Tampilkan postingan dengan label #MisteryRC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #MisteryRC. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 November 2013

Miss Marple - 13 Kasus



Entah kenapa dari dahulu saya kurang menyukai Miss Marple, untuk karya dari Agatha Christie jelaslah saya lebih menyukai Hercule Poirot, mungkin karena Poirot lebih beraksi dan lebih menantang dibandingkan Miss Marple dalam melakukan aksinya. Jane Marple, itu nama lengkap si nenek tua yang hidup seorang diri di sebuah desa yang bernama St. Mary Mead. Dalam melakukan dan memecahkan kasus, ia selalu bercermin pada kisah-kisah lama yang menimpa orang-orang di sekelilingnya, karena ia yakin setiap kisah pasti berulang.

Buku yang saya baca kali ini berjudul Tiga Belas Kasus atau The Thirteen Problems. Buku ini terbit pertama kali di tahun 1932, diterjemahkan pertama kali ke bahasa Indonesia pada tahun 1997, dan saya membaca buku cetakan pertamanya. Seperti terlihat dari judul, buku ini ialah kumpulan dari tige belas kasus yang terjadi di kehidupan Miss Marple. Terdiri dari 13 bab dengan konsep kumpulan cerita perbabnya, Miss Marple mencoba untuk setidaknya lebih terlibat dalam kasus-kasus tersebut.

Cerita pertama berjudul Klub Selasa Malam. Cerita ini tentang sebuah keluarga yang dikejutkan oleh kematian mendadak sang nyonya rumah. Kematian yang tadinya dianggap bunuh diri ini akhirnya terpecahkan setelah ada salah seorang anggota keluarga tersebut yang diet, hanya itulah satu-satunya petunjuk. Miss Marple sendiri mengawali pemecahan kasus ini gara-gara ia pernah mempunyai tetangga dehgan kondisi keluarga seperti keluarga yang terkena tragedi tersebut. Perselingkuhanlah yang akhirnya menjadi inti kasus kematian ini. Cerita kedua ialah Rumah Pemujaan Astarte. Berhubungan dengan kisah klenik yang ada di Astarte itu, seorang pemuda meninggal dunia ketika berada di sekitar Rumah Pemujaan tersebut. Ternyata ini adalah pembunuhan, dimana pembunuh tersebut mampu memanfaatkan mitos yang terjadi dan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Motifnya: cinta dan harta. Batangan-Batangan Emas merupakan cerita yang bersetting cukup menarik, yaitu di Cornwall. Cornwall sendiri pernah muncul di cerita Lima Sekawan, dan kedua cerita ini mempunyai satu muara yang sama, yaitu harta karun. Sempat terpikir, apakah Cornwall yang sebenarnya juga mempunyai cerita-cerita harta karun semacam itu atau hanya fiksi belaka. Cerita lainnya berjudul Noda Darah di Trotoar, ide dasar kasus ini ialah penipuan oleh sepasang suami istri, kejahatan yang dilakukan oleh suami istri ini akhirnya terungkap melalui ditemukannya noda darah di trotoar tersebut.

Masih banyak motif-motif lain yang diceritakan, ada yang mengambil reaksi kimia sebagai dasarnya, hingga hal-hal lainnya. Cerita paling menarik ialah cerita di bab ketigabelas yang berjudul Mati Tenggelam, hal ini disebabkan oleh prediksi Miss Marple atas seorang pelaku kehahatan yang ternyata sangat tepat, padahal tadinya orang yang dimaksud sangat tidak berkaitan debgan kasus itu.


Yang unik lagi dari cerita ini ialah bagaimana kasus-kasus ini tidak diakami secara langsung oleh Miss Marple. Cerita-cerita ini diceritakan oleh kawan-kawan Miss Marple dalam sebuah klub yang dibentuk mendadak yang bernama Klub Selasa Malam. Klub ini setiap Selasa malamnya menceritakan berbagai kasus-kasus unik dan tak masuk akal, untuk kemudian didiskusikan bersama. Hebatnya, dalam setiap kasus, tebakan si tokoh utama kita ini selalu benar! Nah, walaupun demikian, hal ini yang kurang saya sukai, karena Miss Marple tak terlibat langsung sehingga faktor keseruannya berkurang. Makanya saya hanya memberi buku ini 3 bintang saja.


Judul: The Thirteen Problems - Tiga Belas Kasus
Penulis: Agatha Christie
Tebal: 322 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 1932 (1st) / 1997 (read)
Rate: 3/5

Thomas & Prudence - Musuh Dalam Selimut



The Secret Adversary, atau Musuh Dalam Selimut, merupakan buku kedua yang ditulis oleh Agatha Christie. Buku ini bukan bercerita tentang Hercule Poirot, melainkan memperkenalkan dua orang muda yang akhirnya berpasangan, yaitu Thomas “Tommy” Beresford dan Prudence “Tuppence” Cowley. Pasangan yang kelak dikenal sebagai Tommy & Tuppence Beresford ini bisa dibilang tak punya basic apa-apa dalam dunia perdetektifan, malah menurut saya mereka bergerak hanya berdasar intuisi dan kenekatan saja, namun hal itulah yang membuat pasangan ini begitu unik dan menarik. Pasangan ini mendirikan sebuah “perusahaan” yang dinamakan PT Petualang Muda. Memang, ini bukan perusahaan sungguhan, mereka hanya mengkhusukan diri untuk memecahkan kasus-kasus yang klien mereka bawa ke perusahaan tersebut.

Sebelum mengenal pasangan ini, imajinasi saya mengenai mereka yaitu bahwa mereka berdua merupakan orang yang serius, dan sebagai pasangan yang sudah cukup berumur. Namun saya salah, mereka masih cukup muda, berusia sekitar dua puluh tahunan, dan juga agak konyol. Selain itu, mereka pun bisa dibilang beruntung, karena selalu mendapat bantuan dalam memecahkan kasus. Saya agak sangsi apabila tak ada bantuan mereka akan dapat menyelesaikan sebuah kasus, entah di buku-buku berikutnya.

Dalam buku ini, Petualang Muda terlibat dalam sebuah kasus yang lumayan pelik. Kasus ini bersetting di tahun 20-an, dimana waktu itu suasana politik sedang panas-panasnya. Di sebuah kapal yang bernama Lusitania, seorang pembawa dokumen rahasia asal Amerika terjebak dalam situasi sulit, dimana kapal Lusitania ini ditembak torpedo. Dalam situasi hanya wanita dan anak-anak yang lebih dulu diselamatkan dengan sekoci, si lelaki pembawa dokumen ini memercayakan dokumen tersebut kepada Jane Finn, karena ia yakin Jane merupakan orang yang tepat dan nasionalis. Sayangnya, Jane Finn kemudian hilang dan dokumen-dokumen tersebut juga ikut hilang. Dokumen-dokumen penting itu lima tahun kemudian harus segera ditemukan, mengingat apabila jatuh ke tangan musuh, maka dikhawatirkan akan terjadi revolusi besar-besaran di Inggris.

Mr. Brown. Inilah tokoh sentral yang menjadi musuh Tommy-Tuppence dan juga pemburu dokumen-dokumen rahasia tersebut. Sepanjang isi buku, Agatha Christie dengan sangat lihai menyembunyikan si Mr. Brown ini. Sebenarnya, siapa Mr. Brown ini dapat mudah tertebak apabila membaca judul buku ini, Musuh Dalam Selimut. Ya, penjahatnya sudah terlihat jelas dari situ. Pintarnya, Agatha Christie terus membawa pembaca berputar-putar untuk menebak siapa Mr. Brown sebenarnya, sehingga pembaca pun terkecoh dengan cara ini.


Walaupun tidak sedetektif Poirot, tokoh Tommy-Tuppence ini mampu membuat saya terlarut dalam ceritanya. Memang, tak ada pemecahan kasus yang benar-benar brilian, tetapi penceritaan yang melalui dua sudut pandang, yaitu Tommy dan Tuppence membuat cerita ini enak dibaca dan membuat penasaran. Ada kalanya, Tommy yang sedang disekap maka jalan cerita melalui sudut pandang Tuppence, juga sebaliknya, ketika Tuppence menghilang, giliran Tommy yang bercerita dan berpetualang. Terjemahannya pun enak dibaca, penerjemah tidak segan-segan menggunakan bahasa slang seperti monyong, bokek, dll. Penggunaan kata-kata ini menurut saya sangat tepat apalagi mengingat karakter Tommy dan Tuppence yang agak tengil dan konyol. buku ini pun seolah menjadi ajang perkenalan bagi Tommy dan Tuppence untuk buku-buku selanjutnya, mengingat ending buku ini yang berakhir membahagiakan bagi mereka berdua. Lima bintang untuk buku ini, sebuah awal pengenalan yang menarik.


Judul: The Secret Adversary - Musuh Dalam Selimut
Penulis: Agatha Christie
Tebal: 376 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 1922 (1st) / 2012 (read)
Rate: 5/5

Selasa, 12 November 2013

Lisbeth Salander is The Girl Who Played With Fire



Ada beberapa hal yang membuat saya menunda untuk membaca buku di tumpukan timbunan saya, salah satunya adalah jumlah halaman dan ketebalan buku. Nah, buku yang saya baca kali ini mempunyai ketebalan 904 halaman! Gadis yang bermain api, alias The Girl Who Played with Fire, seri kedua dari Millennium Trilogy karangan Stieg Larsson yang menceritakan tentang dua orang yang berlatar belakang berbeda, Mikael Blomkvist sebagai jurnalis serta pimred majalah Millennium, sedangkan Lisbeth Salander merupakan seorang free-lancer yang merangkap hacker ahli, hacker paling luar biasa menurut saya. Tapi benar kata seorang teman, walaupun tebal buku ini tak terasa saat membacanya, itu dikarenakan kisah dari buku ini yang sensasional dan tak membosankan.

Berbeda dengan buku pertama dimana dikisahkan Lisbeth dan Mikael begitu dekat guna mengungkap kasus keluarga Vanger, kali ini Lisbeth menghindar dari Mikael yang terus berusaha menghubunginya setelah kasus Vanger selesai. Mikael yang sudah putus asa gara-gara Lisbeth tidak meresponsnya, secara tak sengaja akhirnya dapat kembali berkomunikasi dengan Lisbeth melalui data komputernya yang dihack oleh Lisbeth. Namun peristiwa yang mempertemukan mereka kembali kali ini tak main-main, Lisbeth dikenai tuduhan serius bahkan dijadikan tersangka atas kematian dua orang kawan Mikael yang juga narasumber tulisan yang akan diterbitkan oleh majalah Millennium. Ternyata, peristiwa pembunuhan kali ini bukanlah pembunuhan biasa, pembunuhan ini berkaitan dengan tema tulisan yang akan diangkat oleh Millennium ini yaitu tentang perdagangan perempuan di Swedia. Mikael pun harus berjuang guna membuktikan bahwa bukan Lisbeth-lah pelaku dari semua kejadian ini.

Kali ini, seperti review-review lain tentang buku ini, jalan cerita lebih condong menceritakan tentang Lisbeth Salander. Tak hanya kehidupannya yang bebas dan agak liar, sedikit demi sedikit latar belakang keluarganya mulai terungkap dan tersibak. Banyak peristiwa kelam yang dialami Lisbeth di masa lalunya, dan peristiwa-peristiwa ini pula yang akhirnya menjadi kunci dari kejadian-kejadian pembunuhan yang terjadi yang mengarahkan Lisbeth sebagai pelakunya. Jalan cerita buku ini sendiri terbagi menjadi beberapa sudut pandang, ada yang melalui Mikael, ada juga yang melalui Lisbeth. Ada kalanya Mikael seolah berjuang sendirian sedangkan Lisbeth seolah bersembunyi, namun akhirnya peristiwa-peristiwa ini diceritakan melalui sudut pandang Lisbeth, kemana ia ketika Mikael sedang berusaha memecahkan kasus ini, semuanya dijelaskan secara gamblang.

Satu hal paling menarik dari buku ini ialah bagaimana penulis membawa pembaca ke dunia matematika. Tiap judul bagian buku (yang terdiri dari beberapa bab) diberi judul dengan istilah-istilah matematika, tentu saja dengan penjelasannya. Hal ini tentu berhubungan dengan kegemaran Lisbeth terhadap ilmu matematika. Lihat saja bagaimana buku bacaan yang dibawa dan dibaca Lisbeth ialah mengenai prinsip-prinsip matematika. Belum lagi rasa penasarannya terhadap Teorema Fermat yang merupakan pengembangan dari Teorema Phytagoras. Perbedaannya ialah apabila Teorema Phytagoras berpangkat dua, maka Teorema Fermat ini berpangkat tiga. Hal ini juga membuat saya penasaran terhadap pemecahan dari Teorema Fermat ini, karena sampai akhir buku jawaban yang telah Lisbeth temukan secara tidak sengaja belum sempat sampai ke penjelasan yang dapat dicerna oleh pembaca  buku ini.


Overall, buku ini sangat direkomendasikan terhadap para pecinta kisah thriller. Kasus yang berkaitan satu sama lain, pemecahan kasus yang bisa dibilang brilian, dunia hacker yang tak diduga-duga, sampai intermezzo matematika yang diberikan oleh Stieg Larsson mampu membuat ketebalan 900-an halaman buku ini tak terasa, bahkan sayang untuk dihabiskan. Lima bintang untuk buku ini, sambil menunggu pula “keberanian” untuk memulai buku ketiganya yang tebalnya hampir 1000 halaman.


Judul: The Girl Who Played With Fire
Penulis: Stieg Larsson
Penerbit: Qanita
Tebal: 904 hal.
Tahun Terbit: 2006 (1st) / 2009 (terjemahan)
Rate: 5/5

Kamis, 31 Oktober 2013

Tara, Ello dan Alfons: Katarsis



Tara Johandi, seorang gadis belia berpikiran dewasa, putri dari pasangan Bara dan Tari Johandi yang merasa lahir dari orang tua yang salah. Sejak kecil Tara sudah membenci kedua orangtuanya, namanya, dan keadaan di sekitarnya. Tak ada panggilan ayah atau ibu kepada kedua orangtuanya, yang ada hanyalah panggilan nama, Bara, atau Tari kepada mereka. Saking bencinya, Tara juga tak ingin dipanggil sesuai namanya, nama gabungan antara Bara dan Tari. Obsesi Tara sejak kecil memang sudah terlihat aneh, ia akan merasa berdesir dan mempunyai sebuah perasaan yang tak tergambarkan apabila ia melihat atau membaui darah, hal ini pula yang membuatnya tak takut kepada siapapun, bahkan untuk melakukan tindakan keji sekalipun. Empat orang anggota keluarga telah menjadi korban kebiadabannya, suatu kebiadaban yang didasarkan rasa benci pada mereka, serta rasa takjub terhadap darah. Satu lagi obsesi aneh Tara yaitu mengenai uang logam lima rupiah. Uang yang selalu dipegangnya, dibawanya kemana saja, hasil dari pengalaman waktu kecilnya saat ia bertemu seseorang yang nantinya mempunyai obsesi besar terhadap diri Tara.

Marcello Ponty, biasa dipanggil Ello, seorang laki-laki yang lahir dari keluarga brokenhome. Ello mempunyai sebuah kelainan yaitu tidak bisa merasaka rasa sakit. Ini kali kedua saya menemukan tokoh yang mengalami kelainan ini. Sebelumnya, ada seorang tokoh di buku The Girl Who Played with Fire yang juga mengalami keadaan seperti ini. Ello yang jauh dari ayahnya tiba-tiba pulang ke rumah ayahnya, ia tahu semua yang telah dilakukan oleh ayahnya, mengenai kotak perkakas, serta mengenai obsesi ayahnya terhadap permainan harta karun dengan menggunakan kotak perkakas sebagai kotak harta karun dan manusia yang dimasukkan ke dalamnya sebagi harta karunnya. Ia mengikuti jejak ayahnya bermain pencarian harta karun dengan satu orang gadis obsesinya selama ini, yaitu Tara Johandi, yang dulu merupakan seorang gadis kecil yang ia beri koin lima rupiah sebagai obat untuk menahan rasa sakit.

Katarsis memiliki arti penyucian diri; suatu metode psikologi untuk menghilangkan beban mental seseorang; dan kelegaan jiwa / emosional diri. Bisa dibilang arti dari katarsis sendiri ketiga-tiganya tergambarkan di dalam novel ini. Arti pertama yaitu mengenai penyucian diri, ini terjadi kepada Ello dan ayahnya. Mereka berdua, terutama ayah dari Ello menganggap dengan bermain harta karun dengan manusia sebagai hartanya mereka telah mencapai sebuah tingkatan diri menjadi lebih suci. Ada rasa puas tersendiri ketika mereka melakukan hal ini, terutama ketika mayat yang berada dalam kotak perkakas ini ditemukan oleh masyarakat luas. Memang, terdengar psycho, tapi ini kenyataannya. Poin kedua yaitu mengenai metode psikologi yang dilakukan guna menghilangkan beban mental sesoerang dengan membiarkan orang itu menceritakan segala yang dirasakannya. Hal ini lah yang dilakukan Alfons terhadap Tara sebagai psikiater. Ini pula dapat terlihat dari diri Tara yang tidak menolak dipanggil dengan nama Tara apabila Alfons yang memanggilnya, sebuah metode yang cukup efektif untuk orang yang berkepribadian seperti Tara. Arti ketiga yaitu mengenai kelegaan jiwa / emosional diri. Inilah yang Tara lakukan terhadap keluarganya sebelum ia bertemu Alfons. Hal-hal yang ia benci ia hilangkan dengan cara apapun bahkan dengan tindakan yang begitu sadis. Terbukti hal ini menimbulkan kelegaan pada diri Tara dengan tak adanya rasa penyesalan sama sekali, bahkan cenderung puas karena ia telah menghilangkan hal yang ia benci. Ya, psycho juga sih.


Dengan sudut pandang orang pertama bergantian antara Tara dan Ello, penulis tidak membedakan font atau memberi keterangan siapa yang sedang berbicara. Hal ini membuat pembaca dibawa untuk berpikir siapakah yang sedang berbicara, apakah Ello atau Tara. Memang, banyak yang mengeluhkan PoV seperti ini, tapi menurut saya hal ini sangat menarik, membuat bertanya-tanya, serta menambah kesan misterius ketika membaca buku ini. Dengan bagian per-babnya yang pendek-pendek, membuat buku ini pun enak untuk dibaca. Namun hati-hati, banyak adegan kekerasan, darah, hingga mutilasi di buku ini, sehingga buku ini terkesan mengerikan ketika dibaca. untuk saya, buku ini memang agak mengerikan ketika bagian awalnya, saya tak bisa membayangkan memiliki putri seperti Tara, yang sedari kecil memiliki rasa benci terhadap orangtuanya, bagian ini membuat saya merinding apabila terjadi dalam kejadian nyata. Lima bintang untuk buku ini.


Judul: Katarsis
Penulis: Anastasia Aemilia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 264 hal.
Tahun Terbit: 2013
Rate: 5/5

Jumat, 11 Oktober 2013

Poirot: Taken at the Flood




Pengenalan Tokoh

Gordon Cloade... Pusat dari semua masalah, kematiannya membawa sengsara kepada lima anggota keluarganya. Lima orang yang selalu ia suapi dengan kekayaannya, bahkan  dijanjikan warisan olehnya. Semuanya berjalan lancar sebelum tiba-tiba ia menikah dengan seorang wanita muda yang otomatis menggugurkan surat wasiat pertamanya. Istrinya yang bernama...
Rosaleen Cloade... Sebelumnya dikenal dengan nama Rosaleen Underhay, Seorang janda dari Robert Underhay, yang meninggal di benua Afrika. Pernikahannya dengan Gordon Cloade membuatnya bagai mendapatkan durian runtuh, apalagi dengan kematian suaminya tersebut. Hal ini pula sangat menguntungkan bagi...
David Arthur... Kakak dari Rosaleen, yang merasa hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat akibat pernikahan adiknya, tetapi tetap harus waspada terhadap lima anggota Cloade lainnya yang menjadi miskin secara tiba-tiba setelah kematian Gordon.
Lynn Marchmont... seorang gadis yang baru saja tiba dari tugasnya menjadi tentara. Calon istri dari...
Rowley Cloade... keponakan dari Gordon yag berprofesi sebagai petani. Sehari-harinya bekerja di pertaniannya. Salah seorang anggota keluarga Cloade yang kehilangan Gordon, terutama kehilangan harta yang biasa pamannya berikan.
Jeremy Cloade... Saudara dari Gordon, seorang pengacara yang menikah dengan seorang wanita yang merupakan putri dari kliennya, yaitu...
Frances Cloade... putri tunggal dari Lord Edward Trenton, seorang saudagar kuda.
Lionel Cloade... seorang dokter, saudara dari Gordon pula, mempunyai seorang istri yang bernama...
Kathie Cloade... seorang yang memercayai ilmu gaib dan hal-hal yang berhubungan dengan roh halus.
Mayor Porter... kenalan dari Robert Underhay.
Enoch Arden... seseorang yang mengaku mengetahui sesuatu tentang Robert Underhay


Pra-Poirot

Cerita berawal di sebuah klub dimana Mayor Porter sedang membual tentang kematian Gordon Cloade, tetangganya di London, yang dimuat di sebuah surat kabar. Porter, yang juga mengenal Robert Underhay, suami pertama dari istri Gordon Cloade terus membual tentang dugaan Underhay masih hidup di suatu tempat dan bahwasanya suatu hari nanti ia akan muncul dengann nama Enoch Arden. Tanpa diduga, Jeremy Cloade, adik dari Gordon sedang ada pula di club tersebut, dari sinilah kisah berawal.

Kehidupan keluarga Cloade yang tadinya kaya-raya menjadi berantakan setelah kematian Gordon. Tak ada lagi yang akan menafkahi mereka kali ini. Apalagi, mereka pun sama sekali tak mempunyai simpanan atau tabungan, ini akibat pengaruh dari Gordon yang menjamin kehidupan mereka tanpa harus menabung atau menyimpan uang. Kini, semua harta jatuh kepada Rosaleen Cloade, istri baru Gordon, juga kakak dari Rosaleen, David Arthur. David, yang senang dengan keadaan ini sedikit waswas juga, apalagi ia mengetahui tentang kemelaratan anggota Cloade lain. Ia pun berusaha sekuat tenaga melindungi adiknya dari serangan keluarga Cloade yang sepertinya ingin adiknya mati guna mendapatkan kembali harta tersebut.

Situasi yang berjalan normal mulai bermasalah ketika muncul seseorang yang bernama Enoch Arden ke sebuah penginapan di dekat keluarga Cloade tinggal. Arden mengaku tahu mengenai Underhay dan ini menjadi sebuah celah untuk keluarga Cloade karena apabila terbukti Underhay masih hidup, maka otomatis status pernikahan Rosaleen dan Gordon batal sehingga harta Gordon dapat kembali dimiliki oleh keluarga Cloade. David Arthur yang mengetahui keadaan ini seketika langsung khawatir dan merasa diperas oleh Arden, maka David pun berusaha mengabulkan permintaan dari Arden, sebelum tiba-tiba Arden ditemukan tewas dengan luka pukul benda keras di bagian belakang kepalanya. Disinilah saatnya Hercule Poirot beraksi menuntaskan kasus kematian misterius ini.


Pasca-Poirot

Buku setebal 348 halaman ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama berupa kisah keluarga Cloade dan segala permasalahannya. Nah, di bagian kedua ini yang menarik, karena mulai melibatkan Hercule Poirot. Bagian kedua dimulai di halaman 186, hampir setengah bagian dari keseluruhan buku ini. Mencengangkan juga bagaimana Poirot dapat memecahkan kasus ini bahkan ketika ia tidak berada di tempat kejadian perkara. Apalagi, metode Poirot tidak sampai menanyai satu persatu orang yang terlibat kasus pembunuhan ini. Namun, berkat metodenya yang tak melewatkan fakta satu pun berhasil membuatnya memecahkan kasus ini secara elegan.

Sebenarnya jawaban dari kasus ini sudah terlihat dari bagian pertama bahkan dari prolog. Apabila kita jeli membacanya, maka bukan tidak mungkin siapa pembunuh Enoch Arden dapat diketahui. Walaupun memang, ketika si pembunuh diketahui masih ada lagi sesuatu yang tersembunyi yang tiba-tiba tersibak oleh Poirot, sungguh tidak terduga. Jangan lupakan juga judul buku ini: Taken at the Flood atau Mengail di Air Keruh. Penjahat yang sebenarnya dapat diketahui dari tokoh yang sangat mencerminkan judul di atas, menarik bukan?

Lima bintang untuk hasil penelusuran Poirot yang dilakukannya seorang diri.




Judul: Taken at the Flood
Penulis: Agatha Christie
Tebal: 348 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 1948 (1st) / 2008 (read)
Rate: 5/5

Jumat, 04 Oktober 2013

Voodoo a.k.a. Mr. Clarinet




Max Mingus, seorang detektif, juga seorang mantan narapidana gara-gara kasus penembakan terhadap tiga orang anak yang mencoba memperkosa seorang gadis kecil. Ia mendapati kehidupannya setelah keluar penjara sangat berubah drastis, apalagi setelah kematian istrinya Sandra, ketika ia di dalam penjara. Satu hal utama, ia kekurangan uang untuk membiayai hidupnya. Di saat itulah, ada penawaran menarik dari keluarga Carver di Haiti guna mencari anak mereka yang hilang, Charlie Carver. Memang, saat itu penculikan anak sedang marak terjadi di Haiti, namun Charlie menghilang secara misterius, tanpa terendus jejaknya. Mingus, yang akhirnya tergiur oleh tawaran sepuluh juta dolar apabila menemukan Charlie, akhirnya memutuskan untuk mengambil kasus ini dan berangkat ke Haiti.

Haiti, sebuah negara di Amerika Utara yang penuh akan kekerasan dan ilmu hitam, terutama voodoo. Ya, siapa yang tidak mengenal voodoo? Sebuah ilmu tenung dimana digunakan obyek boneka guna melukai seseorang yang tidak disukai. Tinggal tusuk bonekanya, maka si obyek sasaran juga akan merasa kesakitan. Haiti juga terkenal akan kemiskinannya. Dari deskripsi yang saya baca dari buku, sangat banyak pemukiman kumuh yang berada di sana, belum lagi masalah pangan, tak jarang masyarakat sana hanya memakan gorengan dari tanah dicampur tepung maizena, sungguh memilukan. Jalan-jalan raya di sana pun keadaannya sangat mengkhawatirkan, jalan berlubang, bergelombang, hingga jalan yang hanya berupa bebatuan, hal-hal tersebut cukup menggambarkan bagaimana miskinnya Haiti.

Hanya saja, perbedaan orang miskin dan kaya di Haiti sangatlah jomplang. Sebagai contoh, keluarga Carver yang menjadi klien dari Max Mingus merupakan salah satu orang terkaya di Haiti. Keluarga tersebut memiliki bank dan sebuah lembaga bernama Bahtera Nuh, sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang kemanusiaan dimana mereka membiayai pendidikan anak-anak Haiti sampai mereka nantinya menjadi orang. Walaupun ya, ibaratnya Bahtera Nuh ini lembaga balas jasa, dimana lulusan-lulusannya akhirnya bekerja juga untuk keluarga Carver.

Keluarga Carver ini terdiri atas Gustav Carver, Allain Carver, dan Francesca Carver. Gustav merupakan kakek dari Charlie, sedangkan Allain dan Fransesca merupakan orangtuanya. Gustav memang terlihat sangat dominan di keluarga ini, seluruh bisnis ia yang tangani, ia juga yang paling kehilangan atas lenyapnya Charlie. Sebagai salah satu keluarga kaya, tentu saja keluarga Carver memiliki banyak musuh, salah satunya keluarga Paul. Tetapi, kisah ini hanyalah masa lalu, karena kini keluarga Paul sudah kehilangan kekayaannya, yang tersisa dari keluarga Paul hanyalah Vincent Paul, dan ia merupakan seorang legenda di Haiti. Perbuatan baiknya terhadap masyarakat Haiti membuatnya banyak dihormati dan dikagumi orang, apalagi ia memiliki banyak anak buah. Konon juga, Vincent Paul merupakan salah satu bandar narkoba terbesar di dunia, sehingga tak heran ia dapat membantu masyarakat Haiti.

Di Haiti, Mingus dibantu oleh Chantale. Ia seorang perempuan yang bekerja untuk keluarga Carver. Melalui penyelidikan-penyelidikan yang intensif dilakukan oleh mereka berdua, diketahui bahwa detektif-detektif sebelumnya yang menangani kasus ini mengalami kasus yang amat naas dan mengilukan (bukan memilukan, baca sendiri kalau penasaran). Carver yang sudah terlanjur terlibat mau tak mau harus memecahkan kasus ini. Tak hanya itu, tanpa diduga Mingus pun dibantu oleh seorang wartawan bernama Huxley yang memberinya sedikit demi sedikit informasi penting, kelak wartawan ini menjadi salah satu kunci terbongkarnya kasus ini.

Tak hanya mencari Charlie, sebelum keberangkatannya ke Haiti Mingus pun dimintai tolong oleh seorang pastor untuk membantu mencari keponakannya yang hilang. Penyelidikan pun dilakukan secara paralel, Mingus pun mendatangi rumah adik dari pator itu dan mendapatkan sedikit petunjuk mengenai pria jingga. Selain itu, Mingus pun mulai mengeksplorasi mitos-mitos setempat mengenai penculik anak yang bernama Mr. Clarinet, dimana si penculik ini menggunakan alat musik klarinet sebagai alat untuk membujuk anak-anak itu untuk ikut dengannya. Perlahan, puzzle pun mulai terkuak, dan penculikan Charlie ini ternyata tidak hanya sekedar penculikan, namun melibatkan juga suatu organisasi kejahatan besar yang tak disangka-sangka.

Seperti telah disebut di atas, dari buku ini pembaca bisa sekalian mengenal Haiti lebih jauh. Tidak hanya mengenai alam dan lingkungannya, namun juga mengenai dunia politiknya. Buku ini cenderung seperti fiksi sejarah, dimana Papa Doc dan Baby Doc (keduanya anak dan ayah, mantan presiden Haiti, Duvalier nama lengkapnya), serta Aristide (presiden Haiti juga) disebut-sebut di dalam buku ini. Tonton Macoute juga disebut-sebut disini, dimana Tonton Macoute merupakan milisi pribadi dari Duvalier. Sejarah Haiti pun dibahas disini, bagaimana bendera Haiti sempat berganti dari hitam-merah menjadi biru-merah, lumayan membuka wawasan pembaca.

Kasus yang ditawarkan Nick Stone pun menurut saya seru dan cerdas. Apalagi menjelang akhir cerita, hal-hal mistis yang menyangkut judul buku ini, yaitu voodoo, perlahan-lahan mulai menjadi rasional dan dapat dihubung-hubungkan, sehingga semuanya terlihat logis. Eksekusi dari Nick Stone sendiri cukup vulgar dan apa adanya, membawa pembaca larut ke dalam kisah ini. Apalagi, mengenai hal-hal yang mengilukan yang telah saya singgung di atas, sungguh sangat terasa, ouch...


Dalam hal terjemahan pun tak begitu masalah, buku ini nyaman untuk dibaca. Hanya saja, judul buku ini telah diubah dari judul aslinya yaitu “Mr. Clarinet”. Entah apa sebabnya, namun judul Voodoo saya rasa kurang merepresentasikan isi dari buku ini. Jadi jangan berharap membaca kisah-kisah mistis tentang ilmu voodoo ketika mulai membaca buku ini, salah besar jika mengharapkannya. Lima bintang, senang berkenalan dengan Max Mingus dan Nick Stone.


Judul: Voodoo
Penulis: Nick Stone
Penerbit: Voila Books
Tebal: 669 hal.
Tahun Terbit: 2006 (1st) / 2008 (terjemahan)
Rate: 5/5

The Mystery of the Yellow Room



Gaston Leroux, seorang Prancis yang terkenal atas karya fenomenalnya: The Phantom of the Opera. Siapa yang tak kenal judul itu? Mungkin hampir semuanya pernah mendengar. Namun, siapa yang telah terbiasa mendengar judul Mistery of Yellow Room? Saya yakin jarang, padahal judul ini merupakan judul buku karangan Leroux yang dipuji sebagai “satu dari tiga novel misteri ruang tertutup terbaik sepanjang masa” oleh Edward D. Hoch. Pujian ini terdapat pada cover buku berwarna kuning terbitan Visimedia, bukan sebuah pujian yang main-main, karena di cover belakang buku ini juga dapat diketahui bahwa karya Leroux ini adalah inspirasi bagi Agatha Christie untuk menulis novel sejenis, sehingga menjadikannya novelis perempuan dengan genre detektif paling terkenal seantero dunia.

Bercerita dari sudut pandang orang ketiga, alias “asisten” si detektif utama, saya setuju dengan review seorang teman bahwa novel bergenre detektif “telah terbiasa” menggunakan sudut pandang tersebut dalam bercerita. Detektif utama novel yang satu ini ialah Joseph Josephine alias Joseph Rouletabille. Rouletabille ini seorang wartawan muda berusia sekitar delapanbelas tahun. Kasus yang ia tangani kali ini ialah misteri pembunuhan atau lebih tepatnya percobaan pembunuhan terhadap seorang perempuan di sebuah kamar berwarna dominan kuning. Ia tidak sendirian dalam menangani kasus ini, selain dibantu si pencerita yang menjadi asisten tak resminya, ia juga bersaing dengan seorang detektif profesional yaitu Frederick Larsan. Selalu ada misteri di balik misteri, belum usai kasus kamar kuning ini, ketika Rouletabille sedang berusaha menjebak pelaku, muncul lagi misteri baru, yaitu misteri “Koridor yang tak Bisa Dijelaskan”. Disebut seperti itu karena ketika terjadi pengejaran terhadap si pelaku, dengan seluruh koridor dijaga dengan ketat, tiba-tiba saja jejak si pelaku menghilang begitu saja di sebuah koridor, seperti asap.

Dengan cover berwarna kuning, buku ini seolah ingin menegaskan judul dari buku ini. Saya memuji desain buku terbitan visimedia ini, banyak ilustrasi menarik di dalamnya, ilustrasi-ilustrasi yang menggambarkan kejadian yang sedang diceritakan. Ada juga kelengkapan penunjang untuk memudahkan pembaca yaitu seperti peta denah rumah. Sungguh, kemasan yang sangat menarik, membuat semangat membaca tumbuh ketika melihatnya.

Sayangnya...

Terjemahan buku ini kurang enak dibaca, entah, apakah buku ini diterjemahkan dari bahasa Inggris atau Prancis. Entah juga, apakah terjemahan ini mengikuti bahasa sastra di tahun terbitnya buku ini, yaitu 1908, yang memang terkenal sastra klasik itu sulit dibaca. Namun tak ada alasan, selalu saja ada terjemahan-terjemahan yang terdengar ganjil ketika dibaca. contoh saja, pada halaman 145: “Saya sudah mengatakan - rasanya - bahwa pada masa itu, menjadi seorang pengacara muda dengan sedikit kasus.” Terdengar agak ganjil di telinga saya, saya tidak tahu apakah yang pembaca yang lain merasa seperti itu atau tidak. Selain itu, terlalu banyak tanda “-“ di setiap bagian buku ini, yang menyebabkan pembacaan agak tersendat-sendat. Ada lagi, setiap dialog yang masih diucapkan oleh seseorang terkadang luput menggunakan tanda kutip ketika pindah paragraf, jadi terkadang pembaca dibingungkan, apakah ini masih sebuah percakapan ataukah telah memasuki sebuah narasi.


Tetapi di balik itu semua, saya berterimakasih kepada penerbit karena telah mengenalkan saya kepada detektif Prancis yang bernama Joseph Rouletabille, dan terutama telah mengenalkan kepada Gaston Leroux yang disebut-sebut sejajar dengan Sir  Arthur Conan Doyle di Inggris dan Edgar Allan Poe di Amerika. Jadi penasaran dengan karya Leroux lainnya, yang semoga saja lebih diterjemahkan dengan bahasa yanng lebih enak dibaca dan dipahami.


Judul: Mystery of Yellow Room
Penulis: Gaston Leroux
Penerbit: Visimedia
Tebal: 327 hal.
Tahun Terbit: 1907 (1st) / 2013 (terjemahan)
Rate: 2/5 

Minggu, 29 September 2013

Baca Bareng Buku-Bukunya Mbah Agatha Christie



Komitmen dari awal sebagai peserta Mistery Reading Challenge yang di host oleh mbak Hobby Buku. Tapi agak ndableg juga, walaupun tahu kalau bulan September-Desember buku-bukunya Mbah Agatha Christie yang bakal dibaca bareng, tapi gak buru-buru nyari, jadi deh agak kelimpungan pas tantangan ini muncul secara berdikari (ceileh bahasanya...)

Oke, sementara ini saya cuma punya buku Taken at the Flood (Poirot) dan Tiga Belas Kasus (Marple) untuk disertakan dalam tantangan ini, tapi mudah-mudahan dapat rezeki lebih untuk hunting buku-buku AC lainnya biar tantangan ini makin ajib buat diselesaikan :)

Tertarik ikutan juga? Langsung aja deh baca-baca langsung di Master Post-nya. Mari harubirukan dunia perbukuan dengan membaca kisah-kisah detektif dari Agatha Christie! #IyaLebay

Terima kasih dan semoga saya beruntung #eh

Jumat, 30 Agustus 2013

Perry Mason yang Terlalu Pintar



Buku pertama Perry mason yang saya baca. Sempat sangta tergiur dengan embel-embel “Penulis Kisah Misteri Terlaris di Dunia”, ternyata Erle Stanley Gardner, si penulis buku ini membuat saya agak kecewa. Entah, saya yang kurang cocok membaca buku sejenis ini, atau memang ceritanya yang membosankan. Untuk sekedar meraba, mungkin benar salah satu ucapan teman saya bahwa Perry Mason sejenis dengan karya-karya John Grisham, walau setahu saya Grisham lebih intens mengangkat masalah tentang hukum dan peradilan. Perry Mason ini “bermain” di pengadilan juga tetapi penyelidikan yang ia lakukan lebih mendalam dan detail, sehingga bisa dibilang ia adalah seorang penasihat hukum sekaligus detektif.

Judul buku ini juga cukup bombastis: Kisah Mayat yang Melarikan Diri. Saya yakin, yang pertama terpikir di benak pembaca sekalian tentang melarikan diri ialah seseorang yang lari terbirit-birit seolah sedang dikejar sesuatu. Begitu pulalah pemikiran saya tentang kisah ini, melarikan diri, mayat pula, terbayanglah sesosok berbalut kain putih yang lari terbirit-birit melarikan diri. Ya, tetapi bukan seperti itu ceritanya, ini lebih sederhana. Seorang saksi melaporkan bahwa ada sesosok manusia yang melarikan diri melalui jendela padahal di rumah tersebut baru saja terjadi tragedi kematian. Kematian ini sendiri menimpa seseorang yang juga suami dari klien Mason. Klien Mason ini sendiri memakai jasa dari Mason guna merampas sebuah surat wasiat dari suaminya. Si klien ini telah curiga bahwa si suami menipu dan memerasnya, apalagi ia mendengar kabar berita bahwa si suami telah membuat surat wasiat yang anehnya bukan ditujukan untuknya, tetapi untuk pihak yang berwajib, untuk kemudian dibaca dan diambil tindakan oleh pihak berwajib tersebut. Suami si klien ini sendiri memang telah terbukti memeras istrinya mengingat sang istri mendapatkan warisan yang sangat besar dari paman jauhnya. Sampai suatu ketika, si suami ini akhirnya tewas, prasangka menunjuk kepada sang istri, apalagi hubungan mereka pun telah rusak, dan si istri pun telah terbukti menyewa Mason untuk mengambil surat wasiat dari tangan suaminya. Disinilah peran Mason untuk membela kliennya dan membuktikan serta menyelidiki bahwa hal tersebut tidak benar.

Mason ini dianugerahi otak dan kepintaran yang cemerlang. Hal ini dapat terlihat ketika ia dan asistennya terjebak di dalam rumah suami si klien tersbut sedangkan rumah tersebut kosong. Dengan cekatan Mason mampu bersilat lidah dengan sheriff setempat dan menyelamatkan dirinya dengan gemilang dari ancaman memasuki rumah orang lain tanpa ijin. Kemampuan Mason ini jugalah yang ditunjukkannya dalam persidangan kematian suami dari kliennya. Mason yang yakin kliennya tidak bersalah berani untuk berkorban dan menyeldiki sendiri kasus ini dan menemani kliennya hingga ke pengadilan. Dengan penyelidikan yang intensif dari Mason kasus mayat kabur ini dapat terungkap sepenuhnya hingga motif sekecil-kecilnya terungkap dengan gemilang.


Kemampuan Mason dalam bersilat lidah memang sangat brilian. Proses persidangan pun berjalan dalam “kendali”-nya. Untungnya, ia berada dalam pihak yang “benar”, sehingga kemampuannya itu tidak menjadi sia-sia karena telah digunakan untuk kebaikan. Mason ini sendiri bisa dibilang sangat kaya, bagaimana perjalanan menggunakan pesawat pribadi (walau sewaan) pun dapat ia lakoni tanpa kekurangan biaya, belum lagi asistennya di kantor yang sangat setia padanya sampai-sampai ikut-ikut Mason dalam blusukan menyelidiki kasus ini, tentunya butuh lumayan biaya dalam membiayai pekerjaan ini. Sayangnya, menurut saya kisah ini terlalu bertele-tele dan membosankan, hampir tidak ada aksi menegangkan yang terjadi di buku ini, settingnya sendiri menjelang akhir-akhir buku lebih berkutat di lingkungan pengadilan, mirip sekali dengan John Grisham. Ini membuat saya agak bertanya-tanya, terlaris di dunia kok seperti ini? Mason juga menurut saya tokoh yang terlalu sempurna, ia seakan mampu membaca segala situasi dan kondisi, tanpa cela sedikitpun, luar biasa. Hal-hal inilah yang membuat saya hanya memberi dua bintang kepada buku ini, awal perkenalan yang cukup buruk, mungkin butuh membaca kisah Perry Mason lain untuk merubah paradigma ini. Tetapi bagaimana bisa, gramedia sendiri seolah agak malas untuk menerbitkan ulang, satu suarakah dengan saya dalam menilai buku ini? Siapa tahu.


Judul: Kasus Mayat yang Melarikan Diri
Penulis: Erle Stanley Gardner
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 354 hal.
Tahun Terbit: 1954 (1st) / 1993 (terjemahan)
Rate: 2/5

Sabtu, 06 Juli 2013

Dracula, si Raja Vampir


Count Dracula. Bisa dibilang ini adalah rajanya vampir. Sebuah kisah legendaris yang ditulis oleh Bram Stoker, sehingga apa-apa yang selama ini awam terdengar dan diketahui oleh masyarakat luas seolah dibenarkan ketika buku bejudul Dracula ini dibaca. Sudah jelas terpatri dalam otak dan kehidupan sehari-hari, entah itu semua berasal dari film-film vampir, ataupun dari cerita-cerita apapun tentang vampir, bahwa kisah vampir itu identik dengan: dua titik bekas gigitan di leher, bawang putih, salib, air suci, tak ada bayangan di cermin, dan bahwa vampir itu dapat menular melalui gigitan. Memang, hal-hal ini dapat ditemui di buku ini, entah, apakah buku ini yang menginspirasi kisah-kisah vampir di seluruh dunia atau tidak, mengingat buku ini terbit pertama kali di abad ke-19, tepatnya pada tahun 1897.

Buku yang saya baca merupakan buku tipis setebal 160 halaman yang diterbitkan oleh penerbit Narasi. Dibandingkan dengan buku serupa terbitan Gramedia yang mempunyai tebal hingga 578 halaman, tentunya hanya sari-sari dari buku asli Dracula yang ada di buku terbitan Narasi ini. Sempat pula membaca review dari beberapa rekan pembaca buku bahwa Dracula ini diceritakan dengan berbagai sudut pandang tokohnya, entah itu melalui surat atau yang lainnya, di buku terbitan Narasi ini sudut pandang yang digunakan yaitu melalui sudut pandang orang ketiga, dan memang diceritakan secara naratif, sesuai nama dari penerbitnya.

Hanya terdiri dari 8 bab saja, kisah di buku ini dimulai ketika Jonathan Harker, seorang pengacara muda diundang oleh kliennya, Count Dracula ke kastilnya di Transylvania, Rumania. Disana ia terjebak dan mengetahui siapa sebenarnya Dracula. Setelah lama terkurung, entah bagaimana ceritanya ia dapat lepas dari kastil tersebut namun mengalami trauma yang hebat, sampai-sampai jurnal tentang kehidupan sehari-harinya pada saat ia tinggal di kastil tak sanggup lagi ia baca. Mina, sang tunangan yang akhirnya menemukan Jonathan di sebuah rumah sakit di Hongaria membawa  Jonathan kembali ke Inggris guna diobati. Di Inggris, Jonathan dibantu oleh seorang dokter bernama Jack, yang akhirnya memperkenalkan mereka dengan Profesor Van Helsing, seorang profesor yang unik yang telah cukup lama mendalami tentang dunia vampir. Di Inggris sendiri, Mina mempunyai sahabat yang bernama Lucy, yang merupakan juga kekasih dari Arthur. Naas bagi para wanita ini, mereka berdua menjadi korban gigitan vampir, dan mau tidak mau mereka berdua menjadi makhluk seperti Dracula, mati, tetapi tidak bisa mati.

Kesan dari buku ini memang menyeramkan. Benar, tak ada pembunuhan yang sadis yang terjadi maupun kasus kriminal lain yang kejam, tetapi aura dari buku yang ditulis Bram Stoker ini memang gelap. Sebenarnya, di buku Narasi ini lebih banyak menceritakan tentang profesor Van Helsing dan kawan-kawan dalam upaya menghancurkan Dracula, si raja vampir. Hampir tak terlihat tindak tanduk Dracula sebagai raja vampir yang mengesankan ia begitu menyeramkan dan menjadi mesin pembunuh bagi umat manusia. Namun ya itu, walaupun tanpa hal tersebut, kesan menyeramkan telah otomatis muncul ketika membaca buku ini, entah karena apa.

Setidaknya, setelah membaca buku ini saya jadi mengetahui bahwa film Van Helsing yang pernah ada memang terinspirasi dari buku ini. Bahwa Van Helsing merupakan tokoh utama pemburu Dracula telah menjadi satu hal yang legendaris. Tapi sayang memang, keunikan Van Helsing agak nanggung digambarkan dalam buku ini, terbatas pada jumlah halaman mungkin.


Dracula ini merupakan sebuah buku yang masuk list 1001 Books You Must Read Before You Die. Mengingat telah mengakarnya kisah vampir dan drakula di seluruh dunia, sangat layak sekali untuk menjadikan buku ini sebagai bacaan-wajib-baca. Sebenarnya saya agak beruntung juga membaca edisi ringkas dari Dracula ini, sebab seperti halnya buku 1001 lain yang memang mempunyai karakter sulit untuk dibaca, saya masih belum bisa meraba seperti apa terjemahan asli dari Dracula yang diterbitkan oleh Gramedia. Semoga suatu hari nanti saya bisa membacanya pula untuk membandingkan dengan terbitan Narasi ini.


Judul: Dracula Penghisap Darah
Penulis: Bram Stoker
Penerbit: Narasi
Tebal: 160 hal.
Tahun Terbit: 1897 (1st) / 2007 (read)
Rate: 4/5

Senin, 01 Juli 2013

Dark Hollow



Dark Hollow merupakan seri kedua dari serial detektif Charlie “Bird” Parker. Buku pertama karangan John Connolly tentang Parker ialah Every Dead Thing yang terbit pada tahun 1999, sedangkan Dark Hollow ini terbit setahun kemudian. Antara buku pertama dan kedua sebenarnya tidak masalah apabila dibaca tak berurutan, kecuali itu, banyak hal-hal yang menjadi lanjutan dari buku pertama yang mungkin akan membuat pembaca agak bingung apabila langsung membaca Dark Hollow.

Saya sendiri belum membaca buku pertamanya, jadi yang saya tangkap dari tokoh Bird ini ialah bahwa ia seorang mantan polisi yang mempunyai masa lalu yang cukup kelam akibat kematian istri dan anaknya. Kedua orang tercinta Bird ini tewas dibunuh penjahat. Nah, kisah kematian dan pembunuhan ini yang ada di buku pertama, mungkin sih. Selain itu, yang tersisa dari buku pertama ialah sepasang manusia yang selalu membantu Bird dalam menangani kasus-kasus yang terjadi. Mereka ialah Louis dan Angel. Dilihat dari nama, mungkin pembaca tak akan sadar kalau mereka berdua ini ialah laki-laki. Dari buku pertama (tepatnya dari review seorang blogger), akhirnya saya mengetahui kalau mereka ini ialah pasangan gay, dimana mereka ini ialah sepasang pencuri dan penjahat.

Jalan cerita di buku ini sendiri mengenai Bird yang disewa oleh seorang wanita yang ingin menuntut hak yang belum diberikan mantan suaminya, Billy Purdue. Situasi mulai rumit ketika sang wanita beserta anaknya ditemukan tewas terbunuh. Otomatis, semua prasangka mengarah kepada Billy Purdue. Celakanya, Billy malah menghilang ketika sedang dicari. Pembunuhan yang terjadi tak sampai disitu. Seorang nenek penghuni panti jompo pun ditemukan tewas, belum lagi penculikan yang terjadi terhadap Ellen, anak dari mantan rekan Bird di kepolisian. Setelah melakukan penelusuran, Bird menemukan sebuah fakta menarik bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi berkaitan dengan cerita berdekade-dekade lalu yang melibatkan kakek Bird dan seorang pembunuh legendaris, Caleb Kyle. Ternyata, memang Bird sudah lama diincar, orang-orang terdekat dengan Bird terancam jiwanya, dan yang paling penting ialah fakta bahwa Caleb Kyle bukan hanya legenda, tapi ia nyata!

Sebuah novel yang murni thriller. Pembunuhan terjadi begitu mudahnya, belum lagi kekerasan-kekerasan yang terjadi, sangat khas sekali dengan film-film thriller Hollywood sana. Dengan setting di Amerika Serikat, buku ini menjadi menarik karena sang penulis merupakan seorang Irish. Hebatnya, deskripsi-deskripsi yang ia jabarkan tentang tempat di Amerika sana sangat mendetail. Bahkan, menurut saya deskripsinya terlalu mendetail, sehingga membuat bosan dan membuat buku ini terlalu tebal. Bagaimana pendeskripsian suatu tempat dan sebuah penampilan dari seseorang dibuat terlalu panjang dan mendetail, hal yang menurut saya kurang terlalu perlu. Saya berpendapat demikian karena sisi thriller dari buku ini bakal lebih cepat mencapai klimaks apabila diceritakan secara to the point. Inilah yang menjadi kekurangannya, membuat hal-hal yang mendebarkannya kurang cepat diperoleh. Dark Hollow sendiri merupakan nama sebuah tempat di Amerika. Sebuah tempat dimana pembunuhan-pembunuhan ini terjadi, baik di masa kini, maupun di masa ketika kakek Bird masih hidup, masa ketika Caleb Kyle yang legendaris sangat ditakuti.


Buku ini sendiri tidak terlalu murni thriller dan masuk akal. Dari sejak buku pertama, telah diceritakan bahwa arwah-arwah telah turut membantu dalam memecahkan sebuah kasus. Di kisah Dark Hollow ini sendiri, Bird diceritakan agak terbantu oleh penampakan-penampakan dari orang-orang yang telah meninggal mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kasus yang terjadi. Sebenarnya, saya menunggu hingga akhir penjelasan logis dari hal ini, namun nampaknya John Connolly ingin memberikan kekhasannya dalam hal tersebut, makanya tak ada jawaban logis mengenai hal ini.


Judul: Dark Hollow
Penulis: John Connolly
Tebal: 560 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2000 (1st) / 2012 (terjemahan)
Rate: 3/5

Rabu, 19 Juni 2013

Watson, Holmes, dan Pembuka Amplop

Sebenarnya cerita tentang temanku ini agak rahasia. Bukan apa-apa, dalam kasus kali ini Holmes "membohongi" aku sedemikian rupa, ia berhasil membuat aku keki. Aku pun terkadang malu sendiri ketika membaca kisah ini, tetapi apa boleh buat, akhirnya kisah ini memang harus diceritakan kepada pembaca, tak perduli bagaimana perasaanku, melalui kisah yang aku ceritakan ini aku sekaligus ingin mengenang Holmes sebagai seorang detektif sekaligus sahabat yang hebat, terutama untukku.

Cerita ini bermula ketika aku berkunjung ke Baker Street di saat aku sedang bebas tugas karena memang jadwal praktikku sudah selesai beberapa jam yang lalu. Seperti biasa, aku dikejutkan dengan tingkah laku Holmes yang memang agak unik, kali ini ia sedang membaca sebuah buku dengan gaya yang benar-benar tidak masuk akal, kepala di bawah, kaki di atas.

“Oh temanku Watson, sudah kuduga kau akan datang hari ini,” ia menyapaku sambil memperbaiki posisi bacanya ke posisi yang normal.

“Darimana kau tahu?” Aku tahu pertanyaanku ini konyol, maka aku langsung bertanya lagi sebelum ia menjawab, “omong-omong, buku apa yang kau baca itu?”

Sambil berdehem ia menjawab, “akan kuceritakan Watson, sebuah kasus unik yang melibatkan alat pembunuh yang juga unik, alat pembuka amplop!”

Aku pun kebingungan, karena aku memang belum tahu seperti apa alat pembuka amplop tersebut. Belum sempat aku berbicara, dia langsung menyela dengan mengambil laptop-nya dan langsung googling dengan kata kunci “Alat Pembuka Amplop”.

“Alat ini yang kumaksud, temanku, bukankah cukup mengerikan untuk dipakai menikam seseorang yang kau benci setengah mati?” Ia menunjukkan sebuah gambar.



Aku pun menggeleng, “baru tahu aku, ayo ceritakan selengkapnya Holmes, jangan membuat penasaran!”

“Baiklah dokter, seperti biasa kau memang selalu tak sabaran. Kita mulai dahulu dengan siapa-siapa yang terlibat di dalam kasus ini. Pertama, Luana Awanti, ia seorang...” belum selesai ia bicara, aku keburu menyela, “tunggu Holmes, nama apa itu Luana? Terdengar asing untuk nama seorang Inggris.”

“Kisah ini terjadi di Indonesia teman, tolong jangan banyak tanya dahulu.”

“Tapi kapan kau ke...” kali ini giliran dia yang menyelaku, “mau aku ceritakan tidak? Diamlah sejenak Watson!”

Aku pun terdiam dan mengangguk.

“Baiklah aku lanjutkan. Luana Awanti ini seorang gadis muda yang telah ditinggal ayahnya semenjak ia lahir. Hidup berdua dengan ibunya dalam keadaan miskin dan dengan sang ibu dalam kondisi yang sakit-sakitan, ia harus siap ketika sewaktu-waktu ibunya dipanggil oleh yang Maha Kuasa karena sakitnya yang semakin parah. Suatu hari, hal itu pun terjadi, ibunya meninggal dunia. Hanya satu hal yang ia wariskan kepada Luana, ia memberitahu Luana sebuah hal penting, hal yang sangat penting sebenarnya. Ibunya memberitahu bahwa sebenarnya ayah dari Luana masih hidup, dan ia adalah Prayogo Iksan, seorang jutawan yang mempunyai perusahaan sendiri. Seorang lelaki yang telah mempunyai seorang istri dan tiga orang anak yang hampir sebaya dengan Luana. Prayogo Iksan sendiri tidak mengetahui jika ibu Luana sedang mengandung ketika ia akhirnya lebih memilih istrinya daripada ibu dari Luana.

“Singkat cerita, karena penyesalannya, Prayogo Iksan pun menerima Luana di rumahnya dengan tangan terbuka. Tetapi sayangnya, gara-gara kedatangan Luana, suasana di ruman Prayogo Iksan menjadi tidak kondusif. Lilik, istri dari Prayogo Iksan dan Yana, anak kedua dari Prayogo Iksan sangat memusuhi Luana dan tidak menyukai kehadiran Luana di rumah mereka. Hanya Ardian, putra tertua Prayogo Iksan yang menyambut Luana dengan tangan terbuka, sementara Yanti, si bungsu memilih untuk mengikuti jejak Yana dan Lilik, meskipun tidak secara frontal karena Yanti pada dasarnya memang pendiam.

“Luana kemudian meminta Prayogo Iksan untuk ikut bekerja di perusahaannya karena ia tidak betah hanya berdiam diri di rumah. Di tempat inilah Luana berkenalan dengan Pak Joko yang berusia dua kali lipatnya yang diam-diam mencintainya. Untuk meningkatkan kemampuannya, Luana memutuskan untuk mengikuti kursus komputer, tak jarang ia diantarjemput oleh Pak Joko ke tempat kursusnya. Sebenarnya, dengan mengikuti kursus ini Luana agak sedikit diuntungkan, karena secara tidak langsung ia akan pulang agak malam dan menghindarkannya dari bertatap muka dengan Lilik dan Yana ketika sampai di rumah.

“Sampai suatu hari, ketika Prayogo Iksan sedang mengurus surat-surat untuk mensahkan status Luana sebagai anak kandungnya, terjadilah peristiwa tragis itu. Prayogo Iksan yang berada di dalam kamar kerja di rumahnya terbunuh secara tragis, ada orang yang menikamnya dari belakang! Lilik dan Yana ketika kejadian sedang berada di rumah, sementara Yanti sedang di toko buku dan Ardian sedang bermain tenis. Adapun Luana, ketika bapaknya terbunuh ia sedang berada di tempat kursus dan akan menonton bioskop bersama Pak Joko. Dari penyelidikan polisi, diketahui bahwa alat pembuka amploplah yang digunakan untuk membunuh Prayogo Iksan. Itulah sebabnya aku menunjukkan alat pembuka amplop ini kepadamu Watson.

“Posisi Luana yang makin terjepit di rumah itu membuat penyelidikan buntu karena Luana ngotot untuk meninggalkan rumah itu. Untung saja setelah dibujuk, Luana bersedia kembali ke rumah Prayogo Iksan guna menjebak si pelaku pembunuhan yang sebenarnya. Selang beberapa hari, diketahui bahwa alat pembuka amplop tersebut hanyalah sebagai pengecoh saja, karena alat yang dipakai untuk membunuh Prayogo Iksan adalah sebuah pisau yang kedua sisinya tajam. Dari hal itulah akhirnya si pembunuh dapat diketahui, bingo!

“Begitulah Watson, sebelum memutuskan suatu perkara, siapa yang menjadi pembunuh, semua hal harus kita perhitungkan, bahkan yang tidak mempunyai alibi sekalipun.”

Aku yang penasaran mengenai siapa si pembunuh sebenarnya kemudian memaksa Holmes untuk mengatakannya. Tapi dengan terbahak ia hanya menjawab, “tidak seru apabila aku katakan Watson. Bacalah sendiri buku ini, kau akan merasakan sensasinya.”

Aku pun mengalah, “oke Holmes, baiklah. Berikan aku buku itu, biar aku membaca sendiri kisahmu itu.” Kurebut buku itu dari tangannya dan mulai kubaca sekilas.

“Tunggu Watson, sepertinya kau salah paham...”

Tanpa mengacuhkannya, aku mencerocos sendiri, “hm, alur yang oke, berurutan dari awal hingga akhir bahkan tiap bab ada tanggalnya sendiri-sendiri. Kau tahu saja kalau aku tidak nyaman membaca buku yang mempunyai alur yang maju mundur Holmes.”

“Tapi...,” Holmes mencoba menyelaku.

Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, aku mulai berbicara lagi, “omong-omong lagi, tumben sekali kau membukukan kisahmu sendiri Holmes, biasanya kau paling malas dalam melakukan hal seperti ini dan selalu mengandalkanku untuk membukukan kisah-kisahmu. Mungkin ini sebuah perkembangan yang baik buatmu apabila suatu saat aku yang meninggalkanmu terlebih dahulu kelak.”

“Tapi...,” Holmes mencoba menyelaku lagi.

Aku memotongnya lagi, “jadi, kapan sebenarnya kau mengunjungi Indonesia tanpa mengajak sahabatmu ini Holmes?”

Ia pun terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Terang saja ini membuat aku kaget. Beberapa menit kemudian setelah tawanya berhenti, ia pun menjelaskan sambil tersenyum, “bacalah dengan jelas Watson, buku itu bukan bercerita tentang aku, dan bukan aku yang memecahkan kasus itu. Ini adalah kisah temanku dari Indonesia, Kapten Polisi Kosasih dan Gozali, seorang mantan narapidana yang membantunya. Sebenarnya Gozali-lah yang memecahkan kasus ini, ia detektif yang hebat Watson!”


Kubuka buku itu, dan memang aku menemukan nama Gozali-lah yang menjadi tokoh utama pemecah kasus pembunuhan ini. Sambil melemparkan buku itu ke wajah Holmes, aku pun bergegas meninggalkan Baker Street, meninggalkan Holmes yang mulai lagi tertawa terbahak-bahak.




Judul: Misteri Alat Pembuka Amplop
Penulis: S. Mara Gd
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 1991
Tebal: 424 hal.
Rate: 5/5

Minggu, 26 Mei 2013

Tentang Gorila dan Bahasa Isyaratnya




Kongo adalah negara Zaire saat ini. Di negara inilah tim ERTS mempunyai sebuah misi guna mendapatkan suatu jenis intan baru, intan yang berlapiskan boron, intan yang bisa merubah dunia. Tim pertama ERTS yang dikirimkan kesana sedikit lagi mendapatkan hasil positif. Sedikit lagi. Hingga suatu pagi, ketika mereka sedang akan melakukan hubungan telekomunikasi dengan tim ERTS yang berada di Houston, tragedi itu datang. Kamera telah terpasang, tim Houston telah siap berkomunikasi, ketika kejadian itu berlangsung. Tim ERTS di Kongo mengalami musibah, mereka diserang oleh makhluk misterius, hanya sekelebatan bayangan saja yang berhasil terekam dan terlihat oleh tim Houston. Yang sebenarnya terjadi di Kongo ialah, terjadi pembunuhan besar-besaran, manusia yang ada dibunuh dengan cara dipukul kedua sisi pipinya dengan suatu benda keras hingga manusia-manusia tersebut bola matanya mencelat keluar.

Tim kedua kemudian segera diutus untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Selain itu, tetap intan-intan ini yang menjadi tujuan utama. Dengan disaingi oleh tim dari negara-negara lain yang juga mengincar hal yang serupa, tim kedua yang dipimpin oleh Karen Ross mesti berpacu dengan waktu. Karen tidak sendirian, ia juga mengajak serta Peter Elliott, seorang ahli primata. Tak hanya Peter, Amy pun diajak. Siapa Amy? Amy ialah seekor gorila, bukan gorila biasa, karena Amy ini telah dapat berbicara dengan menggunakan isyarat dengan manusia, terutama dengan Peter. Bukan tanpa alasan Karen mengajak serta Peter dan Amy guna menemaninya ke Kongo, karena dari sekelebat bayangan yang tertangkap kamera pada penyerangan pertama di Kongo, Karen berhasil mendapatkan kesimpulan bahwa yang membunuh rombongan pertama adalah sekawanan gorila.


Tim pun berangkat ke Kongo, dengan terus dipacu waktu, mereka ditemani oleh Munro, seorang pemandu yang telah begitu mengenal Afrika. Berbagai kejadian menegangkan mereka alami selama perjalanan, mulai dari penyerangan oleh negara kompetitor, penculikan Amy, hingga kaum kanibal yang masih eksis di Afrika sana. Dengan segala rintangan tersebut, tim ini mendapatkan kekompakan yang cukup solid  untuk menghadapi hal-hal berbahaya lain yang ada di depan mereka, dan terutama kawanan gorila pembunuh misterius yang membantai tim ERTS pertama.

Masih dengan keahliannya dalam bidang sci-fi, kali ini Crichton ingin menyoroti teknologi komputer serta aplikasinya terhadap komunikasi antara manusia dengan hewan, terutama gorila. Setting novel ini yang berada di tahun 1979, juga penulisan buku ini yang tahun 1980 tidak menghalangi Crichton dalam “membayangkan” tekonologi yang ada di masa kini, komputer canggih, hubungan video antara dua tempat yang berjauhan, hingga segala hal yang di buku ini telah dapat dilakukan dengan teknik komputerisasi. Bayangkan, tahun 80-an awal, dimana mungkin internet saja menjadi sebuah hal yang masih jauh untuk sekedar dibayangkan. Satu hal lagi yang menarik di buku ini ialah bagaimana “perbincangan” antara Amy dan Peter, menakjubkan melihat bagaimana seekor gorila yang dapat memahami bahasa manusia dan berkomunikasi walaupun hanya dengan isyarat saja. Hal ini pun telah dapat dibayangkan oleh Crichton, luar biasa.

Masih banyak pembelajaran baru yang didapatkan dari Congo ini. Perbedaan para primata, terutama simpanse dan gorila, seolah membuka mata para pembacanya. Gorila, yang lebih besar dan menyeramkan memberi kesan bahwa primata ini merupakan makhluk yang kejam, tetapi Crichton melalui penjelasannya dapat membuktikan bahwa simpanse lebih ganas, karena ia menyebutkan bahwa simpanse sampai mengambil tindakan untuk menculik anak manusia apabila ia sedang benar-benar marah, sedangkan gorila tidak, mereka tidak seganas itu, jadi jangan menilai dari covernya saja.

Memang, salah satu ciri buku menarik yaitu adalah buku tersebut enak dibaca, dan pembaca tidak ingin berhenti pembacanya. Ini yang saya rasakan dari Congo, sebuah buku yang menarik, penuh penjelasan sains dan memberikan cakrawala baru bagi pembacanya. Lima bintang untuk buku ini.


Judul: Congo
Penulis: Michael Crichton
Tebal: 544 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 1980 (1st) / 1995 (read)
Rate: 5/5

Selasa, 09 April 2013

Apartemen DJL





Apartemen 666. Dari judulnya saja, apabila sering berurusan dengan dunia yang gaib-gaib, pasti telah dapat terbaca apa arti atau genre dari judul buku ini. Ya, konon katanya angka 666 berasosiasi dengan iluminati, dajal, setan dan semacamnya. Apalagi, ada juga nama sebuah perusahaan di dalamnya yang dinamakan PT DJL, makin lengkaplah keterangan tentang genre buku ini. Misteri, atau horor tepatnya, adalah genre yang dipilih oleh Sybill Affiat untuk buku keduanya ini.

Cerita bermula dari nasib sial yang dialami Samara ketika ia baru saja masuk lagi kerja setelah meminta cuti yang cukup lama guna menemani ibunya yang sakit keras (hingga akhirnya meninggal). Pekerjaannya sudah ada yang menempati, dan mau tak mau perusahaan “terpaksa” memintanya untuk “mengundurkan diri”. Sam, kepala personalia perusahaan Samara bekerja tak lupa memberi pesan kepada Samara, bahwa Ridwan, atasan Samara telah menyelipkan sebuah peluang untuk melamar kerja di seorang rekan kerjanya pada dokumen-dokumen yang diberikan kepada Samara. Samara, yang kidung benci pada Ridwan tidak mau menerima brosur lowongan kerja tersebut, sehingga otomatis dicampakkanlah brosur tersebut, perlahan, brosur itu pun terlupakan.

Bulan terus berganti, Samara dan suaminya, Bisma, mengalami krisis keuangan hebat. Profesi Bisma yang hanya seorang fotografer lepas sangat sulit untuk diharapkan. Akhirnya, dalam keadaan terjepit Samara pun teringat kembali tentang brosur tersebut. Tanpa proses yang rumit, perusahaan yang dilamar Samara melalui brosur itu pun menerimanya. Disinilah masalah mulai timbul, ternyata PT DJL yang merupakan perusahaan baru Samara merupakan perusahaan yang cukup misterius. Asetnya besar, tetapi hanya untuk kalangan terbatas. Salah satu aset perusahaan ialah apartemen. Samara pun diminta bosnya, Lea untuk menempati apartemen 666 mengingat jarak yang lumayan dapat dipangkas apabila ia pindah.

Samara pun hidup berkecukupan, namun hidupnya mulai tidak tenang. Seolah-olah ia menjadi wanita belian. Selain itu ia mulai diperbudak oleh hawa nafsu, alkohol, pesta, sampai seks. Saat Samara mulai agak tidak nyaman dengan kehidupannya yang kotor kini, ia tiba-tiba bermimpi didatangi seorang perempuan yang mengaku bernama Nyimas Ayu. Sebenarnya, ini bukanlah mimpi. Nyimas Ayu ini telah lumayan sering menampakkan diri di depan Samara dalam rupa nenek-nenek berkerudung hitam yang menyeramkan. Nyimas Ayu bercerita, bahwa sebenarnya ia adalah anak dari Lea, dan Lea ialah iblis yang sesungguhnya. Lea selalu mempunyai dendam akibat masa lalu ibunya yang kelam, akibat ibunya diperkosa beramai-ramai oleh sekelompok pemuda. Lea inilah perpanjangan tangan ibunya, dia membalaskan dendam terhadap keturunan-keturunan pemerkosa ibunya, hingga ia tetap dapat muda dan mendapatkan kekayaan yang berlimpah.

Cerita misteri ini dapat dikatakan khas Indonesia. Kisah klasik pembalasan dendam mewarnai buku ini. Ide ceritanya cukup menarik, walaupun sulit dibayangkan pula apabila Samara itu masih ada hubungannya dengan Lea pada akhirnya. Yang sulit dibayangkan ialah selisih usia dan dunia yang seolah hanya selebar daun kelor. Ya, kemana-mana dapat ditemui orang yang berhubungan darah, seolah-olah dunia ini tercipta hanya untuk klan mereka. Memang, tokoh di buku ini hanya berpusat di Samara, Lea, serta masa lalu tokoh-tokohnya. Namun batasan ini terlalu sempit, sehingga orang lain seolah-olah hanya cameo yang dipaksakan hadir tanpa bisa berbuat banyak pada scene lainnya. Juga patut dipertanyakan tentang “keterkenalan” sebuah perusahaan yang tak membuat orang menaruh curiga sedikit pun, sungguh sangat ganjil. Overall, saya merasakan keseruan ketika membaca buku ini. Saya bisa bilang saya menyukai cerita-cerita misteri, dan buku ini cukup menghibur, ceritanya ringan, namun dalam, penuh makna tentang kehidupan. Bagaimana harta bisa membuat orang lupa diri, serta bagaimana kotornya dunia bisnis, semua upaya, sampai hal yang menjijikan dapat terjadi apabila telah menyangkut bisnis besar. Overall, 3 bintang untuk buku ini.


Judul: Apartemen 666
Penulis: Sybill Affiat
Penerbit: Stiletto Books
Tebal: 202 hal.
Rate: 3/5

Selasa, 26 Maret 2013

Nostalgia bersama Ethan Hunt



Ada yang ingat dengan adegan seseorang menerima telepon, dan di akhir percakapannya si penelepon bilang: “telepon/rekaman ini akan hancur dengan sendirinya dalam waktu 5 detik”? Yup, itu adegan dari film atau serial TV Mission Impossible. Khas banget kata-kata itu waktu dulu serialnya masih eksis.

Nah, gak disangka ternyata Mission Impossible ini ada bukunya juga lho. Saya juga gak sengaja nemu di lapak buku bekas. Buku ini terbit tahun 1996, bisa dibilang buku ini adaptasi dari filmnya, mungkin lho. Soalnya buku ini menceritakan film layar lebar Mission Impossible pertama di sekitar tahun 1996 juga.

Ethan Hunt, si agen MI yang identik dengan Tom Cruise tentu saja jadi tokoh utama dalam buku ini. Tim IMF (Impossible Mission Force) yang dipimpinnya kali ini terlibat kasus penculikan data daftar agen CIA di Eropa. Dengan setting di negeri-negeri Eropa seperti di Kiev, Praha, Paris serta London, Ethan membawa misinya ini dengan satu kekhawatiran yang telah terjadi: dirinya dicap sebagai pengkhianat oleh CIA. Hal ini terjadi akibat rekan-rekannya di IMF satu persatu tewas ketika sedang menjalankan misi ini. Ethan yang selamat sendirian mau tak mau mulai dicurigai sebagai dalang dari kejadian ini. Maka bertambahlah misi Ethan: mengejar data daftar agen CIA di Eropa, menghindari kejaran CIA yang coba menangkapnya, dan juga berusaha mencari tahu siapakah pengkhianat sebenarnya.

Petualangan Ethan sangat seru, misi yang dibuat IMF dalam berbagai kasus yang ditangani sungguh sangat rapi. Semua terencana dengan baik. Senjata-senjata rahasia, penyamaran-penyamaran yang brilian, juga gadget-gadget yang sudah sangat modern di zaman 90-an seperti di dalam cerita. Hal ini memang dapat diperoleh berkat agen-agen terbaik yang dimiliki CIA dalam setiap lininya. Memang, semua seolah terlihat sempurna, tetapi kasus terakhir Ethan di IMF inilah yang membuat semuanya buyar, misinya gagal, teman-temannya tewas, dirinya menjadi buronan.

Menegangkan membaca buku ini. Visualisasi dari filmnya seperti tercetak secara otomatis ketika membaca cerita di dalamnya. Briliannya sang penulis dalam menyusun rencana-rencana Ethan dan tim IMF, sungguh sangat mendebarkan dan membuat puas, karena memang penulis seolah membuat segala hal yang terjadi begitu masuk akal, dan tidak berdasarkan fantasi sama sekali. Namun memang, tak ada yang sempurna, ada bagian-bagian yang cukup ganjil di dalam buku ini. Salah satunya adalah ketika Ethan berhasil pergi ke Amerika Serikat ke markas CIA dari Eropa. Padahal saat itu statusnya sedang buron, most wanted person. Tetapi di buku tiba-tiba saja dia telah berada di Amerika, tanpa dijelaskan prosesnya seperti apa.

Ah, setidaknya, buku ini mampu membangkitkan kembali memori tentang Mission Impossible yang pada era 90-an sempat booming di televisi nasional. Lima bintang sempurna untuk buku ini.


Judul: Mission: Impossible
Penulis: Peter Barsocchini
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 1996
Tebal: 259 hal.
Rate: 5/5

Rabu, 13 Maret 2013

Belajar Dari Hal Sepele



Siapa tak mengenal Sherlock Holmes? Detektif terbaik dan tertengil di sekitar abad ke-19 ini merupakan tokoh fiksi rekaan Sir Arthur Conan Doyle. Dengan partner setianya yaitu dr. Watson, Holmes mengajak para pembacanya untuk menyelami dunia kriminalitas di sekitar abad tersebut, tentunya dengan setting dan latar belakang yang masih begitu kuno, seperti kereta kuda, dan juga kirim-mengirim pesan yang masih sangat jadul, yaitu dengan menggunakan pos dan telegram.

Seperti telah diketahui, dalam tiap bukunya, Doyle bercerita tentang petualangan dan kasus-kasus yang dipecahkan oleh Holmes dari sudut pandang dr. Watson. Jadi, di buku-bukunya ini, seolah-olah dr. Watson-lah yang membukukan kisah-kisah Holmes selama memecahkan teka-teki yang ada, dan tulisan-tulisan yang ada merupakan karya yang ditulis dr. Watson. Singkatnya, seperti dr. Watson-lah yang menceritakan kembali petualangannya bersama Holmes. Padahal kita juga telah mengetahui bahwa dr. Watson pun merupakan tokoh fiktif.

Buku yang saya baca ini merupakan buku kumpulan-kumpulan kisah Holmes yang disatukan dalam buku Petualangan Sherlock Holmes, atau the Adventure of Sherlock Holmes. Ada 12 kisah pendek Holmes di dalam buku ini, dan rata-rata menghabiskan sekitar 40 halaman setiap ceritanya. Ada satu keunikan dan benang merah dalam tiap kasus yang dipecahkan Holmes, yaitu bagaimana cara Holmes memecahkan kasus tersebut. Kebanyakan petunjuk-petunjuk Holmes  didapat dari hal-hal remeh dan sepele yang tampak tak kasat mata dan seolah-olah dapat diabaikan. Namun disitulah keunikan Holmes, dengan  kaca pembesarnya, dia dapat memeriksa jejak sekecil apapun untuk memecahkan kasus yang tengah diselidikinya.

Kasus-kasus yang ada di buku ini pun dapat dikatakan tidak seluruhnya merupakan kasus yang benar-benar besar dan menarik perhatian orang-orang di sekitar Holmes. Justru kebanyakan, kasus-kasus yang ternyata besar tersebut bermula dari hal-hal kecil yang ganjil yang dilaporkan oleh klien-klien Holmes kepada dirinya. Pada cerita ketiga di buku ini, yaitu Perkumpulan Orang Berambut Merah, kisah ini berawal dari hal sepele, yaitu keganjilan seorang klien Holmes tentang perkumpulan orang berambut merah yang memperkerjakannya untuk hal sepele dengan gaji yang lumayan besar, tetapi  di tengah jalan, perkumpulan tersebut tiba-tiba tidak ada lagi kabarnya. Klien Holmes yang kebingungan akhirnya melaporkan hal ini kepada Holmes, dan siapa nyana, hal ini ternyata merupakan sebuah awal dari kasus besar yang melibatkan harta yang berlimpah. Ada lagi pada cerita terakhir yang berjudul Petualangan di Copper Beeches, kisahnya mirip dengan si rambut merah tersebut, yaitu klien Holmes ditawari pekerjaan yang ringan namun dengan upah yang tinggi. Hal ini ternyata berujung sama dengan kisah rambut merah, yaitu tindak kejahatan.

Yang unik lagi dari kasus-kasus yang ditangani Holmes, yaitu sedikitnya kisah yang berlatarkan pembunuhan di buku ini. Yang paling “kejam” di dalam kasus-kasus Holmes di buku ini bisa dibilang yaitu cerita yang berjudul Lima Butir Biji Jeruk, karena melibatkan pembunuhan yang berantai, dan juga sebuah perkumpulan yang memang kejam, walaupun pada akhirnya perkumpulan tersebut terkena batunya sendiri.

Dengan pembawaannya yang kocak, Holmes mampu membuat para pembacanya tersenyum melihat tingkahnya yang memang agak tengil. Tetapi disamping kelakuannya tersebut, banyak hal yang dapat diambil dari penelusuran dan penelitian Holmes terhadap hal-hal sepele. Contohnya saja, pengamatan terhadap siku tangan, atau jejak yang berada pada celana di daerah lutut, bahkan hingga ruas-ruas jari, banyak hal yang dapat disimpulkan dari hal-hal sepele semacam tersebut.

Pada akhirnya, kisah Holmes ini seakan membawa saya nostalgia ke beberapa tahun yang lalu, karena setelah dibandingkan, ternyata  salah satu buku Holmes yang diterbitkan oleh penerbit lain dengan judul Great Adventure of Sherlock Holmes mempunyai cerita-cerita yang sama dengan buku ini, meskipun dengan cara penterjemahan yang agak berbeda. Ada satu hal yang membuat saya kecewa dengan buku ini, karena bisa dibilang buku ini hanya ganti cover saja, ini terbukti dari bagian sampul depan buku yang masih tertulis judul Sherlock Holmes dalam jenis font yang lama, begitu pula pada font di isi cerita, masih merupakan font yang jadul, font yang sama dengan cetakan Holmes sebelumnya. Overall, dari sisi cerita, buku ini layak mendapatkan lima bintang.

buku ini saya masukka ke dalam baca bareng event Mistery Reading Challenge 2013 disini


Judul: Petualangan Sherlock Holmes
Penulis: Sir Arthur Conan Doyle
Tebal: 504 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Rate: 5/5

Minggu, 10 Maret 2013

Cerita Misteri Lintas Zaman




Ini adalah buku Abdullah Harahap pertama yang saya baca. Sempat terpesona oleh cover-cover dan judul buku ini di toko-toko buku, namun tak pernah kesampaian untuk membelinya. Hingga suatu saat saya menemukan buku ini di tumpukan buku-buku berharga 10 ribu di Blok M Square. Kebetulan juga buku ini dapat saya masukkan ke dalam event Mistery Reading Challenge. Sekaligus memperkenalkan buku misteri lokal kepada rekan-rekan pembaca buku semua.

Misteri Lemari Antik, inilah judul buku yang saya baca. Dengan cover sebuah pintu lemari bertatahkan wajah seorang wanita, cover ini seolah mencerminkan apa yang sedang diceritakan di dalam buku ini. Walaupun apabila dibaca dengan teliti, sebenarnya cover dengan lemari antik yang diceritakan mempunyai gambar yang lumayan berbeda. Sebab, di buku diceritakan ukiran gambar yang terdapat pada lemari yaitu seorang wanita dengan membawa seekor kambing. Namun dari segi cover, ilustrasi yang ada telah cukup membuat saya merinding.

Dari segi cerita, di awal buku saja kita telah dibawa ke tahun 1928. Pada tahun tersebut diceritakan bahwa Sukaesih yang dipercaya masyarakat sebagai tukang sihir akhirnya dihakimi massa untuk kemudian dihukum bakar. Supardi, seorang pengukir kayu yang menaruh hati terhadap Sukaesih mendapat isyarat dari Sukaesih sebelum ia mengalami hukum bakar, yaitu untuk membuat sebuah lemari bergambar wajahnya. Kelak, roh Sukaesih akhirnya masuk ke dalam ukiran lemari tersebut, walaupun pada saat dihukum bakar tersebut, mayat Sukaesih sebenarnya tidak dapat ditemukan. Inilah kisah awal mula lemari antik yang akhirnya menjadi pintu gerbang menuju masa lalu, sebuah lemari yang misterius dan memakan tumbal.

Beralih ke masa kini, tepatnya tahun 1984 di Pandeglang, Banten. Ismed, seorang pegawai negeri yang dipindahtugaskan ke Pandeglang dari Bandung berencana untuk membeli furniture-furniture bekas untuk keperluan rumah tangganya di rumah barunya. Tanpa sengaja, di toko furniture itu Ismed menemukan lemari antik yang misterius tersebut. Sebenarnya si pemilik toko telah melarang Ismed untuk membeli lemari tersebut karena riwayat lemari tersebut yang kurang sedap ketika berada di pemilik sebelumnya. Ada yang jatuh miskin, bahkan ada pula yang mencoba menyetubuhi ukiran perempuan yang berada di pintu lemari tersebut. Namun dengan usaha yang gigih, akhirnya Ismed mendapatkan lemari antik tersebut.



Di rumah, peristiwa-peristiwa yang diceritakan si pemilik toko ternyata benar terjadi. Ada dorongan kuat bagi diri Ismed untuk bercinta dengan lemari tersebut, untung saja ia sempat sadar pada saat terakhir. Masalah baru muncul ketika Farida, istri Ismed tiba di Pandeglang.  Pada suatu hari, Farida tiba-tiba menghilang. Ismed, yang kebingungan mencari istrinya kemudian teringat pada lemari tersebut, dan ketika ia membuka lemari itu, tiba-tiba ia tersedot ke masa lalu, ke tahun 1929, satu tahun setelah peristiwa pembakaran Sukaesih. Ismed pun terjebak di masa lalu, mengalami kejadian-kejadian mistis, serta harus secepatnya menemukan istrinya.

Bisa dibilang, buku ini horor Indonesia banget. Feel horornya dapat tersampaikan dengan baik. Bagaimana sesosok wanita di tahun 1929 muncul pada malam hari dan mencuri bayi-bayi masyarakat sekitar, sungguh sangat misterius. Belum lagi peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan mistis, seperti roh yang masuk ke dalam ukiran lemari, sungguh sangat khas. Apalagi dibumbui peristiwa-peristiwa sejarah pada tahun 20-an tersebut. Dikisahkan, bahwa pada tahun tersebut Belanda masih menjajah Indonesia, maka kejadian-kejadian yang dialami Ismed pun berkaitan dengan kekejaman Belanda yang terjadi di tahun tersebut.

Memang, buku ini agak kurang masuk akal dan terkesan terlalu dibuat-buat. Tetapi seperti telah dibilang sebelumnya, buku ini sangat cocok untuk dibaca para penggemar cerita horor. Walaupun memang diselingi dengan adegan-adegan dewasa yang tidak terlalu vulgar, namun hal ini tidak terlalu mengganggu kenikmatan membaca. Buku ini saya rasa dapat dijadikan film-film horor picisan yang sering ada di bioskop-bioskop, tetapi bukan termasuk film horor yang mengumbar hawa nafsu, tetapi lebih ke arah film-film horor semacam Jelangkung, yang dahulu sempat merajai bioskop Indonesia. Empat bintang untuk buku ini.


Judul: Misteri Lemari Antik
Penulis: Abdullah Harahap
Penerbit: Paradoks
Tebal: 344 hal.
Rate: 4/5

Kamis, 28 Februari 2013

Learn from Atticus Finch




Pernah bersikap rasis? Contohnya saja menilai orang berkulit hitam dengan sedemikian rupa, bahkan memandang remeh serta rendah? Maka belajarlah dari Atticus Finch, seorang pengacara kulit putih yang rela “ditindas” oleh sebagian kaumnya hanya gara-gara membela seorang kulit hitam yang dituduh melakukan pemerkosaan terhadap seorang gadis kulit putih. Mengapa Atticus patut dijadikan panutan? Karena pada zaman itu (sekitar tahun 30-an) di Maycomb Alabama Amerika sana isu rasialis masih sangat pekat, orang kulit hitam selalu dalam posisi yang sulit. Bahkan di pengadilan yang mengangkat kasus ini, sebenarnya Atticus sudah tahu bahwa dirinya bakal kalah, tetapi ia berhasil meyakinkan warga Maycomb dengan segala analisis-analisisnya bahwa sebenarnya Tom Robinson (si kulit hitam tersebut) tidak bersalah. Hanya keadaanlah yang membuat Tom akhirnya diputuskan bersalah.

Hal tersebut hanya sebagian kecil dari pelajaran yang dapat diambil dari buku To Kill a Mockingbird karya Lee Harper ini. Ya, seolah dari buku ini penulis mengajarkan manusia untuk tidak membeda-bedakan manusia dari warna kulitnya, karena semua manusia adalah sama, apalagi di hadapan-Nya.

Bercerita dari sudut pandang seorang gadis cilik berusia sekitar delapan tahun bernama Scout Finch, anak dari Atticus, Lee membawa pembaca untuk melihat segala sesuatunya dari sudut pandang si anak kecil tersebut. Bagaimana Scout harus berinteraksi dengan tetangga-tetangganya yang kebanyakan sudah berusia tua, bahkan tidak ditemukan anak sebaya di sekitar lingkungan rumahnya untuk dijadikan teman bermain. Maka jangan heran apabila Scout seolah-olah selalu membuntuti kakaknya Jem dalam kegiatan sehari-hari. Hal ini pulalah yang membuat Scout menjadi “laki-laki”, berpakaian seperti laki-laki, bahkan bertengkar dan berkelahi pun ia jalani dengan teman-teman satu kelasnya yang berselisih dengan dia. Sebenarnya ada satu orang anak sebaya yang berada di lingkungan itu, dia adalah Dill, namun sayang dia hanya berada di Maycomb ketika libur musim panas saja. Scout, Jem, dan Dill walaupun hanya bertiga namun selalu berhasil menemukan petualangan-petualangan seru yang penuh makna bagi mereka bertiga.

Selain masalah persidangan di atas, ada dua hal besar lain yang coba diangkat oleh Lee Harper di buku ini. Hal pertama ialah ketika tiga sekawan (Scout, Jem dan Dill) mencoba menguak misteri keluarga Radley, tetangga Atticus di Maycomb yang misterius. Sebenarnya yang coba dikuak oleh mereka bertiga adalah Boo Radley, yang tidak pernah sama sekali terlihat batang hidungnya, hidup selalu di dalam rumah, namun diam-diam berinteraksi dengan anak-anak keluarga Finch dengan cara memberikan barang-barang tertentu melalui sebuah ceruk pohon. Hal kedua ialah ketika Jem dihukum oleh seorang nyonya pemarah untuk setiap minggunya membacakan dongeng untuknya, ternyata ada hal menarik dibalik peristiwa hukuman yang kesannya tak disengaja ini.

Tentu saja peran Atticus disini sangatlah besar dalam menuntun anak-anaknya dalam kehidupan yang penuh prasangka. Dalam kejadian dengan keluarga Radley, prasangka anak-anak tentang Boo Radley yang mereka curigai agak gila dan psycho diluruskan oleh Atticus dengan memberikan pemahaman bahwa tidak semua orang harus bergaul dengan orang lain, dan bahwa setiap orang memiliki hak untuk hidup sesuai dengan keinginan mereka. Sedangkan dalam kejadian dengan Mrs. Dubose (nyonya pemarah), Atticus mencoba memberi pemahaman bahwa sebenarnya Jem telah menolongnya dari ketergantungan terhadap morfin. Sedangkan mengenai hukuman membacakan cerita kepada Mrs. Dubose itu hanyalah sebuah kebetulan belaka, karena dihukum atau tidak, Atticus tetap akan menyuruh Jem untuk membacakan cerita bagi nyonya itu.

Buku ini termasuk buku legendaris di dunia perbukuan internasional. Satu-satunya buku yang ditulis oleh Lee Harper, buku ini berhasil masuk dalam daftar 1001 buku yang harus dibaca sebelum wafat. Buku ini pun berhasil meraih penghargaan Pulitzer kategori fiksi pada tahun 1961. Buku yang telah diadaptasi ke dalam film pada tahun 1963 ini pun meraih kesuksesan dalam layar lebar. 3 piala Oscar diraih pada tahun tersebut, sungguh sebuah prestasi yang mengagumkan. Buku ini pun dapat dikategorikan buku tentang pendewasaan seorang anak dalam menghadapi lingkungannya sendiri, apalagi buku ini memakai sudut pandang seorang Scout Finch. Namun, cukup banyaknya cerita-cerita yang agak berat yang dimuat di buku ini membuat buku ini menurut saya hanya cocok untuk anak usia 15 tahun ke atas di Indonesia. Satu kategori lagi, persidangan dan kasus Atticus yang menyangkut Tom Robinson membuat buku ini juga didaulat untuk mengusung genre legal thriller, suatu genre yang menyangkut kasus-kasus hukum yang berkaitan dengan tindak kekerasan. Apalagi buku ini juga masuk list 100 Crime Novels of All Time.


Judul: To Kill a Mockingbird
Penulis: Lee Harper
Penerbit: Qanita
Tebal: 533 hal.
Rate: 4/5
Rekomendasi Usia: >15 tahun

==================================================================

Buku ini saya baca guna memenuhi tantangan membaca buku-buku Misteri dari @HobbyBuku, buku-buku anak dari @bzee_why, serta baca bareng bulan Februari dengan komunitas @BBI_2011 dengan tema buku yang diangkat ke layar lebar.