauh berbeda.

Epilog, sebuah akhir. Ini adalah petualangan akhir Roy sebagai traveler dan backpacker. Sebuah keputusan sulit terpaksa Roy ambil akibat sebuah peristiwa yang terjadi pada ibunya di Indonesia ketika Roy masih di India. Sebuah peristiwa yang membuat Roy sadar dan mulai menata kembali kehidupannya.

Roy ini sebuah masterpiece karya Gola Gong yang banyak menginspirasi anak-anak muda awal 90-an. Sosok Roy yang “laki banget” banyak membuat orang terkesan dan bahkan menunggu-nunggu sebuah buku yang bertemakan serupa, petualangan seorang lelaki laiknya Ali Topan. Karena memang patut dicermati bahwa jarang sekali ada sebuah buku yang seperti Roy ini. Isi cerita yang ringan dan enak dibaca apalagi ditambah kutipan-kutipan di setiap awal bab membuat buku ini cocok bagi siapa saja terutama yang mempunyai jiwa petualang. Ada satu hal menarik mengenai kutipan-kutipan ini. Saya sempat bingung gara-gara banyaknya kutipan yang berasal dari Heri H. Harris, hingga akhirnya saya menyadari bahwa Heri H. Harris ini merupakan nama asli dari Gola Gong, cukup narsis juga pembaca yang satu ini.


Bisa dibilang, Roy, Boy dan Lupus merupakan teman satu “angkatan”, walaupun mereka berdiri di dunia yang berbeda. Roy di dunia buku dan laki-laki petualang, Boy di dunia film dan laki-laki idola, sedangkan Lupus agak berbeda karena ia seorang yang mempunyai kisah-kisah kocak. Mengenai Roy ini sendiri ada sebuah hal di buku Balada Si Roy ini yang membuat saya agak deja vu, seolah cerita ini pernah saya baca di masa lalu, entahlah, saya merasa buku ini familiar bagi saya. Lima bintang untuk Balada Si Roy, jadi penasaran dengan kisah Roy lainnya.


Judul: Balada Si Roy: Epilog
Penulis: Gola Gong
Tebal: 176 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 1995
Rate: 5/5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar