Catatan memori kejadian-kejadian yang terjadi, review buku-buku yang telah dibaca, dan peristiwa penting lainnya buat sang tuan rumah :)
Jumat, 28 Desember 2012
And Then There Were More
Oke, ini adalah Blog Event yang khusus tentang mbah Agatha Christie. Kalau saya sendiri mungkin bisa disebut penggemar lama, maka dari itu saya mengikuti kontes yang And Then There Were More ini. Disini saya akan bercerita awal mula berkenalan dengan buku-buku dari Agatha Christie.
Berawal dari kesuntukan anak kelas 3 SMA dikarenakan jenuh oleh pelajaran-pelajaran yang silih berganti menghampiri setiap hari. Didasari pula oleh rasa butuh akan perpustakaan sekolah, maka saya dan teman-teman saya kadang-kadang pergi ke perpustakaan sekolah untuk mencari bahan-bahan yang berkaitan dengan pelajaran. Sama sekali tidak terpikir bahwa bakal ada buku-buku non-pelajaran yang dapat ditemukan disana. Sampai suatu hari, ada sebuah lemari yang sepertinya jarang sekali dibuka. Kebanyakan murid pun tak tahu apa isi dari lemari tersebut. Hingga akhirnya saya dan teman sekelas memberanikan diri bertanya pada penjaga perpustakaan. *Jeng jeng...* Dengan seijinnya, dibukalah lemari tersebut. Isinya? Wow, ternyata buku-buku novel yang kondisinya udah agak buluk banyak tersimpan disana. Jadilah saya dan teman-teman mulai meminjam buku-buku yang ada di lemari tersebut. Bayangkan, hingga tamat SMA, kartu perpustakaan isinya penuh oleh pinjaman buku novel, dan bukannya buku pelajaran XD
Nah, diantara buku-buku itulah terselip buku N atau M dan Empat Besar. Kedua buku itulah yang membuat saya mengenal Agatha Christie. Jujur saja, butuh re-read dan refresh ulang untuk mengingat isi kedua buku tersebut. Udah lama banget soalnya, sekitar 10 tahun yang lalu kayanya. Eh, barusan nge-Goodreads malah kaget juga kalau ternyata N or M itu kisahnya Tommy dan Tuppence :| Maklum, dulu belum benar-benar menggemari buku secara aktif seperti sekarang. Malahan, saya kadang-kadang bertanya-tanya sendiri, kisahnya Tommy Tuppence tuh kaya gimana ya? Sama sekali gak sadar kalau dulu banget pernah baca.
Lalu, apa yang menarik dari kisah saya ini? Kesan mendalam dari buku ini tentu saja ketika saya dan teman-teman mereview dan membicarakan buku yang telah dibaca. Tokoh Hercule Poirot bahkan sangat menempel di benak teman saya, sampai-sampai kadang-kadang ia menyebut-nyebut sel abu-abu ketika sedang membicarakan buku ataupun membicarakan hal lain yang sekiranya berhubungan dengan otak dan berpikir. Hal inilah yang selalu saya ingat sampai sekarang, bahwa sel abu-abu itu identik dengan Hercule Poirot. Sampai malam ini, ketika sedang asyik berselancar di twitter, tiba-tiba ada yang meretweet aku twitter ber-id @selselkelabu. Otomatis, pemikiran saya kembali menerawang ke masa lalu dan mengingat kembali tentang kenangan ini.
Tahun ini, saya ikut pula Mistery Reading Challenge yang diadakan oleh salah seorang member BBI. Istimewanya, ada baca bareng buku-buku Agatha Christie pada sekitar akhir tahun di tahun depan. Semoga dengan adanya event Challenge ini, bisa makin mendekatkan dan mulai membaca-baca lagi buku-buku Agatha Christie yang telah saya baca dan telah saya (agak) lupakan.
Salam...
Happy Birthday Serapium
Sory ye, gw tetep promosiin logo buatan gw, buahahahahahaha...
Inget banget, tahun lalu, waktu masih kerja di hotel *ehm*, lagi ngaskus *lho*, kok tiba-tiba si Forum Buku ini gak ada tulisan Book Review-nya lagi. Ternyata si dia udah jadi forum sendiri, horeee... Padahal mah udah gak terlalu berharap banyak lagi, apalagi udah lama banget ngajuin, bikin trit di KSP, tapi responnya tetep kurang :| apalagi kendalanya adalah di Indonesia umumnya, dan di kaskus khususnya, minat baca itu amat sangat rendah -__-
Oya, ini saat-saat forbuk jadi SF sendiri http://old.kaskus.co.id/showthread.php?t=11205337&page=303 :D
Gw sendiri gabung dengan forum Book Review ini pada tanggal 11-1-11, ini linknya http://old.kaskus.co.id/showthread.php?t=872108&page=259, dan ini SS-nya:
Waktu itu sumpah, sepi banget. Sehari bisa kali tuh lounge gak jalan, apalagi trit-trinya yang lain, hehehe... Syukurnya, gw dapet temen ngejunk yang klop pada diri agan metallisedheart, jadi gak sepi2 amat :p
Waktu itu juga pertama kenalan ama momod Pepohonan, Kveykva, ama VanDaniestha. Sebenarnya tujuan pertama masuk BR dulu itu buat nyari rentalan-rentalan buku, sayangnya akhirnya gak kepake juga tuh rentalan, soalnya udah ada perpus serapium (akhirnya).
Eh, ini gw sekalian liat-liat perbincangan sepuh di old kaskus lho. Kesan gw, dulu itu serius banget omongannya, berhubungan dengan buku, dan tentunya kemajuan forum buku. Tapi entah kenapa, sekarang ini (khususnya sejak gw nongol), loungenya jadi lebih umum, hahahahaha... No probs lah, salah gw juga dulu pengen lounge forbuk rame :p
Kenangan?
Forbuk ini jadi teman sejati gw saat ini. Jujur aja, teman-teman sekolah dan kuliah gw udah pada jauh sekarang, entah pada dimana, mungkin emang udah pada sibuk masing-masing kali ya. Jadinya ya teman saya ini disini ini. Teman maya yang jadi nyata, sekarang ini ketemu teman berfisik nyata ya berawal dari dunia maya ini. Bisa dibilang keluarga kedua gw. Entah kenapa, gw cinta banget sama forum dan kekeluargaan di forbuk ini, susah digambarkan dengan kata-kata, tapi inilah kenyataannya.
Kenangan lain ialah pas gw ultah setahun yang lalu kalo gak salah, di judul lounge secara khusus diganti dengan kata-kata Happy Birthday Dani, so sweet. Adalagi pas kelahiran anak gw, ucapan-ucapan dari teman2 di forbuk ini sungguh sangat berarti buat gw.
Gak (males sebenarnya) terhitung gath-gath dan kopdar dengan teman-teman dari forum buku semenjak pertama kali gw ikut gath mini di Plaza Semanggi bareng mbak Yuli, Ci Yanty, Koh Hendra, Puh Adit, Uni Lisa dan mbak Mila. Itu pertama kali gw ketemu para penggila buku secara langsung. Syukurlah gath mini itu bisa terlaksana, walau memang agak absurd juga cuma 6 orang, hihihihi....
Mengenai membernya sendiri, gw salut dengan terutama perjuangan enthu AdityaHadi. Banyak banget pengorbanan dia demi forbuk ini, salut buat lo bro. Entah bakal jadi besar gini gak forum ini kalau gak ada dia. Satu tahun terakhir ini, gw juga salut sama kontribusi dari member lainnya, mbak enthu Dewok dengan SRC-nya, mbak Alluna dengan segala enthusiast-nya, mbak Selvi dengan semangatnya yang menggebu-gebu. Serta tak ketinggalan member-member lain yang dengan sengaja atau tidak sengaja telah memajukan forum buku ini.
Gw sih berharap, tanggal 3 nanti bener2 jadi gath akbar, semua member datang, dari yang ngaskus taun jebot sampai newcomer, dari bookfreak sampai book kolektor, pokonya semua pecinta buku datang. Kita nostalgia bareng, tukar koleksi buku, dan yang paling utama menjalin persahabatan dan silaturahmi. Jujur aja, gw paling gak suka ama yang namanya debat dan kekerasan DRT, jadi damai aja ya, baca buku, review buku, tuker2an buku. Segala kesalahan saya juga selama berforum di forum buku ini tolong dimaafkan, kalo becanda kelewatan, kalo suka manggil orang sembarangan. Maklum, diktator #eh...
Ah, bingung deh gw, nulis apaan kali ini...
Selamat Ulang Tahun Serapium, You Are Rock Guys!
untuk tulisan lain tentang ultah serapium, silakan cek:
http://t.co/nhVkYY1n
http://t.co/r0b9Gbfw
http://t.co/MEPPkxly
semoga linknya kebuka, kalo gak ya tinggal copas aja :p
Kamis, 27 Desember 2012
Cerita tentang Kapal Terbang
Pernah membayangkan terbang bersama seorang penjahat kawakan
yang dikawal FBI? Atau bahkan terbang dengan bayang-bayang kapal yang kita
tumpangi dibajak oleh seseorang? Sebelum membayangkan terlalu jauh, ada baiknya
angan-angan tersebut kita coba bayangkan dengan membaca buku karya Ken Follett
ini. Mengapa di awal saya menyebut kapal, bukan pesawat terbang? Karena memang
yang diceritakan disini ialah sebuah kapal terbang, bukan pesawat terbang. Satu
hal mencolok yang membedakan ialah, bahwa kapal terbang ini tidak memerlukan
bandara sebagai sarana untuk pendaratannya. Dari namanya saja bisa diketahui
bahwa kapal terbang yaitu sebuah kapal yang bisa terbang. Tentu saja, kapal
identik dengan air, maka kapal terbang ini hanya butuh perairan sebagai sarana
pendaratannya. Kapal terbang yang diceritakan sendiri merupakan kapal terbang
yang nyata dan pernah ada, yaitu kapal Pan American. Kapal ini terbang sekitar
tahun 1930-an, tepatnya tahun 1939, tepat sebelum Perang Dunia II meledak di
Eropa pada khususnya. Kapal terbang ini sendiri merupakan kapal eksklusif
khusus dengan seat terbatas dan tiket yang hanya dibeli oleh orang-orang kaya
saja. Kapal ini sendiri melayani penerbangan dari Eropa ke Amerika dengan
jaminan waktu tempuh yang lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan kapal
laut.
Cerita buku ini sendiri diawali dengan latar belakang
tokoh-tokoh yang nantinya akan terbang menggunakan pesawat ini. Ada seorang
putri bangsawan yang begitu sangat ingin lepas dari keluarganya, ada seorang
pencuri dan penipu ulung yang hingga saatnya menaiki kapal tetap dapat
bersembunyi dibalik identitas palsunya, ada sepasang kekasih yang menjalin
cinta terlarang dimana sebenarnya si wanita telah memiliki suami, ada seorang
wanita pemilik perusahaan sepatu yang menghadapi masalah yang berkaitan dengan
perusahaannya apabila tidak segera pulang ke Amerika, dan yang paling
menegangkan ialah ada seorang awak kapal yang diperintahkan untuk melakukan
pembajakan pesawat oleh sebuah kelompok penjahat di Amerika yang menyandera
isterinya.
Intrik yang kemudian terjadi di kapal ini sungguh sangat
mencengangkan. Misalnya saja asmara terlarang antara si putri bangsawan dan si
penipu, mereka yang tadinya tidak sengaja bertemu di daratan bertemu lagi di
kapal ini. Hingga terjadilah adegan-adegan yang seperti tertera pada label di
bagian belakang buku ini: Novel Dewasa. Ada pula intrik yang terjadi antara
sepasang kekasih gelap yang secara mencengangkan ternyata suami si wanita
tersebut berhasil menyusul ke dalam kapal tersebut. Gawatnya, si suami yang
memang tadinya tidak berencana terbang ke Amerika hanya mendapatkan tiket untuk
Honeymoon Suite bersama si wanita
pemilik perusahaan tadi. Makin pelik ketika si suami ternyata terlibat cinta
lokasi dengan wanita tersebut. Hingga terjadilah cinta segiempat diantara
keempat orang tersebut. Ada pula pergolakan batin pada si awak kapal yang
isterinya disandera sekelompok penjahat, tuganya sebagai teknisi terpaksa
dipertaruhkan dengan cara mengosongkan tangki bahan bakar agar kapal ini bisa
mendarat darurat di tempat yang telah ditentukan dimana para penjahat ini telah
menunggu untuk menyelamatkan salah seorang temannya yang juga penumpang dari
kapal ini.
Dari tulisan saya di atas saya saja telah terbayang
bagaimana kusutnya buku ini, banyak tokoh, banyak konflik, dan juga banyak
adegan syurnya #eh. Tetapi Ken Follett berhasil meramu semua itu menjadi sebuah
cerita yang enak dibaca. Apalagi detail-detail dari pelayanan kapal terbang
eksklusif ini sungguh sangat menggiurkan untuk dicicipi. Belum lagi
fasilitas-fasilitas yang ada di kapal ini, sungguh mencengangkan. Penulis seolah
berhasil membawa pembaca ikut merasakan mewahnya kapal ini. Belum lagi suasana
dan latar belakang buku ini. Sesuai judul buku, Night Over Water, pembaca
seolah diajak untuk menikmati malam di atas samudera Atlantik. Tentunya dengan
segala konflik dan intrik yang terjadi di dalamnya. Menurut saya buku ini
termasuk underrated, dari segi cerita dan pencampuran antara fiksi-nonfiksi,
sebenarnya kisah yang tertulis seperti benar-benar terjadi di masa lampau,
apalagi detail seperti yang saya tulis tadi, sangat mendekati kenyataan yang
mungkin pernah ada. Tetapi buku ini seolah kalah populer dengan buku-buku
lainnya yang banyak beredar, lihat saja bagaimana respon para pembaca tentang
buku ini, mungkin hanya segelintir orang saja yang pernah membacanya. Padahal hal-hal
yang saya tulis tadi sudah lebih dari cukup untuk membuat buku ini untuk direkomendasikan
kepada pecinta buku.
Judul: Night Over Water
Penulis: Ken Follett
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 568 hal.
Rate: 5/5
Rabu, 26 Desember 2012
It's Word Game
Telat banget deh saya baca buku ini, hihihihi... Bahkan seorang
sempat mencibir di sebuah jejaring sosial gara-gara saya terlalu excited
setelah membaca buku ini, padahal buku ini telah terbit beberapa tahun yang
lalu, pastinya udah lama sih :|
Ah, sebenarnya banyak alasan kenapa buku ini terlalu sering
saya pinggirkan untuk dibaca, selain karena ketebalannya, buku semacam ini
cenderung bikin ngawang-ngawang. Jadi ya istilahnya percuma aja baca kalau lama
beresnya, atau baca tapi beberapa saat kemudian lupa apa yang dibaca :))
Oke, jadi intinya buku ini bagus! Indikatornya? Fiksi yang
dianggap nonfiksi itu menurut saya bagus, kenapa? Karena buku itu bisa
sedemikian rupa mempengaruhi pembacanya. Entah, apa pembacanya aja kaya saya
yang mudah dipengaruhi, hihihihi... Selain itu, efek dari bagusnya buku ini
yaitu setelah baca kecenderungan untuk meng-googling bahasan-bahasan yang ada
di buku meningkat sangat pesat. Yah, gak sekedar googling sih, tapi saya juga
sampai mengunggah gambar-gambar buatan Da Vinci di jejaring sosial. The Last Supper
salah satunya, err, sebenarnya ada lagi sih lukisan lainnya, tapi udah agak
lupa, udah agak lama bacanya soalnya, maaf.
Yah, buku ini bisa dikatakan kontroversial, banyak banget
serangan-serangan terhadap sebuah agama di buku ini. Bisa dibilang, harus kuat
iman pada saat membaca buku ini. Disamping isyu tersebut, bisa dikatakan
petualangan Landon dan Neveu di buku ini sangat seru. Mereka berpetualang dari
satu tempat ke tempat lain dengan petunjuk minim yang diberikan oleh mendiang
Sauniere. Tapi ajaibnya, walaupun minim, petunjuk dari Sauniere ini maknanya
sangat luas, saling terkait dan bisa diibaratkan sambung-menyambung. Entah apa
gara-gara si Sauniere ini memang sudah sangat merencanakan hal ini semenjak dia
hidup atau ini hanya rekaan si Dan Brown saja sebagai penulis buku, sehingga
seolah-olah memang si Sauniere ini yang merencanakannya.
Ada lagi hal menarik lain yang diberikan buku ini. Anagram. Yup,
anagram. Permainan kata-kata ini sangat menarik untuk diikuti di buku ini. Mungkin
kalau tidak benar-benar jeli, pesan dari
mendiang Sauniere ini tak akan terpecahkan sama sekali. Nah, apa sih anagram
itu? Mudahnya, jika ada sebuah kata, maka kata lain yang bisa dibentuk dari
kata tersebut bisa dibilang itulah anagramnya. Contohnya: kaset. Sekat merupakan
anagram dari kaset, jadi tinggal membolak-balik kata-kata saja sebenarnya. Tapi
jelas apabila lebih banyak huruf yang dimiliki sebuah kata/nama, maka akan
lebih sulit lagi anagram yang dapat dibentuk. Contoh lain mungkin bisa dilihat
dari nama saya, Dani Noviandi. Anagram dari nama saya salah satunya adalah “I
Did an Innova”, dan anagram nama saya itu telah sukses menjadi id dari akun
twitter saya, hihihihi.
Tapi tidak sepenuhnya buku ini memuaskan, kenapa? Karena saya
pikir si Sauniere ini agak menyebalkan. Tak terbayangkan kalau si penjahat yang
menang dan berhasil menebak seperti apa teka-teki yang dibuat oleh Sauniere
ini, mungkin dia bisa garuk-garuk tembok saking kesalnya, hehe. Eh, tapi
endingnya sebenarnya dalem banget lho, bisa dijadikan pelajaran buat ke
depannya di dalam bidang tersebut apa yang jadi jawaban dari teka-teki si
Sauniere ini. Bidang apa? Mungkin bisa dibaca sendiri bukunya biar gak terkesan
spoiler dan tentunya membuat penasaran :)
Last but not least, terima kasih kepada Mbak Dewi yang telah
meminjamkan saya buku yang luar biasa ini, gak sia-sia saya minjem, soalnya
buku ini berkesan (bintang lima gitu loch) dan sama sekali tidak bikin ngawang
:)
Judul: The Da Vinci Code
Penulis: Dan Brown
Penerbit: Serambi
Tebal: 632 hal.
Rate: 5/5
Antara Kebun Binatang, Teologi dan Survival
Pastinya pembaca buku tahu dengan daftar 1001 buku yang
harus dibaca sebelum wafat. Ada alasan khusus mengapa buku-buku ini masuk dalam
list ini. Entah karena ceritanya, ataupun karena legendanya, maksudnya, buku
yang dimaksud telah sukses menjadi legenda di dunia perbukuan dunia. Salah satu
buku yang berhasil masuk list adalah Life of Pi, karya Yann Martel, seorang
Kanada, terbitan tahun 2001. Dilihat sekilas di sinopsis, buku ini seolah hanya
menceritakan petualangan seorang anak muda beranjak dewasa bernama Pi dalam
bertahan hidup di sebuah sekoci bersama seekor harimau Royal Bengal bernama
Richard Parker. Memang, dengan membaca sinopsis ini, telah membuat pembaca
tertarik untuk mengetahui lebih dalam kisah Pi ini, namun apakah buku ini hanya
sekedar sebuah cerita survival Pi di tengah Samudera Pasifik? Itu pula
pandangan dan penilaian saya ketika salah seorang teman membawa buku ini pada
sebuah acara di tahun 2011 lalu. Waktu itu, belum mengerti yang namanya list
1001, apalagi buku ini seolah bukan genre saya, jadi ya belum begitu tertarik,
hanya tahu sekilas saja. Akhirnya semua itu berubah ketika pertengahan Desember
ini saya mulai membaca buku ini...
Tema besar buku ini memang survival. Bayangkan, 227 hari di
laut bersama seekor harimau! Umpakan kita yang berada di sekoci itu, apakah
yang akan kita lakukan? Untungnya Pi mempunyai bekal dan latar belakang
keluarga pemilik binatang, jadi seolah pengendalian terhadap binatang si Pi ini
sedikit banyak telah mengerti. Selain survival, ada 2 tema besar yang terkandung
di dalam buku ini, dua buah tema yang bisa mengaduk-aduk pemikiran para
pembacanya. Yang pertama adalah tentang dunia perkebunbinatangan. Pernahkah
kita berpikir, dimanakah sebenarnya hewan-hewan lebih bahagia, di alam bebas
atau di kebun binatang? Apabila jawabanmu di alam bebas, maka siap-siaplah
“berdebat” dengan Yann Martel tentang konsep ini. Mengapa? Karena di buku ini
dijelaskan secara gamblang, bagaimana sebenarnya hewan-hewan tersebut lebih
bahagia hidup di kebun binatang, hidup mereka teratur, tak was-was oleh
predator, bahkan makan pun teratur. Apakah itu mereka dapatkan di alam bebas?
Sekali lagi, silakan “berdebat” dengan Yann Martel apabila tidak setuju. Kedua,
dunia teologi pun dibahas disini. Pernah terbayang seseorang yang menganut 3
agama sekaligus? Lihatlah Pi! Islam, Kristen dan Hindu ia jalani sekaligus.
Bukan apa-apa, prinsipnya ia hanya mengasihi Tuhan, dan ia juga menikmati
beribadah dengan caranya itu. Entah, apakah ada di dunia nyata orang yang
seperti itu.
Oh ya, ini memang fiksi kok, memang di awal buku seolah si
penulis mengisyaratkan ini adalah kisah memoar seorang Pi, tapi ini hanyalah
kecerdikan si penulis saja untuk membuat kisah ini seolah nyata dan ada. Unik
memang buku ini, petualangan Pi di samudera luas seakan membawa pembacanya ikut
berjuang mempertahankan hidup di sekoci. Cara dan gaya bercerita Yann Martel
memang sungguh sangat mengalir, sehingga pembaca bisa merasakan, seperti apakah
Samudera Pasifik itu. Belum lagi kekocakan-kekocakan yang dibuat mengenai
nama-nama tokoh-tokoh yang ada. Seperti awal mula Pi keukeuh mengganti namanya
dari Piscine Molitor Patel menjadi hanya Pi Patel saja, sampai bagaimana si
harimau mendapatkan nama Richard Parker, sungguh sangat mengocok perut. Penulis
juga seolah memang sengaja mem-pas-kan buku ini menjadi 100 bab, ini pulalah
yang membuat buku ini lebih unik, karena kita diajak mendengarkan dan membaca
cerita yang sedang diceritakan oleh tokoh yang sedang bercerita, yaitu si Pi
sendiri.
Film dari buku ini pun sedang booming, sungguh sangat
menarik untuk melihat penggambaran dari isi buku ini apabila divisualisasikan.
Apalagi Pondicherry, daerah asal Pi, telah banyak disinggung sebagai daerah
yang sangat indah. Belum lagi penyatuan seorang manusia dan seekor harimau di dalam
sebuah sekoci, sungguh sangat membuat penasaran. Sebab katanya, filmnya bagus.
Katanya lho, saya belum nonton soalnya. Jadi intinya, buku ini sungguh sangat
layak apabila dimasukkan ke dalam list 1001. Enak dibaca, sudah difilmkan
menjadi sangat indah pula, kurang apalagi? Belum lagi makna dan pelajaran yang
terkandung di dalamnya, sungguh sangat dalam! 5 bintang untuk buku ini, bravo
Yann Martel!
Judul Buku: Kisah Pi (Life Of Pi)
Penulis: Yann Martel
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 446 hal.
Rate: 5/5
Minggu, 23 Desember 2012
FYE with Children's Literature
Yak... Challenge lagi nih, kali ini buku-bukunya yang cenderung anak-anak, tapi sebenarnya pengertian anak-anak disini agak absurd juga. Ada buku yang tokohnya anak-anak tapi cerita agak dewasa, tetap aja dibilang buku anak-anak, hihihihi...
Ah, ikutin aja deh, bikin list aja kali ya, biar agak gampang nantinya...
Check it out:
- Tunnels by Roderick Gordon and Brian Williams
- George's Secret Key to the Universe by Lucy Hawking & Stephen Hawking
- Journey to the Center of the Earth by Jules Verne
- Mysterious Benedict Society 1 by Trenton Lee Stewart
- The Adventure of Lee Sawyer by Mark Twain
- 50 Cerita Islami Terbaik Untuk Anak by Muhamad Yasir
- 6 buku Lima Sekawan...
semoga berkenan, dan tantangan ini bisa terlaksana. Lumayan lho hadiahnya #eaaa...
Romance Detective
Raintree adalah sebuah klan dari sebuah keluarga yang
mempunyai keahlian khusus. Buku kedua dari trilogy Raintree ini berkisah
tentang Gideon Raintree, seorang polisi, atau tepatnya detektif polisi yang
condong bekerja tanpa ada rasa keinginan untuk memiliki partner, karena merasa
partner hanya mengganggu pekerjaannya saja. Keahlian khusus dari Gideon seperti
judul dari buku ini ialah sebagai Pengendali Badai. Badai selalu berasosiasi
dengan petir, sedangkan petir dengan listrik, ya, itulah keahlian Gideon. Ia bisa
mengeluarkan arus listrik, sehingga peralatan-peralatan elektronik modern
menjadi masalah khusus bagi dirinya. Tak ada jalan lain, telepon rumah dan
televisi jadul masih bertengger di rumahnya, bahkan penggunaan telepon genggam
pun hanya seperlunya saja. Bagaimana tidak, setiap kali sehabis menelepon,
telepon genggam itu pasti rusak. Kembali ke masalah pekerjaan tadi. Alasan lain
Gideon ogah memiliki partner ialah karena ia bisa berbicara dengan hantu. Arwah-arwah
orang yang baru saja dibunuh dapat berbicara dengannya, sehingga tak sulit bagi
dirinya untuk mencari siapakah pelaku pembunuhan yang dimaksud. Jelas bukan
mengapa ia enggan memiliki partner? Sebenarnya, alasan lain ialah gara-gara
Gideon tidak ingin dianggap aneh oleh partnernya gara-gara berbicara sendirian.
Padahal ia berbicara dengan sesosok arwah, ya, si korban pembunuhan tersebut.
Kali ini, tejadi pembunuhan misterius di kediaman keponakannya,
Echo Raintree. Pembunuhan yang terjadi sebenarnya salah sasaran. Tabby, si
pembunuh merupakan anggota klan keluarga Ansara. Raintree dan Ansara merupakan
musuh bebuyutan. Keluarga Ansara berniat untuk menghabisi seluruh keluarga
Raintree. Tabby diutus untuk membunuh Echo, sialnya, pembunuhan ini salah
sasaran, yang terbunuh malah teman satu grup band Echo yang mempunyai ciri-ciri
mirip dengan Echo. Tabby yang semula tidak mengetahui misinya telah salah
sasaran telah melakukan pembunuhan dengan sangat keji, apalagi di setiap
pembunuhan yang Tabby lakukan, ia selalu mempunyai ciri khas, yaitu memotong
salah satu bagian tubuh korbannya untuk dijadikan sebuah “oleh-oleh”. Maka Tabby
pun melakukan pembunuhan kembali, sebagai umpan untuk memancing Gideon, yang
kebetulan ditugaskan untuk menyelidiki kasus pembunuhan ini. Untuk informasi,
setelah membunuh Echo, Tabby ditugaskan untuk menghabisi Gideon juga, ini bukan
misi yang main-main.
Sementara itu, ketika sedang asyik berkutat dengan
penyelidikan, Gideon kedatangan partner baru, kali ini partner barunya seorang
wanita, detektif Hope Malory. Seorang detektif yang mempunyai ibu yang agak
unik, karena percaya dengan hal-hal yang agak mistis dan supranatural. Gideon,
yang keberatan mempunyai partner akhirnya termakan omongannya sendiri untuk
tidak terlalu dekat dengan partnernya ini. Apalagi, sesungguhnya Gideon telah
bersumpah untuk tidak ingin menikah dan memiliki anak. Kepolosan dan keberanian
Malory dalam membantu Gideon walaupun agak disepelekan, telah membuka hati
Gideon. Maka, mulailah mereka berdua menyelidiki kasus ini, dengan catatan,
Gideon sedikit demi sedikit mulai membuka diri kepada Malory, dimana segala
rahasia yang Gideon miliki, seperti berbicara dengan arwah, ia beberkan,
sehingga akhirnya Malory tidak lagi merasa aneh dengan sikap Gideon, bahkan
cenderung membantunya dalam membuka tabir pembunuhan yang terjadi yang
dilakukan oleh Tabby.
Dengan setting sebuah kota di Amerika Serikat bernama
Wilmington, yang dibatasi oleh laut, sungguh sangat berasa deburan ombak dan petir yang menyambar
ketika Gideon sedang menyerap kekuatan badai di tepi pantai. Apalagi dengan
kediaman Gideon yang berada di tepi pantai, sungguh sangat membuat penasaran
bagaimana pemandangan laut yang dapat terlihat dengan jelas dari jendela kamar
Gideon.
Perlu diketahui sebelumnya, bahwa buku ini bergenre
Harlequin, jadi apa yang terjadi antara Gideon dengan Malory, mengapa akhirnya
Gideon bisa kesengsem kepada Malory, bisa tertebak dimana kejadiannya
berlangsung. Aneh juga sebenarnya membayangkan dua orang detektif terlibat
cinta lokasi yang sedemikian hebatnya. Apalagi, walaupun seorang detektif,
kesan bahwa Malory merupakan seseorang yang lemah seolah tercermin apabila mereka
sedang berduaan. Sungguh sangat kontradiktif dengan profesi Malory yang seorang
detektif, dimana seorang detektif harus merupakan seorang pemberani dan kuat
dalam berbagai hal.
Adalagi keunikan lain dari buku ini. Ini adalah buku kedua
dari trilogy seperti telah disebutkan di atas. Ketiga buku ini, walaupun
sama-sama menceritakan tentang keluarga Raintree, namun ditulis oleh tiga orang
yang berbeda. Sungguh sangat menarik membaca keterkaitan antara ketiga buku ini
dengan tiga penulis yang berbeda, karena kebetulan saya telah membaca buku
pertama dari trilogy ini. Namun seperti pula telah disebutkan di atas, buku ini
merupakan genre harlequin, sehingga diutamakan dibaca oleh orang dewasa, karena
dikhawatirkan, apabila belum dewasa, buku ini dapat menimbulkan mual kepada
pembacanya. Terakhir, bintang 3 untuk buku ini, cerita yang cenderung detektif,
genre kesukaan saya, namun terlalu dipaksakan dipadu dengan romansa yang
terlalu dewasa membuat buku ini terkesan agak aneh, walaupun tetap seru untuk
dibaca.
Kamis, 13 Desember 2012
Tantangan Membaca 2013: Misteri dan sejenisnya
Uhuy... Reading Challenge pertama setelah jadi anggota BBI. Kebetulan tantangannya pun iya banget, yaaah, mudah-mudahan buku-bukunya gak BN (bikin ngawang-ngawang) deh.. :p
Makasih buat host kita, mbak HobbyBuku, alias mbak Hob, alias mbak Hobbit :p
Langsung sajah... Listnya adalah *drumroll*:
- Misteri Pembunuhan di Usaha Tando by S. Mara Gd.
- Wajah Sang Pembunuh by Sidney Sheldon ---> read along
- The Girl With Dragon Tattoo by Stieg Larsson ---> read along
- B is for Burglar by Sue Grafton ---> read along
- Petualangan Sherlock Holmes by Sir Arthur Conan Doyle ---> read along
- Misteri Alat Pembuka Amplop by S. Mara Gd.
- Dark Hollow by John Connolly ---> read along
- Taken at the Flood by Agatha Christie ---> read along
- Voodoo by Nick Stone ---> read along
- Mysterious Benedict Society by Trenton Lee Stewart
- To Kill A Mockingbird by Lee Harper ---> read along
- Dracula by Bram Stoker ---> read along
12 dulu aja ya, sebenarnya masih ada sekitar 6 lagi bukunya tante S. Mara Gd dan 2 buku Agatha Christie, kapan-kapan boleh nambah kan? siapa tahu dapet 100k #modus
Mudah-mudahan bisa terrealisasi, amiiin :)
Kamis, 29 November 2012
Aku...
Sebuah kisah kilas balik seorang pengusaha licin yang sukses
di masa tuanya. Tidak sembarangan, cerita kilas balik ini seolah ia sendiri
yang kembali ke zamannya dahulu, melihat dan mengalami segala hal yang telah
diperbuatnya dahulu, sebagai ajang untuk kontemplasi diri bagi yang
bersangkutan. Ray, si pengusaha berusia enampuluhan tahun ini diceritakan
sedang sakit keras, dan kejadian kembali ke masa lalunya ini terjadi ketika ia
sedang sakit ini. Dengan didampingi sesosok yang tidak diketahui asal usulnya,
seolah-olah Ray ditunjukkan apa fakta yang terjadi di masa lalu, dan sosok itu
pun bersedia menjawab lima pertanyaan besar yang Ray miliki.
Sebuah buku yang unik, dengan setiap judul bab yang
berawalkan kata “aku”. Tokoh-tokoh dalam buku ini pun secara mengagetkan
akhirnya akan saling berhubungan di dalam jalan cerita lengkapnya. Sebuah
perjalanan hidup manusia yang tidak disangka-sangka, dari mulai keterpurukan
yang begitu dalam hingga sebuah kegemilangan pada akhirnya. Bisa dikatakan buku
ini sangat lengkap dunia pembahasannya. Mulai dari bagaimana kehidupan di panti
asuhan, bagaimana kehidupan keras di jalanan, kehidupan di rumah singgah,
sampai bagaimana kehidupan menjadi pencuri. Selain itu, kesuksesan Ray dalam
berbisnis dan mempengaruhi orang pun diceritakan dengan sangat gamblang di buku
ini.
Kehidupan manusia memang naik turun, itu pula yang dialami
Ray. Kebahagiannya hidup di dunia dan keahliannya dalam berbisnis tidak diikuti
dalam kehidupan rumah tangganya. Memang, ia mempunyai istri yang sempurna,
tetapi pernikahannya hanya berlangsung singkat, apalagi ia tidak mempunyai
keturunan, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Namun ketidaksempurnaan inilah
yang akhirnya membuat lima pertanyaan besar dalam kehidupan Ray, pertanyaan
besar yang akhirnya terjawab oleh sesosok manusia yang telah diceritakan di
awal tadi.
Sungguh sangat menyenangkan membaca karya tere-liye yang
ini. Berbeda dengan buku Sang Penandai yang di mata saya agak mengecewakan,
buku ini dapat membawa saya terhanyut dalam jalan ceritanya. Membaca buku ini
pula membuat saya sejenak ingin mengumpulkan lima pertanyaan terbesar dalam
hidup. Dan semakin dipikirkan, ternyata lima pertanyaan itu terlalu sedikit,
karena saya yakin, pasti banyak sekali pertanyaan yang kita sangat ingin tahu
jawabannya. Buku ini pun mempunyai makna di dalamnya, dimana bagaimana sebuah
lingkungan sangat mempengaruhi sifat seseorang. Ini terbukti ketika Ray berada
di panti asuhan dan rumah singgah, sangat berbeda sifat Ray di kedua tempat
itu. Tetapi bagaimanapun, sifat asli seseorang, tak peduli bagaimana telah
terpengaruhi pasti akan muncul ke permukaan ketika dalam keadaan terdesak dan
emosi.
Jalan cerita yang indah, sampai-sampai saya salah menebak
siapakah sebenarnya Rinai yang diceritakan di awal buku. Mungkin akan lebih
indah apabila Rinai adalah istri dari Ray di masa depan, tetapi tebakan saya
ternyata salah, karena Rinai justru merupakan tokoh yang lebih mengejutkan yang
kehadirannya baru terungkap di akhir buku. Lima bintang untuk buku ini, dan
pertanyaan terakhir, apa lima pertanyaan terbesar dalam kehidupanmu?
Judul: Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
Penulis: tere-liye
Penerbit: Republika
Tebal: 428 hal.
Rate: 5/5
Bukan Eksperimen Malaikat yang Sebenarnya
Bagaimana jika suatu hari dunia ini tiba-tiba kedatangan
sebuah spesies unik yang baru saja ditemukan oleh para ilmuwan terpintar?
Bayangkan sekelompok spesies baru yang berupa mutan, sebuah rekayasa genetik
yang berhasil menggabungkan DNA burung dengan DNA manusia. Lebih jelasnya,
bayangkan saja sekelompok manusia yang secara ajaib memiliki sayap di
punggungnya.
Itulah kelompok Max dan “adik-adiknya”: Fang, Iggy, Gazzy,
Nudge dan Angel. Max sebagai pemimpin merupakan yang paling tua diantara mereka
berenam. Sebenarnya usia Max baru empat belas tahun, tetapi gara-gara kemampuan
mutan yang mereka miliki, seakan umur empat belas merupakan umur yang telah
dewasa. Nama lengkap Max sendiri adalah Maximum Ride, sebuah nama yang ia pilih
sendiri, karena sebagai hasil eksperimen, para mutan ini tidak mengetahui siapa
orang tua mereka, bahkan mereka pun tak tahu apakah mereka memiliki orang tua
atau tidak. Nama Max sendiri menjadi judul dari buku ini, buku yang menjadi
serial Maximum Ride. Buku Angel Experiment atau yang diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia menjadi Eksperimen Malaikat ini sendiri ialah seri pertama
dari Maximum Ride series.
Mengenai tokoh-tokohnya sendiri, para mutan ini memiliki
keahlian dan kekhasan masing-masing. Misalnya Iggy, walaupun buta tetapi ia
paling peka dalam hal pendengaran, bahkan dia dapat menebak-nebak apa yang akan
terjadi atau apa yang sedang mendekati kawanan mutan ini hanya dari suara-suara
yang didengarnya. Paling istimewa ialah Angel, baru berusia delapan tahun namun
ia memiliki kemampuan membaca pikiran orang lain. Max sendiri sebenarnya tidak
terlalu istimewa dalam hal kemampuan bertarung maupun kekuatan-kekuatan semacam
itu, tetapi ia berhasil menjadi pengurus rumah tangga yang baik bagi
adik-adiknya, terutama setelah “keluarga” mutan ini ditinggal oleh Jeb, orang
yang menyelamatkan mutan-mutan ini dari Sekolah (tempat mutan diciptakan),
sesosok yang telah dianggap ayah oleh para mutan. Setelah kepergian Jeb ini (yang mereka pikir telah mati), Max berperan
sebagai pemimpin dan kepala keluarga di rumah. Perlu diketahui sejak awal,
bahwa Max ini ialah seorang perempuan, karena dari namanya, seringkali kita
terkecoh bahwa Max adalah nama seorang laki-laki.
Cerita bermula ketika gerombolan Pemusnah, sekelompok mutan
lain, diutus oleh Sekolah untuk menculik Angel dari keluarga ini. Mulai dari
sini keluarga mutan ini terbagi menjadi tiga kelompok, Angel yang diculik; Max,
Fang dan Nudge yang mencari Angel; dan Iggy dan Nudge, yang ditinggal di rumah
dengan alasan karena Iggy buta dan karena Nudge masih terlalu kecil untuk ikut
mengejar. Mulai dari sini pula sudut pandang penulis dalam bercerita terbagi
menjadi dua, yang pertama dari sudut pandang Max sebagai orang pertama, dan
yang kedua memakai sudut pandang orang ketiga dalam menceritakan kejadian yang
dialami Angel di Sekolah tempat dia ditawan serta dalam menceritakan Iggy dan
Nudge di rumah.
Berkaitan dengan sub-judul buku yang di-Indonesiakan menjadi
Eksperimen Malaikat, menurut saya hal ini agak salah kaprah. Karena tidak
dijelaskan secara gamblang di buku bahwa ada malaikat yang terlibat di cerita
ini. Mungkin judul asli Angel Experiment lebih tepat diartikan sebagai suatu
eksperimen baru yang dilakukan oleh Sekolah terhadap Angel yang mereka tawan.
Sebagai informasi saja, ternyata kemampuan Angel tidak hanya dalam hal dapat
membaca pikiran orang lain setelah mengalami kejadian ini.
Perjalanan Max dan teman-temannya mencari Angel bisa
dikatakan sebagai perjalanan yang sangat jauh. Namun dengan sayap dan keahlian
terbang yang mereka miliki, jarak tersebut dapat ditempuh dengan waktu yang
lebih singkat. Perjalanan udara mereka sendiri pula seakan membawa para
pembacanya melihat keindahan alam negeri Paman Sam dari udara. Belum lagi misi
sampingan mereka selain menyelamatkan Angel, yaitu mencari keberadaan orang tua
para mutan. Hampir seluruh penjuru kota New York dijelajahi, dari Central Park
hingga Perpustakaan Nasional, cukup untuk sekedar membayangkan seperti apa
keadaan kota New York yang sebenarnya.
Tidak ada hambatan berarti dalam membaca buku ini, selain
cerita yang berjalan maju dan mengalir, ukuran font dari buku ini pun bisa
dibilang besar, sehingga apabila ukuran font diperkecil mungkin buku ini tidak
akan menjadi 500an halaman lebih. Empat bintang untuk buku ini.
Judul: Maximum Ride: Eksperimen Malaikat
Penulis: James Patterson
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 534 hal.
Rate: 4/5
Selasa, 30 Oktober 2012
Jangan Takut Poconggg
Siapa yang takut pada pocong?
Tambahlah 2 "g" di belakang namanya, maka akan ditemukanlah pocong
yang sama sekali tidak menyeramkan, bahkan pocong ini mampu membuat minat baca
anak-anak ABG meningkat. Kenapa? Ya, karena dengan buku si pocong yang berjudul
Poconggg Juga Pocong ini, abege yang kebanyakan adalah followers si @poconggg
di twitter berbondong-bondong membeli buku yang terbit pertengahan tahun 2011
ini.
Dari segi cerita sendiri,
sebenarnya hanya bab-bab awal yang dengan sangat jelas menceritakan bahwa yang
bercerita disini adalah benar-benar seikat pocong. Selanjutnya, makin akhir
mulai tampak kenarsisan si pocong yang mempunyai nama alias saudara Arief
Muhammad ini. Bentuk narsisnya tak jauh-jauh, kebanyakan ia ambil dari kisah
dan cerita-cerita seputar twitter dan follower-followernya. Ada pula kegiatan
meet and greet bareng poconggg yang diadakan di salah satu mal di Jakarta tak
luput beliau masukkan di buku ini.
Sebenarnya, maksud dan tujuan
si penulis dalan menyampaikan pesan moral di dalam buku ini cukup baik,
sayangnya penyampaian yang memang sengaja dinyeleneh-nyelenehkan membuat pesan
moral ini kurang tersalurkan. Coba perhatikan pesan tentang bagaimana sulitnya
dan hebatnya perjuangan seorang ibu dalam melahirkan anak. Mungkin saja pesan
tentang hal ini lebih banyak terabaikan oleh para pembacanya. Mengapa? Ya,
tidak heran sih, sebabnya persalinan sang ibu dibantu oleh dua ikat pocong
konyol, sehingga seolah-olah perjuangan sang ibu dalam melahirkan tertutup oleh
kekonyolan dua pocong tersebut.
Sebagai hiburan, buku ini
lumayan membuat saya tersenyum. Tidak seperti kebanyakan die-hard-fans-book
yang memandang remeh buku ini, entah mengapa buku dengan genre seperti ini
masih dapat membuat saya membaca buku dengan cepat dan tanpa mengantuk. Bahkan
dengan sudut pandang seikat pocong, seolah pembaca diajak untuk tidak takut
kepada makhluk halus yang seperti ini. Karena dengan jeli, si penulis mengajak
pembaca untuk mengkonyol-konyolkan si pocong dan menganggap dia bukan lagi sebuah
ancaman.
Kembali ke jalan cerita, di
buku ini pembaca akan disuguhi kisah-kisah pendek tentang petualangan si
poconggg. Dijelaskan pula, apa beda antara poconggg dengan pocong. Selain itu,
sebagai suatu kekurangan dari buku ini menurut saya ialah terlalu banyaknya
hal-hal yang kurang penting, seperti teks lagu, puisi-puisi, serta seperti
telah disebutkan di atas, kegiatan narsis si poconggg dan para fansnya. Inilah
yang menurut saya membuat buku ini menjadi serba nanggung. Coba apabila bab-bab
tersebut dijadikan cerita-cerita pendek tentang petualanagn si poconggg,
mungkin saja humor-humor segar ala Hilman atau setidaknya Raditya Dika akan
lebih banyak pembaca temui di buku ini. Banyak pula kutipan-kutipan dari
twitter @poconggg yang ditampilkan disini, sehingga saya berpikiran jelek bahwa
ini sengaja dimasukkan hanya agar halaman buku ini menjadi lebih tebal lagi.
Hm, saya kira buku ini akan
menjadi lebih bagus atau setidaknya lebih menghibur apabila ditambahi lebih
banyak cerita tentang si poconggg, dan tidak hanya menonjolkan kenarsisan si
poconggg gara-gara akun twitternya difollow bejibun-jibun orang. Tapi well,
seperti telah disebutkan di atas, saya cukup terhibur dengan buku ini. Mungkin
butuh sedikit polesan lagi, dan tidak hanya mengandalkan follower setia untuk
membeli buku ini, tetapi lebih rangkullah masyarakat yang lebih umum, karena
tidak semua orang bermain twitter. Tiga bintang kurang sedikit, saya kira
pantas untuk buku ini.
Judul: Poconggg Juga Pocong
Penulis: @poconggg
Penerbit: Bukune
Tebal: 142 hal.
Rate: 3/5
Minggu, 21 Oktober 2012
Petualangan Berbasis Sains
Ini bukan novel remaja biasa.
Pernah membayangkan Prof. Yohanes Surya membuat sebuah kisah fiksi? Dengan mengusung
nama TOFI, yang sebenatnya kepanjangan dari Tim Olimpiade Fisika Indonesia,
suguhan utama penulis tetap seputar dunia sains dengan si tokoh utama yang bernama
sama dengan judul buku, yaitu Tofi. Tofi ialah seorang anak berbakat yang mempunyai
saingan dan rival utama di sekolah yang bernama Jupirer. Apalagi dengan
kehadiran murid baru yang bernama Miranda, makin kentallah permusuhan mereka.
Perseteruan Tofi dan Jupiter ini tak jauh-jauh dari bidang fisika, jadi memang
membaca buku ini bisa sekaligus belajar fisika secara menyenangkan.
Persaingan yang terjadi tidak
hanya seputar Tofi dan Jupiter. Di pertengahan buku, bahkan hampir sebagian
besar buku, adegan yang disajikan lebih kepada perlombaan yang menyerupai
Hunger Games. Bedanya, even STG (Science To Generaton) yang dilombakan adalah
mengenai dunia pendidikan, tentunya dengan teknologi yang bisa dibilang sudah
sangat modern. Tofi dan kawan-kawan mewakili sekolah mereka bersaing dengan
tim-tim lain dari berbagai provinsi di Indonesia.
Jadi hanya itu isi buku ini?
Tidak, ternyata misteri di
buku pertama ini hanya baru sekedar kulitnya saja. Terdapat konspirasi yang
lebih besar yang ternyata sedang dihadapi Tofi dan keluarganya. Tidak
main-main, konspirasi yang terjadi ini ternyata berhubungan dengan masa lalu
ayah Tofi, Prof. Yomosi, seorang peraih nobel pertama dari Indonesia.
Buku bertema sains dengan
campuran kisah cinta remaja serta konspirasi tingkat tinggi ini merupakan jenis
cerita baru yang saya baca. Kejelian penulis memperkenalkan dunia sains melalui
kisah fiksi ini patut dipuji. Tanpa terasa, banyak pengetahuan baru yang muncul
yang bisa kita dapat dari sini. Bayangkan saja, tokoh-tokoh di buku ini saja
namanya berkaitan dengan sains, nama planet lah, nama satelitnya lah, bahkan
hingga nama zat kimia, pokoknya lengkap semua disini.
Tak ada gading yang tak retak.
Begitu pula dengan buku ini. Kisah yang terjadi terkadang melewati detail yang
sebenarnya diperlukan. Untuk diketahui, mungkin penulis ingin memberikan faktor
kejutan di buku ini. Seperti saat tragedi di Tangkuban Perahu, tanpa tahu hal
yang dilakukan, ternyata tiba-tiba terjadi hal yang mencengangkan. Setidaknya penulis
memberi petunjuk secara kasar, apa yang tokoh utama sedang lakukan, sehingga
tidak membuat pembaca bertanya-tanya, kapan hal ini terjadi. Belum lagi,
nampaknya penulis mengalami sindrom narsisme. Ya, siapa yang tak tahu film dan
buku Mestakung karangan beliau. Tetapi terlalu banyaknya kata mestakung yang
digunakan cukup menganggu bagi saya secara pribadi.
Secara overall, buku ini patut
diapresiasi lebih tinggi. Penulis mencoba mendobrak pasaran buku yang ada saat
ini dengan genre science seperti ini. Di tengah serbuan genre-genre buku komedi
tak jelas, semoga saja buku ini dapat menjadi angin segar dalam dunia perbukuan
di Indonesia. Gaya bercerita yang lebih fresh dan mendidik semoga juga dapat menjadi
pilihan lain sebagai bahan bacaan. Apalagi dengan konsep membaca sambil
belajar, para pelajar SMU ke atas bisa menjadikan buku ini sebagai hiburan di
tengah kepenatan belajar. Bintang 4,5 untuk buku ini. Buku pertama setebal
800an halaman yang sangat menimbulkan rasa penasaran bagi para pembacanya.
Judul: Tofi: Perburuan Bintang Sirius
Penulis: Yohanes Surya, Ellen Conny, Sylvia Lim
Penerbit: Kandel
Tebal: 831 hal.
Rate: 4,5/5
Buku Biru
Maroon, seorang bocah cilik
tanpa sengaja bertemu dengan Donald di masa kecilnya. Donald yang ia temui
ternyata bukan manusia biasa, tetapi jiwa dari seorang Donald, pemuda berumur
20 tahunan yang sedang mengalami masa kritis di Negeri Lady Di sana. Seiring
berjalannya waktu, Donald akhirnya menghilang dari kehidupan Maroon, tetapi di
kehiduapn yang nyata, Donald ternyata mencari-cari Maroon, begitupun Maroon, jiwa
Donald yang ia temui sungguh sangat memberikan kesan mendalam baginya.
Maroon pun beranjak dewasa,
tanpa ia sadari, ia bertemu dengan Donald yang kebetulan sama-sama menjadi
dokter. Namun ketika itu ia sama sekali tidak menyadari kalau Donald ini ialah
Donald yang ia temui di masa kecilnya. Begitupun Donald, ia tidak menyadari
bahwa inilah Maroon yang selama ini ia cari. Kejadian berlalu dengan cepat,
akhirnya Donald dan Maroon sama-sama menyadari kalau mereka sebenarnya sedang
saling mencari satu sama lain. Mereka pun berhubungan erat, bahkan berpacaran,
hingga suatu hari Maroon dan ayahnya terlibat kecelakaan. Ayahnya meninggal,
sementara Maroon kehilangan ingatan. Donald pun menjadi orang asing bagi
Maroon, dan hubungan mereka kandas seiring dengan ditolaknya pinangan Donald
terhadap Maroon. Muncullah David disini, ia mendekati Maroon, bahkan berencana
meminangnya pula, sampai suatu ketika, ingatan Maroon pulih kembali...
***
Amore, suatu genre buku baru
yang saya baca. Mirip harlequin kali ya kalau di luar negeri sana, tapi
tentunya minus adegan-adegan agak panas yang lazim ditemui di harlequin.
Kebetulan buku Amore yang pertama saya baca ini merupakan buku yang sangat
ngetop di goodreads. Lebih dikenal dengan buku biru, ternyata review-review
dari teman-teman goodreads selama ini cukup beralasan mengenai kualitas dari buku
ini.
Jujur saja, ide cerita buku
ini lumayan seru dan baru. Sesosok jiwa muncul dalam kehidupan manusia, jatuh
cinta, dan akhirnya mencari jiwa itu di dalam sesosok manusia yang benar-benar
ada dan nyata. Apalagi, dengan judul Memory dan Destiny seolah-olah penulis
ingin mencocokkan dengan tokoh utama buku ini, yaitu Maroon, Donald dan David.
Lihat, inisial nama mereka sama dengan inisial judul buku bukan? Tetapi sayang
seribu sayang, buku-buku metropop yang cinta-cintaan yang saya bisa nikmati
ketika baca tidak saya temui di buku ini. Ceritanya benar-benar membosankan dan
bertele-tele. Apalagi gaya penulisan si penulis membuat buku ini agak
menyebalkan. Pembaca seakan-akan digiring, bahkan diseret untuk memenuhi hasrat
si penulis dalam membaca buku dan menyelami hobinya. Bayangkan saja, ada berapa
banyak lirik lagu bertebaran di buku ini. Belum lagi masalah hal-hal detail
yang terlalu diceritakan, seperti apa itu brunch, gatot, serta banyak lagi hal-hal
yang seolah penulis lebaykan disini. Ada juga perandaian tentang rasa manis. Penulis
menggambarkan, saking manisnya, semut pun bisa mati gara-gara kebanyakan
glukosa, haduuuh.... Gitu banget deh mbak penulis.. Saya rasa, hal-hal yang terkesan
detail tak penting mending gak usah masuk buku deh. Hmm, apa ini taktik juga ya
buat ngebanyakin halaman? Hihi...
Ah, gak bisa nikmatin saya,
untungnya buku ini cuma minjem, jadi gak terlalu nyesel sih udah baca buku ini.
Sorry to say, cuma 1 bintang buat buku ini. Dan semoga saja amore-amore
selanjutnya yang mungkin saya baca gak separah ini, aaamiiin...
Judul: Memory and Destiny
Penulis: Yunisa K.D.
Tebal: 264 hal.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Mei 2010
Rate: 1/5
Langganan:
Postingan (Atom)



