Sabtu, 19 Oktober 2013

Gregg Family: The Magic Finger



Buku kedua Roald Dahl yang saya baca. Dari judulnya saja sudah dapat diketahui bahwa kisah di buku ini merupakan sebuah kisah ajaib nan mustahil. Memang, hal ini menimpa si "aku", seorang anak perempuan berusian delapan tahun yang memiliki kekuatan ajaib pada jarinya apabila dia sedang sangat marah terhadap seseorang. Dari jarinya itu, ia dapat membuat seseorang berubah bentuk, semacam  kutukan, namun sayangnya, lucu.

Alkisah, ia berteman dengan William Gregg, anak lelaki sebayanya, putra dari keluarga Gregg. William ini mempunyai kakak bernama Phillip, seorang anak berusia sebelas tahun. Keluarga Gregg ini amat gemar berburu, apalagi berburu bebek. Si tokoh "aku", yang tidak menyukai hal tersebut berulang kali telah berbicara kepada keluarga Gregg ini, namun hanya ditanggapi sambil lalu saja. Si "aku" yang terlanjur marah akhirnya mengacungkan jari ajaibnya ke keluarga ini. Tak ada yang terjadi, hingga keesokan harinya, ketika bangun tidur, Pak Gregg dan Bu Gregg serta kedua anaknya mendapati diri mereka tidak lagi memiliki tangan. Tangan mereka ternyata berubah menjadi sayap bebek! Bukan itu saja, bebek yang tadinya mereka buru pun mengalami keanehan, sayap mereka hilang digantikan tangan manusia! Kehidupan keluarga Gregg dan keluarga bebek pun berubah seratus delapan puluh derajat, kali ini giliran keluarga bebek yang memburu keluarga Gregg. Apakah keluarga Gregg akan selamat?


Buku setebal 80 halaman ini dapat dihabiskan hanya dalam sekali lahap, font yang digunakan pun bisa dibilang segede gaban, sehingga saya yakin buku ini akan sangat cocok untuk dibaca anak-anak segala usia. Apalagi, dengan membaca buku ini pun diperoleh pelajaran hidup bahwa sesama makhluk hidup dilarang saling menyakiti, apalagi memburu secara membabibuta seperti apa yang dilakukan oleh keluarga Gregg.Selain itu, ada pula sisi negatif dari buku ini, yaitu pelajaran bahwa emosi harus bisa dikendalikan, jangan seperti tokoh si "aku" yang tanpa berpikir panjang begitu saja” menyihir” orang-orang yang membuat ia marah. Satu hal lagi yang membuat saya bingung, yaitu tentang bedanya nasib ibu guru dari si "aku" dan keluarga Gregg yang sama-sama menjadi korban jari ajaib, mengapa bisa nasib mereka berbeda? Apa bedanya? Baca sendiri dan selami dunia Roald Dahl. Setelah baca? Ceritakan kembali kisah ini kepada anak-anak beserta nilai moralnya.


Judul: The Magic Finger
Penulis: Roald Dahl
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 80 hal.
Tahun Terbit: 1966 (1st) / 2003 (read)
Rate: 4/5
Rekomendasi Usia: Semua Umur

Alfie si Kura-kura: Esio Trot



Ini buku pertama Roald Dahl yang saya baca. Cuma setebal 68 halaman, fontnya juga lumayan gede, yakin deh bisa cepet bacanya. Judul buku ini Esio Trot, membingungkan bagi yang belum paham isi buku ini, tapi bakal sangat menghibur bagi yang sudah membacanya.

Inti cerita ini sederhana, Mr. Hoppy jatuh cinta kepada Mrs. Silver, keduanya bisa dibilang sudah berusia separuh baya. Mr. Hoppy seorang pensiunan, sedangkan Mrs. Silver seorang janda. Mereka tinggal dalam satu apartemen yang sama, namun berbeda lantai. Nah, karena Mr. Hoppy tinggal di atas, maka dari balkonnya ia dapat melihat Mr. Silver di lantai bawahnya, tentunya di balkonnya juga. Mr. Silver ini punya seekor kura-kura bernama Alfie yang disayanginya sudah seperti anaknya sendiri. Mr. Hoppy pun ingin disayangi seperti itu, ia pun mendapat akal begitu mendengar Mrs. Silver mengeluh bahwa Alfie beratnya tidak naik-naik. Dengan bantuan bahasa kura-kura dan alat penangkap kura-kura, Mr. Hoppy pun memulai usahanya untuk membuat kegalauan Mrs. Silver hilang.

Inti dari buku ini memang menceritakan tentang kura-kura. Yang saya sukai, ada juga catatan penulis tentang sejarah kura-kura di Inggris sana, dan cerita yang Roald Dahl karang ini memang berdasarkan kisah nyatanya memelihara kura-kura ketika ia kecil. Bukan itu saja, ada lagi sebuah hal yang terinspirasi dari kisah hidup RD yang diaplikasikan di Esio Trot ini. Apa itu? Baca sendiri untuk mengetahuinya.

Kesan saya membaca buku ini ialah salut kepada Roald Dahl. Bagaimana ia mampu mencipatakan sebuah cerita dari kehidupan sehari-hari dan juga masuk akal. Belum ada hal-hal aneh yang dimasukkan Roald Dahl ke dalam buku ini sehingga bisa dibilang cerita ini logis dan masuk akal, bagi anak-anak sekalipun. Bahasa kura-kura yang ia ciptakan pun dapat membuat pembaca tersenyum-senyum.


Pesan moral yang dapat diperoleh dari buku ini ialah, bagaimana seseorang yang gigih akan mendapatkan apa yang dicita-citakannya, tentu saja hal itu mesti dibarengi oleh usaha dan akal serta kerja keras guna mencapainya. Sebuah pesan moral yang wajib disampaikan kepada anak-anak apabila suatu saat cerita ini disampaikan kepada mereka melalui cerita, baik disaat senggang maupun di kala sebelum tidur. Cerita dari buku ini cocok untuk segala usia, buku yang sangat saya rekomendasikan, lima bintang.


Judul: Esio Trot
Penulis: Roald Dahl
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 68 hal.
Tahun Terbit: 1989 (1st) / 2006 (read)
Rate: 5/5
Rekomendasi Usia: Semua Umur

Master Post Baca Bareng Buku-bukunya Roald Dahl


Oke, jadi ini adalah event baca barengnya buku-buku anak karangan Roald Dahl, yang memang benar-benar sangat legendaris dan cocok bagi anak-anak. Selain itu, buku-bukunya Roald Dahl ini layak banget buat dijadiin dongeng sebelum tidur, semoga nantinya bisa gitu :)

Waduh, deadline nih deadline, gawaaat...
Semoga postingan ini masih bisa dihitung deh, setelah susah payah pinjem buku-bukunya Roald Dahl ke @miss_zp, akhirnya berhasil juga nuntasin beberapa bukunya Roald Dahl.

So, this is my list:
1. Esio Trot ---> Review
2. The Magic Finger ---> Review
3. James and the Giant Peach ---> Review
4. Danny the Champions of the World
5. The BFG
6. The Witches

Oke, ini master post-nya mbak Hobby Buku ---> Roald Dahlsilakan kunjungi link untuk melihat kemeriahan baca bareng ini, dan juga membaca revie-review lain yang menyenangkan dari peserta challenge ini.

Minggu, 13 Oktober 2013

Balsa Yonsa: Guardian of the Darkness (Moribito #2)



Beranjak dari kisah sebelumnya, kali ini Balsa kembali ke negeri Kanbal, nnegeri kelahirannya untuk membersihkan nama baik ayah angkatnya, Jiguro. Nama Jiguro menjadi buruk di Kanbal gara-gara ia melarikan Balsa ketika Balsa  berumur enam tahun, dan ia pun mencuri cincin dari Tombak Kanbal.  Tombak Kanbal sendiri ialah para petarung ahli tombak yang menjadi pengawal Raja Kanbal. Kanbal ini terdiri dari sembilan klan, Balsa merupakan klan Yonsa, sedangkan Jiguro adalah klan Musa. Kakak dari Jiguro yaitu Kaguro ialah ketua klan Musa, sedangkan adiknya, Yuguro, adalah salah satu Tombak Kanbal. Jeleknya nama Jiguro sendiri akibat liciknya raja Kanbal sebelumnya, yaitu Rogsam. Ia pandai memutarbalikkan kata-kata dan fakta. Tabiat Rogsam ini juga menjadi tabiat Yuguro, sehingga Yuguro ikut adil juga dalam membawa jelek nama Jiguro.

Dalam perjalannanya, Balsa memutuskan untuk melewati jalan pintas berupa gua. Tak disangka, Balsa bertemu dua orang kakak-adik, Kassa dan Gina. Mereka berdua sedang kritis karena akan diserang oleh Hyohlu, yaitu makhluk gaib penunggu gua yang bertindak apabila ada yang berani untuk mencuri batu berharga di gua itu. Balsa menyelamatkan kedua anak itu, dan ternyata mereka adalah keponakan Jiguro, anak dari adik bungsu Jiguro yaitu Leena. Balsa yang meminta kedatangannya ke Kanbal dirahasiakan oleh Kassa dan Gina akhirnya harus berhadapan dengan bahaya karena dua anak itu terpaksa membocorkan rahasia mereka tentang Balsa kepada ayah mereka dan kepada Kaguro dan Yuguro. Kaguro dan Yuguro yang mengetahui bahwa anak angkat saudara mereka datang, lekas mengumumkan bahwa Balsa merupakan ancaman bagi klan Musa dan negeri Kanbal. Mereka berpendapat Balsa datang ke Kanbal guna membalas dendam.

Balsa, adalah salah satu ahli tombak paling hebat, maka ancaman dari klan Musa ia hadapi hingga akhirnya ia terkena racun. Ketika terluka, tanpa sengaja bertemu dengan Kaum Penggembala dan Kaum Penggembala pula yang membuat Balsa pulih dari racun yang mengenainya. Sementara itu, Yuguro dan Raja Radalle (anak dari Rogsam) sedang menyusun rencana guna menyerang Raja Gunung, penguasa gua-gua di sekitar Kanbal. Sebuah rencana yang gila, karena sebenarnya ada hal yang lebih besar dibandingkan Raja Gunung ini, hal yang bersifat sangat rahasia tentang Raja Gunung, gua, hyohlu, bahkan kaum Penggembala itu sendiri. Rahasia yang akhirnya diketahui Balsa, dan ia pun harus melindungi Kanbal dari kehancuran dari tindakan yang akan diambil Yuguro dan Raja Radalle.

Awalnya, agak membosankan membaca buku ini. Fantasi sudah kurang menarik minat saya untuk membaca, namun ternyata saya salah. Terjemahan yang bagus, alur yang jelas, serta fantasi yang tidak terlalu ngawur membuat saya perlahan-lahan menyukai kisah ini dan menyukai  bagaimana Jepang kaya akan fantasi-fantasi yang terdengar tak masuk akal. Kisah ini sendiri murni fiksi, ya namanya juga fantasi, dan juga cocok untuk anak-anak. Apalagi Moribito memang ada kisah dalam manga-nya pula. Bagaimana ceritanya saya tidak tahu, namun sepertinya memang menceritakan Balsa si ahli tombak.

Kisah fantasi buku ini hanya sekedar adanya dunia gaib yang berkebalikan dari bumi yang kita diami. Selain hal itu, kisah dari buku terbilang masuk logika, tak ada kisah-kisah naga, walaupun ada juga makhluk fantasi yang akhirnya muncul tetapi tidak diceritakan secara detail. Ada pula Kaum Penggembala yang mempunyai postur lebih kecil dari manusia normal, ini mengingatkan saya kepada kaum Hobbit.


Kekuatan lain buku ini yaitu adanya istilah-istilah khusus yang penulis gunakan dalam menceritakan bkisah Balsa ini. Istilah ini tak hanya berkutat pada masalah makanan yang cenderung “aneh-aneh”, tetapi juga merambah ke bidang lain seperti waktu. Ya, negeri Kanbal memiliki istilah waktu sendiri, berbeda dengan jam dan menit yang biasanya dikenal orang. Kekuatan lainnya terletak pada ilustrasi-ilustrasi yang ada di dalam buku. Ilustrasi yang digambarkan sungguh sangat menggambarkan keadaan yang sedang diceritakan.

Empat tombak untuk buku terakhir dwilogi Moribito ini.



Judul: Moribito: Guardian of the Darkness
Penulis: Nahoko Uehashi
Tebal: 342 hal.
Penerbit: Matahati
Tahun Terbit: 1999 (1st) / 2010 (terjemahan)
Rate: 4/5
Rekomendasi Usia: > 10 tahun

Jumat, 11 Oktober 2013

Poirot: Taken at the Flood




Pengenalan Tokoh

Gordon Cloade... Pusat dari semua masalah, kematiannya membawa sengsara kepada lima anggota keluarganya. Lima orang yang selalu ia suapi dengan kekayaannya, bahkan  dijanjikan warisan olehnya. Semuanya berjalan lancar sebelum tiba-tiba ia menikah dengan seorang wanita muda yang otomatis menggugurkan surat wasiat pertamanya. Istrinya yang bernama...
Rosaleen Cloade... Sebelumnya dikenal dengan nama Rosaleen Underhay, Seorang janda dari Robert Underhay, yang meninggal di benua Afrika. Pernikahannya dengan Gordon Cloade membuatnya bagai mendapatkan durian runtuh, apalagi dengan kematian suaminya tersebut. Hal ini pula sangat menguntungkan bagi...
David Arthur... Kakak dari Rosaleen, yang merasa hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat akibat pernikahan adiknya, tetapi tetap harus waspada terhadap lima anggota Cloade lainnya yang menjadi miskin secara tiba-tiba setelah kematian Gordon.
Lynn Marchmont... seorang gadis yang baru saja tiba dari tugasnya menjadi tentara. Calon istri dari...
Rowley Cloade... keponakan dari Gordon yag berprofesi sebagai petani. Sehari-harinya bekerja di pertaniannya. Salah seorang anggota keluarga Cloade yang kehilangan Gordon, terutama kehilangan harta yang biasa pamannya berikan.
Jeremy Cloade... Saudara dari Gordon, seorang pengacara yang menikah dengan seorang wanita yang merupakan putri dari kliennya, yaitu...
Frances Cloade... putri tunggal dari Lord Edward Trenton, seorang saudagar kuda.
Lionel Cloade... seorang dokter, saudara dari Gordon pula, mempunyai seorang istri yang bernama...
Kathie Cloade... seorang yang memercayai ilmu gaib dan hal-hal yang berhubungan dengan roh halus.
Mayor Porter... kenalan dari Robert Underhay.
Enoch Arden... seseorang yang mengaku mengetahui sesuatu tentang Robert Underhay


Pra-Poirot

Cerita berawal di sebuah klub dimana Mayor Porter sedang membual tentang kematian Gordon Cloade, tetangganya di London, yang dimuat di sebuah surat kabar. Porter, yang juga mengenal Robert Underhay, suami pertama dari istri Gordon Cloade terus membual tentang dugaan Underhay masih hidup di suatu tempat dan bahwasanya suatu hari nanti ia akan muncul dengann nama Enoch Arden. Tanpa diduga, Jeremy Cloade, adik dari Gordon sedang ada pula di club tersebut, dari sinilah kisah berawal.

Kehidupan keluarga Cloade yang tadinya kaya-raya menjadi berantakan setelah kematian Gordon. Tak ada lagi yang akan menafkahi mereka kali ini. Apalagi, mereka pun sama sekali tak mempunyai simpanan atau tabungan, ini akibat pengaruh dari Gordon yang menjamin kehidupan mereka tanpa harus menabung atau menyimpan uang. Kini, semua harta jatuh kepada Rosaleen Cloade, istri baru Gordon, juga kakak dari Rosaleen, David Arthur. David, yang senang dengan keadaan ini sedikit waswas juga, apalagi ia mengetahui tentang kemelaratan anggota Cloade lain. Ia pun berusaha sekuat tenaga melindungi adiknya dari serangan keluarga Cloade yang sepertinya ingin adiknya mati guna mendapatkan kembali harta tersebut.

Situasi yang berjalan normal mulai bermasalah ketika muncul seseorang yang bernama Enoch Arden ke sebuah penginapan di dekat keluarga Cloade tinggal. Arden mengaku tahu mengenai Underhay dan ini menjadi sebuah celah untuk keluarga Cloade karena apabila terbukti Underhay masih hidup, maka otomatis status pernikahan Rosaleen dan Gordon batal sehingga harta Gordon dapat kembali dimiliki oleh keluarga Cloade. David Arthur yang mengetahui keadaan ini seketika langsung khawatir dan merasa diperas oleh Arden, maka David pun berusaha mengabulkan permintaan dari Arden, sebelum tiba-tiba Arden ditemukan tewas dengan luka pukul benda keras di bagian belakang kepalanya. Disinilah saatnya Hercule Poirot beraksi menuntaskan kasus kematian misterius ini.


Pasca-Poirot

Buku setebal 348 halaman ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama berupa kisah keluarga Cloade dan segala permasalahannya. Nah, di bagian kedua ini yang menarik, karena mulai melibatkan Hercule Poirot. Bagian kedua dimulai di halaman 186, hampir setengah bagian dari keseluruhan buku ini. Mencengangkan juga bagaimana Poirot dapat memecahkan kasus ini bahkan ketika ia tidak berada di tempat kejadian perkara. Apalagi, metode Poirot tidak sampai menanyai satu persatu orang yang terlibat kasus pembunuhan ini. Namun, berkat metodenya yang tak melewatkan fakta satu pun berhasil membuatnya memecahkan kasus ini secara elegan.

Sebenarnya jawaban dari kasus ini sudah terlihat dari bagian pertama bahkan dari prolog. Apabila kita jeli membacanya, maka bukan tidak mungkin siapa pembunuh Enoch Arden dapat diketahui. Walaupun memang, ketika si pembunuh diketahui masih ada lagi sesuatu yang tersembunyi yang tiba-tiba tersibak oleh Poirot, sungguh tidak terduga. Jangan lupakan juga judul buku ini: Taken at the Flood atau Mengail di Air Keruh. Penjahat yang sebenarnya dapat diketahui dari tokoh yang sangat mencerminkan judul di atas, menarik bukan?

Lima bintang untuk hasil penelusuran Poirot yang dilakukannya seorang diri.




Judul: Taken at the Flood
Penulis: Agatha Christie
Tebal: 348 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 1948 (1st) / 2008 (read)
Rate: 5/5

Rabu, 09 Oktober 2013

Lima Sekawan #13: Rawa Rahasia



Petualangan Lima Sekawan kali ini terjadi ketika mereka sedang menginap di sebuah peternakan, tepatnya sebuah “sekolah” dimana anak-anak diajarkan berkuda di tempat itu. Memang mungkin hanya di Inggris atau di luar negeri kita menemukannya, karena di Indonesia rasa-rasanya tidak ada. Jadi, di tempat ini anak-anak membayar untuk biaya penginapan sekaligus kursus berkuda, sebuah kegiatan yang positif dalam mengisi liburan sekolah.

Berawal dari rasa penasaran anak-anak ditambah adanya kaum kelana yang menuju kesana, anak-anak mulai menjelajahi sebuah daerah yang dinamai Rawa Rahasia. Rawa Rahasia alias Mistery Moor ini pula yang menjadi judul buku ketigabelas dari anak-anak keluarga Kirrin ini. Dalam petualangannya kali ini, teman baru anak-anak dari kaum kelana diberi julukan si Ingus, nama sebenarnya dari si ingus sendiri tidak diketahui, maklumlah, kaum kelana, apalagi Ingus sudah tidak memiliki ibu, ia hanya memiliki seorang ayah yang galak dan bengis. Sikap ayahnya itu terbukti dari sikapnya terhadap Clip, kuda mereka. Si kuda yang dalam keadaan sakit terus dipaksa menarik karavan, untung saja ada Kapten Johnson si pemilik peternakan yang mengobati Clip dan mencegah si Ingus atau ayahnya untuk mengambilnya sebelum Clip benar-benar sembuh. Dari peternakan sendiri, anak-anak bertemu dengan Henry dan William, serta beberapa anak kecil lain yang belajar berkuda pula di peternakan itu. Henry dan William sendiri telah digambarkan dalam cover buku Lima Sekawan terjemahan Indonesia cetakan kedua yang saya baca ini. Yang menarik, Henry bukanlah nama sebenarnya. Laiknya George yang memiliki nama asli Georgina, Henry pun memiliki nama asli Henrietta. Selain itu, keduanya bersikap dan bergaya ala laki-laki, serta tak mau dipanggil dengan nama asli mereka. Anehnya lagi, bukannya akur gara-gara memiliki kesamaan gaya, keduanya justru sering cekcok karena ingin membuktikan siapa yang sebenarnya lebih laki. Ketidakakuran ini sungguh membuat bingung anak-anak lainnya. Inilah tokoh-tokoh yang berandil dalam petualangan kali ini, petualangan anak-anak menjelajahi rawa rahasia.

Ketidakberesan pertama kali terjadi ketika anak-anak berkemah di kaki bukit di dekat Rawa Rahasia. Tanpa diduga, kaum kelana berkemah dengan karavan dekat dengan daerah anak-anak Lima Sekawan berkemah. Yang lebih mencengangkan anak-anak ialah adanya suara pesawat terbang yang mendekat ketika tengah malam tiba. Lebih ganjil lagi ketika anak-anak hampir terkena barang berupa paket yang dijatuhkan oleh pesawat itu. Anak-anak yang sudah curiga dengan kaum kelana akhirnya mengambil paket tersebut dan menemukan isinya ialah lembaran uang yang sangat banyak. Ketika bergegas untuk kembali ke perkemahan dan melaporkan ke polisi, tiba-tiba saja kabut turun dan membuat anak-anak tersesat di perjalanan, anak-anak pun mulai mengalami ganasnya Rawa Rahasia yang mitos tentangnya telah tersebar di masyarakat.

Lagi-lagi anak-anak terlibat kasus yang tidak sembarangan dan main-main. Kasus kali ini berhubungan dengan sebuah jaringan internasional antarnegara, yaitu dari Prancis ke Inggris. Memang, nampaknya Enid Blyton ingin mengangkat tema kejahatan-kejahatan yang agak berat guna membuat anak-anak Lima Sekawan ini “berguna”. Walaupun memang terlihat agak memaksakan mengingat umur anak-anak ini masih di awal puluhan tahun. Tapi tetap, kisah anak-anak ini, apalagi ditambah latar belakang cerita yang mengambil suasana pedesaan, ditambah makanan-makanannya, membuat pembaca, siapapun itu, terbius dengan ceritanya. Masih pula, umpatan-umpatan serta kata-kata kasar belum hilang dari kisah Lima Sekawan ini, membuat kisah ini perlu diberi pemahaman lebih kepada anak-anak yang membacanya.


Dari buku ini juga pelajaran-pelajaran baru dapat diperoleh. Kali ini mengenai patrin, yaitu sebuah tanda yang dibuat kaum kelana guna menandai jalan mana yang mereka ambil kepada kawanan kaum kelana lainnya. Sebelumnya saya sangat asing dengan istilah ini, namun setelah membaca kisah ini saya jadi mengerti apa patrin itu. Ada pula pengetahuan tentang sekolah berkuda di Inggris sana. Seperti telah saya singgung di paragraf awal, inilah salah satu keunggulan anak-anak di luar Indonesia, mereka berlibur sekaligus belajar dan memahami kehidupan di pertanian, sebuah hal yang nampaknya masih asing di Indonesia. Akhir kata, tidak sabar menunggu petualangan mereka yang keempatbelas, dan melihat kasus serta pelajaran apalagi yang akan disuguhkan oleh Enid Blyton.


Judul: Lima Sekawan: Rawa Rahasia
Penulis: Enid Blyton
Tebal: 208 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 1954 (1st) / 1982 (read)
Rate: 4/5
Rekomendasi Usia: >10 tahun

Wishful Wednesday #7 - Rencana Besar & Roger Ackroyd

Hore… Hari Rabu lagi, saatnya Wishful Wednesday lagi. Malu juga sih sebenarnya Cuma bikin postingan WW pas ada giveaway aja, tapi demi buku impian, apapun dilakukan :D


Sebelumnya, selamat ulang tahun  kepada yang hari ini berulangtahun, terutama buah hati dari Mbak Astrid si pemilik meme Wishful Wednesday ini, karena berkat ulangtahunnya lah terselenggara Wishful Wednesday + Giveaway dadakan ini #eh

Skip deh.., sekarang kita lihat buku impian saya minggu ini:

  1. Rencana Besar by Tsugaeda
Rencana Besar adalah novel thriller yang mengangkat setting dunia perkantoran (perbankan) di Indonesia. Alur plot yang seru dan setting yang jarang diangkat membuat novel ini unik, segar, dan (mungkin) belum ada duanya di fiksi Indonesia. 

==================================================
Rifad Akbar. Pemimpin Serikat Pekerja yang sangat militan dalam memperjuangkan kesejahteraan rekan-rekannya.

Amanda Suseno. Pegawai berprestasi yang mendapat kepercayaan berlebih dari pihak manajemen.

Reza Ramaditya. Pegawai cerdas yang tiba-tiba mengalami demotivasi kerja tanpa alasan jelas.

Lenyapnya uang 17 miliar rupiah dari pembukuan Universal Bank of Indonesia menyeret tiga nama itu ke dalam daftar tersangka. Seorang penghancur, seorang pembangun, dan seorang pemikir dengan motifnya masing-masing. Penyelidikan serius dilakukan dari balik selubung demi melindungi reputasi UBI. 

Akan tetapi, bagaimana jika kasus tersebut hanyalah awal dari sebuah skenario besar? Keping domino pertama yang sengaja dijatuhkan seseorang untuk menciptakan serangkaian kejadian. Tak terelakkan, keping demi keping berjatuhan, mengusik sebuah sistem yang mapan, tetapi usang dan penuh kebobrokan ….
Kenapa saya tertarik dengan buku ini? Thriller adalah My Cup of Coffee, makanya saya penasaran sama buku thriller ini, apalagi asli Indonesia, makin tambah penasaran deh. Emang sih, buku thriller impian saya sebelumnya, Katarsis belum berhasil saya miliki, tapi mudah-mudahan kali ini jadi rejeki saya :p
Selain itu, pemilihan buku ini didasarkan adanya lomba dari @tsugaeda untuk mereview buku ini, hadiahnya menggiurkan, jadi bisa dibilang sekali dayung satu dua pulau terlewati. Pede banget kan bakal dapet, hahaha…

Mau beliin? di sini nih :D


  1. Pembunuhan Atas Roger Ackroyd by Agatha Christie
Mrs. Ferrars meracuni suaminya... Tetapi tidak seorang pun mencurigainya, kecuali pemerasnya...

Sampai ia bunuh diri, dan meninggalkan sepucuk surat untuk laki-laki yang dicintainya.

Roger Ackroyd tidak pernah membaca surat itu sampai selesai... Karena si pemeras telah beralih melakukan kejahatan lain, pembunuhan.

Dan tidak satu orang pun mencurigainya pula... tidak seorang pun, kecuali Hercule Poirot.
Kenapa buku ini? Simple alasannya, yang pertama tentunya gara-gara buku ini masuk list 1001 Books You Must Read before You Die. Nah, yang kedua prinsipnya sama dengan buku pertama, saya lagi ikut challenge baca bareng-nya Mbak HobbyBuku mengenai Agatha Christie, jadi buku ini intinya untuk lomba juga, hehehehe…

Mau beliin juga? Wah.. langsung ke sini deh ya...

Semoga kali ini menjadi milik saya, random.org, tolonglah sekali saja berpihak padaku…#RapalMantra
Terima kasih sekali lagi buat Mbak Astrid, semoga WW-nya langgeng terus dan GA-nya juga ada terus #eh


Tertarik ikutan Wishful Wednesday? Begini caranya:

  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Jumat, 04 Oktober 2013

Satu Hari Bukan Di Hari Minggu



Empat belas cerpen. Satu buku. Satu Hari Bukan di Hari Minggu merupakan salah satu judul dari cerpen itu. Judul itu pula dipakai sebagai judul utama buku ini. Judul yang bisa dikatakan membuat bertanya-tanya, ada apakah di hari minggu? Ada apa pula di hari yang bukan hari minggu? Kumpulan cerpen ini merupakan kumpulan dari cerpen-cerpen karangan Yetti A.KA yang dimuat di berbagai surat kabar di tanah air, Jawa Pos,Koran Tempo, Media Indonesia, Suara Merdeka, bahkan Tabloid Nova. Agak mencengangkan juga melihat banyaknya cerpen yang dikarang penulis dimuat di koran-koran “besar” nasional.

Satu Hari Bukan di Hari Minggu merupakan cerita kelima di buku ini. Bercerita dari sudut pandang Wiwi, seorang gadis kecil yang ibunya bekerja di sebuah rumah mewah. Hari minggu ialah hari yang ditunggunya, karena hanya hari minggu ia bisa ikut dengan ibunya guna berkunjung ke rumah itu. Di rumah itu, ia tak berani menyapa si nyonya rumah. Terkadang si nyonya rumah tersenyum kepadanya, walau hanya sekilas. Sebuah kepiluan muncul ketika di satu hari yang bukan hari minggu Wiwi berkunjung ke rumah itu guna menemui ibunya, ia melihat sebuah tragedi, tragedi yang memang diceritakan melalui bahasa sastra, sehingga bisa dikatakan hanya penulis dan Tuhan yang tahu. Yang jelas, cerita ini, epik.

Gadis Pemetik Jamur, cerita ketujuh di kumpulan cerpen ini. Lolanda, inilah nama si gadis pemetik jamur ini. Bekal dari almarhumah ibundanya tentang mana-mana saja jamur yang bisa dimakan tetap diaplikasikannya dalam kehidupan setelah kematian ibundanya. Kali ini ia menyerahkan jamur kepada ibu tiri, sekaligus adik ibunya, yang menikah dengan ayah kandungnya. Tak ada masalah berarti antara Lolanda dan ibu tirinya, bahkan cerita-cerita tentang kekejaman ibu tiri tidak nampak di diri ibu tiri Lolanda. Sayangnya Lolanda yang bermasalah, ia merasa ayahnya direbut dan posisi ibundanya direnggut oleh si ibu tiri. Ketidaktahuan sang ibu tiri tentang dunia perjamuran menjadi akhir yang tragis dalam cerita ini. Bisa dikatakan cerita ini merupakan sebuah cerita ironi-tragedi. Ending yang ada cukup mengejutkan dan tidak disangka-sangka, karena apabila ditelaah lebih lanjut, masalah di keluarga itu bukanlah masalah besar, bahkan bisa dibilang hampir tak ada masalah.

Cerita terakhir dalam kumpulan cerpen ini berjudul: “Dalam Kabut, Aku”. Sebuah cerita mengenai realita dewasa ini, tentang sulitnya untuk melihat kabut, terutama di perkotaan. Kabut masih banyak ditemui di pedesaan, namun tak semua orang kini dapat menikmatinya, selain karena mulai terjadinya pemanasan global, maupun gara-gara orang-orang lebih memilih untuk hidup di kota guna mencari kehidupan yang lebih baik. Cerita yang ditulis oleh Yetti A.KA ini menurut saya sangat menarik, dimana kisah seorang ibu yang terbiasa hidup dengan kabut di pedesaan, namun si ibu mulai menyadari bahwa tak mungkin anak-anaknya kelak hidup mengikuti jejak orangtuanya di pedesaan sebagai petani, apalagi lahan di pedesaan pun mulai berkurang. Maka, pergilah sang anak ke kota, hingga akhirnya, ketika si ibu beranjak menua, ia terpaksa hidup meninggalkan kabut, meninggalkan desa, mengikuti anaknya ke kota, karena tak ada sanak famili lagi di desa. Sebuah cerita mengenai kerinduan sang ibu terhadap kabut, juga sebuah cerita mengenai sang anak yang melupakan kabut ketika beranjak dewasa.


Memang, perlu pemahaman lebih dalam membaca cerpen-cerpen di dalam buku ini. Ada beberapa cerita yang akhirnya menggantung, juga ada beberapa cerita yang saya kurang mengerti juga bagaimana akhirnya. Namun, ketika kita merenungi isi dari buku ini, yang terlintas adalah bagaimana dalamnya makna yang ingin disampaikan penulis melalui cerpen-cerpennya. Tiga bintang untuk kumpulan cerpen ini.


Judul: Satu Hari Bukan di hari Minggu
Penulis: Yetti A.KA
Penerbit: Gress Publishing
Tebal: 140 hal.
Tahun Terbit: 2011
Rate: 3/5

Voodoo a.k.a. Mr. Clarinet




Max Mingus, seorang detektif, juga seorang mantan narapidana gara-gara kasus penembakan terhadap tiga orang anak yang mencoba memperkosa seorang gadis kecil. Ia mendapati kehidupannya setelah keluar penjara sangat berubah drastis, apalagi setelah kematian istrinya Sandra, ketika ia di dalam penjara. Satu hal utama, ia kekurangan uang untuk membiayai hidupnya. Di saat itulah, ada penawaran menarik dari keluarga Carver di Haiti guna mencari anak mereka yang hilang, Charlie Carver. Memang, saat itu penculikan anak sedang marak terjadi di Haiti, namun Charlie menghilang secara misterius, tanpa terendus jejaknya. Mingus, yang akhirnya tergiur oleh tawaran sepuluh juta dolar apabila menemukan Charlie, akhirnya memutuskan untuk mengambil kasus ini dan berangkat ke Haiti.

Haiti, sebuah negara di Amerika Utara yang penuh akan kekerasan dan ilmu hitam, terutama voodoo. Ya, siapa yang tidak mengenal voodoo? Sebuah ilmu tenung dimana digunakan obyek boneka guna melukai seseorang yang tidak disukai. Tinggal tusuk bonekanya, maka si obyek sasaran juga akan merasa kesakitan. Haiti juga terkenal akan kemiskinannya. Dari deskripsi yang saya baca dari buku, sangat banyak pemukiman kumuh yang berada di sana, belum lagi masalah pangan, tak jarang masyarakat sana hanya memakan gorengan dari tanah dicampur tepung maizena, sungguh memilukan. Jalan-jalan raya di sana pun keadaannya sangat mengkhawatirkan, jalan berlubang, bergelombang, hingga jalan yang hanya berupa bebatuan, hal-hal tersebut cukup menggambarkan bagaimana miskinnya Haiti.

Hanya saja, perbedaan orang miskin dan kaya di Haiti sangatlah jomplang. Sebagai contoh, keluarga Carver yang menjadi klien dari Max Mingus merupakan salah satu orang terkaya di Haiti. Keluarga tersebut memiliki bank dan sebuah lembaga bernama Bahtera Nuh, sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang kemanusiaan dimana mereka membiayai pendidikan anak-anak Haiti sampai mereka nantinya menjadi orang. Walaupun ya, ibaratnya Bahtera Nuh ini lembaga balas jasa, dimana lulusan-lulusannya akhirnya bekerja juga untuk keluarga Carver.

Keluarga Carver ini terdiri atas Gustav Carver, Allain Carver, dan Francesca Carver. Gustav merupakan kakek dari Charlie, sedangkan Allain dan Fransesca merupakan orangtuanya. Gustav memang terlihat sangat dominan di keluarga ini, seluruh bisnis ia yang tangani, ia juga yang paling kehilangan atas lenyapnya Charlie. Sebagai salah satu keluarga kaya, tentu saja keluarga Carver memiliki banyak musuh, salah satunya keluarga Paul. Tetapi, kisah ini hanyalah masa lalu, karena kini keluarga Paul sudah kehilangan kekayaannya, yang tersisa dari keluarga Paul hanyalah Vincent Paul, dan ia merupakan seorang legenda di Haiti. Perbuatan baiknya terhadap masyarakat Haiti membuatnya banyak dihormati dan dikagumi orang, apalagi ia memiliki banyak anak buah. Konon juga, Vincent Paul merupakan salah satu bandar narkoba terbesar di dunia, sehingga tak heran ia dapat membantu masyarakat Haiti.

Di Haiti, Mingus dibantu oleh Chantale. Ia seorang perempuan yang bekerja untuk keluarga Carver. Melalui penyelidikan-penyelidikan yang intensif dilakukan oleh mereka berdua, diketahui bahwa detektif-detektif sebelumnya yang menangani kasus ini mengalami kasus yang amat naas dan mengilukan (bukan memilukan, baca sendiri kalau penasaran). Carver yang sudah terlanjur terlibat mau tak mau harus memecahkan kasus ini. Tak hanya itu, tanpa diduga Mingus pun dibantu oleh seorang wartawan bernama Huxley yang memberinya sedikit demi sedikit informasi penting, kelak wartawan ini menjadi salah satu kunci terbongkarnya kasus ini.

Tak hanya mencari Charlie, sebelum keberangkatannya ke Haiti Mingus pun dimintai tolong oleh seorang pastor untuk membantu mencari keponakannya yang hilang. Penyelidikan pun dilakukan secara paralel, Mingus pun mendatangi rumah adik dari pator itu dan mendapatkan sedikit petunjuk mengenai pria jingga. Selain itu, Mingus pun mulai mengeksplorasi mitos-mitos setempat mengenai penculik anak yang bernama Mr. Clarinet, dimana si penculik ini menggunakan alat musik klarinet sebagai alat untuk membujuk anak-anak itu untuk ikut dengannya. Perlahan, puzzle pun mulai terkuak, dan penculikan Charlie ini ternyata tidak hanya sekedar penculikan, namun melibatkan juga suatu organisasi kejahatan besar yang tak disangka-sangka.

Seperti telah disebut di atas, dari buku ini pembaca bisa sekalian mengenal Haiti lebih jauh. Tidak hanya mengenai alam dan lingkungannya, namun juga mengenai dunia politiknya. Buku ini cenderung seperti fiksi sejarah, dimana Papa Doc dan Baby Doc (keduanya anak dan ayah, mantan presiden Haiti, Duvalier nama lengkapnya), serta Aristide (presiden Haiti juga) disebut-sebut di dalam buku ini. Tonton Macoute juga disebut-sebut disini, dimana Tonton Macoute merupakan milisi pribadi dari Duvalier. Sejarah Haiti pun dibahas disini, bagaimana bendera Haiti sempat berganti dari hitam-merah menjadi biru-merah, lumayan membuka wawasan pembaca.

Kasus yang ditawarkan Nick Stone pun menurut saya seru dan cerdas. Apalagi menjelang akhir cerita, hal-hal mistis yang menyangkut judul buku ini, yaitu voodoo, perlahan-lahan mulai menjadi rasional dan dapat dihubung-hubungkan, sehingga semuanya terlihat logis. Eksekusi dari Nick Stone sendiri cukup vulgar dan apa adanya, membawa pembaca larut ke dalam kisah ini. Apalagi, mengenai hal-hal yang mengilukan yang telah saya singgung di atas, sungguh sangat terasa, ouch...


Dalam hal terjemahan pun tak begitu masalah, buku ini nyaman untuk dibaca. Hanya saja, judul buku ini telah diubah dari judul aslinya yaitu “Mr. Clarinet”. Entah apa sebabnya, namun judul Voodoo saya rasa kurang merepresentasikan isi dari buku ini. Jadi jangan berharap membaca kisah-kisah mistis tentang ilmu voodoo ketika mulai membaca buku ini, salah besar jika mengharapkannya. Lima bintang, senang berkenalan dengan Max Mingus dan Nick Stone.


Judul: Voodoo
Penulis: Nick Stone
Penerbit: Voila Books
Tebal: 669 hal.
Tahun Terbit: 2006 (1st) / 2008 (terjemahan)
Rate: 5/5

The Mystery of the Yellow Room



Gaston Leroux, seorang Prancis yang terkenal atas karya fenomenalnya: The Phantom of the Opera. Siapa yang tak kenal judul itu? Mungkin hampir semuanya pernah mendengar. Namun, siapa yang telah terbiasa mendengar judul Mistery of Yellow Room? Saya yakin jarang, padahal judul ini merupakan judul buku karangan Leroux yang dipuji sebagai “satu dari tiga novel misteri ruang tertutup terbaik sepanjang masa” oleh Edward D. Hoch. Pujian ini terdapat pada cover buku berwarna kuning terbitan Visimedia, bukan sebuah pujian yang main-main, karena di cover belakang buku ini juga dapat diketahui bahwa karya Leroux ini adalah inspirasi bagi Agatha Christie untuk menulis novel sejenis, sehingga menjadikannya novelis perempuan dengan genre detektif paling terkenal seantero dunia.

Bercerita dari sudut pandang orang ketiga, alias “asisten” si detektif utama, saya setuju dengan review seorang teman bahwa novel bergenre detektif “telah terbiasa” menggunakan sudut pandang tersebut dalam bercerita. Detektif utama novel yang satu ini ialah Joseph Josephine alias Joseph Rouletabille. Rouletabille ini seorang wartawan muda berusia sekitar delapanbelas tahun. Kasus yang ia tangani kali ini ialah misteri pembunuhan atau lebih tepatnya percobaan pembunuhan terhadap seorang perempuan di sebuah kamar berwarna dominan kuning. Ia tidak sendirian dalam menangani kasus ini, selain dibantu si pencerita yang menjadi asisten tak resminya, ia juga bersaing dengan seorang detektif profesional yaitu Frederick Larsan. Selalu ada misteri di balik misteri, belum usai kasus kamar kuning ini, ketika Rouletabille sedang berusaha menjebak pelaku, muncul lagi misteri baru, yaitu misteri “Koridor yang tak Bisa Dijelaskan”. Disebut seperti itu karena ketika terjadi pengejaran terhadap si pelaku, dengan seluruh koridor dijaga dengan ketat, tiba-tiba saja jejak si pelaku menghilang begitu saja di sebuah koridor, seperti asap.

Dengan cover berwarna kuning, buku ini seolah ingin menegaskan judul dari buku ini. Saya memuji desain buku terbitan visimedia ini, banyak ilustrasi menarik di dalamnya, ilustrasi-ilustrasi yang menggambarkan kejadian yang sedang diceritakan. Ada juga kelengkapan penunjang untuk memudahkan pembaca yaitu seperti peta denah rumah. Sungguh, kemasan yang sangat menarik, membuat semangat membaca tumbuh ketika melihatnya.

Sayangnya...

Terjemahan buku ini kurang enak dibaca, entah, apakah buku ini diterjemahkan dari bahasa Inggris atau Prancis. Entah juga, apakah terjemahan ini mengikuti bahasa sastra di tahun terbitnya buku ini, yaitu 1908, yang memang terkenal sastra klasik itu sulit dibaca. Namun tak ada alasan, selalu saja ada terjemahan-terjemahan yang terdengar ganjil ketika dibaca. contoh saja, pada halaman 145: “Saya sudah mengatakan - rasanya - bahwa pada masa itu, menjadi seorang pengacara muda dengan sedikit kasus.” Terdengar agak ganjil di telinga saya, saya tidak tahu apakah yang pembaca yang lain merasa seperti itu atau tidak. Selain itu, terlalu banyak tanda “-“ di setiap bagian buku ini, yang menyebabkan pembacaan agak tersendat-sendat. Ada lagi, setiap dialog yang masih diucapkan oleh seseorang terkadang luput menggunakan tanda kutip ketika pindah paragraf, jadi terkadang pembaca dibingungkan, apakah ini masih sebuah percakapan ataukah telah memasuki sebuah narasi.


Tetapi di balik itu semua, saya berterimakasih kepada penerbit karena telah mengenalkan saya kepada detektif Prancis yang bernama Joseph Rouletabille, dan terutama telah mengenalkan kepada Gaston Leroux yang disebut-sebut sejajar dengan Sir  Arthur Conan Doyle di Inggris dan Edgar Allan Poe di Amerika. Jadi penasaran dengan karya Leroux lainnya, yang semoga saja lebih diterjemahkan dengan bahasa yanng lebih enak dibaca dan dipahami.


Judul: Mystery of Yellow Room
Penulis: Gaston Leroux
Penerbit: Visimedia
Tebal: 327 hal.
Tahun Terbit: 1907 (1st) / 2013 (terjemahan)
Rate: 2/5 

Minggu, 29 September 2013

Baca Bareng Buku-Bukunya Mbah Agatha Christie



Komitmen dari awal sebagai peserta Mistery Reading Challenge yang di host oleh mbak Hobby Buku. Tapi agak ndableg juga, walaupun tahu kalau bulan September-Desember buku-bukunya Mbah Agatha Christie yang bakal dibaca bareng, tapi gak buru-buru nyari, jadi deh agak kelimpungan pas tantangan ini muncul secara berdikari (ceileh bahasanya...)

Oke, sementara ini saya cuma punya buku Taken at the Flood (Poirot) dan Tiga Belas Kasus (Marple) untuk disertakan dalam tantangan ini, tapi mudah-mudahan dapat rezeki lebih untuk hunting buku-buku AC lainnya biar tantangan ini makin ajib buat diselesaikan :)

Tertarik ikutan juga? Langsung aja deh baca-baca langsung di Master Post-nya. Mari harubirukan dunia perbukuan dengan membaca kisah-kisah detektif dari Agatha Christie! #IyaLebay

Terima kasih dan semoga saya beruntung #eh

Minggu, 22 September 2013

Arab Saudi dalam Pengalaman @Vabyo




Sebelum masuk ke dalam sebuah review tentang buku Kedai 100 Mimpi karya dari Valiant Budi, ada baiknya sejenak kita bersantai melepas lelah dan penat dengan permainan tebak kalimat. Mudah saja, tebak, mana bahasa Sunda mana bahasa Tagalog, pertanyaan-pertanyaan ini saya ambil dari halaman 82 buku ini.


1.       Noong nakarang ay ipinagdiwang ang karawan
2.       Noong parawan aya dina lawang keur nahan papang
3.       Idinagdag niya na ito ay likas na pangailangan ng isang lalaki
4.       Huntu sim kuring meuni galing kitu kawas kapiting dahar beling
5.       Patepang nepi kayang katinggang si engkang anu paling galing
6.       Ang una kong pinagukulan ng pangsin
7.       Har ari sia lamun heuay siga munding jeding
8.       Tong noong aing lamun embung ditampiling


Saya haqqul yakin, yang mengerti bahasa Sunda pasti ngakak abis baca kalimat-kalimat ini. Seperti pengalaman saya, hampir saja tak bisa menahan tawa ketika membaca ini di angkot. Sudah tertebak mana yang bahasa Sunda mana yang bahasa Tagalog? Saya yakin mayoritas pasti bisa menjawabnya.

Oke, kalian mungkin berpikir bahwa buku ini bercerita tentang perjalanan atau traveling ke Filipina dengan melihat paragraf di atas, tetapi sayang sekali, kisah buku ini bukanlah di Filipina, tetapi di Arab Saudi. Bisa dibilang ini adalah sebuah memoar dan kisah nyata dari Valiant Budi alias @vabyo, kisah hidupnya ketika menjadi TKI di sana, tepatnya ketika menjadi barista merangkap tukang bersih-bersih di sebuah coffee shop bertaraf internasional dengan “daleman” dan “kelakuan” yang sangat tidak mencerminkan kualitas dan pelayanan internasional. Dari cover buku ini sih ketebak ya dimana Valiant bekerja, tapi entah tebakan saya ini benar atau salah, soalnya seperti telah saya bilang, kualitas dan pelayanannya seperti yang telah dibuka oleh Valiant sama sekali tidak mencerminkan hal itu. Hubungan buku ini dengan Tagalog dan Filipina ialah gara-gara banyaknya orang-orang Filipina yang bekerja di sana. Bahkan, penulis seringkali salah mengira orang-orang Filipina itu sebagai orang Indonesia karena kesamaan fisik dan tampang, inilah alasan penulis membuat tebak-tebakan kalimat seperti di atas. Di samping itu, kemiripan bahasa Sunda dan Tagalog juga menginspirasinya untuk menulis hal itu.

Bercerita dengan sudut padang orang pertama, Valiant seolah berbicara kepada pembacanya mengenai kisahnya yang bisa dibilang tidak sesuai harapan. Seperti judul dari buku ini, kedai yang tadinya berisikan 1001 mimpi bagi penulis perlahan berubah menjadi neraka baginya. Angan-angannya untuk hidup enak dan mewah di Timur Tengah berbalik 180 derajat, entah itu dari segi pekerjaannya, lingkungannya, maupun dari faktor cuacanya. Pekerjaan yang diperoleh Vabyo ini bermula dari impian penulis untuk traveling ke negeri-negeri Timur Tengah yang salah satunya ialah Arab Saudi. Sambil bekerja, Vabyo mungkin berangan-angan untuk sekalian menulis tentang dunia Timur Tengah yang sebenarnya, bahkan mungkin juga berangan-angan untuk sekalian mendekatkan diri kepada Tuhannya. Angan-angan tinggal angan-angan, dari segi pekerjaan banyak hal yang tidak sesuai  dengan ekspektasinya, mulai dari atasan yang seenaknya, hingga pekerjaan yang tidak sesuai tertera dengan kontrak. Tak pernah sebelumnya bahwa Vabyo akan berhadapan dengan sapu, pel dan tetek bengek alat kebersihan lainnya. Di pikiran penulis, hanya membuat kopilah tugas dan pekerjaan dari barista ini, namun ia salah. Dari segi lingkungan, sulitnya mencari teman sebangsa dan seperjuangan membuat masa adaptasi penulis menjadi masa-masa paling menyedihkan bagi dirinya. Untungnya, perlahan-lahan Valiant menemukan teman-teman sebangsanya, yang setidaknya berbahasa sama dengannya, juga senasib sepenanggungan, sehingga masa-masa bekerja Valiant menjadi agak lebih menyenangkan dibanding sebelumnya. Apalagi, banyak pengalaman-pengalaman seru dari teman-teman Indonesia lainnya, pengalaman yang mencengangkan, yang tak pernah diduga akan terjadi di dunia Arab.

                Buku ini bukan untuk yang berpikiran sempit dan mainstream – Djaycoholyc, Moderator Kaskus, Rate 3 bintang
Pemuja bangsa Arab (saya pernah punya pengalaman -___- ) lebih baik tak usah membaca buku ini, bukan apa-apa, kalau pikiran sempit dan mainstream, pasti bakal mengira dan langsung menuding bahwa buku ini memang sengaja untuk menjelek-jelekkan bangsa Arab (baca: Islam). Penulis pun sempat menceritakan pengalamannya diteror pengunjung blognya ketika menulis kisahnya ini di blognya. Bukan hanya itu, teror menjelang buku ini terbit pun banyak terjadi. Entah, apakah itu yang dinamakan fanatisme sempit, sehingga sampai sebegitunya menghalang-halangi kenyataan yang ingin dibeberkan secara sebenar-benarnya.
                Buku yang membawa pembaca ke alam Arab Saudi yang sesungguhnya – Agustinus Wibowo, Penulis, Rate 5 bintang
Arab Saudi bukan hanya Mekkah, Madinah, dan Jeddah. Masih ada kota-kota lain yang tak kalah pesonanya dengan ketiga kota tersebut. Selain pesona, kenali pula alam Arab Saudi yang bisa disebut ganas karena cuacanya yang sangat panas ketika musim panas, dan sangat dingin ketika  musim dingin. Kenali pula masyarakat Arab Saudi yang begitu mengagungkan warga lokal dan memandang rendah bangsa asing. Yang paling penting, kenali pula apa yang berada di balik cadar dan sorban para penduduknya, karena seperti pepatah terkenal yang mengatakan: Don’t Judge The Book By Its Cover. Inilah Arab Saudi yang sesungguhnya.
                Bekal untuk para calon TKI yang ingin bekerja di Arab Saudi – e.c.h.a., Moderator Goodreads Indonesia, Rate 3 bintang
Yup, mungkin banyak yang seperti Vabyo yang mempunyai angan-angan untuk bekerja di luar negeri, termasuk di Arab Saudi. Selain banyaknya kabar-kabar miring tentang nasib para TKI yang bekerja di sana di berita-berita sehari-hari, ada baiknya pula membaca kisah dan pengalaman para TKI ini dari sudut pandang si TKI sendiri, salah satunya di buku ini. Karena media, seperti kita ketahui adalah sudut pandang ketiga, dimana mereka hanya mengabarkan berita yang ada tanpa mengetahui sebab jelas apa latar belakang kejadian-kejadiann tersebut.
                Arab undercover, bahwa sebenarnya ras pilihan itu tidak ada – Alluna, Kaskus Books Enthusiast, Rate 4 bintang
Inilah, mungkin gara-gara bangsa Arab menganggap bangsanya adalah ras pilihan. Ras yang di sana diturunkan agama Islam, sehingga membuat mereka menjadi terlena dan keblinger sendiri. Padahal seperti kita ketahui bersama, bahwa derajat manusia di sisi-Nya dilihat dari iman, dan amal perbuatannya,apa yang mau dibanggakan dari sebuah ras yang katanya pilihan namun tidak tercerminkan dari perbuatannya sehari-hari? Semoga saja mereka menyadari hal ini sehingga tak ada lagi kabar berita buruk mengenai nasib TKI di Arab Saudi sana.
                Salah satu buku terbaik yang saya baca tahun ini (2013) – Ren, Aktivis Blogger Buku Indonesia, Rate 4 bintang

Tak bisa lebih setuju daripada ini, walaupun agak telat membaca. Sedikit typo yang ada menjadi tidak masalah ketika membaca kisah yang menarik yang mengalir, yang diceritakan secara enak oleh Vabyo. Lima bintang untuk buku ini.


Judul: Kedai 1001 Mimpi
Penulis: Valiant Budi
Tebal: 444 hal.
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: 2011
Rate: 5/5

Lima Sekawan: Dalam Lorong Pencoleng




Petualangan keduabelas bagi anak-anak Lima Sekawan. Kali ini mereka menuju daerah Cornwall, sebuah daerah yang mempunyai adat dan kebiasaan yang berbeda dari wilayah Inggris lainnya. Memang, di buku terjemahan tak terasa bedanya, entah di teks aslinya, apakah logat Cornwall dicirikan oleh penulis. Daerah Cornwall yang ereka kunjungi kali ini sangat sepi, kebanyakan berupa pertanian, dan itulah tujuan mereka, Tremannon Farm. Sepi disini juga dapat berasosiasi dengan sepinya hiburan daerah ini, bahkan pedagang es krim pun tak ada! Untungnya, liburan anak-anak kali ini bertepatan dengann kunjungan The Barneys, sebuah kelompok sirkus yang selalu mengadakan pertunjukan di Tremannon apabila sedang berada di Cornwall. Maskot The Barneys yang sangat terkenal ialah Clopper, sebuah kuda yang dibentuk dari dua orang dan bisa melakukan gerakan-gerakan mustahil, seperti barongsai apabila deskripsi ini kurang jelas. Clopper inilah yang menjadi kunci petualangan anak-anak kali ini.

Kali ini, anak-anak ditemani Yan, seorang anak kecil dekil dan kotor, serta sedikit aneh. Ini akibat Yan selalu membuntuti anak-anak tanpa berkata apa-apa dan kerap kali berada di tempat anak-anak bermain dan berjalan-jalan tanpa disadari. Yan ini mempunyai seorang kakek (tepatnya buyut Yan), satu-satunya keluarga Yan juga, yang hidup di atas bukit dekat laut. Konon, ayah kakek Yan ialah seorang pencoleng, yang pekerjaannya merampok kapal laut yang berlayar di laut dekat bukit tersebut. Caranya, mereka menyalakan lampu suar palsu sehingga kapal-kapal itu tersesat dan akhirnya terdampar di karang-karang yang berada di sekitar bukit, untuk kemudian harta yang dibawa kapal-kapal ini dijarah oleh kawanan pencoleng ini.

Melalui cerita Yan serta kakeknya, anak-anak mendapatkan kabar bahwa lampu suar palsu kadang-kadang kerap kali menyala, apalagi apabila cuaca sedang buruk-buruknya. Anak-anak, yang mempunyai rasa penasaran yang amat tinggi tergerak untuk menyelidiki cerita ini. Ditambah, anak-anak curiga kepada Pak Penruthlan, sang pemilik Tremannon yang kedapatan keluyuran malam-malam menuju bukit tepat ketika cahaya suar palsu menyala. Seperti biasa pula, bahaya mengintai anak-anak karena mereka terlalu jauh menngetahui hal-hal ini. Tanpa sengaja, mereka terkurung di sebuah tempat yang disebut menara pencoleng, hingga akhirnya anak-anak menyadari bahwa Lorong Pencoleng yang juga diceritakan oleh Yan serta kakeknya ternyata memang ada dan terhubung dengan Tremannon Farm, hal inilah yang makin menambah kecurigaan anak-anak kepada Pak Penruthlan.


Bahaya yang dialami anak-anak ini lagi-lagi bukan bahaya yang main-main. Gembong narkoba kali ini menjadi musuh dari anak-anak, sungguh sebuah masalah yang pelik yang belum seharusnya dialami anak-anak seusia mereka. Untungnya, tak ada ancaman pembunuhan kepada anak-anak kali ini, walaupun tetap saja bahaya terbunuh masih ada ketika mereka terkurung di menara pencoleng hanya dengan makanan seadanya tanpa mengetahui siapa yang sebenarnya mengurung mereka disitu. Lagi-lagi pula, bantuan dari anak lain (dalam hal ini Yan), yang kali ini menyelamatkan Lima Sekawan dari marabahaya. Memang, lama-lama alur cerita dari Lima Sekawan ini mulai terkuak karena memang hampir serupa di tiap bukunya, tentunya dengan tokoh dan kadar petualangan yag berbeda-beda. Walaupun begitu, tetap menyenangkan dan menegangkan membaca kisah Lima Sekawan ini, seperti biasa, aroma petualangann dan terutama aroma makanan yang dihidangkan penulis sungguh sangat menggiurkan. Well, masih seperti buku-buku sebelumnya, tetap umur sepuluh tahun ke atas yang saya rekomendasikan untuk membaca buku ini.


Judul: Lima Sekawan: Dalam Lorong Pencoleng
Penulis: Enid Blyton
Tebal: 247 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 1953 (1st) / 1997 (read)
Rate: 4/5
Rekomendasi Usia: >10 tahun

Epilog: Akhir Perjalanan Roy



Siapa tak kenal dia, Roy anak orang kaya...

Ups salah, itu sih Boy, bukan Roy. Roy justru bukan seorang yang kaya raya, untuk bekal sehari-hari saja ia bekerja sebagai penulis lepas di sebuah majalah. Hebatnya, dari pekerjaan menulisnya tersebut Roy bisa traveling keliling Indonesia bahkan dunia! Di buku yang saya baca ini, Balada Si Roy: Epilog, Roy bahkan sedang berada di India. Dengan gaya backpackernya, pembaca seolah dibawa Gola Gong untuk ikut menyelami dunia backpacker, sambil berkelana berkeliling dunia guna melihat hal-hal apa sajakah yang terjadi di sekeliling Roy, baik itu mengenai dunia backpackernya, hingga adat istiadat serta tradisi yang ada di daerah yang disinggahi Roy.

Kali ini, Roy bertemu dengan tradisi Holy di India sana. Tradisi ini pada awalnya ialah tradisi dimana pada hari  itu Dewa Wisnu diagung-agungkan. Hari itu pula menjadi holy karena menurut legenda, Shinta mengadakan persembahan nyawanya bagi Rama (yang telah dititis oleh Dewa Wisnu) dengan menceburkan diri pada nyala kobaran api. Hari itu juga hari dimana Shinta membuktikan dirinya masih utuh dan suci kepada Rama. Modern ini, tradisi tersebut mulai berubah, dimana orang-orang kini membawa-bawa Holy Water, yaitu air yang sudah diberi pewarna untuk dicoret-coretkan ke orang lain, selain itu, ujung-ujungnya tradisi ini seolah menjadi celah untuk para kaum homo merayakan pesta mereka secara diam-diam.

Dunia backpacker pun tak luput dari kisah cinta. Roy, yang sebenarnya sudah memiliki kekasih bernama Suci di Indonesia, mulai tertarik kepada lawan jenis yang berasal dari Jerman yang bernama Ina. Entah karena memang kesepian atau memang gara-gara benar-benar cinta, Roy mulai dekat dengan Ina bahkan bercita-cita untuk ikut Ina ke Berlin, Jerman. Penulis menceritakan, bahwa kisah cinta sesaat di dunia backpacker ini lazim terjadi, apalagi bagi backpacker tunggal yang lama bertraveling kemana-mana, pasti butuh tambatan hati guna mengisi kekosongan dan kesepian hidupnya. Roy sendiri merasa bahwa ia telah mengkhianati Suci gara-gara hal ini, namun Roy yang dasarnya memang bandel mencoba untuk memaklumi jalan hidupnya ini.

Ada pula cerita ringan lain tentang keseharian Roy di India, dimana Roy memiliki seorang teman anak kecil bernama Kay. Seorang anak yang malang yang mempunyai ayah tukang mabuk, sehingga ia dan ibunya otomatis menjadi tulang punggung keluarga. Belum berakhir sampai situ, tak jarang penghasilan Kay dan ibunya dirampas paksa oleh ayahnya, sebuah kenyataan pahit yang mungkin saja masih terjadi hingga saat ini. Ada pula cerita tentang tukang obat yang ujungnya memoroti orang-orang para penontonnya guna membeli produknya akibat jebakan-jebakan yang  mereka buat dengan sengaja. Sekilas, kehidupan di India dan Indonesia memang tak jauh berbeda.

Epilog, sebuah akhir. Ini adalah petualangan akhir Roy sebagai traveler dan backpacker. Sebuah keputusan sulit terpaksa Roy ambil akibat sebuah peristiwa yang terjadi pada ibunya di Indonesia ketika Roy masih di India. Sebuah peristiwa yang membuat Roy sadar dan mulai menata kembali kehidupannya.

Roy ini sebuah masterpiece karya Gola Gong yang banyak menginspirasi anak-anak muda awal 90-an. Sosok Roy yang “laki banget” banyak membuat orang terkesan dan bahkan menunggu-nunggu sebuah buku yang bertemakan serupa, petualangan seorang lelaki laiknya Ali Topan. Karena memang patut dicermati bahwa jarang sekali ada sebuah buku yang seperti Roy ini. Isi cerita yang ringan dan enak dibaca apalagi ditambah kutipan-kutipan di setiap awal bab membuat buku ini cocok bagi siapa saja terutama yang mempunyai jiwa petualang. Ada satu hal menarik mengenai kutipan-kutipan ini. Saya sempat bingung gara-gara banyaknya kutipan yang berasal dari Heri H. Harris, hingga akhirnya saya menyadari bahwa Heri H. Harris ini merupakan nama asli dari Gola Gong, cukup narsis juga pembaca yang satu ini.


Bisa dibilang, Roy, Boy dan Lupus merupakan teman satu “angkatan”, walaupun mereka berdiri di dunia yang berbeda. Roy di dunia buku dan laki-laki petualang, Boy di dunia film dan laki-laki idola, sedangkan Lupus agak berbeda karena ia seorang yang mempunyai kisah-kisah kocak. Mengenai Roy ini sendiri ada sebuah hal di buku Balada Si Roy ini yang membuat saya agak deja vu, seolah cerita ini pernah saya baca di masa lalu, entahlah, saya merasa buku ini familiar bagi saya. Lima bintang untuk Balada Si Roy, jadi penasaran dengan kisah Roy lainnya.


Judul: Balada Si Roy: Epilog
Penulis: Gola Gong
Tebal: 176 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 1995
Rate: 5/5

Hanya 11 Menit?



Ada seorang teman yang mengatakan, bintang empat yang saya berikan kepada buku Eleven Minutes dikarenakan saya telah menikah, hm, bisa jadi juga sih, walaupun saya rasa buku ini memang cocoknya bagi yang sudah menikah, hehehe..

Eleven Minutes, atau Sebelas Menit, sebuah buku yang mempunyai cover bergambar seorang wanita mengenakan gaun dan duduk dengan kaki disilangkan sehingga sebagian gaun tersebut tersingkap. Tak terlihat wajah dari perempuan itu karena memang gambar yang terdapat di depan cover ini hanya setengah badan bagian bawah. Bisa juga, penggunaan cover ini untuk membuat penasaran seperti apakah si pemilik wajah dari kaki tersebut, jadi jangan terkejut juga apabila wajah asli dari si cover ini ternyata pria, walaupun untungnya bukan, karena buku ini tak bercerita tentang waria.

Buku karangan Paulo Coelho ini dapat dikatakan anti mainstream. Ya, saya telah membaca The Alchemist yang legendaris yang juga karangan beliau, namun buku ini sangat berbeda, meskipun kata-kata bijak dan filosofis Coelho masih dapat ditemukan di buku ini, tapi tema besar buku ini yang tentang seks dan dunia pelacuran yang membuat saya mengatakan di awal bahwa buku ini cocoknya untuk pembaca yang sudah menikah. Bukan apa-apa, pelajaran seks yang diberikan di buku ini sangat vulgar dan menantang, meskipun bahasanya sudah agak dihaluskan menurut saya. Nah, bisa dibayangkan apabila yang belum menikah membaca buku ini, sebagai contoh, ada penjelasan (atau pelajaran?) tentang klitoris, gawat kan kalau tiba-tiba seorang bujang yang belum menikah penasaran kepingin tahu, makanya harus kuat iman juga sebelum membaca buku ini. Itu buat laki-laki, kalau buat perempuan, ada pula hal yang membuat buku ini agak gawat untuk dibaca, sebabnya, disini juga agak dijelaskan bagaimana seorang perempuan bermasturbasi, benar-benar vulgar pokoknya.

Cerita dari buku ini sendiri yaitu tentang seorang gadis bernama Maria yang berasal dari sebuah pedesaan di Brazil. Tentang pencariannya akan cinta sejati, yang berujung pada sebuah petaka yang berawal dari sebuah kejadian di Rio de Janeiro ketika ia bertemu seorang Eropa yang berjanji akan memberinya pekerjaan yang bagus apabila ia ikut hijrah bersama dirinya ke Swiss. Maria ditipu mentah-mentah dan akhirnya harus hidup melacur guna bertahan hidup dan mengumpulkan biaya untuk kembali ke Brazil. Ketika dia mulai menemukan kenyamanan sebagai seorang pelacur, dia mulai beranjak untuk mencari makna hidup, cinta sejati, dan yang paling penting, mencari cara untuk orgasme, ya orgasme, jangan kaget. Sebagai pelacur, walaupun banyak melayani laki-laki, Maria tak pernah merasakan kenikmatan bercinta, terkadang malah ia pura-pura orgasme untuk memuaskan konsumennya, karena hanya dengan cara seperti itulah si konsumen merasa puas, dan merasa jantan. Pencarian Maria ini hampir berakhir ketika ia menemukan dua tamu spesial di tempat kerjanya, Ralf dan Terence. Kedua lelaki ini mampu membawa Maria menemukan orgasme dengan cara yang berbeda, cara yang Maria tak pernah sangka sebelumnya. Selanjutnya, pencarian cinta Maria berlanjut, masih diantara kedua orang ini, siapakah yang akhirnya akan dipilih Maria?

Lumayan ceritanya, walaupun tetap tak bisa menikmati ketika Coelho mulai berfilosofi, namun overall saya menyukai buku ini. Satu hal yang agak mengganjal yaiu tentang perkembangan Maria yang begitu pesat, bagaimana tidak, sebelumnya ketika masih di Brazil, Maria merupakan seorang gadis yang polos dan lugu, namun menjelang pertengahan sampai akhir buku, kepolosan dan keluguan itu hilang secara tiba-tiba, saya seolah sedang melihat dua Maria yang berbeda. Mungkin memang bisa saja kedewasaan dan kecerdasan Maria muncul seiring dengan bertambahnya usia, namun hampir tak ada peralihan antara Maria yang lugu dan polos dengan Maria yang dewasa dan cerdas, seakan berubah begitu saja, ini yang agak mengganjal bagi saya. Terakhir, mengenai judul dari buku ini, akan menjadi spoiler apabila saya katakan disini, namun satu pertanyaan saya kepada pembaca buku ini yang telah menikah, benarkah hanya sebelas menit? Atau sebelas menit ini terjadi apabila bukan dengan pasangan yang sah? Jawab pertanyaan pertama saja karena saya yakin pembaca buku bukanlah tipe orang di pertanyaan kedua.


Judul: Eleven Minutes
Penulis: Paulo Coelho
Tebal: 357 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2003 (1st) / 2007 (terjemahan)
Rate: 4/5


Lima Sekawan: Sarjana Misterius



Cerita diawali oleh George yang merajuk pada orangtuanya untuk ikut sepupu-sepupunya berkelana dengan karavan ke dekat puri Faynights. George tak bisa mengikuti saudara-saudaranya sedari awal dikarenakan dirinya sakit, sungguh liburan paskah yang mengecewakan untuk George. Untungnya, ia sembuh tepat waktu, dengan segera ia dan Timmy menuju tempat sepupu-sepupunya berkaravan. Di tempat lain, dari koran yang dibaca Julian dan kedua adiknya, dikabarkan bahwa ada dua orang sarjana yang menghilang secara misterius. Kedua sarjana tersebut masih kenalan dari Paman Quentin, makanya itu Julian sempat salah sangka mengira bahwa sarjana yang hilang tersebut adalah pamannya.  Dengan berkumpul kembalinya George bersama ketiga sepupunya, berkumpullah kembali Lima Sekawan yang selalu berhadapan dengan petualangan-petualangan seru.

Petualangan seru mereka kali ini terjadi dengan tidak sengaja, diawali dengan keasyikan mereka bermain dengan teropong baru George guna melihat-lihat puri Faynights yang telah mulai runtuh. Sekilas, di sebuah jendela di puri itu, terlihat sesosok wajah laki-laki disana. Yang membuat mereka heran, puri itu hampir sudah tak bisa dimasuki gara-gara banyaknya reruntuhan yang menutupi jalan menuju bagian-bagian dalam puri tersebut, dan salah satu bagian puri yang tak bisa didatangi gara-gara terhalang reruntuhan ialah jendela tempat mereka melihat sesosok laki-laki tersebut. Tanpa pikir panjang, anak-anak pun langsung bergegas menyelidiki rahasia tersebut, sampai akhirnya terjadi sebuah hal yang lazim dialami anak-anak ini, mereka terjebak dan ditawan oleh sekelompok orang yang juga ternyata berkaitan dengan hilangnya kedua sarjana yang sedang ramai dibicarakan.

Selain petualangan tadi, anak-anak pun mendapat hiburan dengan hadirnya kelompok sirkus pasar malam yang ternyata berkemah dan berkaravan di lapangan yang sama dengan mereka. Berbagai atraksi seperti manusia karet, si penelan api dan pawang ular membuat kawanan ini penasaran. Sayangnya, kelompok pasar malam ini kurang menyukai orang asing, apalagi anak-anak. Hingga suatu saat, anak-anak bertemu dengan kawan lama mereka, si gelandangan yang diceritakan pada petualangan mereka di buku sebelumnya, seakan inilah jalan bagi mereka untuk mulai dekat dengan kelompok pasar malam ini dan menyaksikan atraksi-atraksi dari kelompok ini. Ada untungnya juga mereka kemudian berkawan baik dengan kelompok pasar malam ini, karena kawanan ini pun akhirnya berkaitan dengan petualangan anak-anak Lima Sekawan di dalam Puri Faynights.


Masih dengan ciri khas Enid Blyton sejauh 11 buku ini, berkemah, lorong-lorong sempit, seorang kawan, makanan enak,  serta tentu saja sebuah konspirasi kejahatan yang lumayan besar. Hal ini seolah menunjukkan bahwa penulis memang tak jauh-jauh dari hal-hal itu ketika menuliskan petualangan Lima Sekawan ini. Tetapi ada satu hal yang agak membingungkan di buku ini, yaitu penggunaan karavan. Jika anak-anak tak memiliki kuda, lalu bagaimana mereka bisa menarik karavan ini ke tanah lapang di dekat Puri Faynights? Sebab menggunakan mobil pun agaknya meraka masih terlalu kecil untuk mengendarainya. Memang, agak mengganjal di bagian ini. Satu hal lagi yaitu penggunaan kata “Sarjana” sebagai judul. Di judul aslinya, tak ada kata-kata yang memiliki arti sarjana, karena judul aslinya ialah Five Have A Wonderful Time. Apalagi, hampir tak ada ciri-ciri sarjana dalam kedua orang yang menghilang tersebut, karena lebih cocok kedua orang ini disebut sebagai ilmuwan. Mungkin saja ini pengaruh pertama kali buku ini diterjemahkan pada tahun 1980, yang mungkin saja pada zaman itu sarjana diidentikkan dengan ilmuwan dan begitu pula sebaliknya, padahal kita tahu sendiri arti kata sarjana akhir-akhir ini sudah mulai meluas, tak sekedar ilmuwan saja yang disebut sarjana. Tapi hal tersebut tak masalah, karena buku ini tetap menghibur, apalagi bagi anak-anak, terutama usia 10 tahun ke atas, guna menumbuhkan sifat petualang dari diri mereka, karena jujur saja, Lima Sekawan ini mampu menyihir anak-anak untuk ikut menyukai petualangan, seperti tokoh-tokoh di buku ini.


Judul: Lima Sekawan: Sarjana Misterius
Penulis: Enid Blyton
Tebal: 256 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 1952 (1st) / 1997 (read)
Rekomendasi Usia: >10 tahun
Rate: 5/5

Rabu, 11 September 2013

Wishful Wednesday #6 - Grimm & Bibbi Bokken


Akhirnya ikut Wishful Wednesday lagi, yeay...
Iya, ikut gara-gara ada giveawaynya sih, tapi gak apa-apa dong, gak salah juga toh?:p

Jadi gini, Wishful Wednesday berpartner dengan Mbak B.Zee si empunya blog BacaanB.Zee ngadain giveaway yang based on event yang lagi di-host Mbak B.Zee yaitu FYE Child Lit. Masa gak tahu apa itu FYE Child Lit? Coba mampir ke link di atas deh.



Hadiahnya lumayan lho, 100 ribu rupiah! Caranya: pilih WW kamu dari buku-buku yang ada di list peserta FYE Child Lit, yang tentunya sudah direview. Sertakan link reviewnya, dan jadikan WW kamu, jangan lupa juga sertakan link beli onlinenya, siapa tahu dapet, hihihi...

Oke, jadi WW saya kali ini ada dua buku, ini juga ngepas-ngepasin supaya seratus ribu, kan lumayan. Sebenernya pengen buku-buku anak yang ada di list 1001 semacem The Little Prince, tapi sayang udah susah dicari di TBO, gagal deh :(

Berikut WW saya akhirnya:

1. Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken


Dua saudara sepupu, Berit dan Nils, tinggal di kota yang berbeda. Untuk berhubungan, kedua remaja ini membuat sebuah buku-surat yang mereka tulisi dan saling kirimkan di antara mereka. Anehnya, ada seorang wanita misterius, Bibbi Bokken, yang mengincar buku-surat itu. Bersama komplotannya, tampaknya Bibbi menjalankan sebuah rencana rahasia atas diri Berit dan Nils. Rencana itu berhubungan dengan sebuah perpustakaan ajaib dan konspirasi dalam dunia perbukuan. Berit dan Nils tidak gentar, bahkan bertekad mengungkap misteri ini dan menemukan Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken. Melalui cerita yang bernuansa detektif ini, Jostein Gaarder, pengarang Sophies World, dan Klaus Hagerup, mengajak kita berpetualang dalam dunia buku dan perpustakaan. Tanpa sadar, Anda akan diperkenalkan dengan Klasifikasi Desimal Dewey, Winnie the Pooh, Anne Frank, teori sastra, teori fiksi, teori menulis, sejarah buku dan perpustakaan, dan masih banyak lagi. Dengan demikian, buku ini adalah pengantar kepada dunia buku yang dapat dinikmati pembaca kanak-kanak, remaja, maupun dewasa.
 "Buku terbaik mengenai buku dan budaya-baca yang ada saat ini." Oldenburgische Volkszeitung.
 "Sebuah surat cinta kepada buku dan dunia penulisan." Ruhr Nachricht
    Baca review tentang buku ini di Kilas Buku kok jadi pengen baca ya... Entah, buku-buku tentang buku selalu menarik perhatian saya, walaupun akhirnya kadang-kadang buku-buku ini berakhir agak mengecewakan. Tapi tak ada salahnya mencoba, disini nih belinya...

2. Dongeng-dongeng Grimm Bersaudara

"Jacob Grimm dan Wilhelm Grimm, atau yang kita kenal sebagai De Bruder Grimm alias Grimm Bersaudara, adalah dua penulis dongeng asal Jerman. 

Mereka telah menulis banyak sekali dongeng-dongeng memikat, dan terlepas dari kontroversi pendapat pembaca atas kisah-kisahnya, hingga kini, karya mereka menjadi karya yang paling banyak dibaca dan ditonton oleh anak-anak sedunia. 

Selain dalam bentuk tulisan, kisah-kisahnya juga banyak diadaptasi menjadi drama dan film."
    Nah, kalau yang ini sudah lama tertarik, tapi tak kunjung terpinjamkan oleh teman saya, jadi ya mending di-WW-in aja deh. Apalagi Mbak Astrid si empunya WW mereview buku ini dengan apik di Perpus Kecil-nya, jadi tambah bikin penasaran deh. TBO-nya ada disini soalnya di TBO yang sama dengan di atas udah gak ada stok :(


Tertarik ikutan? Gampang kok, begini syaratnya:
  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)