Tampilkan postingan dengan label BBBBI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BBBBI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 November 2013

Thomas & Prudence - Musuh Dalam Selimut



The Secret Adversary, atau Musuh Dalam Selimut, merupakan buku kedua yang ditulis oleh Agatha Christie. Buku ini bukan bercerita tentang Hercule Poirot, melainkan memperkenalkan dua orang muda yang akhirnya berpasangan, yaitu Thomas “Tommy” Beresford dan Prudence “Tuppence” Cowley. Pasangan yang kelak dikenal sebagai Tommy & Tuppence Beresford ini bisa dibilang tak punya basic apa-apa dalam dunia perdetektifan, malah menurut saya mereka bergerak hanya berdasar intuisi dan kenekatan saja, namun hal itulah yang membuat pasangan ini begitu unik dan menarik. Pasangan ini mendirikan sebuah “perusahaan” yang dinamakan PT Petualang Muda. Memang, ini bukan perusahaan sungguhan, mereka hanya mengkhusukan diri untuk memecahkan kasus-kasus yang klien mereka bawa ke perusahaan tersebut.

Sebelum mengenal pasangan ini, imajinasi saya mengenai mereka yaitu bahwa mereka berdua merupakan orang yang serius, dan sebagai pasangan yang sudah cukup berumur. Namun saya salah, mereka masih cukup muda, berusia sekitar dua puluh tahunan, dan juga agak konyol. Selain itu, mereka pun bisa dibilang beruntung, karena selalu mendapat bantuan dalam memecahkan kasus. Saya agak sangsi apabila tak ada bantuan mereka akan dapat menyelesaikan sebuah kasus, entah di buku-buku berikutnya.

Dalam buku ini, Petualang Muda terlibat dalam sebuah kasus yang lumayan pelik. Kasus ini bersetting di tahun 20-an, dimana waktu itu suasana politik sedang panas-panasnya. Di sebuah kapal yang bernama Lusitania, seorang pembawa dokumen rahasia asal Amerika terjebak dalam situasi sulit, dimana kapal Lusitania ini ditembak torpedo. Dalam situasi hanya wanita dan anak-anak yang lebih dulu diselamatkan dengan sekoci, si lelaki pembawa dokumen ini memercayakan dokumen tersebut kepada Jane Finn, karena ia yakin Jane merupakan orang yang tepat dan nasionalis. Sayangnya, Jane Finn kemudian hilang dan dokumen-dokumen tersebut juga ikut hilang. Dokumen-dokumen penting itu lima tahun kemudian harus segera ditemukan, mengingat apabila jatuh ke tangan musuh, maka dikhawatirkan akan terjadi revolusi besar-besaran di Inggris.

Mr. Brown. Inilah tokoh sentral yang menjadi musuh Tommy-Tuppence dan juga pemburu dokumen-dokumen rahasia tersebut. Sepanjang isi buku, Agatha Christie dengan sangat lihai menyembunyikan si Mr. Brown ini. Sebenarnya, siapa Mr. Brown ini dapat mudah tertebak apabila membaca judul buku ini, Musuh Dalam Selimut. Ya, penjahatnya sudah terlihat jelas dari situ. Pintarnya, Agatha Christie terus membawa pembaca berputar-putar untuk menebak siapa Mr. Brown sebenarnya, sehingga pembaca pun terkecoh dengan cara ini.


Walaupun tidak sedetektif Poirot, tokoh Tommy-Tuppence ini mampu membuat saya terlarut dalam ceritanya. Memang, tak ada pemecahan kasus yang benar-benar brilian, tetapi penceritaan yang melalui dua sudut pandang, yaitu Tommy dan Tuppence membuat cerita ini enak dibaca dan membuat penasaran. Ada kalanya, Tommy yang sedang disekap maka jalan cerita melalui sudut pandang Tuppence, juga sebaliknya, ketika Tuppence menghilang, giliran Tommy yang bercerita dan berpetualang. Terjemahannya pun enak dibaca, penerjemah tidak segan-segan menggunakan bahasa slang seperti monyong, bokek, dll. Penggunaan kata-kata ini menurut saya sangat tepat apalagi mengingat karakter Tommy dan Tuppence yang agak tengil dan konyol. buku ini pun seolah menjadi ajang perkenalan bagi Tommy dan Tuppence untuk buku-buku selanjutnya, mengingat ending buku ini yang berakhir membahagiakan bagi mereka berdua. Lima bintang untuk buku ini, sebuah awal pengenalan yang menarik.


Judul: The Secret Adversary - Musuh Dalam Selimut
Penulis: Agatha Christie
Tebal: 376 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 1922 (1st) / 2012 (read)
Rate: 5/5

Kamis, 31 Oktober 2013

Tara, Ello dan Alfons: Katarsis



Tara Johandi, seorang gadis belia berpikiran dewasa, putri dari pasangan Bara dan Tari Johandi yang merasa lahir dari orang tua yang salah. Sejak kecil Tara sudah membenci kedua orangtuanya, namanya, dan keadaan di sekitarnya. Tak ada panggilan ayah atau ibu kepada kedua orangtuanya, yang ada hanyalah panggilan nama, Bara, atau Tari kepada mereka. Saking bencinya, Tara juga tak ingin dipanggil sesuai namanya, nama gabungan antara Bara dan Tari. Obsesi Tara sejak kecil memang sudah terlihat aneh, ia akan merasa berdesir dan mempunyai sebuah perasaan yang tak tergambarkan apabila ia melihat atau membaui darah, hal ini pula yang membuatnya tak takut kepada siapapun, bahkan untuk melakukan tindakan keji sekalipun. Empat orang anggota keluarga telah menjadi korban kebiadabannya, suatu kebiadaban yang didasarkan rasa benci pada mereka, serta rasa takjub terhadap darah. Satu lagi obsesi aneh Tara yaitu mengenai uang logam lima rupiah. Uang yang selalu dipegangnya, dibawanya kemana saja, hasil dari pengalaman waktu kecilnya saat ia bertemu seseorang yang nantinya mempunyai obsesi besar terhadap diri Tara.

Marcello Ponty, biasa dipanggil Ello, seorang laki-laki yang lahir dari keluarga brokenhome. Ello mempunyai sebuah kelainan yaitu tidak bisa merasaka rasa sakit. Ini kali kedua saya menemukan tokoh yang mengalami kelainan ini. Sebelumnya, ada seorang tokoh di buku The Girl Who Played with Fire yang juga mengalami keadaan seperti ini. Ello yang jauh dari ayahnya tiba-tiba pulang ke rumah ayahnya, ia tahu semua yang telah dilakukan oleh ayahnya, mengenai kotak perkakas, serta mengenai obsesi ayahnya terhadap permainan harta karun dengan menggunakan kotak perkakas sebagai kotak harta karun dan manusia yang dimasukkan ke dalamnya sebagi harta karunnya. Ia mengikuti jejak ayahnya bermain pencarian harta karun dengan satu orang gadis obsesinya selama ini, yaitu Tara Johandi, yang dulu merupakan seorang gadis kecil yang ia beri koin lima rupiah sebagai obat untuk menahan rasa sakit.

Katarsis memiliki arti penyucian diri; suatu metode psikologi untuk menghilangkan beban mental seseorang; dan kelegaan jiwa / emosional diri. Bisa dibilang arti dari katarsis sendiri ketiga-tiganya tergambarkan di dalam novel ini. Arti pertama yaitu mengenai penyucian diri, ini terjadi kepada Ello dan ayahnya. Mereka berdua, terutama ayah dari Ello menganggap dengan bermain harta karun dengan manusia sebagai hartanya mereka telah mencapai sebuah tingkatan diri menjadi lebih suci. Ada rasa puas tersendiri ketika mereka melakukan hal ini, terutama ketika mayat yang berada dalam kotak perkakas ini ditemukan oleh masyarakat luas. Memang, terdengar psycho, tapi ini kenyataannya. Poin kedua yaitu mengenai metode psikologi yang dilakukan guna menghilangkan beban mental sesoerang dengan membiarkan orang itu menceritakan segala yang dirasakannya. Hal ini lah yang dilakukan Alfons terhadap Tara sebagai psikiater. Ini pula dapat terlihat dari diri Tara yang tidak menolak dipanggil dengan nama Tara apabila Alfons yang memanggilnya, sebuah metode yang cukup efektif untuk orang yang berkepribadian seperti Tara. Arti ketiga yaitu mengenai kelegaan jiwa / emosional diri. Inilah yang Tara lakukan terhadap keluarganya sebelum ia bertemu Alfons. Hal-hal yang ia benci ia hilangkan dengan cara apapun bahkan dengan tindakan yang begitu sadis. Terbukti hal ini menimbulkan kelegaan pada diri Tara dengan tak adanya rasa penyesalan sama sekali, bahkan cenderung puas karena ia telah menghilangkan hal yang ia benci. Ya, psycho juga sih.


Dengan sudut pandang orang pertama bergantian antara Tara dan Ello, penulis tidak membedakan font atau memberi keterangan siapa yang sedang berbicara. Hal ini membuat pembaca dibawa untuk berpikir siapakah yang sedang berbicara, apakah Ello atau Tara. Memang, banyak yang mengeluhkan PoV seperti ini, tapi menurut saya hal ini sangat menarik, membuat bertanya-tanya, serta menambah kesan misterius ketika membaca buku ini. Dengan bagian per-babnya yang pendek-pendek, membuat buku ini pun enak untuk dibaca. Namun hati-hati, banyak adegan kekerasan, darah, hingga mutilasi di buku ini, sehingga buku ini terkesan mengerikan ketika dibaca. untuk saya, buku ini memang agak mengerikan ketika bagian awalnya, saya tak bisa membayangkan memiliki putri seperti Tara, yang sedari kecil memiliki rasa benci terhadap orangtuanya, bagian ini membuat saya merinding apabila terjadi dalam kejadian nyata. Lima bintang untuk buku ini.


Judul: Katarsis
Penulis: Anastasia Aemilia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 264 hal.
Tahun Terbit: 2013
Rate: 5/5

Rabu, 30 Oktober 2013

Changez: The Reluctant Fundamentalist




Lelaki yang Terbuang.
The Reluctant Fundamentalist.
Dilema Seorang Muslim Amerika antara Dunia Barat dan Islam Pasca 11/9.

Tiga kalimat tersebut terdapat dalam sebuah buku yang masuk dalam shortlist Man Booker Prize tahun 2007 karangan Mohsin Hamid. Hamid ialah seorang muslim Pakistan lulusan Princeton, Amerika Serikat. Ia kini tinggal di London, dan inilah mengapa ia masuk shortlist award ini. Ya, Man Booker Priza merupakan award yang dikhususkan untuk novel berbahasa Inggris dengan syarat si penulis tinggal di Inggris dan negara persemakmurannya, Irlandia, dan Zimbabwe.

Bercerita tentang seorang muslim Pakistan yang juga kuliah di Princeton, Hamid seolah ingin menceritakan pengalamannya sendiri ketika ia tinggal di sana. Namun ini bukanlah  sebuah memoar, Hamid hanya “menitiskan” dirinya pada tokoh Changez, yang hidup pada zaman berbeda, yaitu zaman modern ketika terjadi peristiwa 11 September yang menluluhlantahkan World Trade Center di Amerika Serikat. Hamid sendiri telah lulus jauh sebelum itu, yaitu tahun 1993, dengan predikat summa cumlaude, sebuah prestasi membanggakan bagi warga imigran asal Asia.

Sebenarnya, keterangan “Dilema Seorang Muslim Amerika antara Dunia Barat dan Islam Pasca 11/9” yang terdapat pada cover buku menurut saya kurang tepat. Ya, Changez memang muslim, tapi tak diceritakan secara detail bagaimana keislamannya. Mungkin yang tepat ialah dilema antara Dunia Barat dan Negerinya, Pakistan. Setelah peristiwa 11/9, pandangan Amerika terhadap muslim menjadi lebih waspada. Perbedaan perlakuan seperti ketika seorang muslim tiba di bandara di Amerika memang begitu kentara, dan Hamid menceritakan secara gamblang di buku ini. Nah, yang dirasakan Changez sendiri lebih kepada rasa cintanya kepada negerinya yang memang mayoritas muslim. Apalagi, Pakistan berada dekat dengan Afghanistan, dimana Osama bin Laden yang menjadi “tersangka” peristiwa 9/11 menjadi orang nomor satu yang paling dicari di dunia. Belum lagi konflik antara Pakistan dengan India yang kemungkinan besar ditunggangi oleh Amerika Serikat, membuat hidup Changez di Amerika menjadi sangat tidak nyaman. Dari sinilah terjadi perubahan pada diri Changez, ia yang mempunyai prestasi gemilang di sebuah firma hukum mulai tak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya, hidupnya mulai berantakan. Belum lagi hubungannya dengan Erica yang membuatnya begitu frustasi walaupun tak ada penolakan dari keluarga Erica. Sikap Erica yang misterius semakin membuatnya galau dan membuatnya makin berada di dalam sebuah dilema, haruskah ia tetap di Amerika atau kembali ke Pakistan membela negaranya.


Diceritakan dengan cara yang sangat tidak biasa, seolah-olah Changez sedang mengobrol dengan tamunya yang berasal dari Amerika Serikat. Changez sendiri ketika itu telah kembali ke Pakistan, dan melalui perbincangannya itulah ia menceritakan tentang kisahnya ketika ia merantau ke Amerika, menjadi salah satu lulusan terbaik Princeton, menjadi karyawan sukses di sebuah firma hukum, hingga masa-masa terpuruknya ketika ia berhubungan dengan Erica dan peristiwa 9/11. Buku ini pun sangat anti-mainstream, penulis tak ragu mengkritsi kebijakan-kebijakan Amerika Serikat melalui Changez. Mengenai cara bercerita di buku ini sendiri menurut saya merupakan sebuah cara yang berbeda, alur ketika Changez bercerita dan apa-apa saja yang ia kerjakan dengan tamunya sangat luar biasa, apalagi menginjak bagian ending buku ini, membuat pembaca menebak sendiri bagaimana akhir nasib dari si tamu Changez ini. Dari segi cerita sendiri menurut saya memang agak flat, konflik yang ada tak semegah kalimat “dilema Dunia Barat dan Islam”, dan ceritanya cenderung membosankan. Tapi semua itu tertutupi dengan cara penceritaan yang khas serta ending yang penuh tanda tanya tersebut. Tiga bintang.


Judul: The Reluctant Fundamentalist
Penulis: Mohsin Hamid
Tebal: 181 hal.
Penerbit: Mizan
Tahun Terbit: 2007 (1st) / 2008 (terjemahan)
Rate: 3/5

Jumat, 30 Agustus 2013

Tentara Juga Manusia



Pernah terpikirkan mengapa tentara harus menjalani latihan yang berat, dengan beban yang berat pula? Sebelumnya saya juga tak pernah berpikir jauh kesana, sampai kemudian saya membaca salah satu buku yang masuk list 1001 Books You Must Read Before You Die, sebuah buku dengan tema peperangan, tema yang juga sesuai dengan tantangan SRC bulan Agustus 2013 dan baca bareng buku bersama komunitas BBI. Jadi, apa jawaban pertanyaan di atas? Sebentar, sebelumnya saya akan memperkenalkan buku yang saya baca, judul buku tersebut adalah The Things They Carried, penulisnya ialah Tim O’Brien, beliau merupakan alumni prajurit Amerika Serikat yang berperang di Vietnam. Perang Vietnam, sebuah perang yang terkenal dan legendaris antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, dengan ditunggangi oleh masing-masing pihak yang sok punya kepentingan, salah satunya Amerika Serikat ini. Dari judul buku ini seolah yang dibahas di buku dengan ketebalan 338 halaman ini hanya seputar barang-barang yang para tentara bawa ketika berperang, tetapi sebenarnya buku ini berisi kumpulan cerita pendek tentang perang Vietnam, tepatnya tentang hal-hal di belakang layar yang terjadi ketika perang Vietnam, jadi buku ini tak membahas perangnya secara membosankan, tetapi membahas hal-hal yang berada di balik perang tersebut. Kembali ke pertanyaan di atas, jawaban dari pertanyaan ini dapat diketahui di bab pertama buku ini. Tahu dong apa saja bawaan utama tentara? Ya, senjata, perlengkapan perang sampai hal-hal remeh-temeh yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Nah, jangan pikir senjata-senjata dan perlengkapan perang yang dibawa itu ringan, maka disinilah perlunya latihan berat dilakukan oleh para tentara tersebut. Jangan salah, bahkan di antara perlengkapan-perlengkapan perang tersebut ada yang dibawa secara bergantian oleh para tentara saking beratnya bawaan mereka tersebut. Setelah pertanyaan tersebut terjawab, ternyata masih ada hal-hal yang dibawa oleh para tentara tersebut, seperti disebut sebelumnya, barang-barang itu merupakan hal-hal yang remeh-temeh bahkan konyol! Ternyata, tak hanya orang Indonesia yang memercayai klenik, tentara Amerika pun demikian, bayangkan saja seorang tentara ada yang membawa foto pacarnya sampai stoking kekasihnya! Bahkan, mereka menggunakan barang-barang tersebut sebagai jimat, terdengar menarik bukan? Apabila jimat-jimat tersebut belum cukup mencengangkan, lihat bawaan lain mereka:  alkitab, makanan ringan (seperti M n M’s), bahkan komik! Ternyata, tentara juga manusia, di balik kesangaran mereka masih terselip kasih sayang dan kebutuhan akan hiburan.

Tidak hanya tentang seputar perang Vietnam, penulis pun menceritakan kehidupan tentara-tentara tersebut sebelum dan pasca perang Vietnam. Contohnya saja si penulis sendiri, ia adalah lulusan SMU yang pintar, namun wajib militer yang diadakan oleh pemerintah mengharuskannya mengikuti perang Vietnam ini. Padahal, di hati kecilnya, si penulis tidak mendukung langkah Amerika ini dalam mencampuri urusan dalam negeri Vietnam. Bahkan, ia mempunyai pemikiran yang memang masuk akal, mengapa tidak orang-orang yang mendukung ikutcampurnya Amerika saja yang berangkat berperang, mengapa mesti melibatkan orang-orang yang hanya ingin hidup damai guna ikut berperang, sungguh sangat tidak masuk akal. Itu adalah salah satu contoh tulisan tentang sebelum perang, ada pula kisah tentang hal pasca perang, bagaimana para prajurit yang telah terbiasa hidup bergerilya dan dekat dengan maut mengalami kebosanan ketika perang berakhir, ya, karena para prajurit ini bukan tentara “beneran”, tak sedikit alumni perang Vietnam yang justru stres dan hidup menggelandang setelah perang selesai, mereka tak tahu harus berbuat apa, mengingat lapangan pekerjaan yang ada pun hanya untuk pekerjaan yang serabutan. Di bagian ini saya melihat cermin dari atlit-atlit yang di masa mudanya membela Indonesia namun terlunta-lunta ketika telah pensiun. Sama-sama kurang kepedulain dari pemerintah.

Hal lain yang dibahas di buku terbitan Serambi ini ialah bagaimana para prajurit mengusir kebosanan ketika sedang tidak berperang. Ada sebagian tentara yang bermain lempar-lemparan bom berkekuatan rendah, ada pula tentara yang “gila” yaitu tentara-tentara yang ber-halloween ria dengan cara mengetuk rumah penduduk sedangkan ia bertelanjang bulat dan tak segan menjarah isi dari rumah penduduk tersebut, sungguh absurd. Kisah-kisah tragis pun tak luput untuk diceritakan di buku yang terbit pada tahun 1990 ini. Memang, yang namanya perang pastinya memakan korban, tetapi tidak semua korban perang meninggal gara-gara peperangan, contohnya saja, ada salah seorang rekan penulis yang bernama Kiowa, ia tewas dalam lumpur yang berisikan tinja! Ceritanya begini, pasukan Amerika memutuskan untuk berkemah di sebuah lapang yang luas, tanpa mereka ketahui, sebenarnya lapangan itu merupakan ladang tinja bagi penduduk Vietnam kala itu. Mungkin kalia bertanya-tanya, kok ada sih ladang tinja? Jangan lupa, setting di buku ini yaitu pada sekitar tahun 1970-an ketika terjadi perang Vietnam. Sebab dahulu masyarakat belum terlalu peduli pula pada kesehatan, maka seenaknyalah lapangan tersebut dijadikan toilet umum raksasa. Nah, lapangan yang tadinya kering kerontang, berubah menjadi lautan lumpur (yang tentunya berisi tinja campur lumpur) ketika sialnya pada malam itu terjadi hujan badai. Lebih sial lagi, Kiowa tertembak oleh tentara Viet Cong tanpa bisa diselamatkan rekan-rekannya. Makin sial ketika ia malah terhisap lumpur yang berisikan tinja tersebut dengan sukses, tanpa mampu tertolong lagi nyawanya. Masih banyak kisah-kisah yang di luar nalar kita terutama yang awam dengan medan peperangan di dalam buku ini, ada pula kisah tentang seorang tentara yang berhasil mendatangkan kekasihnya ke medan perang di Vietnam ini, luar biasa bukan? Sayangnya kisah tentara ini berakhir agak tragis karena si wanita akhirnya ikut terjerumus dalam dunia peperangan dan menjadi wanita yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.

Kumpulan cerita dari Tim O’Brien ini sangat layakk masuk list 1001 Books You Must Read Before You Die, selain membuka wawasan baru tentang dunia peperangan, terselip juga beberapa kutipan atau petuah dari penulis, yang intinya bahwa perang itu tidak menguntungkan siapa-siapa, hanya akan muncul penderitaan dari sebuah peperangan. Membaca buku ini pun membuat pembacanya seolah merasakan seperti apa medan perang sesungguhnya, dan juga seakan ingin menerangkan kepada masyarakat banyak bahwa tentara juga manusia, punya rasa punya hati walaupun senjata mereka pisau belati. Oh ya, satu hal lagi, tak seperti buku-buku 1001 pada umumnya yang berat untuk dicerna, buku ini mudah dimengerti, bahkan terjemahannya pun enak dibaca, apalagi banyak hal-hal baru yang dapat dieksplorasi dan diketahui dari buku ini. Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca, baik itu pecinta militer ataupun bukan, karena menurut saya buku ini sangat layak mendapatkan bintang lima.


NB: kisah ini merupakan kisah fiksi yang terinspirasi dari kejadian-kejadian non fiksi yang terjadi pada perang Vietnam di tahun 1957 sampai tahun 1975.


Judul: The Things They Carried
Penulis: Tim O'Brien
Penerbit: Serambi
Tebal: 338 hal.
Tahun Terbit: 1990 (1st) / 2008 (terjemahan)
Rate: 5/5

Selasa, 30 Juli 2013

Petualangan dalam Waktu yang Singkat



Ada yang lain kali ini dalam kisah Lima Sekawan berjudul Rahasia Harta Karun. Jika biasanya anak-anak melakukan petualangan di saat mereka sedang liburan panjang musim panas ataupun liburan paskah, pada kali ini anak-anak berpetualang di sela-sela liburan singkat pertengahan semester, atau tepatnya di bulan Oktober yaitu sekitar musim gugur di Inggris sana. Karena waktu liburan mereka yang singkat (Jum’at sampai Selasa), maka anak-anak merencanakan dengan melancong dan berjalan-jalan, tentu saja waktu liburan yang singkat ini menjadi sebuah keyakinan bagi anak-anak bahwa kali ini mereka tak akan mengalami petualangan yang seru seperti biasanya. Namun, bukan Lima Sekawan namanya apabila tidak mengalami sebuah petualangan.

Jadwal dan rute yang telah disusun oleh Julian mendadak menjadi agak berantakan ketika di tengah perjalanan Timmy mengalami cedera. Di sebuah desa terdekat, maka diputuskanlah untuk membagi tim menjadi dua, George dan Julian menuju seseorang yang dapat mengobati Timmy, sedangkan Anne dan Dick langsung menuju penginapan. Nah, karena cuaca yang agak buruk dan jalanan sudah mulai gelap, apalagi Dick dan Anne belum mengetahui secara jelas letak penginapan tersebut, mereka pun secara tidak sadar telah sampai ke sebuah peternakan (yang mereka anggap penginapan) yang salah. Disana mereka bertemu dengan seorang ibu tua yang agak tuli yang akhirnya memberi Anne tumpangan tidur di loteng dengan syarat tidak ketahuan oleh si anak dari ibu itu, karena si anak terkenal dengan sifatnya yang tidak suka apabila ada orang luar hadir di rumahnya. Sementara Anne tidur di loteng, Dick memutuskan untuk tidur di sebuah lumbung dengan beralaskan jerami, disinilah awal petualangan mereka dimulai. Tak lama Dick terlelap, terdengar suara ketukan di dinding lumbung memanggil nama Dick, kemudian orang itu mengatakan beberapa kata yang baru belakangan diketahui bahwa kata-kata tersebut merupakan kode untuk menemukan harta karun!

Singkat cerita, anak-anak pun mulai menyusun kata-kata tersebut guna menemukan pemecahannya. Mereka menuju suatu tempat yang disebut-sebut pada kode tersebut dan menemukan sebuah fakta baru, bahwa mereka di jalan yang benar, hal yang diindikasikan oleh adanya dua orang yang juga mencari harta karun tersebut, dimana saalah satu dari kedua orang tersebut ialah anak si ibu pemilik penginapan dimana Anne menumpang pada waktu malam sebelumnya. Tanpa anak-anak sadari, sebenarnya mereka sedang mencari harta karun, atau tepatnya permata Fellonia yang terkenal yang memang dicuri dari pemiliknya dan menjadi kabar terhangat di Inggris sana.

Bisa dibilang petualangan anak-anak kali ini merupakan petualangan yang agak tidak berbahaya. Memang, mereka berhadapan dengan penjahat pencuri permata yang terkenal, namun tak ada kekerasan yang dilakukan para penjahat tersebut terhadap anak-anak. Tak seperti buku-buku sebelumnya yang bahkan hampir merenggut nyawa anak-anak (bahkan Timmy), buku berjudul asli Five On A Hike Together ini cenderung mengajak pembaca untuk memecahkan teka-teki dan kode yang tak sengaja didengar oleh Dick, seru! Buku ke sepuluh dari serial Lima Sekawan ini pun seperti biasa masih membuat para pembacanya menelan ludah akibat dari makanan-makanan yang anak-anak bawa dan makan ketika di dalam perjalanan, dibayangkan saja sudah terasa enak rasanya. Satu hal yang dapat ditarik kesimpulan dari kehidupan anak-anak Lima Sekawan ini, bisa dibilang anak-anak ini hidup berkecukupan bahkan cenderung kaya. Entah berapa sewa penginapan atau harga makanan yang mereka beli, namun indikasi kekayaan mereka dapat terlihat dari mudahnya mereka membayar sewa penginapan atau bahkan membeli makanan yag bisa dibilang tidak sedikit. Postitifnya, walaupun cenderung “kaya”, namun anak-anak ini bukan anak-anak manja yang hanya berpangku tangan dan bermalas-malasan, dapat terlihat bukan dari petualangan-petualangan yang mereka jalani. Sebuah pelajaran yang berguna bagi anak-anak yang cenderung “kaya” dan doyan bermalas-malasan.



Judul: Lima Sekawan: Rahasia Harta Karun
Penulis: Enid Blyton
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 234 hal.
Tahun Terbit: 1951 (1st) / 1997 (read)
Rate: 4/5
Rekomendasi Usia: >10 tahun

Sabtu, 04 Mei 2013

Mengenal Khazar




Bangsa Khazar. Cek di wikipedia sih, bangsa ini tuh adalah Rusia sekarang, entah deh, saya kurang meng-googling lebih lengkap, sebabnya, membaca buku Kamus Khazar inisangat menyiksa, buku ini sungguh sangat mengawang-awang membahana, kurang bisa menikmati saya, jujur saja.

Memang, buku ini bercerita tentang buku, kamus tepatnya. Jadi intinya begini, Kamus Khazar ini disusun oleh beberapa orang berdasarkan sudut pandang agama masing-masing, yakni Islam, Kisten dan Yahudi. Nah, proses perjalanan dalam membuat kamus ini, serta perjalanan tokoh-tokohnya yang diceritakan disini. Uniknya, buku ini pun berformat seperti kamus. Tahu dong kamus? Jadi misal ada satu kata, seperti dalam kamus, maka kata ini dijabarkan artinya secara lengkap. Begitu pulalah buku ini bercerita, misalnya saja: Polemik Khazar. Diterangkan deh tuh polemik Khazar secara panjang lebar, ya memang benar, seperti kamus pada umumnya. Bedanya, yang dijelaskan disini gak sebanyak di kamus asli, kalau seperti itu, tak terbayangkan tebalnya buku ini. Apalagi, buku ini terdiri atas tiga bagian besar, Buku Merah, Buku Hijau, dan Buku Kuning. Masing-masing bagian mewakili satu agama, merah untuk kristen, hijau untuk islam, dan kuning untuk yahudi. Bisa dibilang, Khazar diceritakan dalam tiga sudut pandang dalam bagian-bagian buku ini. So, kadang-kadang bisa ditemukan satu kata yang ada dan dijelaskan dalam ketiga bagian tersebut, tentunya dengan sudut pandang yang berbeda.

Salah satu penanda yang unik pula dalam buku ini ialah tanda-tanda superscript yang menyertai sebuah kata. Salib untuk kristen, bulan untuk islam dan bintang daud untuk yahudi. Ada juga segitiga, nah, segitiga ini bermakna bahwa kata tersebut dapat ditemukan di ketiga sumber agama tersebut. Ada tiga tokoh utama sebenarnya yang memegang peran penting di buku ini, Masudi di Islam, Brankovich di kristen, dan Cohen di yahudi. Satu tokoh lagi ialah Putri Ateh, dia adalah putri di kekaghanan Khazar. Oh ya sebelumnya, Khazar ini mempunyai pemimpin yang dinamai kaghan, ini semacam kaisar atau raja di tampuk kekuasaan yang lain. Ketiga orang beragama inilah yang membawa agama masing-masing untuk disebarkan di Khazar, dan Putri Ateh pula yang memegang peranan penting untuk memutuskan, agama apa yang nantinya akan dianut oleh bangsa Khazar.

Selain pengetahuan tentang kekhaganan tadi, ada pula beberapa hal yang unik tentang Bangsa Khazar ini. Khazar dikenal sebagai bangsa yang sangat terbuka terhadap kedatangan bangsa lain, bukan dalam opsi dijajah tentu saja, tetapi mereka hidup berdampingan. Walau begitu, biarpun bangsa lain yang menetap di Khazar tersebut telah lama tinggal, tetapi ketika terjadi peperangan antar agama maupun dengan Khazar, orang-orang tersebut tidak mau berjuang dengan Khazar, mereka kembali ke bangsanya masing-masing. Sebenarnya, hal ini bukan salah mereka, karena satu lagi khas Khazar, mereka adalah bangsa yang rendah diri, mereka tidak bangga dengan bangsanya sendiri, bahkan aturan yang ada untuk bangsa Khazar sendiri malah terkesan memberatkan sendiri dibandingkan aturan untuk bangsa lain yang menetap di Khazar. Itulah mengapa hari ini, sekarang ini, bangsa Khazar hilang dari peredaran, selain hal kerendahandiri, pengaruh perlahan-lahan pindahnya mayoritas warga Khazar  ke dalam tiga agama yang dibawa tiga orang tadi membuat Khazar akhirnya kehilangan identitas diri mereka yang asli.


Judul: Kamus Khazar
Penulis: Milorad Pavic
Penerbit: Serambi
Tebal: 505 hal.
Rate: 2/5

Selasa, 30 April 2013

Perjuangan Seorang Ade




Perempuan. Tema baca bareng BBI bulan ini adalah tentang perempuan, baik itu penulisnya maupun cerita dan isi dari buku tersebut. Kebetulan, Serapium juga mengadakan baca buku bareng khusus V. Lestari, salah satu penulis senior Indonesia yang telah menghasilkan banyak karya, dengan kebanyakan bergenre “kasus-kasus kejahatan”. Buku yang saya baca kali ini berjudul: Kekasih. Tema utama buku ini mengenai pemerkosaan, tentunya tema ini sangat erat kaitannya dengan perempuan, apalagi memang perjuangan perempuan di buku ini sangat ditonjolkan. Buku ini juga sekaligus dapat diikutkan dalam tantangan membaca buku-buku misteri dengan host @hobbybuku, karena bisa dibilang buku ini “mirip-mirip” John Grisham. Oh ya, satu lagi, saya juga termasuk beruntung karena buku ini termasuk logis, banyak teman-teman saya di baca bareng buku V. Lestari mendapati buku karya beliau memasukkan unsur gaib, yaitu hantu, sungguh sangat kurang masuk akal.

Masuk ke dalam isi cerita buku ini. Bagian awal bercerita tentang kasus pemerkosaan yang menimpa Kumala. Hakim Bijak (ya, namanya Bijak) secara kontroversial hanya memberikan hukuman enam bulan penjara bagi para pelakunya. Markum, kakak dari Kumala tentu saja tidak terima, apalagi akhirnya Kumala terpaksa dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa akibat tekanan dan beban moral yang begitu berat. Ade, seorang mahasiswi psikologi yang sedang membuat tulisan dan karya ilmiah tentang kasus-kasus pemerkosaan dan pengaruhnya terhadap korbannya mencoba masuk ke dalam kasus ini. Tidak hanya untuk bahan, keinginan Ade murni untuk membantu memulihkan Kumala dalam menghadapi traumanya. Sayang sekali, Markum sangat protektif terhadap adiknya, tidak ada celah sedikitpun bagi Ade untuk membantu Kumala.

Sementara itu, di tempat lain, tepatnya di Bandung, Laksmi yang notabene adalah anak dari Hakim Bijak telah lama berpacaran dengan Andre. Kisah cinta dua anak muda ini tidak diketahui oleh orangtua Laksmi, bisa dibilang mereka backstreet. Andre, yang juga mengikuti kasus Kumala ikut merasa pula bahwa hukuman hanya enam bulan penjara itu terlalu ringan untuk para pemerkosa. Bahkan, Andre berseloroh bahwa ia pun bisa saja memperkosa Laksmi apabila hukumannya hanya seringan itu. Kejadian pemerkosaan itu hampir terjadi, untung saja kedua insan tersebut sadar tepat pada waktunya, Andre ditampar oleh Laksmi, dan Andre pergi begitu saja meninggalkan Laksmi sendirian di rumah kontrakannya. Celakanya, Laksmi lupa mengunci pintu. Sampai beberapa saat kemudian, datang orang bertopeng, yang akhirnya memperkosa Laksmi.

Sebelumnya, tepatnya setelah kejadian pemberian vonis ringan tersebut, Hakim Bijak menerima surat kaleng terkait ancaman si pengirim agar berhati-hati terhadap Laksmi. Ancaman tersebut menyebutkan, bahwa bisa saja sewaktu-waktu Laksmi dijadikan korban pemerkosaan berikutnya, sebagai pembalasan atas kasus Kumala. Hakim Bijak pun sangat shock mengetahui ancaman tersebut benar-benar terjadi, tanpa pikir panjang, Andre dijadikan tertuduh dalam kasus ini, dan hal tersebut telah diakui oleh Andre. Laksmi merasa janggal akan hal ini, karena ada satu hal yang sangat meragukan dalam kasus ini, yaitu bau.

Ade, yang kebetulan mempunyai teman seorang polisi yang ikut menangani kasus ini, akhirnya terjun pula dalam kejadian ini, membantu menghilangkan trauma Laksmi, serta menjadi tempat curahan hati Laksmi. Bukan apa-apa, penerimaan orangtua Laksmi terhadap anaknya sendiri sangat buruk, Laksmi tidak diberi kesempatan untuk membela diri. Tudingan orangtuanya telah sangat jelas, Laksmi turut bersalah karena telah menyembunyikan hubungannya dengan Andre  sehingga kasus memalukan ini dapat terjadi.

Buku ini penuh dengan perjuangan Ade –sebagai seseorang yang sangat tidak berkaitan dengan kasus-kasus yang terjadi – untuk “membela” dan menyemangati orang-orang yang menjadi korban pemerkosaan untuk hilang dan lepas dari trauma mereka. Mungkin memang Ade “gagal” terhadap Kumala, tetapi terhadap Laksmi inilah Ade seakan diberi kebebasan dan kesempatan untuk membuat Laksmi kembali pulih serta untuk mencari pula kebenaran yang sesungguhnya akan kasus yang terjadi.

Kasus perkosaan yang terjadi di buku ini, yang notabene terjadi ketika buku ini ditulis dan terbit pertama kali pada tahun 1991 menyiratkan bahwa permasalahan negeri ini tentang kekerasan terhadap perempuan sebenarnya telah terjadi sejak dahulu kala, namun sayangnya kasus-kasus ini makin kesini bukannya makin sedikit namun malah semakin bertambah. Semakin canggihnya teknologi, serta pergaulan bebas yang semakin parah memicu kasus-kasus serupa di buku ini bukan lagi menjadi hal yang aneh, bahkan cenderung sudah biasa, sungguh sangat ironis. Begitu pula dengan vonisnya, apabila tahun 1991 saja hukuman “hanya” 6 bulan, dengan kondisi saat ini, apalagi makin banyaknya main belakang dan kasus yang di-peti-es-kan, bukan tidak mungkin hukuman yang ada akan lebih ringan atau bahkan pelakunya bisa bebas (akibat damai ataupun keluarga tak mau kasus diperpanjang mengingat ini merupakan harga diri keluarga).

Just my opinion. Yang jelas, saya tidak terjebak dengan buku V. Lestari yang “katanya” ada hantunya, dan buku ini cukup ringan dan worth untuk dibaca. Apalagi perjuangan perempuannya bisa dibilang sangat “ada”. Empat bintang untuk buku ini.


Judul: Kekasih
Penulis: V. Lestari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 310 hal.
1st Published: Nov. 1991
Rate: 4/5

Kamis, 28 Februari 2013

Sisi Menarik Lain dari Seorang Kartini




Sebuah biografi tentang wanita pembawa perubahan di Indonesia. Wanita yang mengangkat emansipasi dan kesetaraan lelaki dan wanita di Indonesia. Beliau adalah Raden Ajeng Kartini, anak dari bupati Jepara di kala itu, hasil perkawinannya dengan seorang wanita yang bisa disebut sebagai selirnya. Biografi ini ditulis oleh Pramodya Ananta Toer, berdasarkan surat-surat Kartini kepada beberapa orang sahabat penanya yang kebanyakan berasal dari negara Belanda.

Sejarah hidup Kartini secara lengkap dan gamblang diceritakan di buku ini. Tentunya dengan kutipan-kutipan dari surat yang Kartini tulis tersebut. Banyak hal menarik yang terungkap dari tulisan-tulisan Kartini ini, mulai dari masa kecilnya, kehidupan seninya, hingga pandangan-pandangannya terhadap bangsa pribumi dan bangsa luar negeri. Semua disajikan secara berurutan oleh Pram.

Ada beberapa hal menarik yang juga terungkap di biografi ini. Kita umumnya mengenal Kartini sebagai pahlawan Indonesia, namun tahukah bahwa sebenarnya bahasa Indonesia (dahulu Melayu) Kartini tidak begitu bagus? Bahkan, di dalam kesehariannya menulis dan “berjuang” untuk rakyat pribumi, beliau menggunakan bahasa Belanda sebagai senjatanya. Ya, beliau lebih fasih dan lancar dalam berkata-kata dan mengolah kata menggunakan bahasa Belanda. Tentunya ada alasan dibalik penggunaan bahasa Belanda ini. Beliau ingin perjuangan yang beliau lakukan lebih didengar dan diperhatikan secara langsung oleh penjajah Indonesia, yaitu bangsa Belanda. Dengan tulisan-tulisannya ini beliau ingin menegaskan, bahwa selama ini pribumi telah begitu ditindas oleh Belanda, dan beliau berharap, ada orang-orang Belanda yang tergugah dengan hal ini, serta mengikuti jejak Multatuli (yang juga penulis favorit beliau) untuk turut serta berjuang bersama pribumi dalam hal meluruskan kesalahan dan kekejaman bangsa Belanda terhadap bangsa Indonesia.

Bagian menarik lain dari biografi ini ialah bagaimana Pram menceritakan bahwa Kartini merupakan seorang kutu buku yang sehari-harinya tak jauh dari buku dan bacaan-bacaan yang pada saat zaman dahulu sangat sulit untuk ditemukan. Bahkan Kartini harus rela menunggu hingga berbulan-bulan agar kiriman bukunya dari Belanda sampai ke tangannya. Untuk bacaan favorit, tentu saja sastra Belanda yang paling beliau sukai, terutama Max Havelaar karangan Multatuli. Buku ini seolah menjadi inspirasinya dalam turut menggugah rasa nasionalismenya. Ada pula bacaan di luar karya sastra Belanda yang jadi favoritnya dan sering disebut-sebut di buku ini ialah “Quo Vadis?” Karangan Henryk Sienkiewicz. Bacaan-bacaan dari luar Belanda yang beliau baca ini tentu saja buku yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda. Perlu diketahui sebagai selingan, dua buku ini termasuk dalam daftar buku 1001 yang harus dibaca sebelum mati. Jadi dapat disimpulkan secara sederhana, bahwa Kartini mempunyai cita rasa dan selera yang lumayan tinggi terhadap karya sastra dunia.

Ada satu hal yang agak menggelitik bagi saya mengenai kehidupan Kartini. Hal tersebut adalah mengenai agama. Secara “KTP”, agama Kartini ialah islam, namun beliau sendiri menegaskan bahwa agama yang beliau kenal secara turun-temurun dari keluarganya ini kurang sreg di dalam hatinya. Beliau beranggapan bahwa agama ini hanya ia jalani sebagai suatu kebiasaan saja, tanpa mengetahui apa hakikat dan makna dari agama tersebut bagi dirinya. Hal ini mungkin dapat agak dipahami mengingat di kala itu kurangnya ilmu yang beliau dapatkan tentang keagamaan (terutama islam) ini. Hal ini dapat dilihat dari tak adanya bahasan di buku ini mengenai beliau yang belajar atau diajari tentang islam. Malahan, Kartini lebih dekat dengan agama Nasrani bahkan Buddha dalam hal pergaulannya sehari-hari, walaupun beliau menegaskan, bahwa yang paling penting ialah mengaplikasikan nilai-nilai luhur dari agama-agama tersebut di dalam kehidupan, karena pada dasarnya, semua agama mengajarkan kebaikan. Hal ini sedikit banyak membuat saya teringat kepada Pi Patel dalam Life of Pi dan sedikit membayangkan, apakah Yann Martel terinspirasi dari Kartini. Siapa yang tahu.

Terakhir, di dalam catatan penulis di bagian awal buku ini, Pram berharap bahwa buku ini dapat menjadi buku pelengkap bagi pelajaran-pelajaran di sekolah-sekolah lanjutan. Saya berpendapat, hal ini sangat baik apabila dapat dilaksanakan. Agar siswa dan generasi penerus bangsa ini tidak hanya mengenal Kartini hanya dari satu sisi saja dan dari sisi yang itu-itu saja, tetapi dapat pula melihat dari sisi lain yang tidak semuanya terungkap dalam pelajaran-pelajaran yang didapatkan di sekolah-sekolah.


Judul: Panggil Aku Kartini Saja
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Tebal: 304 hal.
Rate: 3/5

Learn from Atticus Finch




Pernah bersikap rasis? Contohnya saja menilai orang berkulit hitam dengan sedemikian rupa, bahkan memandang remeh serta rendah? Maka belajarlah dari Atticus Finch, seorang pengacara kulit putih yang rela “ditindas” oleh sebagian kaumnya hanya gara-gara membela seorang kulit hitam yang dituduh melakukan pemerkosaan terhadap seorang gadis kulit putih. Mengapa Atticus patut dijadikan panutan? Karena pada zaman itu (sekitar tahun 30-an) di Maycomb Alabama Amerika sana isu rasialis masih sangat pekat, orang kulit hitam selalu dalam posisi yang sulit. Bahkan di pengadilan yang mengangkat kasus ini, sebenarnya Atticus sudah tahu bahwa dirinya bakal kalah, tetapi ia berhasil meyakinkan warga Maycomb dengan segala analisis-analisisnya bahwa sebenarnya Tom Robinson (si kulit hitam tersebut) tidak bersalah. Hanya keadaanlah yang membuat Tom akhirnya diputuskan bersalah.

Hal tersebut hanya sebagian kecil dari pelajaran yang dapat diambil dari buku To Kill a Mockingbird karya Lee Harper ini. Ya, seolah dari buku ini penulis mengajarkan manusia untuk tidak membeda-bedakan manusia dari warna kulitnya, karena semua manusia adalah sama, apalagi di hadapan-Nya.

Bercerita dari sudut pandang seorang gadis cilik berusia sekitar delapan tahun bernama Scout Finch, anak dari Atticus, Lee membawa pembaca untuk melihat segala sesuatunya dari sudut pandang si anak kecil tersebut. Bagaimana Scout harus berinteraksi dengan tetangga-tetangganya yang kebanyakan sudah berusia tua, bahkan tidak ditemukan anak sebaya di sekitar lingkungan rumahnya untuk dijadikan teman bermain. Maka jangan heran apabila Scout seolah-olah selalu membuntuti kakaknya Jem dalam kegiatan sehari-hari. Hal ini pulalah yang membuat Scout menjadi “laki-laki”, berpakaian seperti laki-laki, bahkan bertengkar dan berkelahi pun ia jalani dengan teman-teman satu kelasnya yang berselisih dengan dia. Sebenarnya ada satu orang anak sebaya yang berada di lingkungan itu, dia adalah Dill, namun sayang dia hanya berada di Maycomb ketika libur musim panas saja. Scout, Jem, dan Dill walaupun hanya bertiga namun selalu berhasil menemukan petualangan-petualangan seru yang penuh makna bagi mereka bertiga.

Selain masalah persidangan di atas, ada dua hal besar lain yang coba diangkat oleh Lee Harper di buku ini. Hal pertama ialah ketika tiga sekawan (Scout, Jem dan Dill) mencoba menguak misteri keluarga Radley, tetangga Atticus di Maycomb yang misterius. Sebenarnya yang coba dikuak oleh mereka bertiga adalah Boo Radley, yang tidak pernah sama sekali terlihat batang hidungnya, hidup selalu di dalam rumah, namun diam-diam berinteraksi dengan anak-anak keluarga Finch dengan cara memberikan barang-barang tertentu melalui sebuah ceruk pohon. Hal kedua ialah ketika Jem dihukum oleh seorang nyonya pemarah untuk setiap minggunya membacakan dongeng untuknya, ternyata ada hal menarik dibalik peristiwa hukuman yang kesannya tak disengaja ini.

Tentu saja peran Atticus disini sangatlah besar dalam menuntun anak-anaknya dalam kehidupan yang penuh prasangka. Dalam kejadian dengan keluarga Radley, prasangka anak-anak tentang Boo Radley yang mereka curigai agak gila dan psycho diluruskan oleh Atticus dengan memberikan pemahaman bahwa tidak semua orang harus bergaul dengan orang lain, dan bahwa setiap orang memiliki hak untuk hidup sesuai dengan keinginan mereka. Sedangkan dalam kejadian dengan Mrs. Dubose (nyonya pemarah), Atticus mencoba memberi pemahaman bahwa sebenarnya Jem telah menolongnya dari ketergantungan terhadap morfin. Sedangkan mengenai hukuman membacakan cerita kepada Mrs. Dubose itu hanyalah sebuah kebetulan belaka, karena dihukum atau tidak, Atticus tetap akan menyuruh Jem untuk membacakan cerita bagi nyonya itu.

Buku ini termasuk buku legendaris di dunia perbukuan internasional. Satu-satunya buku yang ditulis oleh Lee Harper, buku ini berhasil masuk dalam daftar 1001 buku yang harus dibaca sebelum wafat. Buku ini pun berhasil meraih penghargaan Pulitzer kategori fiksi pada tahun 1961. Buku yang telah diadaptasi ke dalam film pada tahun 1963 ini pun meraih kesuksesan dalam layar lebar. 3 piala Oscar diraih pada tahun tersebut, sungguh sebuah prestasi yang mengagumkan. Buku ini pun dapat dikategorikan buku tentang pendewasaan seorang anak dalam menghadapi lingkungannya sendiri, apalagi buku ini memakai sudut pandang seorang Scout Finch. Namun, cukup banyaknya cerita-cerita yang agak berat yang dimuat di buku ini membuat buku ini menurut saya hanya cocok untuk anak usia 15 tahun ke atas di Indonesia. Satu kategori lagi, persidangan dan kasus Atticus yang menyangkut Tom Robinson membuat buku ini juga didaulat untuk mengusung genre legal thriller, suatu genre yang menyangkut kasus-kasus hukum yang berkaitan dengan tindak kekerasan. Apalagi buku ini juga masuk list 100 Crime Novels of All Time.


Judul: To Kill a Mockingbird
Penulis: Lee Harper
Penerbit: Qanita
Tebal: 533 hal.
Rate: 4/5
Rekomendasi Usia: >15 tahun

==================================================================

Buku ini saya baca guna memenuhi tantangan membaca buku-buku Misteri dari @HobbyBuku, buku-buku anak dari @bzee_why, serta baca bareng bulan Februari dengan komunitas @BBI_2011 dengan tema buku yang diangkat ke layar lebar.





Senin, 24 September 2012

Siapa Meniru Siapa?




Setelah Kudo, Hattori dan Kindaichi, Jepang kembali menelurkan seorang detektif muda amatir berbakat. Kiyoshi Mitarai, seorang astrolog dan peramal, adalah nama dari detektif tersebut. Mitarai kali ini bersama his-dr.Watson berusaha mengungkap kasus pembunuhan yang terjadi sekitar 40 tahun lalu, sekitar tahun 1930-an, sebuah kasus pembunuhan yang terkenal dengan nama Pembunuhan Zodiak Tokyo. Berbeda dengan detektif-detektif di atas, Mitarai ini muncul dalam bentuk novel, bukan komik, sehingga dibutuhkan nalar dan imajinasi untuk menggambarkan apa yang sedang diceritakan di buku ini. Untungnya, ada beberapa ilustrasi yang si penulis sertakan di buku ini, sehingga sedikit memberikan gambaran kepada para pembacanya, terutama pembaca dengan otak lemah seperti saya.

Kisah diawali dengan sebuah “surat wasiat” dari Heikichi Umezawa. Surat itu berisi obsesi dan minat Heikichi terhadap ilmu astrologi dan yang paling utama terhadap dunia pembuatan manekin. Celakanya, ia justru terobsesi membuat manekin dari potongan-potongan tubuh manusia asli. Kebetulan persyaratan manusia yang dibutuhkan untuk membuat manekin yang diinginkannya sangat sesuai dengan karakter dan zodiak-zodiak dari keenam putrinya yang masih perawan. Di surat itu pun diceritakan bagaimana cara membunuh, bagian tubuh apa saja yang dibutuhkan dari tiap orang tersebut, sampai petunjuk tatacara penguburannya. Surat wasiat inilah yang menarik perhatian Mitarai untuk memecahkannya. Karena selama lebih dari 40 tahun kasus ini bergulir, belum ada kesimpulan yang pasti, siapakah tersangka sebenarnya, dan apa motifnya.

Pengungkapan kasus ini membawa Mitarai dan “asistennya” dalam penyelidikan yang mendetail. Apalagi muncul Mrs. Iida, beliau membawakan sepucuk surat wasiat juga dari ayahnya, yang isinya masih berkaitan dengan kasus pembunuhan berantai ini, dan menjadi kunci dari kasus ini, karena polisi serta orang-orang yang telah menyelidiki kasus ini sebelumnya sama sekali tidak mengetahui fakta baru yang terdapat dalam surat wasiat ini. Penyelidikan pun berlanjut hingga kota Kyoto, menyelidiki masa lalu Heikichi, menemui patung azoth di sebuah museum, hingga akhirnya kasus ini dapat terungkap oleh sebuah peristiwa tidak sengaja, yaitu gara-gara uang robek yang disambung dengan perekat. Akhirnya, si pembunuh pun diketahui, namun kasus yang sudah kadaluarsa, membuat Mitarai tidak bisa bertindak apa-apa, selain mengagumi tindak tanduk si pelaku yang dapat dengan bebas lepas dari tindakan hukum.

***

Banyak yang bilang kasus ini mirip dengan kasus di komik detektif Kindaichi yang berjudul Mummy’s Curse. Yap, kita sebagai orang Indonesia mungkin saja mengenal duluan kasus ini melalui Kindaichi, namun yang peru diingat adalah terbitnya buku ini yang lebih dahulu dibanding kasus Mummy’s Curse yang muncul tahun 1993. Di wikipedia sendiri disebutkan buku ini pertama terbit sekitar tahun 1979, makanya setting dari buku ini sekitar tahun 1970-an. Jadi siapa meniru siapa harus lebih dipertanyakan lagi.

Cerita buku ini sendiri sangat mendetail, di awal saja suguhan surat wasiat Heikichi Umezawa sangat detail. Mulai dari zodiak, planet yang menyertainya, hingga karakter-karakternya. Jalan ceritanya sendiri mengalir, dengan sudut pandang aku yaitu seorang Ishioka, “asisten”-nya Mitarai. Fakta-fakta dan petunjuk banyak diberikan di awal-awal bagian buku ini. Bahkan menariknya, si penulis, Soji Shimada, sampai menyelak di tengah-tengah buku, menantang para pembaca untuk menebak siapakah pelaku yang sebenarnya berdasarkan petunjuk dan fakta yang diberikan. Well, saya berhasil menebaknya, karena kasus ini seperti telah disinggung di atas, telah begitu familiar karena pernah diceritakan di komik detektif Kindaichi. Namun motif si tersangka sendiri sunggu sangat sulit ditebak apabila kita melewatkan “sesuatu” hal yang penting untuk diperhatikan di awal buku dan di gambar yang diberikan.

Buku ini layak dikoleksi oleh para penggemar buku bergenre detektif, walaupun agaknya para penggemar Kindaichi bisa jadi agak kecewa dengan buku ini. Namun, penggambaran detail yang disuguhkan oleh penulis bisa sedikit menjadi penghibur bagi pembaca yang sudah membaca kasus ini sebelumnya. Jangan lupa juga untuk berimajinasi, jangan bawa tahun-tahun kelahiran dan terjadinya kasus ini serta setting tahun di buku ini. Imajinasikan pikiran kita dengan menganggap kita hidup di masa lampau atau mereka yang hidup di masa kini, agar jangan sampai yang ada di benak kita justru adalah bukan perempuan-perempuan muda yang menjadi korban pembunuhan, melainkan orang-orang jaman dahulu yang hidup di awal abad ke 20. Jadi kesimpulannya, saya berikan bintang 4 untuk buku ini.


Judul: The Tokyo Zodiac Murder
Penulis: Soji Shimada
Tebal: 360 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 28 Juni 2012
Rate: 4/5

Senin, 10 September 2012

I Hate Monday?




I hate Monday, not I love Monday.

Ya, kata-kata I hate Monday sudah sangat akrab dengan telinga kita. Celakanya, kata-kata ini malah semakin menasbihkan bahwa yang namanya Senin itu merupakan hari yang menyebalkan, hari yang sangat tidak dinantikan, bahkan beberapa orang berharap tidak ada hari Senin di dunia ini. Hm, mengapa hari Seninn ini amat dibenci oleh kebanyakan orang? Apakah salah si hari Senin itu, atau memang sesuatu yang ada di hari Senin tersebut yang membuat kita membencinya? Ya, kebanyakan orang menganggap hari Senin itu gangguan setelah enak berlibur di hari Sabtu dan Minggu, dan sumber dari gangguan tersebut yang jelas hanya satu hal, Pekerjaan. Nah, buku ini mengajak kita untuk mencintai hari Senin khususnya, dan mencintai pekerjaan kita pada umumnya.

Buku ini bukan sekedar buku motivasi. Buku ini lebih dari itu. Berbagai pandangan dan penilaian yang salah tentang pekerjaan kita dibahas tuntas di buku ini. Hal yang paling utama yang dibelokkan dari paradigma kita selama ini ialah tentang hakikat pekerjaan itu sendiri. Berulang-ulang ditegaskan di buku ini bahwa tujuan sebenarnya dari pekerjaan kita yaitu untuk melayani orang lain. Bagaimana kalau kita tidak bekerja dengan orang lain? Ah, tampaknya tidak ada pekerjaan yang tujuan utama dan akhirnya untuk memuaskan orang lain, terutama customer. Contohnya: saya, sebagai mantan analis laboratorium dahulu kebanyakan berinteraksi dengan benda-benda mati. Tapi sadarkah kita bahwa akhirnya hasil dari pekerjaan kita tersebut pada akhirnya dipakai sebagai data yang akan digunakan oleh pihak atasan kita yang lebih berwenang sebagai data yang bertujuan untuk memuaskan konsumen? Bayangkan, apabila bekerja secara asal-asalan di laboratorium, apakah nantinya hasil analisa kita yang kacau itu akan memuaskan konsumen? Tentu tidak, hasil yang ngaco justru membuat konsumen ragu dan tidak percaya terhadap produk kita.

Hal lain yang coba dibelokkan oleh penulis tentang paradigma kita yang salah ialah: kita kerja bukan untuk uang! Ya, ujung-ujungnya dari pelayanan yang kita berikan terhadap konsumen ialah kepuasan mereka terhadap kita yang tentunya akan menambah harga diri kita di mata mereka. Jadi bisa terbayangkan dong, pelayanan yang prima akan menghasilkan sesuatu (dalam hal ini uang) yang prima pula. Kalau orientasi kita hanya kepada uang, uang, dan uang, apakah kepuasan orang lain yang kita tuju? Pastinya, target kita hanya sederhana, kerjaan beres, uang mengalir ke kantong kita. Urusan orang lain puas atau tidak, bukan urusan kita. Terlihat kan, betapa egoisnya orang yang kerja semata-mata demi hanya untuk uang.

Pada akhirnya, untuk melayani para konsumen, kita harus mencintai pekerjaan kita, apapun itu. Tuangkan bakat dan keahlian kita terhadap bidang yang kita geluti dengan sepenuh hati. Jadikan pekerjaan kita sebagai sebuah panggilan dari-Nya, sebuah panggilan yang bertujuan untuk kita memahami dan mencintai pekerjaan kita. Jangan jadikan pekerjaan itu hanya sebuah pekerjaan ataupun karir, karena diantara dua hal tersebut, kita masih egois, hanya kepuasan kita sendirilah yang menjadi tujuan kita bekerja.

Buku pembelok paradigma ini disusun begitu cermat. Dengan font yang tidak terlalu kecil, membuat buku ini nyaman untuk dibaca. Kutipan-kutipannya pun sangat membantu memahami untuk apakah sebenarnya kita bekerja. Belum lagi ada pengalaman-pengalaman tentang kehidupan sehari-hari si penulis yang bisa kita jadikan cermin terhadap diri dan sekitar kita. Pada akhirnya, dengan mencintai pekerjaan kita, tidak akan ada lagi yang namanya I hate Monday. I love Monday akan semakin bergema, karena kita sudah menganggap kerja kita sebagai hobi dan suatu hal yang layak untuk kita nikmati. Rubah paradigmamu sekarang, dan jadilah orang yang sukses.


Judul: I Love Monday
Penulis: Arvan Pradiansyah
Penerbit: Kaifa
Terbit: Mei 2012
Tebal: 302 hal.
Rate: 4/5

Jumat, 31 Agustus 2012

The Catcher in the Rye




Mengapa buku ini disukai para pembunuh?

Errr... Tulisan itu terpampang besar-besar di bagian belakang buku. Tanpa sinopsis apa-apa, hanya tulisan itu. Bikin penasaran? Sejujurnya, buat saya gak begitu buat penasaran ya. Maksudnya, saya gak beli buku ini gara-gara tulisan di belakang buku ini, boro-boro tahu ada tulisan kaya gitu, maklum, beli online, hehe... Ajaibnya, di buku yang saya beli ini, terselip uang seratus ribu rupiah milik dari pemiliknya yang terdahulu, padahal beli buku ini kalau dihitung-hitung yah, Cuma 15 ribu lah. Kenapa juga saya gak penasaran? Yah, udah dengar selentingan juga sih, kalau buku ini amat terkenal akibat peristiwa pembunuhan John Lennon, apalagi buku ini masuk list 1001 buku yang harus dibaca sebelum wafat, jadi ya dibeli gara-gara alasan masuk list 1001 itu, bukan gara-gara kenapa buku ini disukai pembunuh, hehe...

Oke, masuk ke isi buku. Ah, sumpah deh, sampai akhir buku tetap bingung. Apa sih yang bikin buku ini mempengaruhi orang buat membunuh? Dari isi buku ini aja gak ada kok adegan pembunuhan-pembunuhannya sama sekali. Err, walaupun ada, peristiwa pembunuhan yang terjadi HANYA di dalam alam pikiran Holden Caulfield. Ya, hanya di dalam pikiran. Malah saya berpendapat, si Holden ini kebanyakan berkhayal. Emang sih, dia memberontak dengan cara berkali-berkali keluar (atau dikeluarkan?) dari sekolahnya. Alasannya sih, dia gak tahan sama orang-orang munafik yang ada di sekolahnya. Tapi apa sebenarnya alasan dia dikeluarkan? Yah, dari peristiwa di buku ini yang menceritakan kenapa Holden dikeluarkan dari Pencey College, alasan dia dikeluarkan yaitu gara-gara dia tidak lulus hampir semua mata pelajaran! Bayangkan, dia hanya lulus di pelajaran Bahasa Inggris, apa seperti itu dapat dikatakan seorang pemberontak? Well, mungkin Holden memberontak dengan cara dia malas belajar dan masa bodoh pada sekolahnya, tapi tetap saja, menurut saya sangat konyol menjadikan hal itu sebagai alasan untuk menjadikan buku ini menginspirasi untuk membunuh orang!

Jadi, inti dari buku ini ialah tentang “petualangan” Holden Caufield yang dikeluarkan dari sekolah Pencey. Seharusnya, Holden mulai meninggalkan sekolah hari Rabu. Tetapi akibat dia telah begitu muak dengan situasi di Pencey (apalagi setelah teman sekamarnya, Stradlater, mengencani sahabat masa kecilnya, Jane), dia akhirnya minggat lebih awal, yaitu pada hari sabtu. Nah, yang dia lakukan ialah kembali ke kotanya, New York, tapi tidak kembali ke rumahnya. Dia menginap di hotel, dan memulai petualangannya sendiri di kota itu dengan berkeliling di kota New York. Berbagai kejadian unik dan liar ia alami, mulai dari nostalgia masa lalu, hingga kejadian saat ia menyewa jasa wanita panggilan. Sampai akhirnya, ia tak bisa menahan hasrat untuk bertemu dan curhat dengan adik kesayangannya, Phoebe. Ia pulang ke rumah dengan cara menyelinap pada akhirnya, dan menceritakan segalanya kepada Phoebe. Phoebe pulalah akhirnya yang menjadi obat untuk Holden dalam menatap masa depannya yang terlalu banyak dipenuhi oleh angan-angan.

Dari segi cerita, mungkin buku ini terkesan biasa. Yang membuat buku ini wah ialah pengaruhnya terhadap Chapman (pembunuh Lennon) dan kata-kata kasar yang banyak bertebaran di buku ini. Well, kata “sialan” mungkin tidak terdengar begitu kasar apabila di Indonesiakan. Entah, apakah “sialan” ini terjemahan dari “s**t” yang merupakan kata kasar di luar negeri sana. Sempat bertanya-tanya juga tentang definisi kasar disini, “ah, Cuma sialan doang,” pikir saya. Tapi semuanya berubah ketika buku mendekati akhir. Terjemahan bebas dari (mungkin) “F**k you”, sangat membuat tercengang apabila di Indonesiakan. Ah, silahkan baca sendiri apakah terjemahan yang terdapat di dalam buku ini. Tapi jujur saja, saya kaget kata ini ada di buku terjemahan seperti ini. Sampai akhirnya saya berpikir, wajar juga apabila dikatakan buku ini mengandung kata-kata kasar.

Dari segi judul, mungkin The Catcher in the Rye ini agak membingungkan. Saya belum menangkap arti sebenarnya dari buku ini. Tetapi setelah membuka halaman 165 dari buku ini, agak terjawab juga darimana judul buku ini. Ini merupakan senandung dari seorang anak yang Holden temui di sekitar Broadway. Anak itu bersenandung: “ kalau ada yang datang dari ladang gandum untuk menangkap seseorang”. Ah, masih gak ngerti juga kenapa senandung anak ini begitu penting sehingga dijadikan judul buku.

Akhirnya, menurut saya, walaupun dari segi cerita agak biasa saja. Kehebohan dan keterkenalan buku inilah yang layak menjadikan buku ini masuk list 1001 buku yang mesti dibaca sebelum wafat. Coba saja sebut “The Catcher in the Rye”, setidaknya banyak orang yang tahu dan mengaitkan buku ini dengan kematian John Lennon. Tetapi yah, tetap saja gak ngerti apa yang bikin buku ini bisa bikin orang membunuh. Rata-rata bintang aja deh buat buku ini, 3 bintang cukup.


Judul: The Catcher in the Rye
Penulis: J.D. Salinger
Penerbit: Banana
Terbit: Juli 2007
Tebal: 300 hal.
Rate: 3/5