Tampilkan postingan dengan label SRC2012. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SRC2012. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Desember 2012

Romance Detective




Raintree adalah sebuah klan dari sebuah keluarga yang mempunyai keahlian khusus. Buku kedua dari trilogy Raintree ini berkisah tentang Gideon Raintree, seorang polisi, atau tepatnya detektif polisi yang condong bekerja tanpa ada rasa keinginan untuk memiliki partner, karena merasa partner hanya mengganggu pekerjaannya saja. Keahlian khusus dari Gideon seperti judul dari buku ini ialah sebagai Pengendali Badai. Badai selalu berasosiasi dengan petir, sedangkan petir dengan listrik, ya, itulah keahlian Gideon. Ia bisa mengeluarkan arus listrik, sehingga peralatan-peralatan elektronik modern menjadi masalah khusus bagi dirinya. Tak ada jalan lain, telepon rumah dan televisi jadul masih bertengger di rumahnya, bahkan penggunaan telepon genggam pun hanya seperlunya saja. Bagaimana tidak, setiap kali sehabis menelepon, telepon genggam itu pasti rusak. Kembali ke masalah pekerjaan tadi. Alasan lain Gideon ogah memiliki partner ialah karena ia bisa berbicara dengan hantu. Arwah-arwah orang yang baru saja dibunuh dapat berbicara dengannya, sehingga tak sulit bagi dirinya untuk mencari siapakah pelaku pembunuhan yang dimaksud. Jelas bukan mengapa ia enggan memiliki partner? Sebenarnya, alasan lain ialah gara-gara Gideon tidak ingin dianggap aneh oleh partnernya gara-gara berbicara sendirian. Padahal ia berbicara dengan sesosok arwah, ya, si korban pembunuhan tersebut.

Kali ini, tejadi pembunuhan misterius di kediaman keponakannya, Echo Raintree. Pembunuhan yang terjadi sebenarnya salah sasaran. Tabby, si pembunuh merupakan anggota klan keluarga Ansara. Raintree dan Ansara merupakan musuh bebuyutan. Keluarga Ansara berniat untuk menghabisi seluruh keluarga Raintree. Tabby diutus untuk membunuh Echo, sialnya, pembunuhan ini salah sasaran, yang terbunuh malah teman satu grup band Echo yang mempunyai ciri-ciri mirip dengan Echo. Tabby yang semula tidak mengetahui misinya telah salah sasaran telah melakukan pembunuhan dengan sangat keji, apalagi di setiap pembunuhan yang Tabby lakukan, ia selalu mempunyai ciri khas, yaitu memotong salah satu bagian tubuh korbannya untuk dijadikan sebuah “oleh-oleh”. Maka Tabby pun melakukan pembunuhan kembali, sebagai umpan untuk memancing Gideon, yang kebetulan ditugaskan untuk menyelidiki kasus pembunuhan ini. Untuk informasi, setelah membunuh Echo, Tabby ditugaskan untuk menghabisi Gideon juga, ini bukan misi yang main-main.

Sementara itu, ketika sedang asyik berkutat dengan penyelidikan, Gideon kedatangan partner baru, kali ini partner barunya seorang wanita, detektif Hope Malory. Seorang detektif yang mempunyai ibu yang agak unik, karena percaya dengan hal-hal yang agak mistis dan supranatural. Gideon, yang keberatan mempunyai partner akhirnya termakan omongannya sendiri untuk tidak terlalu dekat dengan partnernya ini. Apalagi, sesungguhnya Gideon telah bersumpah untuk tidak ingin menikah dan memiliki anak. Kepolosan dan keberanian Malory dalam membantu Gideon walaupun agak disepelekan, telah membuka hati Gideon. Maka, mulailah mereka berdua menyelidiki kasus ini, dengan catatan, Gideon sedikit demi sedikit mulai membuka diri kepada Malory, dimana segala rahasia yang Gideon miliki, seperti berbicara dengan arwah, ia beberkan, sehingga akhirnya Malory tidak lagi merasa aneh dengan sikap Gideon, bahkan cenderung membantunya dalam membuka tabir pembunuhan yang terjadi yang dilakukan oleh Tabby.

Dengan setting sebuah kota di Amerika Serikat bernama Wilmington, yang dibatasi oleh laut, sungguh sangat  berasa deburan ombak dan petir yang menyambar ketika Gideon sedang menyerap kekuatan badai di tepi pantai. Apalagi dengan kediaman Gideon yang berada di tepi pantai, sungguh sangat membuat penasaran bagaimana pemandangan laut yang dapat terlihat dengan jelas dari jendela kamar Gideon.

Perlu diketahui sebelumnya, bahwa buku ini bergenre Harlequin, jadi apa yang terjadi antara Gideon dengan Malory, mengapa akhirnya Gideon bisa kesengsem kepada Malory, bisa tertebak dimana kejadiannya berlangsung. Aneh juga sebenarnya membayangkan dua orang detektif terlibat cinta lokasi yang sedemikian hebatnya. Apalagi, walaupun seorang detektif, kesan bahwa Malory merupakan seseorang yang lemah seolah tercermin apabila mereka sedang berduaan. Sungguh sangat kontradiktif dengan profesi Malory yang seorang detektif, dimana seorang detektif harus merupakan seorang pemberani dan kuat dalam berbagai hal.

Adalagi keunikan lain dari buku ini. Ini adalah buku kedua dari trilogy seperti telah disebutkan di atas. Ketiga buku ini, walaupun sama-sama menceritakan tentang keluarga Raintree, namun ditulis oleh tiga orang yang berbeda. Sungguh sangat menarik membaca keterkaitan antara ketiga buku ini dengan tiga penulis yang berbeda, karena kebetulan saya telah membaca buku pertama dari trilogy ini. Namun seperti pula telah disebutkan di atas, buku ini merupakan genre harlequin, sehingga diutamakan dibaca oleh orang dewasa, karena dikhawatirkan, apabila belum dewasa, buku ini dapat menimbulkan mual kepada pembacanya. Terakhir, bintang 3 untuk buku ini, cerita yang cenderung detektif, genre kesukaan saya, namun terlalu dipaksakan dipadu dengan romansa yang terlalu dewasa membuat buku ini terkesan agak aneh, walaupun tetap seru untuk dibaca.



Judul: Raintree: Haunted
Penulis: Linda Winstead Jones
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 336 hal.
Rate: 3/5

Kamis, 29 November 2012

Bukan Eksperimen Malaikat yang Sebenarnya




Bagaimana jika suatu hari dunia ini tiba-tiba kedatangan sebuah spesies unik yang baru saja ditemukan oleh para ilmuwan terpintar? Bayangkan sekelompok spesies baru yang berupa mutan, sebuah rekayasa genetik yang berhasil menggabungkan DNA burung dengan DNA manusia. Lebih jelasnya, bayangkan saja sekelompok manusia yang secara ajaib memiliki sayap di punggungnya.

Itulah kelompok Max dan “adik-adiknya”: Fang, Iggy, Gazzy, Nudge dan Angel. Max sebagai pemimpin merupakan yang paling tua diantara mereka berenam. Sebenarnya usia Max baru empat belas tahun, tetapi gara-gara kemampuan mutan yang mereka miliki, seakan umur empat belas merupakan umur yang telah dewasa. Nama lengkap Max sendiri adalah Maximum Ride, sebuah nama yang ia pilih sendiri, karena sebagai hasil eksperimen, para mutan ini tidak mengetahui siapa orang tua mereka, bahkan mereka pun tak tahu apakah mereka memiliki orang tua atau tidak. Nama Max sendiri menjadi judul dari buku ini, buku yang menjadi serial Maximum Ride. Buku Angel Experiment atau yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Eksperimen Malaikat ini sendiri ialah seri pertama dari Maximum Ride series.

Mengenai tokoh-tokohnya sendiri, para mutan ini memiliki keahlian dan kekhasan masing-masing. Misalnya Iggy, walaupun buta tetapi ia paling peka dalam hal pendengaran, bahkan dia dapat menebak-nebak apa yang akan terjadi atau apa yang sedang mendekati kawanan mutan ini hanya dari suara-suara yang didengarnya. Paling istimewa ialah Angel, baru berusia delapan tahun namun ia memiliki kemampuan membaca pikiran orang lain. Max sendiri sebenarnya tidak terlalu istimewa dalam hal kemampuan bertarung maupun kekuatan-kekuatan semacam itu, tetapi ia berhasil menjadi pengurus rumah tangga yang baik bagi adik-adiknya, terutama setelah “keluarga” mutan ini ditinggal oleh Jeb, orang yang menyelamatkan mutan-mutan ini dari Sekolah (tempat mutan diciptakan), sesosok yang telah dianggap ayah oleh para mutan. Setelah kepergian Jeb ini  (yang mereka pikir telah mati), Max berperan sebagai pemimpin dan kepala keluarga di rumah. Perlu diketahui sejak awal, bahwa Max ini ialah seorang perempuan, karena dari namanya, seringkali kita terkecoh bahwa Max adalah nama seorang laki-laki.

Cerita bermula ketika gerombolan Pemusnah, sekelompok mutan lain, diutus oleh Sekolah untuk menculik Angel dari keluarga ini. Mulai dari sini keluarga mutan ini terbagi menjadi tiga kelompok, Angel yang diculik; Max, Fang dan Nudge yang mencari Angel; dan Iggy dan Nudge, yang ditinggal di rumah dengan alasan karena Iggy buta dan karena Nudge masih terlalu kecil untuk ikut mengejar. Mulai dari sini pula sudut pandang penulis dalam bercerita terbagi menjadi dua, yang pertama dari sudut pandang Max sebagai orang pertama, dan yang kedua memakai sudut pandang orang ketiga dalam menceritakan kejadian yang dialami Angel di Sekolah tempat dia ditawan serta dalam menceritakan Iggy dan Nudge di rumah.

Berkaitan dengan sub-judul buku yang di-Indonesiakan menjadi Eksperimen Malaikat, menurut saya hal ini agak salah kaprah. Karena tidak dijelaskan secara gamblang di buku bahwa ada malaikat yang terlibat di cerita ini. Mungkin judul asli Angel Experiment lebih tepat diartikan sebagai suatu eksperimen baru yang dilakukan oleh Sekolah terhadap Angel yang mereka tawan. Sebagai informasi saja, ternyata kemampuan Angel tidak hanya dalam hal dapat membaca pikiran orang lain setelah mengalami kejadian ini.

Perjalanan Max dan teman-temannya mencari Angel bisa dikatakan sebagai perjalanan yang sangat jauh. Namun dengan sayap dan keahlian terbang yang mereka miliki, jarak tersebut dapat ditempuh dengan waktu yang lebih singkat. Perjalanan udara mereka sendiri pula seakan membawa para pembacanya melihat keindahan alam negeri Paman Sam dari udara. Belum lagi misi sampingan mereka selain menyelamatkan Angel, yaitu mencari keberadaan orang tua para mutan. Hampir seluruh penjuru kota New York dijelajahi, dari Central Park hingga Perpustakaan Nasional, cukup untuk sekedar membayangkan seperti apa keadaan kota New York yang sebenarnya.

Tidak ada hambatan berarti dalam membaca buku ini, selain cerita yang berjalan maju dan mengalir, ukuran font dari buku ini pun bisa dibilang besar, sehingga apabila ukuran font diperkecil mungkin buku ini tidak akan menjadi 500an halaman lebih. Empat bintang untuk buku ini.


Judul: Maximum Ride: Eksperimen Malaikat
Penulis: James Patterson
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 534 hal.
Rate: 4/5

Selasa, 30 Oktober 2012

Jangan Takut Poconggg





Siapa yang takut pada pocong? Tambahlah 2 "g" di belakang namanya, maka akan ditemukanlah pocong yang sama sekali tidak menyeramkan, bahkan pocong ini mampu membuat minat baca anak-anak ABG meningkat. Kenapa? Ya, karena dengan buku si pocong yang berjudul Poconggg Juga Pocong ini, abege yang kebanyakan adalah followers si @poconggg di twitter berbondong-bondong membeli buku yang terbit pertengahan tahun 2011 ini.

Dari segi cerita sendiri, sebenarnya hanya bab-bab awal yang dengan sangat jelas menceritakan bahwa yang bercerita disini adalah benar-benar seikat pocong. Selanjutnya, makin akhir mulai tampak kenarsisan si pocong yang mempunyai nama alias saudara Arief Muhammad ini. Bentuk narsisnya tak jauh-jauh, kebanyakan ia ambil dari kisah dan cerita-cerita seputar twitter dan follower-followernya. Ada pula kegiatan meet and greet bareng poconggg yang diadakan di salah satu mal di Jakarta tak luput beliau masukkan di buku ini.

Sebenarnya, maksud dan tujuan si penulis dalan menyampaikan pesan moral di dalam buku ini cukup baik, sayangnya penyampaian yang memang sengaja dinyeleneh-nyelenehkan membuat pesan moral ini kurang tersalurkan. Coba perhatikan pesan tentang bagaimana sulitnya dan hebatnya perjuangan seorang ibu dalam melahirkan anak. Mungkin saja pesan tentang hal ini lebih banyak terabaikan oleh para pembacanya. Mengapa? Ya, tidak heran sih, sebabnya persalinan sang ibu dibantu oleh dua ikat pocong konyol, sehingga seolah-olah perjuangan sang ibu dalam melahirkan tertutup oleh kekonyolan dua pocong tersebut.

Sebagai hiburan, buku ini lumayan membuat saya tersenyum. Tidak seperti kebanyakan die-hard-fans-book yang memandang remeh buku ini, entah mengapa buku dengan genre seperti ini masih dapat membuat saya membaca buku dengan cepat dan tanpa mengantuk. Bahkan dengan sudut pandang seikat pocong, seolah pembaca diajak untuk tidak takut kepada makhluk halus yang seperti ini. Karena dengan jeli, si penulis mengajak pembaca untuk mengkonyol-konyolkan si pocong dan menganggap dia bukan lagi sebuah ancaman.

Kembali ke jalan cerita, di buku ini pembaca akan disuguhi kisah-kisah pendek tentang petualangan si poconggg. Dijelaskan pula, apa beda antara poconggg dengan pocong. Selain itu, sebagai suatu kekurangan dari buku ini menurut saya ialah terlalu banyaknya hal-hal yang kurang penting, seperti teks lagu, puisi-puisi, serta seperti telah disebutkan di atas, kegiatan narsis si poconggg dan para fansnya. Inilah yang menurut saya membuat buku ini menjadi serba nanggung. Coba apabila bab-bab tersebut dijadikan cerita-cerita pendek tentang petualanagn si poconggg, mungkin saja humor-humor segar ala Hilman atau setidaknya Raditya Dika akan lebih banyak pembaca temui di buku ini. Banyak pula kutipan-kutipan dari twitter @poconggg yang ditampilkan disini, sehingga saya berpikiran jelek bahwa ini sengaja dimasukkan hanya agar halaman buku ini menjadi lebih tebal lagi.

Hm, saya kira buku ini akan menjadi lebih bagus atau setidaknya lebih menghibur apabila ditambahi lebih banyak cerita tentang si poconggg, dan tidak hanya menonjolkan kenarsisan si poconggg gara-gara akun twitternya difollow bejibun-jibun orang. Tapi well, seperti telah disebutkan di atas, saya cukup terhibur dengan buku ini. Mungkin butuh sedikit polesan lagi, dan tidak hanya mengandalkan follower setia untuk membeli buku ini, tetapi lebih rangkullah masyarakat yang lebih umum, karena tidak semua orang bermain twitter. Tiga bintang kurang sedikit, saya kira pantas untuk buku ini.


Judul: Poconggg Juga Pocong
Penulis: @poconggg
Penerbit: Bukune
Tebal: 142 hal.
Rate: 3/5

Rabu, 08 Agustus 2012

Belajar Mitologi Mesir dari Buku ini



Ini buku Rick Riordan yang pertama kali saya baca. Sempat skeptis juga dengan buku-buku yang jenisnya fantasi, apalagi buku ini tebalnya lebih dari 500 halaman. Apakah saya bisa menikmatinya? Trauma dengan jenis buku ini di bulan lalu akhirnya tidak menyurutkan langkah untuk tetap melanjutkan buku ini, daripada poin terpotong -1, apalagi bukunya udah ada di depan mata, lanjut deh.

Buku ini jujur saja mengingatkan saya kepada bukunya Michael Scott yang berjudul The Secret of The Immortal Nicholas Flamel, tokoh utama buku ini yang kakak-beradik, serta mitologi-mitologi yang ada dan diceritakan, hampir sama, mungkin perbedaan mencoloknya pada si Dewi Kucing kali ya, di bukunya Scott, Bastet digambarkan sebagai musuh dari Flamel, sedangkan di buku ini justru Bast(et) menjadi “ pengasuh Sadie dan Carter, tokoh utama buku ini. Syukurlah, jalan cerita buku ini agak berbeda dengan bukunya Scott. Petualangan Carter dan Sadie dimulai ketika ayah mereka secara tak sengaja (atau sengaja?) terkubur dalam peti mati dan membebaskan lima dewa. Nah, dari kelima dewa ini, ada salah satu dewa yang ingin menguasai dunia, dia adalah Set. Carter dan Sadie yang ada di tempat kejadian pada saat itu otomatis menjadi shock dan juga ingin membebaskan ayah mereka. Namun ada satu kendala lain lagi, Dewan Kehidupan yang ditinggal pimpinan lamanya pun terjebak dendam pribadi terhadap keluarga Kane, sehingga mau tak mau Carter dan Sadie pun turut dikejar oleh mereka. Apalagi ada kejutan lain yang muncul, bahwa sebenarnya Carter dan Sadie adalah penyihir, keturunan firaun, dan tubuh mereka digunakan sebagai perantara dari dewa yang kabur tadi, yaitu Horus dan Isis.

Setting dari buku ini berpindah-pindah, seakan-akan kita diajak traveling mengelilingi dunia hanya dalam jentikan jari. Dari Amerika pindah ke Mesir, lalu pindah ke Prancis, pindah lagi ke Amerika. Hal ini tidaklah mengherankan, karena kekuatan dewa, dan berkat adanya portal penghubung di setiap tempat, maka Carter dan Sadie bisa berpindah tempat secara cepat guna menghindari kejaran dari Dewan kehidupan yang memburu mereka. Sambil berlatih untuk mengasah kemampuan menyihirnya untuk membebaskan sang ayah, mereka terlibat petualangan seru di dunia nyata maupun di dunia fana (duat). Dengan ditemani oleh Bast dan Amos (paman mereka) serta seekor babun (ternyata babun, bukan babon) bernama Khufu, akhirnya mereka berhasil menemui Set dan ditemui oleh Dewan Kehidupan, sehingga dimulailah pertempuran antara mereka.

Dengan PoV dari dua orang yang berbeda, buku ini memberikan sudut pandang lain dalam membaca. Kadang-kadang kita menjadi Carter, kadang-kadang pula menjadi Sadie. Bercerita ala rekaman, muncul juga humor-humor segar pertengkaran adik kakak antara Sadie dan Carter. Masih bingung dengan kata-kata “bercerita ala rekaman”? Jadi begini, buku ini ialah salinan rekaman yang dilakukan Carter dan Sadie tentang petualangan mereka dalam menjadi penyihir. Entah dimana posisi mereka sekarang, yang jelas di akhir buku, kamu akan ditantang untuk bergabung dengan mereka dalam menyelamatkan dunia ini. Dengan kata sandi yang tepat, lakukanlah intruksi yang ada di dalam buku ini, siapa tahu kamulah yang nantinya menjadi rekan mereka dalam menyelamatkan dunia.

Sayangnya, buku ini terbit di tahun sekarang ini. Soalnya, buku ini bisa menjadi bahan untuk mempelajari sejarah bangsa Mesir, terutama mengenai dewa-dewi yang mereka miliki. Beruntuglah anak sekolah yang sedang belajar tentang mitologi Mesir dan kebetulan membaca buku ini, karena mereka bisa sekalian belajar sejarah sambil membaca buku cerita. Akhir kata, saya beri rate buku ini 4 dari 5 bintang, pecinta buku fantasi sejenis Nicholas Flamel, pasti akan menyukai buku ini juga.



Judul: The Red Pyramid
Penulis: Rick Riordan
Penerbit: Mizan Fantasi
Terbit: Oktober 2011
Tebal: 518 hal.
Rate: 4/5

Jumat, 06 Juli 2012

Ah, Cinta. Jangan Ikuti Aku...




Don’t follow me ever...

Kata itu ada di dalam buku Evermore ini, dan artinya memang ambigu, karena tokoh wanita utama di novel ini adalah Ever. Jadi, kalimat don’t follow me ever itu bisa berarti Jangan pernah ikuti aku, atau Ever, jangan ikuti aku! Nah, ambigu yang mau saya bahas adalah ambigu yang pertama. Ya, jangan pernah ikuti aku dalam memilih buku ini sebagai buku tantangan SRC! Frontal ya? Peace to ramundro ama mbak Laras, tapi saya tidak bisa menikmati buku ini. 400-an halaman buku yang biasanya bisa dilahap sekitar 3 hari, ini melebar dan memulur menjadi seminggu.

Lalu apa masalahnya? Dilihat dari cover dan judul, Evermore, seri Immortal, jujur aja mengingatkan saya kepada salah satu novel fantasi terbaik versi saya, yaitu Immortal of Nicholas Flamel. Tapi apa mau dikata, buku ini sangat mengecewakan. Bayangkan saja, dari awal buku saja saya sudah dibuat kecewa. Buka halaman awal, ada endorsment-nya. Saya yang biasanya membaca endorsment belakangan, terjebak membaca endorsment ini. Bukan 1-2 halaman, tapi sampai 9 halaman! Oh my, apalagi baca pas malem-malem, keburu ngantuk duluan abis baca endorsment, walhasil bab 1 terpaksa dipending dulu.

Masalah lain yaitu mengenai nama tokoh. Ah, namanya aneh-aneh: Ever, Damen, Drina, Miles, Ava, Riley (nama cewek), Haven, dll. IMO, nama-nama itu bukan nama yang familiar di dunia perbukuan, apalagi di dunia nyata! Kalau satu-dua yang memakai nama aneh mungkin gak masalah, tapi ini hampir semua tokoh, ah...

Alur buku ini maju, ayo terus maju, sampai-sampai jeda antar dua kejadian langsung terjadi begitu saja, begitu cepat. Misalkan saja, Ever sedang berada di kamarnya berbincang dengan Riley, kemudian mereka pergi ke sekolah. Eh, tiba-tiba saja Ever telah sampai di sekolah, berbincang dengan Damen, dan memarkir mobil dii tempat biasanya. Catatan lain, masalah parkir-mobil-di-tempat-biasa-di-sekolah hampir setiap bab yang menceritakan tentang Ever di sekolah, pasti ada bagian ini, entah berapa kali diulang. Belum lagi adegan makan di kantin, Haven makan cuppycake, Miles minum VitaminWater, sama juga berulang-ulang, ah.. (lagi)

Masih penasaran sama ceritanya? As I say tadi, alur majuuu, tapi kok dari awal buku sampai tengah buku yang dibahas masalah cintaaaa mulu antara Damen dan Ever. Lucunya, baru ketauan Immortalnya justru di tengah-tengah buku, tapi itu juga gak sampai jelas apakah Damen itu, vampirkah, manusia serigalakah, atau memang hanya manusia abadi. Nah, penyebab keabadiannya juga kurang jelas, tidak ada penegasan secara resmi kalau Damen gara-gara blablabla jadi Immortal, nothing. Intinya adalah, Ever adalah seorang gadis yang kehilangan seluruh keluarganya dalam sebuah kecelakaan. Setelah kecelakaan itu, terjadi sesuatu pada Ever, dia jadi bisa melihat aura orang lain (list warna-warna aura ada di bagian depan buku), membaca pikiran orang dengan cara menyentuhnya dan yang paling mengejutkan, dia bisa bicara dengan adiknya yang sudah meninggal, Riley. Akibat kecelakaan ini juga, akhirnya Ever tinggal bersama tantenya, pindah dari rumah Ever sebelumnya. Di kota barunya ini, Ever yang mukanya tercetak bekas luka gara-gara kecelakaan, disebut Si Orang Aneh oleh teman-temannya. Sampai suatu saat, muncullah Damen (ganteng, sempurna, namun warna auranya tak bisa Ever rasakan), tanpa bakbikbuk, deketlah mereka, HTS, pacaran, kencan, bolos sekolah, gado-gadolah... yang paling spesial adalah pemberian bunga Tulip merah bagi Ever, hampir setiap hari selama masa pacaran mereka.  Nah, semua berubah ketika Drina muncul. Ternyata menurut pengakuan Drina, dialah istri dari Damen di masa lalu, dan Ever, memang sejak dahulu kala sudah menjadi penghambat antara Drina dan Damen. Terjadilah pertempuran nanggung antara Drina dan Ever di 1/9 akhir bagian buku, ah (lagi), pertempurannya juga gitu-gitu doang, mengecewakan lah.

Jadi, semua tergantung kalian semua, tertarik gak sama buku ini. Jangan pernah baca review ini dengan emosi, karena gak penting juga, toh ini subyektif, buku ada untuk dikomentari kok. Senangnya saya, coba deh lihat rating teman-teman di goodreads, ternyata banyak yang sependapat, hihihi.. jadi sekali lagi, peace buat ramundro ama mbak Laras. :D

Tunggu deh, ada dua kutipan menarik nih:
Memaafkan itu menyembuhkan, terutama menyembuhkan diri sendiri.
Jadi maafkan apabila ada yang tersinggung dengan review ini :O
Berhati-hatilah akan apa yang kau sampaikan, karena kau mungkin saja akan mendapatkannya
Nah, mungkin saja kan, saya bisa menang SRC dengan review ini :P


Evermore by Alyson Noel
Rate 2/5


Kamis, 14 Juni 2012

Sleep No More by Greg Iles




Novel ini merupakan salah satu dari sekian banyak karya penulis novel misteri kenamaan, Greg Iles. Sama halnya dalam novel lainnya, The Footprints of God, sekali lagi Greg Iles mengajak kita berpetualang menguak sebuah misteri dahsyat. Misteri yang membuat Anda terus terjaga sepanjang malam. Jadi, jangan baca buku ini jika Anda masih menginginkan tidur yang lelap!



Sempat skeptis juga baca sinopsis buku ini, sebabnya adalah buku ini tetap bikin ngantuk di awal-awal ceritanya, alurnya agak lambat, actionnya masih belum muncul, dan tokoh-tokohnya pun masih adem ayem, sangat sedikit konflik, lebih banyak bercerita tentang masa lalu. Nah, di pertengahan buku sampai akhir, barulah misteri dahsyat ini mulai terkuak, mulai terbuka semua, tak sabar ingin segera menghabiskan buku ini, dan jujur saja baru sekarang lagi sensasi membaca buku saya rasakan kembali. 

Kehadiran Eve Sumner membuat Waters terperangah. Bukan karena Eve cantik dan memesona. Lebih dari itu, Eve adalah juga Malorie, yang selalu terobsesi dengannya. Mustahil memang mengingat Malorie telah terbunuh beberapa tahun yang lalu. Lantas, siapa Eve sebenarnya? Benarkah ia hanya mengarang cerita tentang jatidirinya? Apa hubungan mereka sebenarnya? Apakah Malorie benar-benar sudah mati? Waters harus tahu jawaban semua pertanyaan itu. Jika tidak, ia akan kehilangan seluruh anggota keluarganya. 


Awal dari sinopsis buku ini, langsung muncul typo antara Mallory di dalam buku dan Malorie di bagian belakang buku (sinopsis), entah kalau dua nama ini punya arti yang sama di luar negeri sana. Tapi sebagai orang Indonesia, tetap ingat kata-kata William Shakespeare:  “Apalah Arti Sebuah Nama”.

Penuh misteri, membuat bertanya-tanya, bahkan saya sendiri sampai menebak-nebak, kira-kira apa yang terjadi pada Eve, mengapa dia bisa sangat mirip dan bahkan tahu rahasia-rahasia terbesar Mallory. Mallory sendiri ialah mantan pacar John Walters semenjak muda, hingga akhirnya dia tewas sepuluh tahun yang lalu. Sebelum tewas, ternyata Mallory sempat berkehendak untuk membunuh Walters, dengan alasan dia sangat mencintai Walters, sehingga setiap kali muncul rasa cemburu dalam dirinya, emosi dan nafsu untuk membunuh Walters itu muncul, dua kali sudah percobaan pembunuhan itu dilakukan.

Ternyata, semua ini memang berawal dari masa lalu. Banyak kejadian masa lalu terkuak setelah Eve alias Mallory ditemukan tewas setelah tidur bersama Waters. Bagaimana masa lalu Mallory yang begitu kelam, sampai-sampai menjadi korban kekerasan seksual dari seseorang yang sangat dekat dengannya. Bagaimana ternyata sahabat dan istri Walters ternyata pernah punya hubungan di masa muda. Hingga kisah mengapa Walters dan istrinya hanya dikaruniai seorang anak padahal Lily, sang istri sempat hamil lagi sampai dua kali.

Proses pencarian dan pemecahan teka-teki kematian Eve mencapai puncaknya ketika Walters ditemani oleh pengacara dan juga sahabatnya, Penn, dalam merunut peristiwa-peristiwa logis yang terjadi diantara hidup Walters dan sekelilingnya. Disini kita diajak ikut berpikir, apakah tudingan Penn terhadap sahabat dan istri Walters bahwa mereka ikut terlibat dalam konspirasi pembunuhan ini adalah benar. Ataukah memang Mallory itu sebenarnya masih hidup, dan semua hal yang terjadi di luar nalar Walters dan terutama hukum, adalah hal yang nyata, dan bisa dibuktikan. Bukan sekedar kejadian mistis yang tidak mungkin untuk dilakukan.

Bisa dibilang buku ini sangat rapi, walaupun cukup banyak adegan seks yang tersirat, namun tidak dibuat tersurat dalam buku ini. Begitu pula dengan selera sang penulis, Greg Iles, yang juga pernah tergabung dalam grup musik Frankly Scarlet, dia tidak segan untuk menulis hal-hal yang ada di dunia modern ini, seperti penyebutan merk mobil, hingga penyebutan judul buku lain, seperti Harry Potter dan Lord of the Ring, sehingga kesannya buku ini memang merupakan buku yang berdasarkan kisah nyata dan bukan hanya fiksi belaka. Cerita dari buku ini sendiri menurut saya sangat pantas untuk difilmkan, sehingga kita bisa melihat, apakah fenomena tentang jiwa yang merasuk itu benar-benar terjadi di dunia nyata, ataukah hanya sekedar fiksi.

Buku ini pantas untuk mendapatkan rate 4 dari 5 bintang.

Kamis, 03 Mei 2012

Tentang Kenyataan dan Realita Hidup, Kebahagiaan dan Kesempurnaan


Mak 
ingin kubawa kau pada rumah mimpimu 
yang dari dalamnya terpancar keindahan Ilahi 
dan berjuta tanda kebesaran-Nya 

Tapi Mak 
tanganku terlalu lemah dan daya yang kupunya 
seperti hembusan angin melintas celah batu karang 

Mak 
rumah mimpimu 
entah kapan kupersembahkan 
tapi ia selalu ada dalam doaku




Mungkin tidak semua orang memanggil ibunya emak... (dan itu pasti)
Mungkin juga tidak semua orang (karena keanekaragaman agama yang ada di Indonesia) ingin membawa ibunya naik haji...
Tapi satu yang pasti, seorang anak HARUS mencintai ibunya, apapun yang terjadi.
Jadi, sangat wajar jika keinginan meng-haji-kan ibu masing-masing sangat kuat terpancar dari dalam diri seorang anak, tentunya anak yang berbakti, yang sayang kepada ibunya.

Seperti juga Zein di buku ini, hidup hanya berdua dengan ibunya dalam keadaan yang pas-pasan, Zein harus miris setiap kali ibunya mengungkapkan cita-citanya untuk pergi berhaji. Bukan Zein tidak mau mengabulkan, tetapi pekerjaannya yang sulit dengan penghasilan yang pas-pasan pula, tidak memungkinkan Zein untuk membahagiakan ibunya dengan membiayainya naik haji.

Berbeda dengan keluarga Zein, sang tetangga, keluarga Pak Haji, hampir setiap tahun menunaikan ibadah haji, bahkan kadang-kadang mengadakan ibadah haji bareng dengan para artis dan selebritis yang mereka kenal.

Membaca kisah ini, bukan cerita baru di Indonesia ini bahwa sangat banyak para orangtua yang mendambakan untuk beribadah haji namun memiliki kendala dalam hal biaya. Di sisi lain, bukan cerita baru pula bahwa banyak orang-orang yang memang mampu dan mereka menunaikan ibadah haji hampir setiap tahun, entah dengan tujuan apa, hanya hati mereka masing-masinglah yang tahu. Mengenai jamaah haji yang menunaikan ibadah haji setiap tahun ini pun, sebenarnya bukan hal yang terlalu benar, karena hal tersebut memang tidak dianjurkan oleh agama, selain dapat menimbulkan sifat riya dan kecemburuan sosial dari orang lain, lebih bermanfaat apabila uang tersebut dipakai untuk beramal dan menyantuni orang-orang yang kurang mampu (correct me if i wrong).

Kecermatan Asma Nadia dalam membaca situasi inilah yang akhirnya membawa cerita Emak Ingin Naik Haji dari buku kumpulan cerita ini difilmkan. Saya belum nonton filmnya dan penasaran juga, bagaimanakah cerita Emak Ingin Naik Haji ini dalam bentuk film, sebab cerita ini sendiri hanya cerita pendek, yang mungkin hanya akan menjadi sebuah film pendek pula apabila difilmkan.


Buku ini sebenarnya merupakan kumpulan 12 cerita pendek yang ditulis oleh Asma Nadia dengan melihat keadaan sekitar kita. Sehingga dengan membaca buku ini, kita dapat dengan mudah mengetahui kenyataan apa yang sebenarnya terjadi di sekeliling kita. Gaya cerita mbak Asma yang tidak bertele-tele dan to the point sangat menarik dan ringan untuk dibaca, juga membawa renungan kepada para pembacanya, bagaimana hidup itu tidak seindah yang dibayangkan, banyak masalah dan problematika hidup yang nyata terjadi di sekitar kita.


Emak Ingin Naik Haji tersebut merupakan cerita pembuka kumcer ini. Salah satu cerita yang sangat saya sukai di buku ini ialah cerita penutup buku ini, cerita yang memang sangat pantas untuk menjadi penutup, karena entah kenapa cerita terakhir ini sangat membuat hati saya trenyuh.

Judul cerita terakhir ini Cinta Laki-laki Biasa, saya kutip salah satu kalimatnya:
“Sebab ketika bahagia, alasan-alasan bagaimana pun menjadi tidak penting”
Ya, tidak ada yang lebih penting di dalam sebuah pernikahan dibandingkan satu kata: bahagia! Bagaimana seorang Nania, perempuan yang sempurna, entah itu wajahnya, otaknya, sampai karirnya, membuat geger keluarga karena secara mengejutkan dia menerima pinangan Rafli, seorang laki-laki yang biasa. Bahkan, Nania sendiri pun bingung ketika orang bertanya apa kelebihan Rafli sehingga dia memutuskan untuk menikah dengannya. Rafli adalah laki-laki biasa, wajahnya biasa saja, otaknya biasa saja, karirnya juga biasa saja, bahkan setelah menikah, penghasilan Nania lebih besar daripada Rafli. Akhirnya Nania menemukan jawabannya, jawaban yang orang lain belum tentu (dan tidak harus) paham, yaitu KEBAHAGIAAN. Walaupun biasa, Rafli merupakan sosok yang sempurna sebagai seorang suami, ayah, dan pemimpin keluarga. Di cerita ini, sangat mungkin kalian terbawa juga seperti saya, bahwa tidak ada yang istimewa dalam cerita ini. Namun semua itu berubah setelah suatu terjadi peristiwa penting dalam kehidupan Nania, yang akhirnya membuktikan juga bahwa pilihan Nania pada Rafli merupakan pilihan yang tepat.

Jujur saja, Rafli membuat saya (dan semoga para laki-laki lain juga) iri dan menginspirasi untuk menjadi suami yang sempurna walaupun hanya laki-laki biasa, bukan laki-laki yang sempurna dari segi wajah, otak dan karir. Ya, semoga...