Kamis, 28 Februari 2013

Learn from Atticus Finch




Pernah bersikap rasis? Contohnya saja menilai orang berkulit hitam dengan sedemikian rupa, bahkan memandang remeh serta rendah? Maka belajarlah dari Atticus Finch, seorang pengacara kulit putih yang rela “ditindas” oleh sebagian kaumnya hanya gara-gara membela seorang kulit hitam yang dituduh melakukan pemerkosaan terhadap seorang gadis kulit putih. Mengapa Atticus patut dijadikan panutan? Karena pada zaman itu (sekitar tahun 30-an) di Maycomb Alabama Amerika sana isu rasialis masih sangat pekat, orang kulit hitam selalu dalam posisi yang sulit. Bahkan di pengadilan yang mengangkat kasus ini, sebenarnya Atticus sudah tahu bahwa dirinya bakal kalah, tetapi ia berhasil meyakinkan warga Maycomb dengan segala analisis-analisisnya bahwa sebenarnya Tom Robinson (si kulit hitam tersebut) tidak bersalah. Hanya keadaanlah yang membuat Tom akhirnya diputuskan bersalah.

Hal tersebut hanya sebagian kecil dari pelajaran yang dapat diambil dari buku To Kill a Mockingbird karya Lee Harper ini. Ya, seolah dari buku ini penulis mengajarkan manusia untuk tidak membeda-bedakan manusia dari warna kulitnya, karena semua manusia adalah sama, apalagi di hadapan-Nya.

Bercerita dari sudut pandang seorang gadis cilik berusia sekitar delapan tahun bernama Scout Finch, anak dari Atticus, Lee membawa pembaca untuk melihat segala sesuatunya dari sudut pandang si anak kecil tersebut. Bagaimana Scout harus berinteraksi dengan tetangga-tetangganya yang kebanyakan sudah berusia tua, bahkan tidak ditemukan anak sebaya di sekitar lingkungan rumahnya untuk dijadikan teman bermain. Maka jangan heran apabila Scout seolah-olah selalu membuntuti kakaknya Jem dalam kegiatan sehari-hari. Hal ini pulalah yang membuat Scout menjadi “laki-laki”, berpakaian seperti laki-laki, bahkan bertengkar dan berkelahi pun ia jalani dengan teman-teman satu kelasnya yang berselisih dengan dia. Sebenarnya ada satu orang anak sebaya yang berada di lingkungan itu, dia adalah Dill, namun sayang dia hanya berada di Maycomb ketika libur musim panas saja. Scout, Jem, dan Dill walaupun hanya bertiga namun selalu berhasil menemukan petualangan-petualangan seru yang penuh makna bagi mereka bertiga.

Selain masalah persidangan di atas, ada dua hal besar lain yang coba diangkat oleh Lee Harper di buku ini. Hal pertama ialah ketika tiga sekawan (Scout, Jem dan Dill) mencoba menguak misteri keluarga Radley, tetangga Atticus di Maycomb yang misterius. Sebenarnya yang coba dikuak oleh mereka bertiga adalah Boo Radley, yang tidak pernah sama sekali terlihat batang hidungnya, hidup selalu di dalam rumah, namun diam-diam berinteraksi dengan anak-anak keluarga Finch dengan cara memberikan barang-barang tertentu melalui sebuah ceruk pohon. Hal kedua ialah ketika Jem dihukum oleh seorang nyonya pemarah untuk setiap minggunya membacakan dongeng untuknya, ternyata ada hal menarik dibalik peristiwa hukuman yang kesannya tak disengaja ini.

Tentu saja peran Atticus disini sangatlah besar dalam menuntun anak-anaknya dalam kehidupan yang penuh prasangka. Dalam kejadian dengan keluarga Radley, prasangka anak-anak tentang Boo Radley yang mereka curigai agak gila dan psycho diluruskan oleh Atticus dengan memberikan pemahaman bahwa tidak semua orang harus bergaul dengan orang lain, dan bahwa setiap orang memiliki hak untuk hidup sesuai dengan keinginan mereka. Sedangkan dalam kejadian dengan Mrs. Dubose (nyonya pemarah), Atticus mencoba memberi pemahaman bahwa sebenarnya Jem telah menolongnya dari ketergantungan terhadap morfin. Sedangkan mengenai hukuman membacakan cerita kepada Mrs. Dubose itu hanyalah sebuah kebetulan belaka, karena dihukum atau tidak, Atticus tetap akan menyuruh Jem untuk membacakan cerita bagi nyonya itu.

Buku ini termasuk buku legendaris di dunia perbukuan internasional. Satu-satunya buku yang ditulis oleh Lee Harper, buku ini berhasil masuk dalam daftar 1001 buku yang harus dibaca sebelum wafat. Buku ini pun berhasil meraih penghargaan Pulitzer kategori fiksi pada tahun 1961. Buku yang telah diadaptasi ke dalam film pada tahun 1963 ini pun meraih kesuksesan dalam layar lebar. 3 piala Oscar diraih pada tahun tersebut, sungguh sebuah prestasi yang mengagumkan. Buku ini pun dapat dikategorikan buku tentang pendewasaan seorang anak dalam menghadapi lingkungannya sendiri, apalagi buku ini memakai sudut pandang seorang Scout Finch. Namun, cukup banyaknya cerita-cerita yang agak berat yang dimuat di buku ini membuat buku ini menurut saya hanya cocok untuk anak usia 15 tahun ke atas di Indonesia. Satu kategori lagi, persidangan dan kasus Atticus yang menyangkut Tom Robinson membuat buku ini juga didaulat untuk mengusung genre legal thriller, suatu genre yang menyangkut kasus-kasus hukum yang berkaitan dengan tindak kekerasan. Apalagi buku ini juga masuk list 100 Crime Novels of All Time.


Judul: To Kill a Mockingbird
Penulis: Lee Harper
Penerbit: Qanita
Tebal: 533 hal.
Rate: 4/5
Rekomendasi Usia: >15 tahun

==================================================================

Buku ini saya baca guna memenuhi tantangan membaca buku-buku Misteri dari @HobbyBuku, buku-buku anak dari @bzee_why, serta baca bareng bulan Februari dengan komunitas @BBI_2011 dengan tema buku yang diangkat ke layar lebar.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar