Jumat, 28 Desember 2012

And Then There Were More



Oke, ini adalah Blog Event yang khusus tentang mbah Agatha Christie. Kalau saya sendiri mungkin bisa disebut penggemar lama, maka dari itu saya mengikuti kontes yang And Then There Were More ini. Disini saya akan bercerita awal mula berkenalan dengan buku-buku dari Agatha Christie.


Berawal dari kesuntukan anak kelas 3 SMA dikarenakan jenuh oleh pelajaran-pelajaran yang silih berganti menghampiri setiap hari. Didasari pula oleh rasa butuh akan perpustakaan sekolah, maka saya dan teman-teman saya kadang-kadang pergi ke perpustakaan sekolah untuk mencari bahan-bahan yang berkaitan dengan pelajaran. Sama sekali tidak terpikir bahwa bakal ada buku-buku non-pelajaran yang dapat ditemukan disana. Sampai suatu hari, ada sebuah lemari yang sepertinya jarang sekali dibuka. Kebanyakan murid pun tak tahu apa isi dari lemari tersebut. Hingga akhirnya saya dan teman sekelas memberanikan diri bertanya pada penjaga perpustakaan. *Jeng jeng...* Dengan seijinnya, dibukalah lemari tersebut. Isinya? Wow, ternyata buku-buku novel yang kondisinya udah agak buluk banyak tersimpan disana. Jadilah saya dan teman-teman mulai meminjam buku-buku yang ada di lemari tersebut. Bayangkan, hingga tamat SMA, kartu perpustakaan isinya penuh oleh pinjaman buku novel, dan bukannya buku pelajaran XD


Nah, diantara buku-buku itulah terselip buku N atau M dan Empat Besar. Kedua buku itulah yang membuat saya mengenal Agatha Christie. Jujur saja, butuh re-read dan refresh ulang untuk mengingat isi kedua buku tersebut. Udah lama banget soalnya, sekitar 10 tahun yang lalu kayanya. Eh, barusan nge-Goodreads malah kaget juga kalau ternyata N or M itu kisahnya Tommy dan Tuppence :| Maklum, dulu belum benar-benar menggemari buku secara aktif seperti sekarang. Malahan, saya kadang-kadang bertanya-tanya sendiri, kisahnya Tommy Tuppence tuh kaya gimana ya? Sama sekali gak sadar kalau dulu banget pernah baca.


Lalu, apa yang menarik dari kisah saya ini? Kesan mendalam dari buku ini tentu saja ketika saya dan teman-teman mereview dan membicarakan buku yang telah dibaca. Tokoh Hercule Poirot bahkan sangat menempel di benak teman saya, sampai-sampai kadang-kadang ia menyebut-nyebut sel abu-abu ketika sedang membicarakan buku ataupun membicarakan hal lain yang sekiranya berhubungan dengan otak dan berpikir. Hal inilah yang selalu saya ingat sampai sekarang, bahwa sel abu-abu itu identik dengan Hercule Poirot. Sampai malam ini, ketika sedang asyik berselancar di twitter, tiba-tiba ada yang meretweet aku twitter ber-id @selselkelabu. Otomatis, pemikiran saya kembali menerawang ke masa lalu dan mengingat kembali tentang kenangan ini.


Tahun ini, saya ikut pula Mistery Reading Challenge yang diadakan oleh salah seorang member BBI. Istimewanya, ada baca bareng buku-buku Agatha Christie pada sekitar akhir tahun di tahun depan. Semoga dengan adanya event Challenge ini, bisa makin mendekatkan dan mulai membaca-baca lagi buku-buku Agatha Christie yang telah saya baca dan telah saya (agak) lupakan.


Salam...

Happy Birthday Serapium



Sory ye, gw tetep promosiin logo buatan gw, buahahahahahaha...

Inget banget, tahun lalu, waktu masih kerja di hotel *ehm*, lagi ngaskus *lho*, kok tiba-tiba si Forum Buku ini gak ada tulisan Book Review-nya lagi. Ternyata si dia udah jadi forum sendiri, horeee... Padahal mah udah gak terlalu berharap banyak lagi, apalagi udah lama banget ngajuin, bikin trit di KSP, tapi responnya tetep kurang :| apalagi kendalanya adalah di Indonesia umumnya, dan di kaskus khususnya, minat baca itu amat sangat rendah -__-

Oya, ini saat-saat forbuk jadi SF sendiri http://old.kaskus.co.id/showthread.php?t=11205337&page=303 :D

Gw sendiri gabung dengan forum Book Review ini pada tanggal 11-1-11, ini linknya http://old.kaskus.co.id/showthread.php?t=872108&page=259, dan ini SS-nya:



Waktu itu sumpah, sepi banget. Sehari bisa kali tuh lounge gak jalan, apalagi trit-trinya yang lain, hehehe... Syukurnya, gw dapet temen ngejunk yang klop pada diri agan metallisedheart, jadi gak sepi2 amat :p
Waktu itu juga pertama kenalan ama momod Pepohonan, Kveykva, ama VanDaniestha. Sebenarnya tujuan pertama masuk BR dulu itu buat nyari rentalan-rentalan buku, sayangnya akhirnya gak kepake juga tuh rentalan, soalnya udah ada perpus serapium (akhirnya).

Eh, ini gw sekalian liat-liat perbincangan sepuh di old kaskus lho. Kesan gw, dulu itu serius banget omongannya, berhubungan dengan buku, dan tentunya kemajuan forum buku. Tapi entah kenapa, sekarang ini (khususnya sejak gw nongol), loungenya jadi lebih umum, hahahahaha... No probs lah, salah gw juga dulu pengen lounge forbuk rame :p


Kenangan?
Forbuk ini jadi teman sejati gw saat ini. Jujur aja, teman-teman sekolah dan kuliah gw udah pada jauh sekarang, entah pada dimana, mungkin emang udah pada sibuk masing-masing kali ya. Jadinya ya teman saya ini disini ini. Teman maya yang jadi nyata, sekarang ini ketemu teman berfisik nyata ya berawal dari dunia maya ini. Bisa dibilang keluarga kedua gw. Entah kenapa, gw cinta banget sama forum dan kekeluargaan di forbuk ini, susah digambarkan dengan kata-kata, tapi inilah kenyataannya.
Kenangan lain ialah pas gw ultah setahun yang lalu kalo gak salah, di judul lounge secara khusus diganti dengan kata-kata Happy Birthday Dani, so sweet. Adalagi pas kelahiran anak gw, ucapan-ucapan dari teman2 di forbuk ini sungguh sangat berarti buat gw.

Gak (males sebenarnya) terhitung gath-gath dan kopdar dengan teman-teman dari forum buku semenjak pertama kali gw ikut gath mini di Plaza Semanggi bareng mbak Yuli, Ci Yanty, Koh Hendra, Puh Adit, Uni Lisa dan mbak Mila. Itu pertama kali gw ketemu para penggila buku secara langsung. Syukurlah gath mini itu bisa terlaksana, walau memang agak absurd juga cuma 6 orang, hihihihi....


Mengenai membernya sendiri, gw salut dengan terutama perjuangan enthu AdityaHadi. Banyak banget pengorbanan dia demi forbuk ini, salut buat lo bro. Entah bakal jadi besar gini gak forum ini kalau gak ada dia. Satu tahun terakhir ini, gw juga salut sama kontribusi dari member lainnya, mbak enthu Dewok dengan SRC-nya, mbak Alluna dengan segala enthusiast-nya, mbak Selvi dengan semangatnya yang menggebu-gebu. Serta tak ketinggalan member-member lain yang dengan sengaja atau tidak sengaja telah memajukan forum buku ini.


Gw sih berharap, tanggal 3 nanti bener2 jadi gath akbar, semua member datang, dari yang ngaskus taun jebot sampai newcomer, dari bookfreak sampai book kolektor, pokonya semua pecinta buku datang. Kita nostalgia bareng, tukar koleksi buku, dan yang paling utama menjalin persahabatan dan silaturahmi. Jujur aja, gw paling gak suka ama yang namanya debat dan kekerasan DRT, jadi damai aja ya, baca buku, review buku, tuker2an buku. Segala kesalahan saya juga selama berforum di forum buku ini tolong dimaafkan, kalo becanda kelewatan, kalo suka manggil orang sembarangan. Maklum, diktator #eh...


Ah, bingung deh gw, nulis apaan kali ini...

Selamat Ulang Tahun Serapium, You Are Rock Guys!


untuk tulisan lain tentang ultah serapium, silakan cek:
http://t.co/nhVkYY1n
http://t.co/r0b9Gbfw
http://t.co/MEPPkxly

semoga linknya kebuka, kalo gak ya tinggal copas aja :p

Kamis, 27 Desember 2012

Cerita tentang Kapal Terbang




Pernah membayangkan terbang bersama seorang penjahat kawakan yang dikawal FBI? Atau bahkan terbang dengan bayang-bayang kapal yang kita tumpangi dibajak oleh seseorang? Sebelum membayangkan terlalu jauh, ada baiknya angan-angan tersebut kita coba bayangkan dengan membaca buku karya Ken Follett ini. Mengapa di awal saya menyebut kapal, bukan pesawat terbang? Karena memang yang diceritakan disini ialah sebuah kapal terbang, bukan pesawat terbang. Satu hal mencolok yang membedakan ialah, bahwa kapal terbang ini tidak memerlukan bandara sebagai sarana untuk pendaratannya. Dari namanya saja bisa diketahui bahwa kapal terbang yaitu sebuah kapal yang bisa terbang. Tentu saja, kapal identik dengan air, maka kapal terbang ini hanya butuh perairan sebagai sarana pendaratannya. Kapal terbang yang diceritakan sendiri merupakan kapal terbang yang nyata dan pernah ada, yaitu kapal Pan American. Kapal ini terbang sekitar tahun 1930-an, tepatnya tahun 1939, tepat sebelum Perang Dunia II meledak di Eropa pada khususnya. Kapal terbang ini sendiri merupakan kapal eksklusif khusus dengan seat terbatas dan tiket yang hanya dibeli oleh orang-orang kaya saja. Kapal ini sendiri melayani penerbangan dari Eropa ke Amerika dengan jaminan waktu tempuh yang lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan kapal laut.

Cerita buku ini sendiri diawali dengan latar belakang tokoh-tokoh yang nantinya akan terbang menggunakan pesawat ini. Ada seorang putri bangsawan yang begitu sangat ingin lepas dari keluarganya, ada seorang pencuri dan penipu ulung yang hingga saatnya menaiki kapal tetap dapat bersembunyi dibalik identitas palsunya, ada sepasang kekasih yang menjalin cinta terlarang dimana sebenarnya si wanita telah memiliki suami, ada seorang wanita pemilik perusahaan sepatu yang menghadapi masalah yang berkaitan dengan perusahaannya apabila tidak segera pulang ke Amerika, dan yang paling menegangkan ialah ada seorang awak kapal yang diperintahkan untuk melakukan pembajakan pesawat oleh sebuah kelompok penjahat di Amerika yang menyandera isterinya.

Intrik yang kemudian terjadi di kapal ini sungguh sangat mencengangkan. Misalnya saja asmara terlarang antara si putri bangsawan dan si penipu, mereka yang tadinya tidak sengaja bertemu di daratan bertemu lagi di kapal ini. Hingga terjadilah adegan-adegan yang seperti tertera pada label di bagian belakang buku ini: Novel Dewasa. Ada pula intrik yang terjadi antara sepasang kekasih gelap yang secara mencengangkan ternyata suami si wanita tersebut berhasil menyusul ke dalam kapal tersebut. Gawatnya, si suami yang memang tadinya tidak berencana terbang ke Amerika hanya mendapatkan tiket untuk Honeymoon Suite  bersama si wanita pemilik perusahaan tadi. Makin pelik ketika si suami ternyata terlibat cinta lokasi dengan wanita tersebut. Hingga terjadilah cinta segiempat diantara keempat orang tersebut. Ada pula pergolakan batin pada si awak kapal yang isterinya disandera sekelompok penjahat, tuganya sebagai teknisi terpaksa dipertaruhkan dengan cara mengosongkan tangki bahan bakar agar kapal ini bisa mendarat darurat di tempat yang telah ditentukan dimana para penjahat ini telah menunggu untuk menyelamatkan salah seorang temannya yang juga penumpang dari kapal ini.

Dari tulisan saya di atas saya saja telah terbayang bagaimana kusutnya buku ini, banyak tokoh, banyak konflik, dan juga banyak adegan syurnya #eh. Tetapi Ken Follett berhasil meramu semua itu menjadi sebuah cerita yang enak dibaca. Apalagi detail-detail dari pelayanan kapal terbang eksklusif ini sungguh sangat menggiurkan untuk dicicipi. Belum lagi fasilitas-fasilitas yang ada di kapal ini, sungguh mencengangkan. Penulis seolah berhasil membawa pembaca ikut merasakan mewahnya kapal ini. Belum lagi suasana dan latar belakang buku ini. Sesuai judul buku, Night Over Water, pembaca seolah diajak untuk menikmati malam di atas samudera Atlantik. Tentunya dengan segala konflik dan intrik yang terjadi di dalamnya. Menurut saya buku ini termasuk underrated, dari segi cerita dan pencampuran antara fiksi-nonfiksi, sebenarnya kisah yang tertulis seperti benar-benar terjadi di masa lampau, apalagi detail seperti yang saya tulis tadi, sangat mendekati kenyataan yang mungkin pernah ada. Tetapi buku ini seolah kalah populer dengan buku-buku lainnya yang banyak beredar, lihat saja bagaimana respon para pembaca tentang buku ini, mungkin hanya segelintir orang saja yang pernah membacanya. Padahal hal-hal yang saya tulis tadi sudah lebih dari cukup untuk membuat buku ini untuk direkomendasikan kepada pecinta buku.


Judul: Night Over Water
Penulis: Ken Follett
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 568 hal.
Rate: 5/5

Rabu, 26 Desember 2012

It's Word Game




Telat banget deh saya baca buku ini, hihihihi... Bahkan seorang sempat mencibir di sebuah jejaring sosial gara-gara saya terlalu excited setelah membaca buku ini, padahal buku ini telah terbit beberapa tahun yang lalu, pastinya udah lama sih :|

Ah, sebenarnya banyak alasan kenapa buku ini terlalu sering saya pinggirkan untuk dibaca, selain karena ketebalannya, buku semacam ini cenderung bikin ngawang-ngawang. Jadi ya istilahnya percuma aja baca kalau lama beresnya, atau baca tapi beberapa saat kemudian lupa apa yang dibaca :))

Oke, jadi intinya buku ini bagus! Indikatornya? Fiksi yang dianggap nonfiksi itu menurut saya bagus, kenapa? Karena buku itu bisa sedemikian rupa mempengaruhi pembacanya. Entah, apa pembacanya aja kaya saya yang mudah dipengaruhi, hihihihi... Selain itu, efek dari bagusnya buku ini yaitu setelah baca kecenderungan untuk meng-googling bahasan-bahasan yang ada di buku meningkat sangat pesat. Yah, gak sekedar googling sih, tapi saya juga sampai mengunggah gambar-gambar buatan Da Vinci di jejaring sosial. The Last Supper salah satunya, err, sebenarnya ada lagi sih lukisan lainnya, tapi udah agak lupa, udah agak lama bacanya soalnya, maaf.

Yah, buku ini bisa dikatakan kontroversial, banyak banget serangan-serangan terhadap sebuah agama di buku ini. Bisa dibilang, harus kuat iman pada saat membaca buku ini. Disamping isyu tersebut, bisa dikatakan petualangan Landon dan Neveu di buku ini sangat seru. Mereka berpetualang dari satu tempat ke tempat lain dengan petunjuk minim yang diberikan oleh mendiang Sauniere. Tapi ajaibnya, walaupun minim, petunjuk dari Sauniere ini maknanya sangat luas, saling terkait dan bisa diibaratkan sambung-menyambung. Entah apa gara-gara si Sauniere ini memang sudah sangat merencanakan hal ini semenjak dia hidup atau ini hanya rekaan si Dan Brown saja sebagai penulis buku, sehingga seolah-olah memang si Sauniere ini yang merencanakannya.

Ada lagi hal menarik lain yang diberikan buku ini. Anagram. Yup, anagram. Permainan kata-kata ini sangat menarik untuk diikuti di buku ini. Mungkin  kalau tidak benar-benar jeli, pesan dari mendiang Sauniere ini tak akan terpecahkan sama sekali. Nah, apa sih anagram itu? Mudahnya, jika ada sebuah kata, maka kata lain yang bisa dibentuk dari kata tersebut bisa dibilang itulah anagramnya. Contohnya: kaset. Sekat merupakan anagram dari kaset, jadi tinggal membolak-balik kata-kata saja sebenarnya. Tapi jelas apabila lebih banyak huruf yang dimiliki sebuah kata/nama, maka akan lebih sulit lagi anagram yang dapat dibentuk. Contoh lain mungkin bisa dilihat dari nama saya, Dani Noviandi. Anagram dari nama saya salah satunya adalah “I Did an Innova”, dan anagram nama saya itu telah sukses menjadi id dari akun twitter saya, hihihihi.

Tapi tidak sepenuhnya buku ini memuaskan, kenapa? Karena saya pikir si Sauniere ini agak menyebalkan. Tak terbayangkan kalau si penjahat yang menang dan berhasil menebak seperti apa teka-teki yang dibuat oleh Sauniere ini, mungkin dia bisa garuk-garuk tembok saking kesalnya, hehe. Eh, tapi endingnya sebenarnya dalem banget lho, bisa dijadikan pelajaran buat ke depannya di dalam bidang tersebut apa yang jadi jawaban dari teka-teki si Sauniere ini. Bidang apa? Mungkin bisa dibaca sendiri bukunya biar gak terkesan spoiler dan tentunya membuat penasaran :)

Last but not least, terima kasih kepada Mbak Dewi yang telah meminjamkan saya buku yang luar biasa ini, gak sia-sia saya minjem, soalnya buku ini berkesan (bintang lima gitu loch) dan sama sekali tidak bikin ngawang :)


Judul: The Da Vinci Code
Penulis: Dan Brown
Penerbit: Serambi
Tebal: 632 hal.
Rate: 5/5

Antara Kebun Binatang, Teologi dan Survival




Pastinya pembaca buku tahu dengan daftar 1001 buku yang harus dibaca sebelum wafat. Ada alasan khusus mengapa buku-buku ini masuk dalam list ini. Entah karena ceritanya, ataupun karena legendanya, maksudnya, buku yang dimaksud telah sukses menjadi legenda di dunia perbukuan dunia. Salah satu buku yang berhasil masuk list adalah Life of Pi, karya Yann Martel, seorang Kanada, terbitan tahun 2001. Dilihat sekilas di sinopsis, buku ini seolah hanya menceritakan petualangan seorang anak muda beranjak dewasa bernama Pi dalam bertahan hidup di sebuah sekoci bersama seekor harimau Royal Bengal bernama Richard Parker. Memang, dengan membaca sinopsis ini, telah membuat pembaca tertarik untuk mengetahui lebih dalam kisah Pi ini, namun apakah buku ini hanya sekedar sebuah cerita survival Pi di tengah Samudera Pasifik? Itu pula pandangan dan penilaian saya ketika salah seorang teman membawa buku ini pada sebuah acara di tahun 2011 lalu. Waktu itu, belum mengerti yang namanya list 1001, apalagi buku ini seolah bukan genre saya, jadi ya belum begitu tertarik, hanya tahu sekilas saja. Akhirnya semua itu berubah ketika pertengahan Desember ini saya mulai membaca buku ini...

Tema besar buku ini memang survival. Bayangkan, 227 hari di laut bersama seekor harimau! Umpakan kita yang berada di sekoci itu, apakah yang akan kita lakukan? Untungnya Pi mempunyai bekal dan latar belakang keluarga pemilik binatang, jadi seolah pengendalian terhadap binatang si Pi ini sedikit banyak telah mengerti. Selain survival, ada 2 tema besar yang terkandung di dalam buku ini, dua buah tema yang bisa mengaduk-aduk pemikiran para pembacanya. Yang pertama adalah tentang dunia perkebunbinatangan. Pernahkah kita berpikir, dimanakah sebenarnya hewan-hewan lebih bahagia, di alam bebas atau di kebun binatang? Apabila jawabanmu di alam bebas, maka siap-siaplah “berdebat” dengan Yann Martel tentang konsep ini. Mengapa? Karena di buku ini dijelaskan secara gamblang, bagaimana sebenarnya hewan-hewan tersebut lebih bahagia hidup di kebun binatang, hidup mereka teratur, tak was-was oleh predator, bahkan makan pun teratur. Apakah itu mereka dapatkan di alam bebas? Sekali lagi, silakan “berdebat” dengan Yann Martel apabila tidak setuju. Kedua, dunia teologi pun dibahas disini. Pernah terbayang seseorang yang menganut 3 agama sekaligus? Lihatlah Pi! Islam, Kristen dan Hindu ia jalani sekaligus. Bukan apa-apa, prinsipnya ia hanya mengasihi Tuhan, dan ia juga menikmati beribadah dengan  caranya itu.  Entah, apakah ada di dunia nyata orang yang seperti itu.

Oh ya, ini memang fiksi kok, memang di awal buku seolah si penulis mengisyaratkan ini adalah kisah memoar seorang Pi, tapi ini hanyalah kecerdikan si penulis saja untuk membuat kisah ini seolah nyata dan ada. Unik memang buku ini, petualangan Pi di samudera luas seakan membawa pembacanya ikut berjuang mempertahankan hidup di sekoci. Cara dan gaya bercerita Yann Martel memang sungguh sangat mengalir, sehingga pembaca bisa merasakan, seperti apakah Samudera Pasifik itu. Belum lagi kekocakan-kekocakan yang dibuat mengenai nama-nama tokoh-tokoh yang ada. Seperti awal mula Pi keukeuh mengganti namanya dari Piscine Molitor Patel menjadi hanya Pi Patel saja, sampai bagaimana si harimau mendapatkan nama Richard Parker, sungguh sangat mengocok perut. Penulis juga seolah memang sengaja mem-pas-kan buku ini menjadi 100 bab, ini pulalah yang membuat buku ini lebih unik, karena kita diajak mendengarkan dan membaca cerita yang sedang diceritakan oleh tokoh yang sedang bercerita, yaitu si Pi sendiri.

Film dari buku ini pun sedang booming, sungguh sangat menarik untuk melihat penggambaran dari isi buku ini apabila divisualisasikan. Apalagi Pondicherry, daerah asal Pi, telah banyak disinggung sebagai daerah yang sangat indah. Belum lagi penyatuan seorang manusia dan seekor harimau di dalam sebuah sekoci, sungguh sangat membuat penasaran. Sebab katanya, filmnya bagus. Katanya lho, saya belum nonton soalnya. Jadi intinya, buku ini sungguh sangat layak apabila dimasukkan ke dalam list 1001. Enak dibaca, sudah difilmkan menjadi sangat indah pula, kurang apalagi? Belum lagi makna dan pelajaran yang terkandung di dalamnya, sungguh sangat dalam! 5 bintang untuk buku ini, bravo Yann Martel!

Judul Buku: Kisah Pi (Life Of Pi)
Penulis: Yann Martel
Penerbit:  Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 446 hal.
Rate: 5/5

Minggu, 23 Desember 2012

FYE with Children's Literature



Yak... Challenge lagi nih, kali ini buku-bukunya yang cenderung anak-anak, tapi sebenarnya pengertian anak-anak disini agak absurd juga. Ada buku yang tokohnya anak-anak tapi cerita agak dewasa, tetap aja dibilang buku anak-anak, hihihihi...

Ah, ikutin aja deh, bikin list aja kali ya, biar agak gampang nantinya...

Check it out:

  1. Tunnels by Roderick Gordon and Brian Williams
  2. George's Secret Key to the Universe by Lucy Hawking & Stephen Hawking
  3. Journey to the Center of the Earth by Jules Verne
  4. Mysterious Benedict Society 1 by  Trenton Lee Stewart
  5. The Adventure of Lee Sawyer by Mark Twain
  6. 50 Cerita Islami Terbaik Untuk Anak by Muhamad Yasir
  7. 6 buku Lima Sekawan...
semoga berkenan, dan tantangan ini bisa terlaksana. Lumayan lho hadiahnya #eaaa...

Romance Detective




Raintree adalah sebuah klan dari sebuah keluarga yang mempunyai keahlian khusus. Buku kedua dari trilogy Raintree ini berkisah tentang Gideon Raintree, seorang polisi, atau tepatnya detektif polisi yang condong bekerja tanpa ada rasa keinginan untuk memiliki partner, karena merasa partner hanya mengganggu pekerjaannya saja. Keahlian khusus dari Gideon seperti judul dari buku ini ialah sebagai Pengendali Badai. Badai selalu berasosiasi dengan petir, sedangkan petir dengan listrik, ya, itulah keahlian Gideon. Ia bisa mengeluarkan arus listrik, sehingga peralatan-peralatan elektronik modern menjadi masalah khusus bagi dirinya. Tak ada jalan lain, telepon rumah dan televisi jadul masih bertengger di rumahnya, bahkan penggunaan telepon genggam pun hanya seperlunya saja. Bagaimana tidak, setiap kali sehabis menelepon, telepon genggam itu pasti rusak. Kembali ke masalah pekerjaan tadi. Alasan lain Gideon ogah memiliki partner ialah karena ia bisa berbicara dengan hantu. Arwah-arwah orang yang baru saja dibunuh dapat berbicara dengannya, sehingga tak sulit bagi dirinya untuk mencari siapakah pelaku pembunuhan yang dimaksud. Jelas bukan mengapa ia enggan memiliki partner? Sebenarnya, alasan lain ialah gara-gara Gideon tidak ingin dianggap aneh oleh partnernya gara-gara berbicara sendirian. Padahal ia berbicara dengan sesosok arwah, ya, si korban pembunuhan tersebut.

Kali ini, tejadi pembunuhan misterius di kediaman keponakannya, Echo Raintree. Pembunuhan yang terjadi sebenarnya salah sasaran. Tabby, si pembunuh merupakan anggota klan keluarga Ansara. Raintree dan Ansara merupakan musuh bebuyutan. Keluarga Ansara berniat untuk menghabisi seluruh keluarga Raintree. Tabby diutus untuk membunuh Echo, sialnya, pembunuhan ini salah sasaran, yang terbunuh malah teman satu grup band Echo yang mempunyai ciri-ciri mirip dengan Echo. Tabby yang semula tidak mengetahui misinya telah salah sasaran telah melakukan pembunuhan dengan sangat keji, apalagi di setiap pembunuhan yang Tabby lakukan, ia selalu mempunyai ciri khas, yaitu memotong salah satu bagian tubuh korbannya untuk dijadikan sebuah “oleh-oleh”. Maka Tabby pun melakukan pembunuhan kembali, sebagai umpan untuk memancing Gideon, yang kebetulan ditugaskan untuk menyelidiki kasus pembunuhan ini. Untuk informasi, setelah membunuh Echo, Tabby ditugaskan untuk menghabisi Gideon juga, ini bukan misi yang main-main.

Sementara itu, ketika sedang asyik berkutat dengan penyelidikan, Gideon kedatangan partner baru, kali ini partner barunya seorang wanita, detektif Hope Malory. Seorang detektif yang mempunyai ibu yang agak unik, karena percaya dengan hal-hal yang agak mistis dan supranatural. Gideon, yang keberatan mempunyai partner akhirnya termakan omongannya sendiri untuk tidak terlalu dekat dengan partnernya ini. Apalagi, sesungguhnya Gideon telah bersumpah untuk tidak ingin menikah dan memiliki anak. Kepolosan dan keberanian Malory dalam membantu Gideon walaupun agak disepelekan, telah membuka hati Gideon. Maka, mulailah mereka berdua menyelidiki kasus ini, dengan catatan, Gideon sedikit demi sedikit mulai membuka diri kepada Malory, dimana segala rahasia yang Gideon miliki, seperti berbicara dengan arwah, ia beberkan, sehingga akhirnya Malory tidak lagi merasa aneh dengan sikap Gideon, bahkan cenderung membantunya dalam membuka tabir pembunuhan yang terjadi yang dilakukan oleh Tabby.

Dengan setting sebuah kota di Amerika Serikat bernama Wilmington, yang dibatasi oleh laut, sungguh sangat  berasa deburan ombak dan petir yang menyambar ketika Gideon sedang menyerap kekuatan badai di tepi pantai. Apalagi dengan kediaman Gideon yang berada di tepi pantai, sungguh sangat membuat penasaran bagaimana pemandangan laut yang dapat terlihat dengan jelas dari jendela kamar Gideon.

Perlu diketahui sebelumnya, bahwa buku ini bergenre Harlequin, jadi apa yang terjadi antara Gideon dengan Malory, mengapa akhirnya Gideon bisa kesengsem kepada Malory, bisa tertebak dimana kejadiannya berlangsung. Aneh juga sebenarnya membayangkan dua orang detektif terlibat cinta lokasi yang sedemikian hebatnya. Apalagi, walaupun seorang detektif, kesan bahwa Malory merupakan seseorang yang lemah seolah tercermin apabila mereka sedang berduaan. Sungguh sangat kontradiktif dengan profesi Malory yang seorang detektif, dimana seorang detektif harus merupakan seorang pemberani dan kuat dalam berbagai hal.

Adalagi keunikan lain dari buku ini. Ini adalah buku kedua dari trilogy seperti telah disebutkan di atas. Ketiga buku ini, walaupun sama-sama menceritakan tentang keluarga Raintree, namun ditulis oleh tiga orang yang berbeda. Sungguh sangat menarik membaca keterkaitan antara ketiga buku ini dengan tiga penulis yang berbeda, karena kebetulan saya telah membaca buku pertama dari trilogy ini. Namun seperti pula telah disebutkan di atas, buku ini merupakan genre harlequin, sehingga diutamakan dibaca oleh orang dewasa, karena dikhawatirkan, apabila belum dewasa, buku ini dapat menimbulkan mual kepada pembacanya. Terakhir, bintang 3 untuk buku ini, cerita yang cenderung detektif, genre kesukaan saya, namun terlalu dipaksakan dipadu dengan romansa yang terlalu dewasa membuat buku ini terkesan agak aneh, walaupun tetap seru untuk dibaca.



Judul: Raintree: Haunted
Penulis: Linda Winstead Jones
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 336 hal.
Rate: 3/5

Kamis, 13 Desember 2012

Tantangan Membaca 2013: Misteri dan sejenisnya



Uhuy... Reading Challenge pertama setelah jadi anggota BBI. Kebetulan tantangannya pun iya banget, yaaah, mudah-mudahan buku-bukunya gak BN (bikin ngawang-ngawang) deh.. :p

Makasih buat host kita, mbak HobbyBuku, alias mbak Hob, alias mbak Hobbit :p

Langsung sajah... Listnya adalah *drumroll*:

  1. Misteri Pembunuhan di Usaha Tando by S. Mara Gd.
  2. Wajah Sang Pembunuh by Sidney Sheldon ---> read along
  3. The Girl With Dragon Tattoo by Stieg Larsson ---> read along
  4. B is for Burglar by Sue Grafton ---> read along
  5. Petualangan Sherlock Holmes by Sir Arthur Conan Doyle ---> read along
  6. Misteri Alat Pembuka Amplop by S. Mara Gd.
  7. Dark Hollow by John Connolly ---> read along
  8. Taken at the Flood by Agatha Christie ---> read along
  9. Voodoo by Nick Stone ---> read along
  10. Mysterious Benedict Society by Trenton Lee Stewart
  11. To Kill A Mockingbird by Lee Harper ---> read along
  12. Dracula by Bram Stoker ---> read along

12 dulu aja ya, sebenarnya masih ada sekitar 6 lagi bukunya tante S. Mara Gd dan 2 buku Agatha Christie, kapan-kapan boleh nambah kan? siapa tahu dapet 100k #modus

Mudah-mudahan bisa terrealisasi, amiiin :)

Kamis, 29 November 2012

Aku...




Sebuah kisah kilas balik seorang pengusaha licin yang sukses di masa tuanya. Tidak sembarangan, cerita kilas balik ini seolah ia sendiri yang kembali ke zamannya dahulu, melihat dan mengalami segala hal yang telah diperbuatnya dahulu, sebagai ajang untuk kontemplasi diri bagi yang bersangkutan. Ray, si pengusaha berusia enampuluhan tahun ini diceritakan sedang sakit keras, dan kejadian kembali ke masa lalunya ini terjadi ketika ia sedang sakit ini. Dengan didampingi sesosok yang tidak diketahui asal usulnya, seolah-olah Ray ditunjukkan apa fakta yang terjadi di masa lalu, dan sosok itu pun bersedia menjawab lima pertanyaan besar yang Ray miliki.

Sebuah buku yang unik, dengan setiap judul bab yang berawalkan kata “aku”. Tokoh-tokoh dalam buku ini pun secara mengagetkan akhirnya akan saling berhubungan di dalam jalan cerita lengkapnya. Sebuah perjalanan hidup manusia yang tidak disangka-sangka, dari mulai keterpurukan yang begitu dalam hingga sebuah kegemilangan pada akhirnya. Bisa dikatakan buku ini sangat lengkap dunia pembahasannya. Mulai dari bagaimana kehidupan di panti asuhan, bagaimana kehidupan keras di jalanan, kehidupan di rumah singgah, sampai bagaimana kehidupan menjadi pencuri. Selain itu, kesuksesan Ray dalam berbisnis dan mempengaruhi orang pun diceritakan dengan sangat gamblang di buku ini.

Kehidupan manusia memang naik turun, itu pula yang dialami Ray. Kebahagiannya hidup di dunia dan keahliannya dalam berbisnis tidak diikuti dalam kehidupan rumah tangganya. Memang, ia mempunyai istri yang sempurna, tetapi pernikahannya hanya berlangsung singkat, apalagi ia tidak mempunyai keturunan, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Namun ketidaksempurnaan inilah yang akhirnya membuat lima pertanyaan besar dalam kehidupan Ray, pertanyaan besar yang akhirnya terjawab oleh sesosok manusia yang telah diceritakan di awal tadi.

Sungguh sangat menyenangkan membaca karya tere-liye yang ini. Berbeda dengan buku Sang Penandai yang di mata saya agak mengecewakan, buku ini dapat membawa saya terhanyut dalam jalan ceritanya. Membaca buku ini pula membuat saya sejenak ingin mengumpulkan lima pertanyaan terbesar dalam hidup. Dan semakin dipikirkan, ternyata lima pertanyaan itu terlalu sedikit, karena saya yakin, pasti banyak sekali pertanyaan yang kita sangat ingin tahu jawabannya. Buku ini pun mempunyai makna di dalamnya, dimana bagaimana sebuah lingkungan sangat mempengaruhi sifat seseorang. Ini terbukti ketika Ray berada di panti asuhan dan rumah singgah, sangat berbeda sifat Ray di kedua tempat itu. Tetapi bagaimanapun, sifat asli seseorang, tak peduli bagaimana telah terpengaruhi pasti akan muncul ke permukaan ketika dalam keadaan terdesak dan emosi.

Jalan cerita yang indah, sampai-sampai saya salah menebak siapakah sebenarnya Rinai yang diceritakan di awal buku. Mungkin akan lebih indah apabila Rinai adalah istri dari Ray di masa depan, tetapi tebakan saya ternyata salah, karena Rinai justru merupakan tokoh yang lebih mengejutkan yang kehadirannya baru terungkap di akhir buku. Lima bintang untuk buku ini, dan pertanyaan terakhir, apa lima pertanyaan terbesar dalam kehidupanmu?


Judul: Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
Penulis: tere-liye
Penerbit: Republika
Tebal: 428 hal.
Rate: 5/5

Bukan Eksperimen Malaikat yang Sebenarnya




Bagaimana jika suatu hari dunia ini tiba-tiba kedatangan sebuah spesies unik yang baru saja ditemukan oleh para ilmuwan terpintar? Bayangkan sekelompok spesies baru yang berupa mutan, sebuah rekayasa genetik yang berhasil menggabungkan DNA burung dengan DNA manusia. Lebih jelasnya, bayangkan saja sekelompok manusia yang secara ajaib memiliki sayap di punggungnya.

Itulah kelompok Max dan “adik-adiknya”: Fang, Iggy, Gazzy, Nudge dan Angel. Max sebagai pemimpin merupakan yang paling tua diantara mereka berenam. Sebenarnya usia Max baru empat belas tahun, tetapi gara-gara kemampuan mutan yang mereka miliki, seakan umur empat belas merupakan umur yang telah dewasa. Nama lengkap Max sendiri adalah Maximum Ride, sebuah nama yang ia pilih sendiri, karena sebagai hasil eksperimen, para mutan ini tidak mengetahui siapa orang tua mereka, bahkan mereka pun tak tahu apakah mereka memiliki orang tua atau tidak. Nama Max sendiri menjadi judul dari buku ini, buku yang menjadi serial Maximum Ride. Buku Angel Experiment atau yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Eksperimen Malaikat ini sendiri ialah seri pertama dari Maximum Ride series.

Mengenai tokoh-tokohnya sendiri, para mutan ini memiliki keahlian dan kekhasan masing-masing. Misalnya Iggy, walaupun buta tetapi ia paling peka dalam hal pendengaran, bahkan dia dapat menebak-nebak apa yang akan terjadi atau apa yang sedang mendekati kawanan mutan ini hanya dari suara-suara yang didengarnya. Paling istimewa ialah Angel, baru berusia delapan tahun namun ia memiliki kemampuan membaca pikiran orang lain. Max sendiri sebenarnya tidak terlalu istimewa dalam hal kemampuan bertarung maupun kekuatan-kekuatan semacam itu, tetapi ia berhasil menjadi pengurus rumah tangga yang baik bagi adik-adiknya, terutama setelah “keluarga” mutan ini ditinggal oleh Jeb, orang yang menyelamatkan mutan-mutan ini dari Sekolah (tempat mutan diciptakan), sesosok yang telah dianggap ayah oleh para mutan. Setelah kepergian Jeb ini  (yang mereka pikir telah mati), Max berperan sebagai pemimpin dan kepala keluarga di rumah. Perlu diketahui sejak awal, bahwa Max ini ialah seorang perempuan, karena dari namanya, seringkali kita terkecoh bahwa Max adalah nama seorang laki-laki.

Cerita bermula ketika gerombolan Pemusnah, sekelompok mutan lain, diutus oleh Sekolah untuk menculik Angel dari keluarga ini. Mulai dari sini keluarga mutan ini terbagi menjadi tiga kelompok, Angel yang diculik; Max, Fang dan Nudge yang mencari Angel; dan Iggy dan Nudge, yang ditinggal di rumah dengan alasan karena Iggy buta dan karena Nudge masih terlalu kecil untuk ikut mengejar. Mulai dari sini pula sudut pandang penulis dalam bercerita terbagi menjadi dua, yang pertama dari sudut pandang Max sebagai orang pertama, dan yang kedua memakai sudut pandang orang ketiga dalam menceritakan kejadian yang dialami Angel di Sekolah tempat dia ditawan serta dalam menceritakan Iggy dan Nudge di rumah.

Berkaitan dengan sub-judul buku yang di-Indonesiakan menjadi Eksperimen Malaikat, menurut saya hal ini agak salah kaprah. Karena tidak dijelaskan secara gamblang di buku bahwa ada malaikat yang terlibat di cerita ini. Mungkin judul asli Angel Experiment lebih tepat diartikan sebagai suatu eksperimen baru yang dilakukan oleh Sekolah terhadap Angel yang mereka tawan. Sebagai informasi saja, ternyata kemampuan Angel tidak hanya dalam hal dapat membaca pikiran orang lain setelah mengalami kejadian ini.

Perjalanan Max dan teman-temannya mencari Angel bisa dikatakan sebagai perjalanan yang sangat jauh. Namun dengan sayap dan keahlian terbang yang mereka miliki, jarak tersebut dapat ditempuh dengan waktu yang lebih singkat. Perjalanan udara mereka sendiri pula seakan membawa para pembacanya melihat keindahan alam negeri Paman Sam dari udara. Belum lagi misi sampingan mereka selain menyelamatkan Angel, yaitu mencari keberadaan orang tua para mutan. Hampir seluruh penjuru kota New York dijelajahi, dari Central Park hingga Perpustakaan Nasional, cukup untuk sekedar membayangkan seperti apa keadaan kota New York yang sebenarnya.

Tidak ada hambatan berarti dalam membaca buku ini, selain cerita yang berjalan maju dan mengalir, ukuran font dari buku ini pun bisa dibilang besar, sehingga apabila ukuran font diperkecil mungkin buku ini tidak akan menjadi 500an halaman lebih. Empat bintang untuk buku ini.


Judul: Maximum Ride: Eksperimen Malaikat
Penulis: James Patterson
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 534 hal.
Rate: 4/5

Selasa, 30 Oktober 2012

Jangan Takut Poconggg





Siapa yang takut pada pocong? Tambahlah 2 "g" di belakang namanya, maka akan ditemukanlah pocong yang sama sekali tidak menyeramkan, bahkan pocong ini mampu membuat minat baca anak-anak ABG meningkat. Kenapa? Ya, karena dengan buku si pocong yang berjudul Poconggg Juga Pocong ini, abege yang kebanyakan adalah followers si @poconggg di twitter berbondong-bondong membeli buku yang terbit pertengahan tahun 2011 ini.

Dari segi cerita sendiri, sebenarnya hanya bab-bab awal yang dengan sangat jelas menceritakan bahwa yang bercerita disini adalah benar-benar seikat pocong. Selanjutnya, makin akhir mulai tampak kenarsisan si pocong yang mempunyai nama alias saudara Arief Muhammad ini. Bentuk narsisnya tak jauh-jauh, kebanyakan ia ambil dari kisah dan cerita-cerita seputar twitter dan follower-followernya. Ada pula kegiatan meet and greet bareng poconggg yang diadakan di salah satu mal di Jakarta tak luput beliau masukkan di buku ini.

Sebenarnya, maksud dan tujuan si penulis dalan menyampaikan pesan moral di dalam buku ini cukup baik, sayangnya penyampaian yang memang sengaja dinyeleneh-nyelenehkan membuat pesan moral ini kurang tersalurkan. Coba perhatikan pesan tentang bagaimana sulitnya dan hebatnya perjuangan seorang ibu dalam melahirkan anak. Mungkin saja pesan tentang hal ini lebih banyak terabaikan oleh para pembacanya. Mengapa? Ya, tidak heran sih, sebabnya persalinan sang ibu dibantu oleh dua ikat pocong konyol, sehingga seolah-olah perjuangan sang ibu dalam melahirkan tertutup oleh kekonyolan dua pocong tersebut.

Sebagai hiburan, buku ini lumayan membuat saya tersenyum. Tidak seperti kebanyakan die-hard-fans-book yang memandang remeh buku ini, entah mengapa buku dengan genre seperti ini masih dapat membuat saya membaca buku dengan cepat dan tanpa mengantuk. Bahkan dengan sudut pandang seikat pocong, seolah pembaca diajak untuk tidak takut kepada makhluk halus yang seperti ini. Karena dengan jeli, si penulis mengajak pembaca untuk mengkonyol-konyolkan si pocong dan menganggap dia bukan lagi sebuah ancaman.

Kembali ke jalan cerita, di buku ini pembaca akan disuguhi kisah-kisah pendek tentang petualangan si poconggg. Dijelaskan pula, apa beda antara poconggg dengan pocong. Selain itu, sebagai suatu kekurangan dari buku ini menurut saya ialah terlalu banyaknya hal-hal yang kurang penting, seperti teks lagu, puisi-puisi, serta seperti telah disebutkan di atas, kegiatan narsis si poconggg dan para fansnya. Inilah yang menurut saya membuat buku ini menjadi serba nanggung. Coba apabila bab-bab tersebut dijadikan cerita-cerita pendek tentang petualanagn si poconggg, mungkin saja humor-humor segar ala Hilman atau setidaknya Raditya Dika akan lebih banyak pembaca temui di buku ini. Banyak pula kutipan-kutipan dari twitter @poconggg yang ditampilkan disini, sehingga saya berpikiran jelek bahwa ini sengaja dimasukkan hanya agar halaman buku ini menjadi lebih tebal lagi.

Hm, saya kira buku ini akan menjadi lebih bagus atau setidaknya lebih menghibur apabila ditambahi lebih banyak cerita tentang si poconggg, dan tidak hanya menonjolkan kenarsisan si poconggg gara-gara akun twitternya difollow bejibun-jibun orang. Tapi well, seperti telah disebutkan di atas, saya cukup terhibur dengan buku ini. Mungkin butuh sedikit polesan lagi, dan tidak hanya mengandalkan follower setia untuk membeli buku ini, tetapi lebih rangkullah masyarakat yang lebih umum, karena tidak semua orang bermain twitter. Tiga bintang kurang sedikit, saya kira pantas untuk buku ini.


Judul: Poconggg Juga Pocong
Penulis: @poconggg
Penerbit: Bukune
Tebal: 142 hal.
Rate: 3/5

Minggu, 21 Oktober 2012

Petualangan Berbasis Sains




Ini bukan novel remaja biasa. Pernah membayangkan Prof. Yohanes Surya membuat sebuah kisah fiksi? Dengan mengusung nama TOFI, yang sebenatnya kepanjangan dari Tim Olimpiade Fisika Indonesia, suguhan utama penulis tetap seputar dunia sains dengan si tokoh utama yang bernama sama dengan judul buku, yaitu Tofi. Tofi ialah seorang anak berbakat yang mempunyai saingan dan rival utama di sekolah yang bernama Jupirer. Apalagi dengan kehadiran murid baru yang bernama Miranda, makin kentallah permusuhan mereka. Perseteruan Tofi dan Jupiter ini tak jauh-jauh dari bidang fisika, jadi memang membaca buku ini bisa sekaligus belajar fisika secara menyenangkan.

Persaingan yang terjadi tidak hanya seputar Tofi dan Jupiter. Di pertengahan buku, bahkan hampir sebagian besar buku, adegan yang disajikan lebih kepada perlombaan yang menyerupai Hunger Games. Bedanya, even STG (Science To Generaton) yang dilombakan adalah mengenai dunia pendidikan, tentunya dengan teknologi yang bisa dibilang sudah sangat modern. Tofi dan kawan-kawan mewakili sekolah mereka bersaing dengan tim-tim lain dari berbagai provinsi di Indonesia.

Jadi hanya itu isi buku ini?

Tidak, ternyata misteri di buku pertama ini hanya baru sekedar kulitnya saja. Terdapat konspirasi yang lebih besar yang ternyata sedang dihadapi Tofi dan keluarganya. Tidak main-main, konspirasi yang terjadi ini ternyata berhubungan dengan masa lalu ayah Tofi, Prof. Yomosi, seorang peraih nobel pertama dari Indonesia.

Buku bertema sains dengan campuran kisah cinta remaja serta konspirasi tingkat tinggi ini merupakan jenis cerita baru yang saya baca. Kejelian penulis memperkenalkan dunia sains melalui kisah fiksi ini patut dipuji. Tanpa terasa, banyak pengetahuan baru yang muncul yang bisa kita dapat dari sini. Bayangkan saja, tokoh-tokoh di buku ini saja namanya berkaitan dengan sains, nama planet lah, nama satelitnya lah, bahkan hingga nama zat kimia, pokoknya lengkap semua disini.

Tak ada gading yang tak retak. Begitu pula dengan buku ini. Kisah yang terjadi terkadang melewati detail yang sebenarnya diperlukan. Untuk diketahui, mungkin penulis ingin memberikan faktor kejutan di buku ini. Seperti saat tragedi di Tangkuban Perahu, tanpa tahu hal yang dilakukan, ternyata tiba-tiba terjadi hal yang mencengangkan. Setidaknya penulis memberi petunjuk secara kasar, apa yang tokoh utama sedang lakukan, sehingga tidak membuat pembaca bertanya-tanya, kapan hal ini terjadi. Belum lagi, nampaknya penulis mengalami sindrom narsisme. Ya, siapa yang tak tahu film dan buku Mestakung karangan beliau. Tetapi terlalu banyaknya kata mestakung yang digunakan cukup menganggu bagi saya secara pribadi.

Secara overall, buku ini patut diapresiasi lebih tinggi. Penulis mencoba mendobrak pasaran buku yang ada saat ini dengan genre science seperti ini. Di tengah serbuan genre-genre buku komedi tak jelas, semoga saja buku ini dapat menjadi angin segar dalam dunia perbukuan di Indonesia. Gaya bercerita yang lebih fresh dan mendidik semoga juga dapat menjadi pilihan lain sebagai bahan bacaan. Apalagi dengan konsep membaca sambil belajar, para pelajar SMU ke atas bisa menjadikan buku ini sebagai hiburan di tengah kepenatan belajar. Bintang 4,5 untuk buku ini. Buku pertama setebal 800an halaman yang sangat menimbulkan rasa penasaran bagi para pembacanya.


Judul: Tofi: Perburuan Bintang Sirius
Penulis: Yohanes Surya, Ellen Conny, Sylvia Lim
Penerbit: Kandel 
Tebal: 831 hal.
Rate: 4,5/5

Buku Biru




Maroon, seorang bocah cilik tanpa sengaja bertemu dengan Donald di masa kecilnya. Donald yang ia temui ternyata bukan manusia biasa, tetapi jiwa dari seorang Donald, pemuda berumur 20 tahunan yang sedang mengalami masa kritis di Negeri Lady Di sana. Seiring berjalannya waktu, Donald akhirnya menghilang dari kehidupan Maroon, tetapi di kehiduapn yang nyata, Donald ternyata mencari-cari Maroon, begitupun Maroon, jiwa Donald yang ia temui sungguh sangat memberikan kesan mendalam baginya.

Maroon pun beranjak dewasa, tanpa ia sadari, ia bertemu dengan Donald yang kebetulan sama-sama menjadi dokter. Namun ketika itu ia sama sekali tidak menyadari kalau Donald ini ialah Donald yang ia temui di masa kecilnya. Begitupun Donald, ia tidak menyadari bahwa inilah Maroon yang selama ini ia cari. Kejadian berlalu dengan cepat, akhirnya Donald dan Maroon sama-sama menyadari kalau mereka sebenarnya sedang saling mencari satu sama lain. Mereka pun berhubungan erat, bahkan berpacaran, hingga suatu hari Maroon dan ayahnya terlibat kecelakaan. Ayahnya meninggal, sementara Maroon kehilangan ingatan. Donald pun menjadi orang asing bagi Maroon, dan hubungan mereka kandas seiring dengan ditolaknya pinangan Donald terhadap Maroon. Muncullah David disini, ia mendekati Maroon, bahkan berencana meminangnya pula, sampai suatu ketika, ingatan Maroon pulih kembali...

***

Amore, suatu genre buku baru yang saya baca. Mirip harlequin kali ya kalau di luar negeri sana, tapi tentunya minus adegan-adegan agak panas yang lazim ditemui di harlequin. Kebetulan buku Amore yang pertama saya baca ini merupakan buku yang sangat ngetop di goodreads. Lebih dikenal dengan buku biru, ternyata review-review dari teman-teman goodreads selama ini cukup beralasan mengenai kualitas dari buku ini.

Jujur saja, ide cerita buku ini lumayan seru dan baru. Sesosok jiwa muncul dalam kehidupan manusia, jatuh cinta, dan akhirnya mencari jiwa itu di dalam sesosok manusia yang benar-benar ada dan nyata. Apalagi, dengan judul Memory dan Destiny seolah-olah penulis ingin mencocokkan dengan tokoh utama buku ini, yaitu Maroon, Donald dan David. Lihat, inisial nama mereka sama dengan inisial judul buku bukan? Tetapi sayang seribu sayang, buku-buku metropop yang cinta-cintaan yang saya bisa nikmati ketika baca tidak saya temui di buku ini. Ceritanya benar-benar membosankan dan bertele-tele. Apalagi gaya penulisan si penulis membuat buku ini agak menyebalkan. Pembaca seakan-akan digiring, bahkan diseret untuk memenuhi hasrat si penulis dalam membaca buku dan menyelami hobinya. Bayangkan saja, ada berapa banyak lirik lagu bertebaran di buku ini. Belum lagi masalah hal-hal detail yang terlalu diceritakan, seperti apa itu brunch, gatot, serta banyak lagi hal-hal yang seolah penulis lebaykan disini. Ada juga perandaian tentang rasa manis. Penulis menggambarkan, saking manisnya, semut pun bisa mati gara-gara kebanyakan glukosa, haduuuh.... Gitu banget deh mbak penulis.. Saya rasa, hal-hal yang terkesan detail tak penting mending gak usah masuk buku deh. Hmm, apa ini taktik juga ya buat ngebanyakin halaman? Hihi...

Ah, gak bisa nikmatin saya, untungnya buku ini cuma minjem, jadi gak terlalu nyesel sih udah baca buku ini. Sorry to say, cuma 1 bintang buat buku ini. Dan semoga saja amore-amore selanjutnya yang mungkin saya baca gak separah ini, aaamiiin...


Judul: Memory and Destiny
Penulis: Yunisa K.D.
Tebal: 264 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Mei 2010
Rate: 1/5