Tampilkan postingan dengan label Roald Dahl. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Roald Dahl. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Desember 2013

Sophie dan BFG, Raksasa Besar yang Baik



BFG. Big Friendly Giant. Raksasa yang baik hati. Tapi, baik hati kok malah menculik Sophie? Itu karena manusia memang makhluk yang tak bisa menyimpan rahasia. Apabila Sophie yang tak sengaja melihat BFG itu tak diculik oleh BFG, maka pastinya kabar tentang adanya raksasa di dunia ini pasti sudah tersebar dan akan ada perburuan besar-besaran terhadap para raksasa. Raksasa ini sebenarnya hanya ada sepuluh, sayangnya hanya BFG yang baik hati dan “peniup” mimpi baik bagi umat manusia, sedangkan sembilan raksasa lainnya yang ukurannya lebih besar daripada BFG merupakan raksasa pemakan manusia!

Petualangan Sophie di kediaman raksasa ini penuh teror. Sekali saja ia ketahuan oleh raksasa lainnya, ia akan langsung dilumat habis oleh mereka. Ah, memang jahat raksasa-raksasa itu. Hanya di malam hari Sophie aman dari raksasa-raksasa itu, ini dikarenakan malam hari yaitu saatnya para raksasa memburu manusia! Ya, para raksasa itu akan menyebar di seluruh dunia dan memakan manusia-manusia yang menurut mereka lezat. Aksi ini dilakukan secara rapi, buktinya, tak ada yang tahu kemana hilangnya manusia-manusia yang dimakan oleh raksasa. Selain itu, jejak raksasa ini tak ketahuan oleh siapapun! Jadi hilangnya beberapa orang di seluruh dunia dianggap sebuah misteri oleh manusia lainnya, tak pernah terpikir bahwa manusia-manusia ini dimakan oleh raksasa.

Sophie muak pada mereka. Ia miris melihat kaum manusia menjadi korban para raksasa. Ia pun mengeluarkan sebuah ide brilian, ide untuk menghentikan aksi para raksasa ini dalam memburu manusia. Tentunya, ide Sophie ini tak akan bisa terlaksana tanpa bantuan BFG, keahliann BFG dalam meniup mimpi, serta bantuan Ratu Inggris. Ya, Ratu Inggris diseret oleh Roald Dahl untuk membantu Sophie meringkus para raksasa ini.

Sebuah kisah yang unik, yang menyatukan cerita hasil pemikiran Roald Dahl dengan dongeng-dongeng legendaris lainnya. Ini terbukti dari rasa ketakutan para raksasa ini HANYA kepada satu manusia, yaitu Jack. Jack ini terkenal dengan tanaman kacang rambatnya yang mampu menembus awan dan menghabisi kaum raksasa, dongeng inilah yang mengilhami RD guna membuat satu hal yang paling ditakuti oleh raksasa. Hal lain yang menarik yaitu mengenai Dahl’s Chickens. Saya sempat dibuat bingung, apakah Dahl’s Chickens itu? Ternyata, BFG yang memang mempunyai kemampuan bicara yang sering terbolak-balik dalam mengolah kata salah menyebut nama pengarang favoritnya, yaitu Charles Dickens menjadi Dahl’s Chickens. Luar biasa memang imajinasi RD dalam membuat cerita.

Di cerita ini pun banyak terselip pesan moral. Salah satunya yaitu bagaimana Roald Dahl mencoba mengatakan bahwa hanya manusialah makhluk yang paling bersifat binatang. Ini terbukti dari HANYA manusialah yang saling membunuh sesama kaumnya, bahkan para raksasa pun tidak membunuh sesama mereka, sekasar apapun mereka. Sungguh sebuah pesan moral yang membuat jleb menurut saya.


Terakhir, ending buku ini juga lumayan keren. Jangan mengira penulis buku ini benar-benar Roald Dahl, baca ending buku ini, dan berpikirlah, kira-kira apakah benar yang dikatakan ending buku ini. Empat bintang.


Judul: The BFG
Penulis: Roald Dahl
Tebal: 200 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 1982 (1st) / 2010 (terjemahan)
Rekomendasi Usia: Semua Umur
Rate: 4/5

Rabu, 13 November 2013

The Witches - Ratu Penyihir



Saya sangat kaget ketika mengetahui buku dari Roald Dahl ini telah diadaptasi ke dalam bentuk film tetapi bukan dengan format kartun. Saya terus terang saja ngeri dan jijik membayangkan hal-hal yang dibahas di buku ini dalam bentuk nyata. Ya, mungkin akan sangat lucu apabila dalam bentuk kartun, namun jika diperankan manusia nyata? Saya yakin memang akan sangat menjijikan.

Apa sih yang menjijikan itu? Hm, bayangkan deh, kaki tanpa jari, kuku tangan panjang dan tajam, kepala botak dengan bentol-bentol merah akibat terlalu sering mengenakan wig, sampai wajah menyeramkan, yang benar-benar menyeramkan. Saya malah tak yakin film ini akann menjadi hiburan bagi anak-anak, mimpi buruk mungkin iya.

Hal lain, membayangkan manusia nyata (dalam hal ini anak kecil) mengkerut dan mengecil menjadi seekor tikus, apakah itu tak akan menjadi mimpi buruk bagi anak-anak? Transformasinya itu lho, badan mengecil, tumbuh kumis, tumbuh ekor, tangan berubah menjadi kaki depan, nampak sangat menggelikan. Geli disini berarti jijik.

Oke, hal-hal itu bisa ditemukan dalam karya Opa Roald Dahl yang berjudul The Witches. Sang Ratu Penyihir, itulah judul yang digunakan penerbit Gramedia dalam mengartibebaskan judul asli buku ini. Cocok karena memang cuma si ratu penyihirlah yang terlihat rupa aslinya, wajah asli yang menyeramkan dan menjijikan, itu yang saya lihat sekilas dari trailer film ini di youtube. Memang dapet sih untuk membuat anak-anak ngeri ketika membayangkan wajah si penyihir ini.

Jalan cerita buku ini sendiri berawal ketika si aku (mungkin pengalaman pribadi Roald Dahl) kehilangan kedua orangtuanya yang meninggal. Ia pun harus mengikuti neneknya yang tinggal di Norwegia, dimana Norwegia sendiri dikenal sebagai sarang para penyihir di seluruh dunia. Nenek kemudian menceritakan ciri-ciri penyihir yang ada di dunia. Satu yang pasti, penyihir adalah wanita, tak bisa tidak. Kemudian, si aku dan neneknya berlibur ke Inggris dan menginap di salah satu hotel. Tak disangka, ketika si aku ingin melatih kedua peliharaan tikusnya di salah satu ruangan hotel, ia masuk ke ruangan yang salah. Ia masuk ke salah satu ruangan dimana di ruangan tersebut diadakan pertemuan para wanita pecinta anak-anak. Si aku baru menyadari keganjilan gara-gara semua pesertanya ialah wanita yang  memenuhi persyaratan sebagai penyihir sebagaimana yang diceritakan oleh neneknya. Dan memang, ruangan itu dipenuhi oleh penyihir, si aku terjebak, karena salah satu penyihir ialah sangat membenci anak kecil dan bisa merubah anak-anak menjadi seekor tikus...


Imajinasi RD tentang para penyihir ini walaupun agak nyeleneh namun tepat untuk menggambarkan bagaimana mengerikannya para penyihir ini. Memang, bisa dikatakan isi dari buku ini cukup untuk menakut-nakuti anak-anak usia sekolah dasar awal, namun perjuangan si aku dan neneknya guna menumpas para penyihir di seluruh dunia merupakan sebuah hal yang heroik dan patut ditiru. Jangan lupa untuk mencatat bahan-bahan apa saja yang dibutuhkan untuk membuat ramuan pengubah anak-anak menjadi tikus, praktikkan, dan berjaga-jagalah, siapa tahu ciri-ciri penyihir yang disebutkan di buku ini terdapat pada wanita-wanita yang kalian temui kemarin, tadi, hari ini ataupun esok hari.


Judul: The Witches
Penulis: Roald Dahl
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 240 hal.
Tahun Terbit: 1983 (1st) / 2005 (read)
Rate: 4/5
Rekomendasi Usia: > 8 tahun



PS: Buku ini ternyata banyak mendapatkan award lho. Dari data di Goodreads saja ada tiga awards, yaitu: Whitbread Award for Children Novel (1983), Books I Loved Best Yearly (BILBY) Awards for Read Alone (1993), dan West Australian Young Readers' Book Award (WAYRBA) for Younger Readers (1986)

Sabtu, 19 Oktober 2013

Persik Raksasa dan James, dan Serangga-serangga Lainnya



Kali ini buku dari Roald Dahl yang saya baca bisa dibilang cukup tebal, hampir dua ratusan halaman. Masih tetap dengan ilustrasi-ilustrasinya, kali ini penulis mengajak kita mengunjungi James, seorang anak yatim piatu malang yang kedua orangtuanya dimakan oleh badak! Ia akhirnya dirawat oleh kedua bibinya yang jahat, Bibi Spiker yang kurus dan Bibi Sponge yang gemuk. Walaupun berbeda postur, mereka sangat kompak dalam menganiaya James, sungguh sangat malang nasib anak itu.

Nasib James yang malang mengalami perubahan besar etika ia bertemu seseorang misterius yang memberinya butiran-butiran lidah buaya ajaib. Efek dari lidah buaya ajaib itulah yang menjadi judul dari buku ini: Buah persik raksasa! Bayangkan, buah persik raksasa yang bisa dimasuki, bahkan daging buahnya bisa dimakan ketika kita berada di dalam buah persik raksasa itu. Inilah yang terjadi pada hidup James, ia berpetualang dengan “mengendarai” buah persik raksasa ini. Teman petualangannya pun tak main-main, ada cacing tanah, lipan, kakek belalang hijau, kepik, nona laba-laba, ulat sutera, dan cacing cahaya. Ukuran mereka pun bisa dibilang raksasa, ya, mereka pun terkena efek biji lidah buaya tadi. James yang sempat ketakutan akhirnya mendapati bahwa teman-teman barunya ialah teman yang menyenangkan, seketika itu hidupnya yang tadinya malang berubah menjadi menyenangkan, tentunya diselingi dengan kejadian-kejadian menarik di sepanjang petualangannya.

Luar biasa. Itulah kesan saya terhadap buku ini. Bagaimana penulis menghidupkan tokoh-tokoh serangga sehingga dapat berkomunikasi dengan manusia, saya rasa merupakan sebuah ide yang brilian. Terdengar biasa saja? Iya, apabila kisah mereka hanya ngobrol-ngalor-ngidul-gak-jelas. Tapi disini, penulis menyisipkan ilmu pengetahuan tentang binatang-binatang tersebut dalam kisah ini. Bagaimana kisah belalang hijau dapat membuat suara merdu seperti biola diceritakan disini. Ada juga kisah totol-totol pada kepik yang katanya menentukan usia kepik itu, diceritakan pula di buku ini. Penasaran kan pelajaran apa lagi yang ada mengenai serangga-serangga lainnya? Ada kok di buku ini, dengan bahasa yang tidak menggurui, membuat pembaca tak sadar bahwa ilmu baru sebenarnya telah mereka pelajari.

Tak hanya itu, perpaduan pelajaran yang benar-benar pelajaran dengan hal-hal konyol pun ada di sini. Lihat saja, bagaimana proses pembuatan pelangi yang dibuat dengan cara mengecat sebuah benda di angkasa oleh manusia awan, terdengar konyol namun juga kadang membuat berpikir, apakah kenyataannya seperti itu, hehehe...

Petualangan James ini menurut saya mampu membawa pembaca larut dalam kisahnya yang campur aduk, menegangkan, konyol, bahkan menggemaskan, apalagi ketika melihat tokoh si lipan yang begitu congkak dan tokoh si cacing tanah yang sangat paranoid sudah mulai beradu mulut, pasti akan membuat pembaca terpingkal-pingkal dibuatnya. Kabar baik dari buku ini ialah bahwa buku ini pernah difilmkan oleh Disney pada tahun 1996, tentunya dalam format kartun, karena saya tak bisa membayangkan serangga-serangga ini main film dalam wujudnya yang nyata, bisa jadi filmnya malah mengerikan untuk anak-anak, bukan menghibur.



Satu pesan moral dari buku ini: sikap sabar seperti yang James lakukan akan membawa manusia dalam kebahagiaan, siapa yang menabur benih, ialah yang akan menuai hasil. Itu pula nasib yang menimpa bibi Spiker dan bibi Sponge, bagaimana nasib mereka? Baca sendiri bukunya, dan masuklah ke dalam buah persik raksasa.


Judul: James and the Giant Peach
Penulis: Roald Dahl
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 192 hal.
Tahun Terbit: 1961 (1st) / 2006 (read)
Rate: 5/5
Rekomendasi Usia: Semua Umur

Gregg Family: The Magic Finger



Buku kedua Roald Dahl yang saya baca. Dari judulnya saja sudah dapat diketahui bahwa kisah di buku ini merupakan sebuah kisah ajaib nan mustahil. Memang, hal ini menimpa si "aku", seorang anak perempuan berusian delapan tahun yang memiliki kekuatan ajaib pada jarinya apabila dia sedang sangat marah terhadap seseorang. Dari jarinya itu, ia dapat membuat seseorang berubah bentuk, semacam  kutukan, namun sayangnya, lucu.

Alkisah, ia berteman dengan William Gregg, anak lelaki sebayanya, putra dari keluarga Gregg. William ini mempunyai kakak bernama Phillip, seorang anak berusia sebelas tahun. Keluarga Gregg ini amat gemar berburu, apalagi berburu bebek. Si tokoh "aku", yang tidak menyukai hal tersebut berulang kali telah berbicara kepada keluarga Gregg ini, namun hanya ditanggapi sambil lalu saja. Si "aku" yang terlanjur marah akhirnya mengacungkan jari ajaibnya ke keluarga ini. Tak ada yang terjadi, hingga keesokan harinya, ketika bangun tidur, Pak Gregg dan Bu Gregg serta kedua anaknya mendapati diri mereka tidak lagi memiliki tangan. Tangan mereka ternyata berubah menjadi sayap bebek! Bukan itu saja, bebek yang tadinya mereka buru pun mengalami keanehan, sayap mereka hilang digantikan tangan manusia! Kehidupan keluarga Gregg dan keluarga bebek pun berubah seratus delapan puluh derajat, kali ini giliran keluarga bebek yang memburu keluarga Gregg. Apakah keluarga Gregg akan selamat?


Buku setebal 80 halaman ini dapat dihabiskan hanya dalam sekali lahap, font yang digunakan pun bisa dibilang segede gaban, sehingga saya yakin buku ini akan sangat cocok untuk dibaca anak-anak segala usia. Apalagi, dengan membaca buku ini pun diperoleh pelajaran hidup bahwa sesama makhluk hidup dilarang saling menyakiti, apalagi memburu secara membabibuta seperti apa yang dilakukan oleh keluarga Gregg.Selain itu, ada pula sisi negatif dari buku ini, yaitu pelajaran bahwa emosi harus bisa dikendalikan, jangan seperti tokoh si "aku" yang tanpa berpikir panjang begitu saja” menyihir” orang-orang yang membuat ia marah. Satu hal lagi yang membuat saya bingung, yaitu tentang bedanya nasib ibu guru dari si "aku" dan keluarga Gregg yang sama-sama menjadi korban jari ajaib, mengapa bisa nasib mereka berbeda? Apa bedanya? Baca sendiri dan selami dunia Roald Dahl. Setelah baca? Ceritakan kembali kisah ini kepada anak-anak beserta nilai moralnya.


Judul: The Magic Finger
Penulis: Roald Dahl
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 80 hal.
Tahun Terbit: 1966 (1st) / 2003 (read)
Rate: 4/5
Rekomendasi Usia: Semua Umur

Alfie si Kura-kura: Esio Trot



Ini buku pertama Roald Dahl yang saya baca. Cuma setebal 68 halaman, fontnya juga lumayan gede, yakin deh bisa cepet bacanya. Judul buku ini Esio Trot, membingungkan bagi yang belum paham isi buku ini, tapi bakal sangat menghibur bagi yang sudah membacanya.

Inti cerita ini sederhana, Mr. Hoppy jatuh cinta kepada Mrs. Silver, keduanya bisa dibilang sudah berusia separuh baya. Mr. Hoppy seorang pensiunan, sedangkan Mrs. Silver seorang janda. Mereka tinggal dalam satu apartemen yang sama, namun berbeda lantai. Nah, karena Mr. Hoppy tinggal di atas, maka dari balkonnya ia dapat melihat Mr. Silver di lantai bawahnya, tentunya di balkonnya juga. Mr. Silver ini punya seekor kura-kura bernama Alfie yang disayanginya sudah seperti anaknya sendiri. Mr. Hoppy pun ingin disayangi seperti itu, ia pun mendapat akal begitu mendengar Mrs. Silver mengeluh bahwa Alfie beratnya tidak naik-naik. Dengan bantuan bahasa kura-kura dan alat penangkap kura-kura, Mr. Hoppy pun memulai usahanya untuk membuat kegalauan Mrs. Silver hilang.

Inti dari buku ini memang menceritakan tentang kura-kura. Yang saya sukai, ada juga catatan penulis tentang sejarah kura-kura di Inggris sana, dan cerita yang Roald Dahl karang ini memang berdasarkan kisah nyatanya memelihara kura-kura ketika ia kecil. Bukan itu saja, ada lagi sebuah hal yang terinspirasi dari kisah hidup RD yang diaplikasikan di Esio Trot ini. Apa itu? Baca sendiri untuk mengetahuinya.

Kesan saya membaca buku ini ialah salut kepada Roald Dahl. Bagaimana ia mampu mencipatakan sebuah cerita dari kehidupan sehari-hari dan juga masuk akal. Belum ada hal-hal aneh yang dimasukkan Roald Dahl ke dalam buku ini sehingga bisa dibilang cerita ini logis dan masuk akal, bagi anak-anak sekalipun. Bahasa kura-kura yang ia ciptakan pun dapat membuat pembaca tersenyum-senyum.


Pesan moral yang dapat diperoleh dari buku ini ialah, bagaimana seseorang yang gigih akan mendapatkan apa yang dicita-citakannya, tentu saja hal itu mesti dibarengi oleh usaha dan akal serta kerja keras guna mencapainya. Sebuah pesan moral yang wajib disampaikan kepada anak-anak apabila suatu saat cerita ini disampaikan kepada mereka melalui cerita, baik disaat senggang maupun di kala sebelum tidur. Cerita dari buku ini cocok untuk segala usia, buku yang sangat saya rekomendasikan, lima bintang.


Judul: Esio Trot
Penulis: Roald Dahl
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 68 hal.
Tahun Terbit: 1989 (1st) / 2006 (read)
Rate: 5/5
Rekomendasi Usia: Semua Umur

Master Post Baca Bareng Buku-bukunya Roald Dahl


Oke, jadi ini adalah event baca barengnya buku-buku anak karangan Roald Dahl, yang memang benar-benar sangat legendaris dan cocok bagi anak-anak. Selain itu, buku-bukunya Roald Dahl ini layak banget buat dijadiin dongeng sebelum tidur, semoga nantinya bisa gitu :)

Waduh, deadline nih deadline, gawaaat...
Semoga postingan ini masih bisa dihitung deh, setelah susah payah pinjem buku-bukunya Roald Dahl ke @miss_zp, akhirnya berhasil juga nuntasin beberapa bukunya Roald Dahl.

So, this is my list:
1. Esio Trot ---> Review
2. The Magic Finger ---> Review
3. James and the Giant Peach ---> Review
4. Danny the Champions of the World
5. The BFG
6. The Witches

Oke, ini master post-nya mbak Hobby Buku ---> Roald Dahl, silakan kunjungi link untuk melihat kemeriahan baca bareng ini, dan juga membaca revie-review lain yang menyenangkan dari peserta challenge ini.