Jumat, 15 Januari 2016

Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan - Fitrawan Umar

27845871

Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan. Saya rasa semua lelaki akan berpendapat seperti itu, dan kebetulan Fitrawan Umar mengangkat judul ini sebagai judul buku pertamanya, untuk memberi pencerahan bagi para laki-laki mungkin? :D

Dari segi judul dan cover buku, jujur saja pikiran saya menilai buku ini merupakan sebuah buku sastra berat semacam Eka Kurniawan atau SDD, namun setelah mulai dibuka, perkiraan saya salah total. Buku ini malah merupakan buku romantis, yang agak menye-menye, dan mempunyai tokoh sepasang Ymahasiswa yang masih beradadalam tahap Young-Adult.

Adalah Renja, seorang mahasiswa yang CLBK pada seorang mahasiswi bernama Adelia. Kejutannya, Adel ini merupakan teman SD dari Renja, yang hanya sempat berteman secara singkat saja dengan Renja. Kasus tipu-menipu yang dilakukan oleh ayah Adel-lah yang membuat Adel harus keluar dari SD tersebut, dan pindah, guna menghindari amuk massa. Dalam CLBK-nya, Renja tak semudah itu mendapat apa yang diinginkannya, rupanya Adel sudah kepincut dengan seorang mahasiswa senior yang jabatannya di kampus tak main-main, Ketua BEM! Dengan dibantu sahabat karibnya di kampus, Rustang, Renja berusaha mendapatkan cinta Adel, tak peduli apapun rintangannya. Tak itu saja, sikap Adel yang susah ditebak itulah yang membuat Renja semakin sadar, bahwa wanita itu merupakan makhluk yang sangat sulit untuk dimengerti.

Walaupun termasuk buku yang bisa dibilang bergenre romance, banyak hal positif dan hal baru yang ditawarkan di dalam buku ini. Setting buku yang berada di wilayah Sulawesi Selatan (sesuai dengan asal si penulis) menjadi daya tarik tersendiri buku ini. Bukan hanya dikenalkan dengan Makassar, pembaca pun disuguhi kota lainnya, yaitu Pinrang dan Sidrap, sebuah setting yang bisa dibilang sekarang ini sangat jarang ditemui. Penulis mampu membawa pembaca menelusuri kawasan Sulawesi bagian Selatan secara apik, sekaligus merupakan media promosi yang baik untuk pariwisata di wilayah terebut. Memang, penulis tak secara gamblang menjelaskan alam Sulawesi Selatan, namun tetap hal ini menjadi kekuatan yang beda yang bisa ditawarkan oleh buku ini.

Dunia perkampusan pun tak luput dibawa oleh penulis di dalam buku ini. Seluk-beluk dunia organisasi kampus dibeberkan di sini, mulai dari keaktifan Renja, Adel, dan Rustang di BEM kampus, suasana perploncoan mahasiswa teknik baru, sampai unjuk rasa-unjuk rasa yang diikuti mahasiswa mengenai iklim perpolitikan nusantara yang sedang menghangat. Bagi kalian yang ngampus hanya sekedar datang-belajar-pulang, mungkin hal ini dapat menjadi sebuah magnet guna lebih mengerti tentang dunia politik yang ada di kampus.

Sejujurnya, saya sangat menikmati membaca buku ini. Ada rasa hangat yang terbayang ketika mengenang dan mengingat teman-teman masa lalu di SD atau SMP, sambil membayangkan, bagaimana jadinya bila suatu saat dapat bertemu lagi dengan teman-teman lama di saat sekarang. Saya juga menikmati rasa jatuh cinta Renja kepada Adel, menikmati rasa kesal dan gemas yang Renja rasakan, menikmati juga rasa nostalgia dengan aktivitas-aktivitas organisasi di kampus ketika saya kuliah dahulu.

Terima kasih penulis, penerbit Exchange, dan BBI atas buku ini, semoga penulis makin banyak menelurkan karya yang bermutu dan bermakna, penerbit makin banyak menerbitkan buku berkualitas dan tetap eksis di dunia perbukuan, serta BBI makin concern terhadap dunia perbukuan di Indonesia.  

Selasa, 21 Juli 2015

Lara - Sybill Affiat



Lara: A Dark Story of a Woman. Judul buku ini menurut saya bukan sekedar judul, karena sepanjang saya membaca buku ini, auranya memang gelap, dark, hampir tak ada kisah gembira yang terpancar dari buku ini.

Mungkin, banyak yang bertanya-tanya, apakah genre buku ini, horor kah? Atau memang genrenya ya Dark itu tadi, sebuah buku yang auranya gelap. Semacam itulah, yang jelas bikinn bulu kuduk merinding, juga bikin penasaran, karena kisahnya memang membuat bertanya-tanya.

Larashinta, seorang gadis brokenhome gara-gara kematian sang ayah. Sebenarnya, sang ibu masih eksis, tetapi kematian sang ayah membuat si ibu menjadi sosok yang berbeda, tak ada lagi kehangatan yang ia berikan untuk anak-anaknya. Ibu menjadi sosok yang dingin, tertutup, dan hanya mencurahkan kehidupannya untuk melanjutkan bisnis suaminya, hingga ia pun menelantarkan Lara, dan kakaknya, Saras. Inilah, yang membuat Lara dan Saras kurang kasih sayang, sehingga keduanya tumbuh menjadi orang yang “semau gue”. Parahnya, antara kakak-beradik ini pun interaksi yang terjadi menjadi semakin kaku, apalagi Saras memutuskan untuk pindah ke Singapura, makin sepilah keadaan rumah Lara. Keadaan rumah menjadi semakin parah, akibat dari kelakuan Mbok Yam, pembantu dari keluarga Lara, yang konon katanya masih suka berinteraksi dengan anaknya yang sudah meninggal. Hal ini dikarenakan si Mbok masih belum rela anaknya meninggal.

Keganjilan semakin dirasakan Lara seiring berjalannya waktu. Ia makin merasakan rumahnya kian sepi, kian mencekam. Tak hanya itu, ia pun mengalami kejadian-kejadian yang ganjil, seperti terjebak dalam sebuah lorong yang gelap, bahkan terkadang ia melihat sosok kakaknya dalam keadaan yang ganjil dan menyeramkan, tak mau menjawab apabila diajak bicara, laiknya orang tehipnotis yang pikirannya kosong. Puncaknya ialah, ketika Lara menyadari bahwa ia melihat sebuah sosok yang mirip dirinya sedang berbaring  di ICU sebuah rumah sakit, dalam keadaan koma, antara hidup dan mati.

Seperti sudah disebutkan di atas, sepanjang membaca novel ini saya merasakan aura yang gelap, hampir tak ada tawa bahagia. Namun hal ini yang justru membuat penasaran. Ada dorongan untuk terus membaca sampai mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Alur buku ini memang awalnya agak membingungkan, terkadang kita berada di suatu keadaan yang misterius, dan bab selanjutnya keadaan menjadi normal kembali. Terkadang juga sulit dijelaskan sebenarnya apa yang terjadi pada Lara ketika membaca sebuah bab, semuanya serba random. Nah, untungnya, bagian tengah buku ini mulai terjelaskan, ke mana cerita dari buku ini akan dibawa. Walaupun harus diakui, ketika misteri mulai terpecahkan, bagian seram dan menegangkannya akhirnya ikut hilang.

Saya tak tahu apakah cerita dari buku ini terinspirasi dari kisah nyata atau tidak, karena, saya pikir ganjil sekali apabila komunikasi yang ada di ending buku ini dapat terjadi di dunia nyata, pasti akan menimbulkan kehebohan di masyarakat. Namun apabila hal ini memang benar adanya dan pernah terjadi, mungkin memang inilah yang dinamakan misteri Ilahi.


Ide buku ini sungguh benar-benar baru, mencekamnya dapat, tetapi perlu diberi bumbu horor lagi agar menjadi benar-benar seram, lebih dari sekedar mencekam. Tetapi, yang saya salut, gelapnya benar-benar dapet, baca buku ini, dan coba deh rasakan juga kegelapannya.

Minggu, 24 Mei 2015

Konstantinopel - Sugha



Konstantinopel, dari namanya saja sudah berbau sejarah, tetapi buku thriller lokal ini tak menggunakan sejarah yang rumit di dalam inti ceritanya. Nama Konstantinopel hanya digunakan sebagai nama sebuah kelompok eks-mahasiswa Indonesia yang pernah berstudi di Istanbul, Turki. Menjadi menarik ketika tujuh anggota geng Konstantinopel ini secara kebetulan sangat dekat dengan dunia perpolitikan di Indonesia, ada seorang putri presiden, seorang calon anggota dewan, sampai seorang wartawan yang tulisannya vokal mengkritik pemerintahan berjalan. Konflik dimulai ketika seorang anggota Konstantinopel tewas gara-gara tertabrak kereta dan kehilangan jari kelingkingnya, mulai dari sinilah maut mengincar Konstantinopel, pembunuhan berantai pun dimulai.

Tokoh utama buku ini ialah Bima. Seorang lulusan terbaik STSN (Sekolah Tinggi Sandi Negara) yang didapuk menjadi asisten Waka BIN (Wakil Kepala Badan Intelijen Nasional). Bima bersama si Waka BIN, yaitu Pak Catur, turun tangan untuk terjun langsung menangani kasus ini. Bima, seorang pemuda berusia hampir 23 tahun, masuk ke dalam dunia pembunuhan berantai dalam kasus perdananya sebagai  Asisten Waka BIN. Predikatnya sebagai lulusan terbaik memang terbukti ketika ia berhasil memecahkan kasus ini melalui jalan yang berliku, dan agak lebay.

Buku thriller lokal ini menurut saya segar isinya. Konflik politik dijadikan latar belakang sebuah kasus yang bisa dibilang sadis, membuat buku ini sukar ditebak, apalagi dikaitkan dengan Konstantinopel, pasti menjadi makin sulit ditebak. Jujur saja, saya enjoy membaca buku ini, isinya membuat penasaran akan konflik yang akan terjadi berikutnya, walaupun memang ada bagian di buku ini yang agak konyol, terutama tentang si tokoh utama, yaitu Bima. Entah ya, kalau menggunakan logika, apa mungkin seorang anak ingusan berusia 23 tahun dapat dengan mudahnya bertemu presiden, sedangkan ia hanya asisten dari seorang Waka BIN. Belum lagi, Bima ini kok kadang-kadang polosnya gak ketulungan (sampai gak tau fasilitas T9 di hp), tapi di akhir buku dia berubah, menjelma menjadi seperti Van Diesel di The Fast and the Furious, how could it be?

Ada baiknya, apabila si Bima ini mau dibuatkan sekuel, sebagai detektif partikelir mungkin, penulis bisa belajar dari pasangan Kosasih-Gozali-nya Ibu S. Mara Gd. Memang, agak banyak cerita cinta yang mengiringi kisah pasangan ini, tapi menurut saya, kalau tentang dunia perdetektifan dan perkasusan, cara pemecahan dan penanganan kasus oleh Kosasih-Gozali sangat brilian. Pembunuhan yang terjadi cukup masuk akal, dan tentunya tanpa melibatkan adegan-adegan stuntman yang agak lebay itu. Satu hal lagi, tentang dunia pendidikan, ada satu istilah yang cukup mengganggu saya dalam penulisannya, yaitu bagaimana penulisan “pH”, soalnya di buku ditulis “PH”, yang artinya “Rumah Produksi”, bukan “Derajat Keasaman”.


Lanjutkan, saya yakin dengan penulisan yang lebih matang, Putra Bimasakti bisa menjadi salah satu ikon detektif di Indonesia. Ya, kalau bisa bagian ending di buku ini juga agak diubah, yang adegan lebaynya itu lho, kayanya impossible hal itu terjadi di Indonesia. Mau ditaruh dimana muka Kabareskrim kalau semudah itu diayam-ayamin sama anak ingusan 23 tahun? :)

Jumat, 16 Januari 2015

#19 Karang Setan - #20 Di Pulau Seram (Lima Sekawan; Enid Blyton)


#19 & #20 dari Lima Sekawan ciptaan eyang Enid Blyton.




Karang Setan, si # 19. Episode ini memberikan sebuah hiburan baru bagi para pecinta Lima Sekawan, MercuSuar! Yup, di buku yang ini anak-anak membawa para pembacanya berpetualang di sebuah mercusuar sebagai tempat tinggal atau tepatnya tempat anak-anak menghabiskan liburan. Mercusuar ini kepunyaan si Utik, anak dari seorang profesor kawan dari ayah George yang mendadak menginap di Pondok Kirrin. Karena keadaan rumah yang sempit dan gaduh, sedangkan kedua profesor tadi tak mau diganggu oleh kebisingan, akhirnya anak-anak mengungsi ke sebuah mercusuar.

Senang rasanya sebagai pembaca dibawa melihat-lihat keadaan dan cara kerja dari sebuah mercusuar. Meskipun anak-anak menempati sebuah mercusuar bekas, namun tetap saja fungsi-fungsi dari tiap bagian mercusuar masih dapat diketahui dan digunakan. Apalagi, sepertinya jaman sekarang ini jarang sekali mercusuar disebut-sebut dalam perbincangan sehari-hari.

Khas Blyton, lorong-lorong serta gua bawah tanah tak ketinggalan dalam #19 ini. Begitu pula dengan perburuan harta karun dari masa lampau. Trademark.

Oya, si Utik ini pecinta binatang, ia memiliki seekor monyet yang dinamakan si Iseng, yang akhirnya berkawan akrab dengan Timmy.




#20, Di Pulau Seram. Lagi-lagi anak-anak bertemu pecinta binatang. Kali ini Wilfried namanya. Lebih sakti, karena ia seperti magnet bagi hewan-hewan tersebut. Kelinci, landak, burung, ular, bahkan Timmy! Takluk semua olehnya.

Petualangan anak-anak kali ini sebenarnya tidak sengaja. Kapal yang mereka sewa tanpa sengaja terbawa arus sehingga mendarat di Pulau Seram. Sebuah pulau yang terkenal angker karena dijaga oleh dua orang bersenjata, yang tak segan menembak siapa saja yang mendarat di pulau tersebut.

Masih mengusung trademark yang sama, gua bawah tanah, serta harta karun, kali ini harta karun curian, yang ternyata ditimbun di pulau tersebut, alih-alih margasatwa yang dilindungi di pulau Seram itu.

Kedua buku ini keadaan mencekamnya bisa dibilang "dapet", anak-anak bersinggungan langsung dengan penjahatnya, Sebuah kondisi yang tak didapat di #18.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dua buku terakhir Lima Sekawan (#21 belum punya, begitu juga #16), saya bisa mengambil kesimpulan kalau anak-anak ini merupakan anak-anak yang tajir. Cobain baca deh, terus rasakan makanan-makanan yang anak-anak ini makan. BANYAK BANGET! Gak mungkin kayanya kalau keadaan ekonomi mereka kurang mampu. Ditambah, si George punya sebuah pulau! Tajir bingit kan, hii...

Keadaan lain yang ingin saya soroti, selama petualangan mereka di 21 buku (diandaikan saja dalam 1 tahun ada 4 musim liburan), maka selama 5 tahun berturut-turut, anak-anak ini jarang sekali berlibur bareng orangtua mereka. Kalau bibi Fanny (ibu George), mungkin agak banyak disebut, tetapi orangtua dari Julian, Dick, dan Anne jarang sekali muncul, bahkan identitas mereka hanya disebut sebagai ibu & ayah saja, tanpa embel-embel nama. Di #20 sempet sih si ibu muncul, tapi ya itu, kesannya cuma cameo doang, sebentar banget munculnya, seolah-olah pelengkap saja. Agak aneh juga sih sebenarnya, kesannya anak-anak lebih sayang pada orang-orang lain yang kebetulan mereka tumpangi rumah / pertaniannya.

Ah, apapun, petualangan Lima Sekawan ini pantas sekali untuk dibaca, dikoleksi, dan dilungsurkan. Yakin, kisah ini bisa membuat yang tadinya tidak suka membaca jadi agak suka membaca.

Salam Limun Jahe!!!


Kamis, 17 Juli 2014

Keberuntungan Seseorang yang Berusia Satu Abad



508 p, Bentang Pustaka, Mei 2014


Mungkin banyak yang belum mengenal Allan Karlsson. Allan, hanya dikenal sebagai seorang tua yang sebentar lagi akan berusia 100 tahun, ia juga seorang penghuni rumah lansia. Malam itu, Allan akan tepat berusia 100 tahun, tapi ia tak ingin merayakannya, maka ia Climbed Out of the Window, and Dissapeared...

Mulai terkuaklah siapa Allan, dan mengapa Allan dapat menembus usia satu abad. Hanya satu kata yang dapat menjawab pertanyaan itu: Keberuntungan. Mengapa beruntung? Lihat saja, Allan yang kabur dari rumah lansia secara tak sengaja dititipi koper oleh seorang anggota geng “Never Again”, sebuah geng yang terkenal karena kebrutalannya. Tak tanggung-tanggung, koper tersebut ternyata berjumlah puluhan juta Krona! Belum selesai sampai di situ, Allan bertemu Julius yang akhirnya menjadi partner in crime-nya, yang juga menyebabkan si anggota geng yang mengejar Allan untuk mengambil koper tersebut mati konyol. iya, mati, meninggal secara konyol, secara tidak sengaja. Mengenai hal kematian ini, orang-orang yang berurusan dengan Allan, entah itu berada di pihaknya atau di pihak yang menjadi pengejarnya, selalu tewas dengan cara yang kocak, satir banget.

Oke, tak sampai di situ, keberuntungan Allan ternyata memang banyak stoknya. Allan, yang dikira hilang kemudian menjadi Most Wanted-nya Swedia. Semua orang dan polisi mencarinya. Tentu saja tak ada yang berhasil menemukan dia, satu lagi anggota geng “Never Again” mati konyol pula, diduduki gajah! Iya, gajah yang secara tidak sengaja dipelihara si Jelita (bukan nama sebenarnya), partner in crime lain dari Allan yang ditemuinya di tengah pelarian dengan Julius dan Benny. Nah, Benny ini menjadi satu lagi partner in crime Allan yang ditemuinya secara tak sengaja di sebuah kios hotdog.

Polisi yang sedang disibukkan oleh hilangnya Allan, makin dipusingkan dengan hilangnya dua anggota geng “Never Again”, belum lagi kasus hilangnya koper berisi uang yang dicuri si “Never Again”. Melalui bermacam-macam keterangan saksi, polisi menyimpulkan bahwa hilangnya Allan, hilangnya uang puluhan juta Krona di dalam koper, hingga hilangnya dua anggota geng “Never Again” saling berkaitan, maka makin menjadi-jadilah status Most Wanted-nya Allan.

Satu lagi pihak yang ikut mencari Allan, ia adalah bos dari “Never Again”. Hampir tewas karena kecelakaan ketika mengejar Allan dan geng, ia akhirnya turut bergabung dengan Allan hanya gara-gara kakak Benny merupakan teman lamanya. Sayangnya, ketika si bos mulai bergabung, polisi mulai mencium jejak mereka dan akhirnya menemukan Allan dan komplotannya di rumah kakak Benny. Keberuntungan belum berakhir, Allan yang dituduh membunuh dua anggota geng “Never Again”, selamat berkat ditemukannya dua mayat geng tersebut jauh di luar negeri, pokoknya jauh dari Swedia. Bagaimana bisa begitu? Itulah hebatnya keberuntungan.


Tadi ialah kisah ketika Allan berusia 100 tahun, dan keberuntungan Allan tak hanya ketika ia berusia 100 tahun. Siapa yang sangka bahwa ia pernah menjadi ce-es-nya Churchill, Franco, Stalin, bahkan Mao Zedong? Itu semua akibat keberuntungan. Oya, kalau cerita tentang bagaimana budaya Indonesia yang diceritakan di kisah Allan ini sebagai bangsa yang mudah disuap, tentunya itu bukan suatu keberuntungan dong? Itu aib, dan ternyata aib itu terdengar sampai Swedia. Indonesia? Mau begini terus?



Rabu, 02 April 2014

Perjalanan ke Pusat Bumi ~ Jules Verne


352 p., Elex Media Komputindo, Januari 2010



Sudah lama saya sangat mendamba-dambakan buku karangan bapak fiksi paling hebat di dunia, Jules Verne. Akhirnya, selesai juga saya membaca kisah ini, sebuah buku berjudul Perjalanan ke Pusat Bumi, sebuah buku fenomenal, karena isinya yang tidak terbayangkan ketika buku ini ditulis yaitu sekitar tahun 1800-an.

Berawal dari impian seorang profesor yang menemukan sebuah penemuan yang mengatakan ada seseorang bernama Arne Saknussem yang berhasil menembus perut bumi melalui sebuah gunung yang telah lama mati di Islandia. Ini adalah sebuah kisah yang sebenarnya masih diragukan keabsahannya, apalagi oleh keponakan si profesor yang terpaksa mengikuti semua keinginan si profesor terutama ketika ia mengajak si ponakan menapaktilasi jejak Saknussem menembus perut bumi. 

Akhirnya, dengan terpaksa si keponakan mengikuti jejak sang paman. Dengan bantuan seorang asisten yang serbaguna yang juga telah mengenal selukbeluk Islandia karena ia orang lokal, mereka bertiga kemudian masuk menembus gunung yang diceritakan. Terus dan terus, semakin dalam dan semakin dalam, membawa para pembacanya ikut pengap dengan situasi yang tak dapat diduga di dalam perjalanan.

Buku ini luar biasa. Verne telah mampu melukiskan hal-hal yang pada zaman itu dianggap mustahil. Coba saja pikirkan, mana ada di tahun tersebut orang-orang yang nekat masuk ke perut bumi. Apalagi, teknologi belum semodern sekarang, kita tak pernah tahu apa isi perut bumi sebenarnya. Tapi inilah mengapa Verne disebut sebagai bapak fiksi yang termasyhur. Melalui imajinasi dan fantasinya, ia ciptakan isi dari perut bumi dan perjalanan menuju sana dengan sangat indah. Verne juga mampu membuat pembaca merasakan apa yang dirasakan oleh si tokoh dalam buku ini. Jujur saja, ketika membaca buku ini saya merasa berada dalam kegelapan pekat, tanpa sinar matahari, dan yang paling penting sibuk memikirkan, bagaimana caranya nanti keluar dari perut bumi ini. Saya juga tidak menyangka bahwa pemikiran Verne memang sangat luar biasa, bagaimana ia menciptakan hal-hal yang bertentangan dengan pemikiran awam selama ini bahwa pusat bumi menghasilkan panas yang sangat dahsyat dan juga minim oksigen, sehingga hal ini mampu membuat imajinasi orang-orang menuju satu muara, benarkah yang Verne tuliskan?

Memang, buku ini memang fiksi belaka, tetapi siapa tahu suatu saat ada seseorang atau sekelompok orang yang mulai ”gila” untuk benar-benar melakukan ekspedisi ke pusat bumi dan menemukan apa yang Verne tulis. Bukan hal yang mustahil, mengingat banyak Vernian di luar sana, siapa tahu mereka begitu tergila-gila terhadap Jules Verne dan melakukan hal serupa dengan yang tim ekspedisi di buku ini lakukan.


Buku ini layak masuk list 1001 books you must read before you die. Saya juga puas telah berhasil menamatkan salah satu buku legendaris karya penulis legendaris. Selanjutnya impian saya ialah membaca buku-buku berikutnya dari Jules Verne, terutama 80 Hari Keliling Dunia, sebuah buku yang juga masuk list 1001, sebuah buku yang juga impossible, 80 hari keliling dunia? Di tahun 1800-an? Makin bikin penasaran. Semoga saya cepat memperoleh buku ini.Sudah lama saya sangat mendamba-dambakan buku karangan bapak fiksi paling hebat di dunia, Jules Verne. Akhirnya, selesai juga saya membaca kisah ini, sebuah buku berjudul Perjalanan ke Pusat Bumi, sebuah buku fenomenal, karena isinya yang tidak terbayangkan ketika buku ini ditulis yaitu sekitar tahun 1800-an.

Berawal dari impian seorang profesor yang menemukan sebuah penemuan yang mengatakan ada seseorang bernama Arne Saknussem yang berhasil menembus perut bumi melalui sebuah gunung yang telah lama mati di Islandia. Ini adalah sebuah kisah yang sebenarnya masih diragukan keabsahannya, apalagi oleh keponakan si profesor yang terpaksa mengikuti semua keinginan si profesor terutama ketika ia mengajak si ponakan menapaktilasi jejak Saknussem menembus perut bumi. 

Akhirnya, dengan terpaksa si keponakan mengikuti jejak sang paman. Dengan bantuan seorang asisten yang serbaguna yang juga telah mengenal selukbeluk Islandia karena ia orang lokal, mereka bertiga kemudian masuk menembus gunung yang diceritakan. Terus dan terus, semakin dalam dan semakin dalam, membawa para pembacanya ikut pengap dengan situasi yang tak dapat diduga di dalam perjalanan.

Buku ini luar biasa. Verne telah mampu melukiskan hal-hal yang pada zaman itu dianggap mustahil. Coba saja pikirkan, mana ada di tahun tersebut orang-orang yang nekat masuk ke perut bumi. Apalagi, teknologi belum semodern sekarang, kita tak pernah tahu apa isi perut bumi sebenarnya. Tapi inilah mengapa Verne disebut sebagai bapak fiksi yang termasyhur. Melalui imajinasi dan fantasinya, ia ciptakan isi dari perut bumi dan perjalanan menuju sana dengan sangat indah. Verne juga mampu membuat pembaca merasakan apa yang dirasakan oleh si tokoh dalam buku ini. Jujur saja, ketika membaca buku ini saya merasa berada dalam kegelapan pekat, tanpa sinar matahari, dan yang paling penting sibuk memikirkan, bagaimana caranya nanti keluar dari perut bumi ini. Saya juga tidak menyangka bahwa pemikiran Verne memang sangat luar biasa, bagaimana ia menciptakan hal-hal yang bertentangan dengan pemikiran awam selama ini bahwa pusat bumi menghasilkan panas yang sangat dahsyat dan juga minim oksigen, sehingga hal ini mampu membuat imajinasi orang-orang menuju satu muara, benarkah yang Verne tuliskan?

Memang, buku ini memang fiksi belaka, tetapi siapa tahu suatu saat ada seseorang atau sekelompok orang yang mulai ”gila” untuk benar-benar melakukan ekspedisi ke pusat bumi dan menemukan apa yang Verne tulis. Bukan hal yang mustahil, mengingat banyak Vernian di luar sana, siapa tahu mereka begitu tergila-gila terhadap Jules Verne dan melakukan hal serupa dengan yang tim ekspedisi di buku ini lakukan.

Buku ini layak masuk list 1001 books you must read before you die. Saya juga puas telah berhasil menamatkan salah satu buku legendaris karya penulis legendaris. Selanjutnya impian saya ialah membaca buku-buku berikutnya dari Jules Verne, terutama 80 Hari Keliling Dunia, sebuah buku yang juga masuk list 1001, sebuah buku yang juga impossible, 80 hari keliling dunia? Di tahun 1800-an? Makin bikin penasaran. Semoga saya cepat memperoleh buku ini. 

The Girl Who Kicked the Hornets' Nest ~ Stieg Larsson



984 p., Qanita, Januari 2011


The Girl Who Kicked The Hornets’ Nest. Ini merupakan buku ketiga dari serial Millennium, yang sekaligus buku terakhir. Mungkin akan lain ceritanya apabila Stieg Larsson belum meninggal, pastinya akan lebih banyak serial dari Millennium ini. Buku ini ialah lanjutan dari buku kedua, The Girl Who Played with Fire, jadi jangan heran apabila saat membuka buku ini si tokoh utama (si ”The Girl”) sedang terbaring di rumah sakit.

Masih tentang Mikael Blomkvist dan ”The Girl” Lisbeth Salander, cerita dari buku ini juga masih lanjutan dari kasus sebelumnya, yaitu pembunuhan yang dituduhkan terhadap Lisbeth Salander. Tanpa diduga, pembunuhan yang dituduhkan ini ternyata berefek lebih besar, gara-garanya, orang-orang yang terlibat dalam kasus ini ialah seorang mata-mata Rusia di jaman dahulu kala yang dilindungi oleh Sapo (kepolisian rahasia Swedia). Tak hanya itu, orang-orang yang terlibat ini pun terlibat dalam malpraktik mengenai kondisi kejiwaan Salander di masa lalu. Sungguh, sebuah situasi yang saling berkaitan secara tak sengaja.

Sapo sendiri tak pernah tahu kalau di Swedia pernah ada mata-mata Rusia (mungkin akan spoiler buku kedua apabila saya menyebutkan siapa dan apa kaitan si mata-mata tersebut dengan tokoh utama buku ini, maka saya memutuskan untuk tak akan memberitahu siapa dia), ternyata, ada sebuah tim rahasia lagi di balik kepolisian rahasia, tim yang tak terlihat, tak terdeteksi, bahkan juga keberadaannya tak diakui oleh Sapo. Tim rahasia inilah yang berkaitan dengan mata-mata ini, dan apabila kasus ini terbongkar maka kelangsungan anggota tim rahasia ini akan terancam oleh pemerintahan Swedia. Nah, oleh sebab itu, tim rahasia ini ”bereuni” lalu bergerak guna membungkam orang-orang yang terlibat kasus ini dengan cara membunuh mereka, termasuk Salander dan Blomkvist.

Sangat seru melihat adu mata-mata di dalam buku ini. Satu pihak memata-matai pihak lain tanpa sadar ia sendiri sedang dimata-matai oleh pihak lainnya. Belum lagi konspirasi-konspirasi yang ada, membuat buku setebal hampir 1000 halaman ini saya lahap tanpa masalah. Bisa dibilang, buku ini tebal namun gurih, karena selain kasus yang menjadi tema utama buku ini, ada pula topik lain yang cukup menarik dibahas di sini. Salah satu topik lain yang menarik bagi saya yaitu bagaimana perjalanan Erika Berger (rekan kerja Blomkvist) dalam berpindah tempat kerja di dunia media. Saya sedikit banyak jadi mengetahui seluk beluk dunia media melalui sudut pandang Erika sebagai pemimpin redaksinya. Topik sampingan ini pula yang menurut saya membuat buku ini jadi tebal tetapi lebih menarik untuk dibaca, karena pembaca tidak terus-menerus disuguhi sebuah kasus yang rumit. Jadi bisa dibilang topik ini sebagai imtermezzo dari kasus utama.

Satu hal lagi yang membuat saya takjub yaitu tentang dunia hacker. Salander yang hampir sepanjang cerita berada di rumah sakit tanpa diduga berperan aktif dalam memecahkan kasus yang sedang terjadi. Dengan sedikit bantuan jenius dari Mikael guna mengakali ketiadaan fasilitas internet di rumah sakit, kejeniusan Salander sebagai hacker sangat menarik untuk diikuti, apalagi ia juga dibantu hacker-hacker lainnya yang seolah-olah bersatu guna mendukung rekan-rekannya sesama hacker.


Satu hal yang agak kurang memuaskan, yaitu tak adanya pembahasan dan pemecahan terhadap Teorema Fermat, padahal dari semenjak buku kedua saya sangat penasaran. Entahlah, seperti telah saya bahas di awal, mungkin jika Stieg Larsson belum meninggal, pastinya akan ada lebih banyak sekuel dari serial Millennium ini, dan pemecahan dari Teorema Fermat ini akan terbahas. Selain itu, masih banyak hal-hal yang belum terungkap dan terselesaikan dari buku ini, salah satunya mengenai saudari kembar Lisbeth yang sama sekali belum muncul, belum lagi tentang bagaimana kelanjutan hubungan Lisbeth-Mikael, penasaran sangat. Semoga saja sebenarnya Stieg Larsson telah menulis lebih banyak tentang Millennium ini tetapi sampai saat ini belum ada yang menemukannya, dan semoga suatu saat ada yang menemukan filenya untuk kemudian menerbitkannya, amiiin... Lima bintang

The Screaming Staircase ~ Jonathan Stroud



424 p., Gramedia Pustaka Utama, Jan. 2014


London lagi, kejahatan lagi. Belum lekang dari ingatan, bulan lalu dengan gemilang Cormoran Strike baru saja memecahkan kasus kematian model terkenal, Lula Landry. Kali ini, kasus yang muncul sama juga, telah terjadi beberapa tahun yang lalu, bahkan berpuluh-puluh tahun yang lalu! Tokoh kita kali ini ialah kelompok pemburu hantu yang belum terkenal di London, Lockwood & Co.. Bagaimana bisa terkenal, toh anggota kelompok ini hanya tiga orang, Anthony Lockwood sebagai founder sekaligus pemimpin kelompok, dan George serta Lucy Carlyle sebagai pegawainya.

Nah, kasus kali ini menimpa seorang gadis bernama Annabelle. Jasadnya ditemukan oleh Lockwood & Co. tertanam di dinding sebuah rumah yang sedang mereka selidiki keberadaan hantunya. Ternyata, arwah Annabelle inilah yang menjadi pengganggu selama ini di rumah tersebut. Bagaimana tidak, Annabelle mati secara misterius, pembunuhnya belum ditemukan sampai lebih dari setengah dekade, dan jasadnya disemen dengan begitu sadisnya di dinding rumahnya sendiri! Dengan berbekal kalung yang Lucy ambil dari jasad Annabelle, ternyata kalung itu dapat bercerita lebih banyak kepada Lucy, tentu saja dengan mengambil wujud hantu Annabelle. Tanpa dinyana, ternyata kasus Annabelle ini berkaitan dengan orderan selanjutnya yang datang pada Lockwood & Co. yaitu berupa kasus hantu yang mengganggu di sebuah rumah mewah yang terkenal dengan Kamar Merah dan Undakan Menjerit-nya.


Buku ini jelas saja sebuah buku dengan genre baru bagi saya. Buku yang bercerita tentang pemburu hantu, fantasi, tapi siapa tahu kalau di luar negeri sana benar-benar ada kelompok pemburu hantu seperti ini. Ekspektasi buku ini akan sekocak Bartimaeus sebaiknya dibuang jauh-jauh, karena Jonathan Stroud sebagai penulis dari kedua buku ini sama sekali tidak menyelipkan lawakan-lawakan gila laiknya di kisah Barty. Footnote pun tak ada di buku ini, istilah-istilah dunia perhantuan diindeks di halaman paling belakang, dan agak ribet sebetulnya, karena banyak istilah-istilah baru di buku ini yang pembaca awam tentu saja belum tahu. Kata-kata Tipe Satu, Tipe Dua, Sumber, Masalah, perlu dipahami terlebih dahulu apabila ingin benar-benar mendapatkan feel dari buku ini.

Di balik semua hal tadi, saya sangat memuji kecerdasan Stroud dalam menciptakan sebuah kota baru, kota London yang benar-benar suram, penuh hantu, serta sarat dengan perlengkapan-perlengkapan penangkal hantu, dua jempol untuk si penulis. Begitu juga dengan istilah-istilah tadi (Tipe Satu, Tipe Dua, Sumber, dkk.), Stroud mampu menciptakan istilah-istilah baru (setahu saya) yang sangat khas dan menjadi sebuah ciri baru bagi buku dan dunianya.

Mengenai buku terjemahannya sendiri, banyak yang kecewa karena ternyata cover buku ini yang begitu menyeramkan ternyata sama sekali tidak berhubungan dengan isi buku ini. Ya, tak ada sama sekali adegan seorang (atau sesosok?) hantu naik kuda-kudaan di buku ini. Tetapi anehnya, setelah saya melihat trailer buku ini di youtube, ada adegan kuda-kudaan sedang bergerak sendiri, apakah itu inspirasi si pembuat cover membuat cover seperti ini? Mungkin. Tapi yang jelas covernya keren (walaupun rapuh), ada sebuah lubang kunci yang di baliknya terdapat sesosok gadis hantu (yang sedang menatapmu) yang menyeramkan sedang naik kuda-kudaan.


Oh ya, buku ini berseri, masih banyak misteri-misteri yang belum terungkapkan di buku pertama ini. Tetapi satu hal yang pasti, nama Lockwood & Co. pastinya akan menjadi lebih terkenal di buku-buku selanjutnya. Tiga bintang.

The Cuckoo's Calling ~ Robert Galbraith


520 p., Gramedia Pustaka Utama, Dec. 2013


11 Hari. Itulah yang saya butuhkan guna menyelesaikan sebuah buku dari J.K. Rowling yang ganjen memakai nama Robert Galbraith berjudul The Cuckoo’s Calling. Buku setebal 520 halaman ini sebenarnya tidak terlalu berat, namun terlalu “mewahnya” diksi yang digunakan sang penerjemah membuat bagian awal buku ini seakan-akan menyentil para pembaca tentang perbendaharaan kata yang dimiliki, kalau tidak mau mengatakan seolah-olah membuat pembaca merasa bego diri.

Oke, buku ini sangat berbeda genre dengan Harry Potter. Dengan Galbraith, JKR mencoba membawa pembaca ke dalam dunia perdetektifan dengan tokoh utama seorang veteran perang (yang kalau saya tak gagal paham baru berusia 34 tahun) dengan satu kaki sintetis, badan besar laiknya seorang petinju serta rambut keriting jijay yang mirip “sesuatu”. Detektif ini bernama Cormoran Strike. Seperti kisah-kisah detektif lainnya, pastilah sang detektif utama mempunyai asisten yang membantunya dalam menangani sebuah kasus. Dalam buku ini, Cormoran dibantu oleh Robin, sekretaris temporernya yang siapa tahu apabila ada sekuel dari buku ini bakal menjadi sekretaris sekaligus asisten tetapnya.

Kasus kali ini menceritakan tentang John Bristow yang menyewa Strike guna menangani kasus kematian adik tirinya yang juga seorang model terkenal yaitu Lula Landry. Kasus yang sebenarnya telah terjadi tiga bulan yang lalu ini ditutup dengan hasil penyelidikan polisi seperti berikut: Landry dinyatakan bunuh diri dengan cara melompat dari flatnya di lantai tiga melalu balkon flatnya. John tak percaya adiknya bunuh diri, maka dari itu ia menyewa Strike guna menyelidiki dan menguak kembali kisah tragis ini.

Dalam perjalanannya menyelidiki kasus ini, Strike juga dihadapkan dengan masalah pribadinya. Namun hal ini belum mendapat porsi berlebih di dalam serial pertama ini, entah apakah kisah percintaan Strike di buku-buku selanjutnya bakal lebih pelik, siapa tahu? Karena di serial ini anda berhadapan dengan JKR, si jago twist kalau menurut saya, ditilik dari pengalamannya menulis Harry Potter.

Seperti telah saya singgung di atas, frustasi dengan diksi yang ada juga merupakan salah satu keluhan saya tentang buku ini. Untungnya, bagian tengah sampai akhir hal tersebut mulai terabaikan dan tak mengganggu lagi. Mungkin, selain kejutan diksi tadi, saya juga sedang beradaptasi dengan tulisan Galbraith, karena tak jarang bayang-bayang Harry Potter selalu muncul ketika saya ingat bahwa buku ini ditulis oleh JKR. Untungya lagi, bayang-bayang Harry Potter ini hanya muncul juga samapi bagian seperempat buku saja, selebihnya bisa dibilang saya menikmati petualangan dan penyelidikan Strike dan Robin dalam mengungkap kasus kematian Lula Landry ini.

Menurut berita-berita yang saya baca, identitas JKR yang ketahuan ialah akibat banyaknya fashion yang dibahas di buku ini. Memang, bagian tentang fashion ini terasa sekali, apalagi ketika adegan penyelidikan Strike di butik mewah. Adegan inilah yang dinilai terlalu detail apabila buku ini memang benar-benar ditulis oleh seorang lelaki. Tetapi menurut saya, bagian di butik ini agak janggal, karena begitu mudahnya butik ini “kebobolan” oleh aksi Strike dan Robin. Well, setidaknya JKR harus belajar untuk lebih maskulin lagi apabila ingin mencoba menulis dari sudut pandang laki-laki. Empat bintang





Jakarta - Paris via French Kiss ~ Syahmedi Dean



355 p., Gramedia Pustaka Utama, June 2005


Campur aduk. Itulah perasaan saya ketika membaca buku ini. Dibilang suka, cerita buku ini bisa dibilang lumayan seru, bikin penasaran. Dibilang membosankan, bisa juga, sebabnya terlalu banyak detail tentang fashion dibahas di buku ini, yaa... namanya juga buku bertemakan fashion.

J.P.V.F.K. alias Jakarta-Paris via French Kiss. Judul yang cukup menantang, apalagi ada kata-kata French Kiss-nya, pastilah banyak yang menganggap buku ini vulgar. Kenyataannya memang seperti itu walaupun kevulgarannya masih dapat ditolerir. Buku ini bercerita tentang persahabatan empat orang yang bekerja di dunia fashion. Alif, Raisa, Didi dan Nisa, merekalah tokoh-tokoh di dalam buku ini, meskipun menurut saya tokoh utamanya lebih cenderung kepada Alif. Saya bahkan beranggapan bahwa Alif ini ialah si penulis sendiri yaitu Syahmedi Dean. Buku ini sendiri menurut anggapan sok tahu saya ialah sedikit memoar tentang si penulis.

Tema besar buku ini yaitu tentang fashion. Sehingga seperti telah saya sebut di atas, terlalu banyak detail tentang fashion yang dikenakan seseorang di dalam buku ini. Nah, sempat saya bilang campur aduk juga bukan di atas? Itu merujuk juga kepada tema yang coba diusung buku ini. Ya, selain fashion, menurut saya buku ini juga bisa dikatakan bertema traveling, bahkan LGBT! Traveling, karena setting buku ini lebih banyak di kota-kota yang memiliki jadwal Fashion Week, yaitu London, Milan, dan Paris. Banyak tempat-tempat di ketiga kota tersebut yang disebut-sebut di sini, membuat pembaca seolah-olah sedang berada di kota tersebut. LGBT, karena kelakuan Didi di buku ini mencerminkan tema ini. Ya, french kiss yang dilakukan Didi ialah terhadap sesama jenis! Diceritakan juga sebuah tempat sauna khusus gay di Milan walaupun hanya sekilas, tetapi saya tidak tahu apakah itu fakta atau fiksi, maklum saya bukan gay...

Melalui buku ini, kita diajak untuk menelusuri glamornya dunia fashion. Tak hanya itu, celah-celah ketika diadakannya fashion show pun banyak diceritakan, belom lagi bagaimana meriahnya suasana-suasana Fashion Week yang terjadi melalui sudut pandang wartawan dalam diri Alif. Pembaca jadi banyak tahu bagaimana sulitnya menjadi wartawan fashion, kejar sana kejar sini guna menuju tempat pergelaran, kiat-kiat mencari tiket guna masuk tempat pergelaran, sampai trik guna mengakali postur orang Indonesia yang di bawah orang Eropa. Di sini, diceritakan Alif dan haris (fotografernya) sampai membawa tangga untuk mendapatkan posisi yang enak guna meliput acara-acara tersebut. Tangga itu dibawa jauh-jauh dari Indonesia lho!

Tentang tokoh Alif sendiri, saya salut atas apa yang si penulis buat. Di balik glamornya dunia Alif, ia tak lupa pada Tuhannya. Memang, bagian Alif sholat ini hanya muncul sedikit sekali, tetapi hal ini menurut saya cukup unik, penulis seolah ingin menceritakan bahwa kehidupan dunia fashion tak selalu lupa pada Tuhan. Keunikan lain tokoh Alif yaitu tentang keyakinannya pada satu wanita, yaitu mantan istrinya, Saidah. Memang, banyak godaan-godaan yang menghampiri Alif, tetapi ia selalu yakin bahwa suatu saat ia akan kembali lagi bersatu dengan Saidah.

Tak ada masalah berarti dalam menyelesaikan buku ini, kecuali dalam kebosanan tentang detail dan cerita yang itu-itu saja (Fashion Week), konflik yang ada cukup wajar dan menarik, dan terutama sesuai dengan realita yang ada. Cuma satu hal yang saya sangat sayangkan, ending buku ini menggantung sangat, tak selesai. Untungnya, saya punya lanjutan buku ini yaitu P.G.P.D.C.. Tetapi untuk melengkapi koleksi 4 buku ini? Hm, nunggu obralan kali ya... 3 bintang...



Sabtu, 14 Desember 2013

The Enchantress; The End of the Flamels



Pernah “segitunya” membaca sebuah novel hingga kamu kemudian browsing / googling, atau apapun namanya guna mengecek apa-apa yang ada di buku yang barusan kamu baca? Buku yang saya baca ini menimbulkan efek seperti itu. Pertama terbit tahun 2008, seri pertama kisah Nicholas Flamel karangan Michael Scott ini mampu membuat saya sedikit belajar tentang mitologi, pahlawan masa lalu, hingga sejarah dan benda-benda kuno lainnya. Kali ini, yang saya baca ialah seri keenam dari buku ini, kisah pamungkas, sebuah buku yang terbit pertengahan 2013 di Indonesia dan diterbitkan oleh sebuah penerbit yang akan menjadi legenda, Matahati. Buku yang saya baca ini berjudul: The Enchantress.

Apa sebenarnya yang membuat saya “segitunya”? Ya itu tadi, perpaduan antara mitologi, sejarah, pahlawan / manusia legenda masa lalu, sci-fi, dan fiksi, membuat saya penasaran terhadap tokoh-tokoh yang ada di buku ini. Oke, pertama-tama tentunya pasangan Nicholas dan Perenelle Flamel. Pasangan ini dikabarkan sebagai pasangan abadi dan masih hidup hingga sekarang. Hal ini berdasarkan fakta bahwa makam keduanya di Paris sana ditemukan kosong melompong! Manusia abadi, itulah pasangan Flamel ini disebut, tetapi apakah hanya mereka saja manusia abadi di dunia ini? Nah, inilah yang membuat buku ini menarik. Dr. Dee, penasihat King Arthur di masa lalu, Niccolo Machiavelli (Italiano, penulis buku juga), Comte de Saint-Germain (namanya diabadikan menjadi klub sepakbola Paris St. Germain), Billy the Kid (penjahat Amerika paling termasyhur), Niten (alias Miyamoto Musashi) dan William Shakespeare-Joan of Arc (siapa yang tak kenal mereka berdua?) adalah beberapa manusia abadi lainnya yang dibuat oleh Michael Scott. Mungkin akan biasa saja jika kisah ini hanya seputar manusia abadi, makanya itu, Michael Scott membuat tokoh-tokoh lain yang disebut Tetua yang berdasarkan legenda dan mitologi-mitologi dunia. Hekate (dewi tiga usia), Bastet (dewi kucing), Morrigan (dewi gagak), Isis, Osiris, Prometheus, Anubis, Aten, dan lain-lain “dihidupkan” oleh Scott guna ikut berperan dalam buku ini. Coba saja browsing, pasti akan ada topik yang “nyangkut” ketika menulis nama-nama itu.

Scott sendiri mengakui, bahwa tokoh fiksi yang ia buat tak berdasarkan legenda hanyalah Josh dan Sophie Newman, si kembar tokoh utama buku ini. Pasangan kembar ini hidupnya berubah 180 derajat ketika mereka bertemu Flamel. Mereka ditasbihkan sebagai pasangan emas dan perak, yaitu pasangan legendaris yang diceritakan di sebuah codex ciptaan Abraham sang Magi (codex yang juga berisi petunjuk bagaimana cara mengubah batu menjadi emas), yang akan ditakdirkan sebagai Satu yang menghancurkan dunia, dan Satu yang menyelamatkan dunia.

Buku keenam ini sendiri terbagi menjadi dua seting utama, San Fransisco di masa kini, serta Danu Talis di sepuluh ribu tahun yang lalu. Di San Fransisco, pasangan Flamel yang usianya tinggal satu hari berjuang keras guna mencegah monster-monster mitologi (seperti sphinx, unicorn, nereid, dan lain-lain) yang dikurung oleh Dee di pulau Alcatraz menyerang dan menghancurkan San Fransisco. Sementara itu, di Danu Talis, si kembar disuguhi fakta mencengangkan tentang kedua orang tua mereka. Si kembar pun makin dekat dengan takdir mereka yang tentang satu yang menghancurkan dan satu yang menyelamatkan dunia.

Dengan tiap bab yang selalu berbeda cerita, para pembaca digiring untuk menikmati buku ini dengan penuh konsentrasi. Ya, cerita buku ini tidak melulu di San Fransisco selama beberapa bab berturut-turut, atau di Danu Talis secara berurutan. Bahkan, walaupun settingnya hanya di dua tempat, ada banyak sudut pandang tokoh yang bercerita di sini. Agak membingungkan, tetapi ini yang membuat cerita ini menarik. Apalagi, di buku terakhir ini fakta-fakta mulai terkuak dan jalan cerita menjadi jelas. Endingnya sendiri menurut saya mengejutkan, walau agak menggantung. Meskipun begitu saya tetap puas, karena pada akhirnya semuanya telah terungkap dengan jelas dan saling berkaitan. Dan yang paling penting, tak ada manusia yang benar-benar jahat di buku ini, karena di setiap manusia yang jahat pasti tetap menyimpan kebaikan.


Oya, ada lagi hal menarik yang membuat saya jatuh cinta kepada serial ini. Hal itu ialah perbincangan-perbincangan ringan, bahkan konyol di antara tokoh-tokohnya. Salah satu contoh ialah ketika St. Germain berbincang-bincang dengan istrinya, Joan of Arc, tentang rencananya menciptakan sebuah lagu gara-gara ia terinspirasi ketika sedang terbang dengan vimana (sejenis piring terbang) menuju pertempuran di piramida rata. Ada lagi, ketika Billy the Kid dan Elang Hitam membahas tentang nama dari capit kepiting, padahal ketika itu mereka dalam bahaya dan sedang menghadapi serangan dari seekor kepiting raksasa, sempat-sempatnya. Hal-hal seperti ini pula yang membuat saya tak ragu untuk memberi lima bintang.


Judul: The Enchantress (Flamel #6)
Penulis: Michael Scott
Tebal: 634 hal.
Penerbit: Neo Matahati
Tahun Terbit: 2012 (1st) / 2013 (terjemahan)
Rate: 5/5

Sophie dan BFG, Raksasa Besar yang Baik



BFG. Big Friendly Giant. Raksasa yang baik hati. Tapi, baik hati kok malah menculik Sophie? Itu karena manusia memang makhluk yang tak bisa menyimpan rahasia. Apabila Sophie yang tak sengaja melihat BFG itu tak diculik oleh BFG, maka pastinya kabar tentang adanya raksasa di dunia ini pasti sudah tersebar dan akan ada perburuan besar-besaran terhadap para raksasa. Raksasa ini sebenarnya hanya ada sepuluh, sayangnya hanya BFG yang baik hati dan “peniup” mimpi baik bagi umat manusia, sedangkan sembilan raksasa lainnya yang ukurannya lebih besar daripada BFG merupakan raksasa pemakan manusia!

Petualangan Sophie di kediaman raksasa ini penuh teror. Sekali saja ia ketahuan oleh raksasa lainnya, ia akan langsung dilumat habis oleh mereka. Ah, memang jahat raksasa-raksasa itu. Hanya di malam hari Sophie aman dari raksasa-raksasa itu, ini dikarenakan malam hari yaitu saatnya para raksasa memburu manusia! Ya, para raksasa itu akan menyebar di seluruh dunia dan memakan manusia-manusia yang menurut mereka lezat. Aksi ini dilakukan secara rapi, buktinya, tak ada yang tahu kemana hilangnya manusia-manusia yang dimakan oleh raksasa. Selain itu, jejak raksasa ini tak ketahuan oleh siapapun! Jadi hilangnya beberapa orang di seluruh dunia dianggap sebuah misteri oleh manusia lainnya, tak pernah terpikir bahwa manusia-manusia ini dimakan oleh raksasa.

Sophie muak pada mereka. Ia miris melihat kaum manusia menjadi korban para raksasa. Ia pun mengeluarkan sebuah ide brilian, ide untuk menghentikan aksi para raksasa ini dalam memburu manusia. Tentunya, ide Sophie ini tak akan bisa terlaksana tanpa bantuan BFG, keahliann BFG dalam meniup mimpi, serta bantuan Ratu Inggris. Ya, Ratu Inggris diseret oleh Roald Dahl untuk membantu Sophie meringkus para raksasa ini.

Sebuah kisah yang unik, yang menyatukan cerita hasil pemikiran Roald Dahl dengan dongeng-dongeng legendaris lainnya. Ini terbukti dari rasa ketakutan para raksasa ini HANYA kepada satu manusia, yaitu Jack. Jack ini terkenal dengan tanaman kacang rambatnya yang mampu menembus awan dan menghabisi kaum raksasa, dongeng inilah yang mengilhami RD guna membuat satu hal yang paling ditakuti oleh raksasa. Hal lain yang menarik yaitu mengenai Dahl’s Chickens. Saya sempat dibuat bingung, apakah Dahl’s Chickens itu? Ternyata, BFG yang memang mempunyai kemampuan bicara yang sering terbolak-balik dalam mengolah kata salah menyebut nama pengarang favoritnya, yaitu Charles Dickens menjadi Dahl’s Chickens. Luar biasa memang imajinasi RD dalam membuat cerita.

Di cerita ini pun banyak terselip pesan moral. Salah satunya yaitu bagaimana Roald Dahl mencoba mengatakan bahwa hanya manusialah makhluk yang paling bersifat binatang. Ini terbukti dari HANYA manusialah yang saling membunuh sesama kaumnya, bahkan para raksasa pun tidak membunuh sesama mereka, sekasar apapun mereka. Sungguh sebuah pesan moral yang membuat jleb menurut saya.


Terakhir, ending buku ini juga lumayan keren. Jangan mengira penulis buku ini benar-benar Roald Dahl, baca ending buku ini, dan berpikirlah, kira-kira apakah benar yang dikatakan ending buku ini. Empat bintang.


Judul: The BFG
Penulis: Roald Dahl
Tebal: 200 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 1982 (1st) / 2010 (terjemahan)
Rekomendasi Usia: Semua Umur
Rate: 4/5

Rabu, 04 Desember 2013

Rene Star #1



Pernah gak sih kalian mengalami rasa frustasi ketika membaca sebuah buku? Entah itu gara-gara ceritanya yang membosankan, typo gak ketulungan, atau hal-hal mendasar lainnya? Saya baru saja mengalaminya. Buku yang saya baca kali ini berjudul Rene Star (Langit Gelap Diatas Ku). Mengapa frustasi? Coba cek dulu judulnya, saya tulis judul buku itu apa adanya, ada yang salah? Oke, kita bahas sebagian besarnya ya.

Buku ini sepertinya dipublikasikan tanpa melewati seorang editor, ya, saya juga pernah baca sebuah buku konyol dan kocak yang tanpa ada editor, tapi menurut saya buku tersebut lebih bisa dimaafkan karena memang genre-nya komedi, jadi keterbatasan tanpa editor itu dapat tertutupi dari jalan ceritanya yang lumayan dapat membuat mesem-mesem. Nah, masalahnya buku Rene Star ini bukanlah sebuah buku yang bergenre komedi, ini bisa dibilang sejenis metropop gitu yang diterbitkan secara indie, maka yang ada ialah frustasi ketika membaca buku ini, jalan cerita yag serius dan lumayan dirusak oleh hal-hal mendasar yang seharusnya tidak boleh salah.

Pertama, setiap dialog di buku ini (yang menggunakan tanda kutip), pasti ditulis dengan italic. Oh, ya gak mesti juga kan, soalnya jadi rancu antara kata-kata bahasa Indonesia asli dengan kata-kata asing yang ada. Tapi okelah, hal ini tak terlalu mengganggu bagi saya. Kedua, setiap akhiran -nya, si penulis selalu menuliskannya dengan cara dipisahkan. Geregetan deh jadinya, contohnya di halaman 5:

Sesaat setelah itu... “Ashhh.. kenapa aku melakukan nya” keluh nya sambil melihat ranjang basah karena tingkah nya semalam.

Terlihat jelas bukan contoh dari si italic dan si -nya yang dipisahkan? Itu saya tulis sesuai yang tertera di buku. Oh ya, ranjang basah gara-gara si tokoh hujan-hujanan lho, gak maksud menjurus ke hal yang mesum :p

Kedua, setiap selesai dialog, si penulis selalu menggunakan tanda titik, sehingga otomatis setelah tanda kutip pasti akan muncul huruf kapital laiknya di word dan sejenisnya. Kita ambil contoh di halaman 128 berikut ini:

Hihihi... dengan ini dia tak akan pernah mengacuhkan ku lagi... dia akan sangat berterima kasih.” pikir Eric. “Ericcccc... aku mencari mu kemana-mana. Kenapa selalu lari dari ku. Kamu jahat.” Ujar Lily yang tiba-tiba merengkuh erat tangan Eric itu .

Dan hal tersebut ada terus menerus... selain itu satu paragraf berisi banyak dialog, seperti di atas, dua orang yang berbeda berbicara dalam satu paragraf yang sama.

Ketiga, sound effect yang digunakan juga lumayan mengganggu. Seperti dalam bukunya Mbak Dhia Citrahayi di Para Pengendali Naga, bedanya sound effect ini ditulis tidak dalam huruf kapital. Contohnya, seperti “ting...tong...ting...tong...”, itu suara bel kamar Rene, terdengar merdu bukan sound effectnya? #hammer

Keempat, dan ini yang paling membuat saya FRUSTASI. Kebanyakan menggunakan kata “celetuk” nih si penulis. Terbayang gak di benak kalian, bagaimana orang yang menyeletuk? Yang terbayang pasti seseorang yang menyela pembicaraan atau orang yang memecahkan keheningan, betul? Nah, di buku ini mah tidak, celetuk ini saking banyaknya dipakai jadi serupa seperti: “kata”, “ujar”, dan lain-lain. Di halaman 198 saja ada dua kata celetuk digunakan, padahal konteks si orang yang berbicara, dia tidak sedang menyeletuk, dia hanya berkata dan berujar biasa-biasa saja.

Cukup.

Cerita buku ini sendiri ialah tentang seorang Rene, seorang gadis yang hidup sebatang kara, yang tanpa sengaja menjadi incaran empat orang lelaki guna dijadikan sebagai kekasih! Memang, Rene ini seorang pribadi yang unik, saya akui cara penulis menjadikan diri Rene unik merupakan salah satu kekuatan di buku ini. Rene, yang introvert, tetapi sering juga ke klub malam, dan uniknya lagi di klub tersebut dia hanya diam di pojokan dengan telinga disumbat kapas. Latar belakang keluarga Rene pula yang membuat Rene ini unik, ia “dijual” ayahnya kepada seorang saudagar guna melunasi utang-utangnya. Kejadian inilah yang membuat Rene tertutup dan menjadi seorang yang penyendiri.


Akhir kata, saya bukanlah ahli bahasa, bukan pula sok jago dalam mengomentari sebuah buku. Saya hanya memberikan sesuai kemampuan dan pengalaman saya dalam membaca buku. Mohon maaf apabila saya dikatakan ngelunjak, karena setelah diberi buku gratis namun memberikan respon negatif terhadap buku ini. Semoga saja kisah Rene selanjutnya bisa dikemas lebih apik, dan kalau bisa telah melewati seorang editor. Terima kasih.


Judul: Rene Star: Langit Gelap di Atasku
Penulis: Yanne Sumayow
Tebal: 226 hal.
Penerbit: Amare Books
Tahun Terbit: 2013
Rate: 3/5

Jumat, 29 November 2013

Miss Marple - 13 Kasus



Entah kenapa dari dahulu saya kurang menyukai Miss Marple, untuk karya dari Agatha Christie jelaslah saya lebih menyukai Hercule Poirot, mungkin karena Poirot lebih beraksi dan lebih menantang dibandingkan Miss Marple dalam melakukan aksinya. Jane Marple, itu nama lengkap si nenek tua yang hidup seorang diri di sebuah desa yang bernama St. Mary Mead. Dalam melakukan dan memecahkan kasus, ia selalu bercermin pada kisah-kisah lama yang menimpa orang-orang di sekelilingnya, karena ia yakin setiap kisah pasti berulang.

Buku yang saya baca kali ini berjudul Tiga Belas Kasus atau The Thirteen Problems. Buku ini terbit pertama kali di tahun 1932, diterjemahkan pertama kali ke bahasa Indonesia pada tahun 1997, dan saya membaca buku cetakan pertamanya. Seperti terlihat dari judul, buku ini ialah kumpulan dari tige belas kasus yang terjadi di kehidupan Miss Marple. Terdiri dari 13 bab dengan konsep kumpulan cerita perbabnya, Miss Marple mencoba untuk setidaknya lebih terlibat dalam kasus-kasus tersebut.

Cerita pertama berjudul Klub Selasa Malam. Cerita ini tentang sebuah keluarga yang dikejutkan oleh kematian mendadak sang nyonya rumah. Kematian yang tadinya dianggap bunuh diri ini akhirnya terpecahkan setelah ada salah seorang anggota keluarga tersebut yang diet, hanya itulah satu-satunya petunjuk. Miss Marple sendiri mengawali pemecahan kasus ini gara-gara ia pernah mempunyai tetangga dehgan kondisi keluarga seperti keluarga yang terkena tragedi tersebut. Perselingkuhanlah yang akhirnya menjadi inti kasus kematian ini. Cerita kedua ialah Rumah Pemujaan Astarte. Berhubungan dengan kisah klenik yang ada di Astarte itu, seorang pemuda meninggal dunia ketika berada di sekitar Rumah Pemujaan tersebut. Ternyata ini adalah pembunuhan, dimana pembunuh tersebut mampu memanfaatkan mitos yang terjadi dan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Motifnya: cinta dan harta. Batangan-Batangan Emas merupakan cerita yang bersetting cukup menarik, yaitu di Cornwall. Cornwall sendiri pernah muncul di cerita Lima Sekawan, dan kedua cerita ini mempunyai satu muara yang sama, yaitu harta karun. Sempat terpikir, apakah Cornwall yang sebenarnya juga mempunyai cerita-cerita harta karun semacam itu atau hanya fiksi belaka. Cerita lainnya berjudul Noda Darah di Trotoar, ide dasar kasus ini ialah penipuan oleh sepasang suami istri, kejahatan yang dilakukan oleh suami istri ini akhirnya terungkap melalui ditemukannya noda darah di trotoar tersebut.

Masih banyak motif-motif lain yang diceritakan, ada yang mengambil reaksi kimia sebagai dasarnya, hingga hal-hal lainnya. Cerita paling menarik ialah cerita di bab ketigabelas yang berjudul Mati Tenggelam, hal ini disebabkan oleh prediksi Miss Marple atas seorang pelaku kehahatan yang ternyata sangat tepat, padahal tadinya orang yang dimaksud sangat tidak berkaitan debgan kasus itu.


Yang unik lagi dari cerita ini ialah bagaimana kasus-kasus ini tidak diakami secara langsung oleh Miss Marple. Cerita-cerita ini diceritakan oleh kawan-kawan Miss Marple dalam sebuah klub yang dibentuk mendadak yang bernama Klub Selasa Malam. Klub ini setiap Selasa malamnya menceritakan berbagai kasus-kasus unik dan tak masuk akal, untuk kemudian didiskusikan bersama. Hebatnya, dalam setiap kasus, tebakan si tokoh utama kita ini selalu benar! Nah, walaupun demikian, hal ini yang kurang saya sukai, karena Miss Marple tak terlibat langsung sehingga faktor keseruannya berkurang. Makanya saya hanya memberi buku ini 3 bintang saja.


Judul: The Thirteen Problems - Tiga Belas Kasus
Penulis: Agatha Christie
Tebal: 322 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 1932 (1st) / 1997 (read)
Rate: 3/5

Dimas Suryo & Lintang Utara (ingin) Pulang



Buat kalian, dan terutama saya yang hidup di zaman Orde Baru, tentunya merasakan betul bagaimana doktrin yang dijejalkan oleh pemerintah di masa itu tentang Partai Komunis Indonesia (PKI). Tak tanggung-tanggung, bahkan peristiwa G30S yang lekat dengan PKI pun di-dioramakan di Lubang Buaya sana. Bagi saya pribadi, doktrin itu merasuk kuat ke dalam pikiran saya, bagaimana saya merasa ngeri terhadap PKI, bahkan pernah terbayang juga apa yang terjadi apabila dahulu kala PKI itu sukses berkuasa di Indonesia, tentunya bangsa Indonesia ini menjadi bangsa yang tak beragama, dan berpaham komunis. Itulah pandangan saya tentang komunis, suatu paham tak memercayai Tuhan, entah, pandangan saya benar atau tidak.

Mengapa saya begitu larut terhadap doktrin tersebut? Bayangkan saja, cerita-cerita yang dijejalkan kepada anak-anak di zaman itu sangatlah mengerikan. Bagaimana PKI dan antek-anteknya menyiksa para jendral besar negara ini, memutilasi tubuhnya, menyilet-nyilet bagian wajahnya, hingga pembuangan mayat-mayat para pembesar itu ke dalam sebuah lubang yang dinamakan Lubang Buaya. Itu pandangan saya, bisa jadi juga sama dengan beberapa rekan sekalian. Belum lagi, setiap tahun di tanggal 30 September pasti ditayangkan film mengenai G30S/PKI, ada nonton barengnya segala pada waktu itu. Pelajaran-pelajaran sejarah pun mendoktrin bahwa PKI ini berbahaya.

Pulang, sebuah novel fiksi yang berlatar kejadian non-fiksi G30S/PKI merupakan buku yang saya baca untuk SRC 2013 kategori pemenang/nominator KLA (Khatulistiwa Literary Award). Novel ini menceritakan tentang para eksil (buronan politik) yang berada di luar negeri pada medio tahun 60-an. Para eksil ini secara tak sengaja selamat dari tangkapan tentara Indonesia yang sedang gencar-gencarnya menangkapi orang-orang yang terlibat dalam organisasi PKI. Para eksil ini yaitu Dimas Suryo, Nugroho, Tjai dan Risjaf sedang berada di luar negeri ketika pergolakan besar terjadi di tanah air, mereka sedang dalam sebuah acara yang berkaitan dengan tempat mereka bekerja yaitu sebuah surat kabar yang beraliran “kiri”. Mereka yang memang asli warga Indonesia akhirnya terjebak di luar negeri tanpa bisa pulang ke negeri asal padahal mereka sendiri tidak merasa “kiri”, dan hanya menjadi korban kebiadaban politik saja.

Setting buku ini tak hanya tahun 60-an, ada satu lagi peristiwa penting bangsa Indonesia yang dibahas di buku ini, yaitu reformasi 1998. Kali ini keempat eksil yang tadi diceritakan sudah sukses mendirikan restoran becitarasa tanah air di Prancis sana. Sudut pandang cerita beralih kepada Lintang Utara, yitu anak dari Dimas Suryo hasil pernikahannya dengan seorang gadis Prancis. Lintang ini, yang terkena imbas “kiri” dari ayahnya tanpa sengaja terlibat tugas akhir kuliah dengan tema Indonesia, negara asal ayahnya. Dengan perjuangan yang berat, akhirnya Lintang berhasil masuk ke Indonesia walaupun situasi politik sedang panas-panasnya, mirip ketika zaman ayahnya dahulu di medio tahun 60-an.

Sebuah pelajaran penting saya peroleh dari buku ini. Bagaimana imbas “kekirian” begitu sulit hilang dari merkea yang orangtuanya terlibat dalam peristiwa yang terjadi di tahun 60an. Padahal, belum tentu juga anak-anak serta keturunan berikutnya dari anggota PKI ini juiga beraliran kiri. Bagaimana pengaruh dan perlakuan Orde Baru kepada mereka memang sangat memuakkan. KTP ditandai ET (Eks Tapol), bahkan persyaratan-persyaratan  ketat apabila mereka-mereka ini ingin memasuki diunia kerja yang memegang peran strategis seperti di pemerintahan atau posisi-posisi penting lainnya. Bahkan tak jarang keturunan “kiri” ini tak mendapat pekerjaan yang layak akibat gelarnya tersebut. Leila S. Chudori, sebagai penulis buku ini, secara cerdas menceritakan bagaimana keluarga tapol ini menjadi kaum yang terisolir akibat peristiwa G30S/PKI, dan menutup cerita di buku ini dengan sebuah peristiwa yang tak kalah penting, yaitu reforemasi 1998, yang juga sebagai pembuka jalan untuk para tapol ini kembali menghirup udara segar tanpa embel-embel ET lagi.

Terkesan berta memang apabila hanya membaca sekilas review-review pembaca buku Pulang ini, tapi saya berani menjamin bahwa buku ini sama sekali tidak berat. Buku ini tak hanya sekedar berorientasi pada dunia politik, tetapi banyak juga cerita cinta yang terjadi, bahkan cerita tentang dunia kuliner disajikan pula disini. Memang, masih banyak hal-hal yang masih menggantung mengenai tokoh-tokoh di buku ini, tapi hal tersbut dapat dimaafkan dengan pengemasan cerita yang apik. Satu hal lain yang unik, yaitu mengenai penokohan. Tokoh yang terlibat disini walaupun tidak begitu banyak namun dijelaskan secara mendetail satu-persatu, bahkan tak jarang setiap bab menceritakan tokoh dan sudut pandang yang berbeda, sehingga kita para pembaca seolah bisa merasakan apa-apa yang dirasakan tokoh-tokoh di dalam novel ini secara lebih dekat.


Buku ini sendiri ternyata berhasil menjadi pemenang KLA tahun 2013 kategori prosa. Memang, banyak kontroversi menyertai kemenangan buku ini terutama yang berkaitan dengan independensi juri, namun saya sebagai pembaca awam merasa buku ini cukup layak untuk memenangkan penghargaan ini, karena jalan cerita yang unik, lintas zaman, serta menyoroti dua peristiwa penting di Indonesia yang berkaitan dengan nasib para orang-orang yang dianggap “kiri”. Lima bintang.


Judul: Pulang
Penulis: Leila S. Chudori
Tebal: 464 hal.
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit: 2012
Rate: 5/5

Thomas & Prudence - Musuh Dalam Selimut



The Secret Adversary, atau Musuh Dalam Selimut, merupakan buku kedua yang ditulis oleh Agatha Christie. Buku ini bukan bercerita tentang Hercule Poirot, melainkan memperkenalkan dua orang muda yang akhirnya berpasangan, yaitu Thomas “Tommy” Beresford dan Prudence “Tuppence” Cowley. Pasangan yang kelak dikenal sebagai Tommy & Tuppence Beresford ini bisa dibilang tak punya basic apa-apa dalam dunia perdetektifan, malah menurut saya mereka bergerak hanya berdasar intuisi dan kenekatan saja, namun hal itulah yang membuat pasangan ini begitu unik dan menarik. Pasangan ini mendirikan sebuah “perusahaan” yang dinamakan PT Petualang Muda. Memang, ini bukan perusahaan sungguhan, mereka hanya mengkhusukan diri untuk memecahkan kasus-kasus yang klien mereka bawa ke perusahaan tersebut.

Sebelum mengenal pasangan ini, imajinasi saya mengenai mereka yaitu bahwa mereka berdua merupakan orang yang serius, dan sebagai pasangan yang sudah cukup berumur. Namun saya salah, mereka masih cukup muda, berusia sekitar dua puluh tahunan, dan juga agak konyol. Selain itu, mereka pun bisa dibilang beruntung, karena selalu mendapat bantuan dalam memecahkan kasus. Saya agak sangsi apabila tak ada bantuan mereka akan dapat menyelesaikan sebuah kasus, entah di buku-buku berikutnya.

Dalam buku ini, Petualang Muda terlibat dalam sebuah kasus yang lumayan pelik. Kasus ini bersetting di tahun 20-an, dimana waktu itu suasana politik sedang panas-panasnya. Di sebuah kapal yang bernama Lusitania, seorang pembawa dokumen rahasia asal Amerika terjebak dalam situasi sulit, dimana kapal Lusitania ini ditembak torpedo. Dalam situasi hanya wanita dan anak-anak yang lebih dulu diselamatkan dengan sekoci, si lelaki pembawa dokumen ini memercayakan dokumen tersebut kepada Jane Finn, karena ia yakin Jane merupakan orang yang tepat dan nasionalis. Sayangnya, Jane Finn kemudian hilang dan dokumen-dokumen tersebut juga ikut hilang. Dokumen-dokumen penting itu lima tahun kemudian harus segera ditemukan, mengingat apabila jatuh ke tangan musuh, maka dikhawatirkan akan terjadi revolusi besar-besaran di Inggris.

Mr. Brown. Inilah tokoh sentral yang menjadi musuh Tommy-Tuppence dan juga pemburu dokumen-dokumen rahasia tersebut. Sepanjang isi buku, Agatha Christie dengan sangat lihai menyembunyikan si Mr. Brown ini. Sebenarnya, siapa Mr. Brown ini dapat mudah tertebak apabila membaca judul buku ini, Musuh Dalam Selimut. Ya, penjahatnya sudah terlihat jelas dari situ. Pintarnya, Agatha Christie terus membawa pembaca berputar-putar untuk menebak siapa Mr. Brown sebenarnya, sehingga pembaca pun terkecoh dengan cara ini.


Walaupun tidak sedetektif Poirot, tokoh Tommy-Tuppence ini mampu membuat saya terlarut dalam ceritanya. Memang, tak ada pemecahan kasus yang benar-benar brilian, tetapi penceritaan yang melalui dua sudut pandang, yaitu Tommy dan Tuppence membuat cerita ini enak dibaca dan membuat penasaran. Ada kalanya, Tommy yang sedang disekap maka jalan cerita melalui sudut pandang Tuppence, juga sebaliknya, ketika Tuppence menghilang, giliran Tommy yang bercerita dan berpetualang. Terjemahannya pun enak dibaca, penerjemah tidak segan-segan menggunakan bahasa slang seperti monyong, bokek, dll. Penggunaan kata-kata ini menurut saya sangat tepat apalagi mengingat karakter Tommy dan Tuppence yang agak tengil dan konyol. buku ini pun seolah menjadi ajang perkenalan bagi Tommy dan Tuppence untuk buku-buku selanjutnya, mengingat ending buku ini yang berakhir membahagiakan bagi mereka berdua. Lima bintang untuk buku ini, sebuah awal pengenalan yang menarik.


Judul: The Secret Adversary - Musuh Dalam Selimut
Penulis: Agatha Christie
Tebal: 376 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 1922 (1st) / 2012 (read)
Rate: 5/5

Sabtu, 16 November 2013

#5BukuDalamHidupku Coffee Shop, dan Keramaiannya



Haduh, beneran bingung banget nih milih satu buku buat hari terakhir. Memang dahsyat deh tantangan #5BukuDalamHidupku ini, bikin mikir, kira2 buku apa yang benar-benar bermakna dan berarti di hidup kita. Empat buku pertama saya di empat hari kemarin ialah buku lokal, sempat bertanya-tanya juga apakah hari kelima ini saya akan mengeluarkan buku lokal juga atau tidak. Sempat terpikir untuk membahas komik, tapi kok ya kalau komik itu nanti jatuhnya bukan satu buku ya, tapi banyak buku, soalnya kan jarang-jarang hanya satu komik yang sangat berkesan setidaknya bagi saya.

Hm, setelah berpikir sambil mengetik akhirnya saya telah menjatuhkan pilihan. Buku lokal lagi, buku indie lagi. Pilihan saya akhirnya tertuju kepada:

Cover Baru

Judul: The Coffee Shop Chronicles
Penulis: Rame-rame / 22 orang
Penerbit: byPASS
Tebal: 197 hal.
Tahun Terbit: 2012
Rate: 4/5

The Coffee Shop Chronicles dimulai dari sepucuk surat pendek dari seorang pengagum kepada Tuan Arsitek yang ditulis oleh @firah_39. Surat yang membuat sebuah flashfict balasan dikarang untuk menanggapi surat tersebut oleh @adit_adit. Selanjutnya, beberapa penulis lain, @_raraa, @WangiMS, dan @hildabika ikut bergabung menulis flashfict berantai yang menyertakan latar sama dan interaksi dengan tokoh-tokoh yang sebelumnya ada.

Kemudian, ketika judul tersebut dihanyutkan ke linimasa, banyak teman lain yang bergabung. Pada akhirnya, 33 cerita singkat dari 22 penulis muda pun terkumpul. Keajaiban sudut pandang. Ya, ada ribuan sudut pandang dan cerita untuk mengisahkan sebuah coffee shop. Satu mata terlalu sempit untuk melihat dunia. Buka mata dan temukan kekayaan cerita di sana.

Selamat menikmati!


Kenapa buku ini?

Pertama, saya menyukai kopi. Yaa, meskipun masih dalam taraf kopi instan tapi tetap saja judulnya kopi. Buku ini dari judulnya saja berbau kopi, sehingga membuat penasaran saya untuk membacanya. Jadi bisa dibilang, saya tertarik membaca buku ini gara-gara: kopi!

Kedua, teknik penulisan buku ini sungguh sangat unik. Jadi begini, buku ini ditulis bareng-bareng oleh belasan orang. Nah, setiap orang menulis bab yang berbeda, tetapi tetap based on judul dari buku ini. Terserah, orang itu mau melanjutkan cerita dari orang sebelumnya atau menulis dari sudut pandang lain. Yang jelas, menurut saya konsep itu sangat menarik, walaupun memang terkadang terdapat cerita yang agak tidak nyambung, tapi overall saya puas.

Ketiga, cara penulisan yang unik ini telah menginspirasi saya dan teman-teman untuk menulis kisah yang serupa, maksudnya serupa dalam cara penulisannya, bukan temanya. Tapi ya itu tadi, semangat menulis yang maju mundur akhirnya hanya membuat proyek ini gagal lagi, berhenti di tengah jalan. Mudah-mudahan sih suatu saat proyek ini bisa dilanjutkan lagi, amiiin...

Keempat, salah satu penulis buku ini ialah teman satu komunitas di Blogger Buku Indonesia. Bertambah lagi deh teman saya yang telah memiliki buku yang diterbitkan.



 Cover Lama


Edisi buku ini yang saya miliki ialah edisi dengan cover lama, dan tak lama kemudian, cover buku ini akhirnya diganti, mungkin agar lebih menarik pembaca, karena memang, edisi cover lama buku ini kurang menarik menurut saya.

Berkat buku ini juga saya berkenalan dengan dunia blog, terutama yang berkaitan dengan dunia penulisan. Hal ini disebabkan oleh karena beberapa penulis buku ini merupakan blogger yang rajin mengadakan event menulis bareng, terutama dalam hal Flash Fiction (FF). Lumayanlah, ada beberapa FF saya yang kemudian terlahir meskipun saya yakin cerita yang saya bikin belum ada apa-apanya.



Akhirnya, berakhir juga tantangan ini. Saya sudah kembali ke blog, pulang ke blog, meskipun tulisan ini dihasilkan di gadget. Saya sih gak berharap muluk, Inferno atau Murakami aja, gak usah banyak-banyak. Buku-buku yang berkesan bagi saya ternyata memang semuanya buku lokal, meskipun ada beberapa buku favorit lain seperti Harry Potter dan pasangan detektif Kosasih-Gozali, namun kesan yang ditimbulkan belum sebanyak lima buku yang daya share ini.


Terima kasih buat @irwanbajang sebagai pak supir, semoga angkutannya tetap laris manis. Sampai berjumpa di tantangan berikutnya, semoga di tantangan selanjutnya blog yang anda kelola belum berdebu dan bersarang laba-laba. Jangan kebut-kebutan Pak, ingat anak istri di rumah. Jangan juga menerobos busway, karena saya akan ada di sana untuk #Buswaykick #eh

Jumat, 15 November 2013

#5BukuDalamHidupku Kisah Fantasi Bercitarasa Lokal



Memang benar, makin kesini makin sulit untuk memilih buku untuk tantangan #5BukuDalamHidupku ini. Entah karena buku yang telah dibaca kebanyakan, atau gara-gara belum ada buku yang benar-benar merubah hidup saya. Tapi hidup harus terus berjalan, tantangan harus tetap dilaksanakan, akhirnya saya memilih buku ini untuk saya bahas di hari keempat ini. Buku yang saya maksud adalah:



Judul: Para Pengendali Naga: Nyanyian Perang di Tanah Naga
Penulis: Dhia Citrahayi
Penerbit: LeutikaPrio
Tebal: 631 hal.
Rate: 4/5
Review di Sini

Kami terikat dengan dirimu
Jiwa kami adalah jiwamu
Ragamu adalah milik kami
Dan kekuatan kami adalah milikmu...


Tertekan dalam keadaan yang tidak pasti. Para pengendali Naga hidup dalam ketakutan dan bayang-bayang kekuasaan Tiran. Tetua Para Pengendali Naga berusaha keras melawan kekuasaan itu tetapi, akhirnya satu per satu dari mereka tumbang. Berawal dari terbunuhnya Tetua Naga provinsi Timur, bertahun-tahun kemudian, seorang Pengendali Naga muncul dan berusaha memperbaiki kekacauan ini.

Sayangnya... pertemuannya dengan musuh-musuhnya membuat pengendali Naga itu menjadi lemah hati. Mampukah dia melawan, sedangkan ia sendiri tak bisa mengontrol diri sendiri? Bisakah dia memenangkan pertikaian, sedangkan emosinya berkecamuk setiap kali bertemu dengan musuhnya?

Kenapa saya memilih buku ini? Sederhana saja, buku ini adalah buku yang ditulis oleh teman saya sendiri. Memang sih diterbitkan oleh penerbit indie, namun itu tak menjadi masalah, karena yang penting ialah isi dari buku itu sendiri. Buku ini sendiri mempunya genre fantasi, dapat terlihat bukan dari judulnya? Saya pikir itu keren, karena menurut saya genre itu anti mainstream. Bayangkan, disaat buku-buku Indonesia dibanjiri oleh buku metropop yang romantis, buku kekorea-koreaan, dan buku-buku humor geje, penulis berani mendobrak dunia perbukuan dengan cerita fantasi. Selain itu, yang menjadikan saya salut ialah buku ini tebalnya tak tanggung-tanggung, karena buku-buku mainstream saja jarang yang tebalnya setebal buku ini.


Isi cerita dari buku ini sendiri seputar kerajaan yang dipimpin oleh seoran yang bisa dibilang diktator. Tokoh utama buku ini yaitu Siyan, bisa dibilang ingin membalas dendam kepada penguasa ini karena gara-gara mereka Siyan kehilangan keluarganya. Dengan kemampuannya sebagai seorang pengendali naga, Siyan mencoba untuk mulai merangsek masuk ke wilayah kekuasaan sang raja untuk meruntuhkan sang raja dan menghancurkan sebuah kerajaan yang lalim. Setelah saya pikir-pikir lagi, selain fantasi buku ini bergenre dystopia, yaitu pemimpin yang diktator dan lalim yang coba diruntuhkan oleh si tokoh utama. Dystopia ini sendiri bisa dibilang genre yang belakangan hidup kembali gara-gara meledaknya buku dan film The Hunger Games.


Oke, sekarang masuk ke alasan saya memilih buku ini. Seperti telah saya bilang, buku ini karangan teman saya. Memang sih saya sendiri belum pernah bertemu dengannya, namun buku ini menjadi berkesan karena akhirnya saya mempunyai teman seorang penulis yang telah menerbitkan buku! Memang, terdengar agak berlebihan, tetapi hal tersebut sungguh membuat saya senang, karena saya sendiri ikut berbangga hati ketika teman saya itu akhirnya menerbitan sebuah buku. Lebih spesial lagi, karena si penulis khusus memberikan satu eksemplar bukunya kepada saya. Apalagi, saya juga terkesan dengan isi cerita dari buku ini, walaupun memang masih banyak kekurangan di sana sini, namun overall ceritanya cukup menghibur dan membuat penasaran. Buku ini memang rencananya akan dibuat trilogy, dan dengar-dengar si penulis sedang membuat buku keduanya. Semoga saja buku keduanya cepat selesai dan segera menghibur lagi para penggemar cerita fantasi terutama fantasi karya negeri sendiri.


Buku ini sendiri bisa dibilang pula sebagai pintu gerbang bagi saya untuk mendapatkan teman-teman lain yang juga penulis dan telah menerbitkan buku (walaupun indie). Ternyata, banyak juga teman-teman saya lainnya yang berprofesi sebagai penulis dan telah menerbitkan buku lho. Terkadang, saya juga ingin seperti mereka, menjadi penulis dan menerbitkan buku, semoga saja hal tersebut dapat terwujud, tinggal menghilangkan rasa malasnya saja nih. Ah, sudah terbayang-bayang saja nama saya terpampang di sebuah cover buku, belum lagi royalti dan honor yang saya dapat dari hasil penjualan buku saya, mimpi yang indah. Bangun! Ayo mulai menulis!


Semangat!


PS: Penulis yang ingin mengirimkan bukunya untuk direview oleh saya boleh kok mengirimkan bukunya. Saya dengan senang hati akan membaca dan mereviewnya.

PS2: Satu hari lagi, maka selesailah proyek pulang menuju blog ini #5BukuDalamHidupku