Jumat, 31 Agustus 2012

Arti Sebuah Koma




Ibuk,

Perjalanan kehidupan sebuah keluarga. Berawal dari seorang ibuk yang melahirkan seorang ibuk lainnya. Ibuk yang menjadi tokoh utama di dalam buku ini. Ibuk yang tidak lulus SD. Ibuk yang membantu ibuk-nya berjualan di pasar. Ibuk yang pemalu, tidak gemar bergaul. Ibuk yang akhirnya dipersunting oleh seorang kenek angkot. Ibuk yang nantinya melahirkan lima orang buah hati. Ibuk yang berambisi membuat anak-anaknya “mengalahkan” dirinya yang SD saja tidak lulus. Ibuk yang beambisi mengalahkan kesulitan dan kemiskinan hidupnya demi ambisinya tersebut.

Tampillah Bayek. Anak laki-laki satu-satunya dari ibuk. Anak yang diharapkan oleh bapak untuk mewariskan pekerjaannya dalam menyetir angkot untuk mencari nafkah. Anak yang setiap kakaknya dibelikan sesuatu oleh ibuk selalu ikut merengek merajuk meminta dibelikan hal yang sama. Anak yang diramalkan oleh orang pintar bakal merubah nasib keluarga ibuk. Anak yang bahkan masih minta ditunggu oleh ibuk ketika telah bersekolah SD. Anak yang akhirnya “mengalahkan” sang ibuk, bersekolah hingga merantau jauhnya ke kota Bogor, Jakarta, hingga New York. Tetapi hati Bayek tetaplah berada di kampung halamannya, Batu, Malang. Tempat kelahirannya, tempat tinggal keluarga besarnya, tempat tinggal ibuk, pahlawannya.

***

Masih bercerita tentang kehidupan sang penulis. Kali ini (untungnya), penulis tidak mengambil sudut pandang seorang anak kecil seperti di buku pertamanya. Buku yang sebenarnya (cmiiw) merupakan kisah hidup si penulis dan keluarganya, namun tetap dikategorikan fiksi oleh penerbit. Mungkin dengan pertimbangan ada beberapa hal yang agak disamarkan disini. Seperti si penulis sendiri, beliau menyebut dirinya Bayek di buku ini. Entah apa arti dari kata Bayek sendiri, namun yang jelas, lewat Bayek ini, penulis secara apik menceritakan kehidupannya secara lugas, dan terkesan apa adanya.  Mulai dari kisah pertemuan ibuk dan bapaknya, hingga perjuangannya ketika hidup di luar negeri, kota big apple, berjauhan dengan keluarganya di kota apel.

Kali ini penulis menekankan bagaimana kisah dan perjuangan orang tua, terutama ibuk, dalam menghidupi keluarganya. Lima anak tidak menghalangi niat ibuk untuk memenuhi ambisinya. Jatuh bangun keluarga ini terlihat jelas disini. Nasib berubah gara-gara anak lelaki mereka, ya, si penulis ini, Mas Iwan Setyawan. Buku ini seolah-olah merupakan suplemen dari buku 9 Summers 10 Autumns yang ditulis oleh ia juga, namun lebih lengkap bercerita tentang keluarga, dan update kehidupan si penulis.

Buku ini sangat mengingatkan pada ibuk. Tidak hanya ibuk sebenarnya, kejadian yang menimpa bapak di akhir-akhir buku juga mengingatkan saya kepada bapak, sungguh sangat menyentuh. Saya juga dapat merasakan kesedihan si penulis ketika menulis bagian tentang bapak ini. Ada yang unik dari judul buku ini: “Ibuk,” ya, ibuk dengan koma di belakangnya, unik. Saya sempat bertanya-tanya, dan saya belum menemukan jawabannya, apakah ini disengaja ataukah tidak. Tetapi, pendapat pribadi saya mengatakan, mengapa judulnya memakai koma, ialah karena, kisah ibuk masih berlanjut terus, belum sampai titik. Seperti juga kasih sayang setiap orang ibuk di belahan dunia manapun kepada anak dan keluarganya, terus berlanjut, seperti koma, dan tidak akan berakhir, seperti titik. Begitu juga mama saya :”). I love you mom.


Judul: Ibuk,
Penulis: Iwan Setyawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Juni 2012
Tebal: 291 hal.
Rate: 4/5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar