Tampilkan postingan dengan label #15HariNgeblogFF2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #15HariNgeblogFF2. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Juni 2012

Langit pun Tersenyum


Yah, disinilah aku sekarang, Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Tujuanku kesini sebenarnya ialah dalam rangka mengampanyekan dan mempromosikan Taman Nasional Laut Wakatobi sebagai Cagar Biosfer Dunia ke-8 di Indonesia. Sebagai putra asli Sulawesi Tenggara, nampaknya kurang afdol apabila obyek wisata di kampung halaman sendiri tidak berusaha kujadikan Cagar Biosfer Dunia. Karena sepengalamanku waktu kecil, Wakatobi yang mempunyai pemandangan yang indah merupakan tempat sehari-hari aku bermain, menghabiskan waktu, bahkan bertamasya bersama keluarga. Apalagi, aku dan rekan-rekan telah berhasil mengampanyekan dan menjadikan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu di Riau sebagai Cagar Biosfer Dunia ke-7 di Indonesia.

Aku mulai aktif di kegiatan ini di tahun 2008, bukan sekedar gaya-gayaan, segala daya dan upaya yang aku dan teman-temanku lakukan ini tak lain adalah untuk menjaga kelestarian alam serta lebih mengharumkan nama Indonesia di dunia, terutama di mata PBB. Biarlah carut-marut perokonomian dan perpolitikan kita dipandang sebelah mata oleh dunia, namun mengenai hal lingkungan, kita tidak boleh abai, karena ini juga merupakan masa depan bagi kita, terutama bagi anak-anak kita. Aku sangat senang ketika usaha kami menjadikan Giam Siak Kecil-Bukit Batu akhirnya diakui PBB, di saat kendala asap akibat pembakaran hutan marak di Riau, kami bisa membuktikan bahwa masih ada harapan untuk memperbaiki hal itu, terbukti dengan diakuinya Giam Siak Kecil-Bukit Batu menjadi Cagar Biosfer Dunia di Indonesia.

Perlu kalian tahu, Cagar Biosfer ini merupakan perpaduan keselarasan antara ekonomi, masyarakat, dan lingkungan. Jadi kasarnya, perkembangan ekonomi, harus selaras dengan sumber daya masyarakat, dan juga perlindungan lingkungan. Jadi disini tidak hanya diperlukan alam yang indah saja untuk menjadi Cagar Biosfer, namun juga diperlukan peran aktifdari masyarakat dan perkembangan ekonomi yang stabil.

Usaha menjadikan Wakatobi ini akhirnya mengemuka sejak dua tahun yang lalu, satu tahun setelah Giam Siak Kecil-Bukit Batu menjadi Cagar Biosfer, kegiatan kami stagnan, tidak ada hal baru yang bisa kami lakukan. Maka aku pun berinisiatif untuk mengajukan daerahku, tempat kenangan masa kecilku, sebagai Cagar Biosfer berikutnya. Bukan hal yang mudah, karena kebiasaan masyarakat Indonesia pada umumnya, serta masyarakat Wakatobi pada umumnya, yang masih kurang peduli pada alam, padahal unsur masyarakat ini yang menjadi sangat vital dalam kegiatan ini. Bagaimana bisa lingkungan tetap asri dan terjaga bila kebiasaan buruk seperti membuang sampah sembarangan  ataupun perusakan terumbu karang tetap berlangsung? Atau apa yang terjadi apabila Wakatobi ini tidak indah dan asri? Pastinya tidak akan banyak wisatawan yang berkunjung, sehingga tidak akan menimbulkan perkembangan ekonomi yang meningkat setiap harinya. Maka dari itu aku dan teman-temanku berupaya memberi contoh dan pemahaman bagi masyarakat tentang bagaimna cara bersatu dengan alam, menjaganya, bahkan menjadikannya sumber uang bagi daerah. Untungnya, kegiatan ini didukung penuh oleh pemerintah pusat maupun daerah, sehingga tugas kami tidak beigitu berat, dan lambat laun Wakatobi ini menjadi daerah yang bersih, asri, indah, dan yang paling penting dicintai oleh masyarakatnya.

Akhirnya, perjuangan kami tidak sia-sia, April 2012 ini UNESCO telah menyepakati bahwa Taman Nasional Laut Wakatobi berhasil menjadi Cagar Biosfer Dunia kedelapan di Indonesia. Walaupun penyerahan piagam penetapannya baru akan diberikan September nanti, tak ayal aku yang mendengar kabar ini begitu gembira. Aku dan teman-temanpun segera berlarian ke tepi pantai Wakatobi, berteriak-teriak senang, hingga akhirnya berbaring di atas pasir pantai sambil memandang langit, sekilas, kulihat langit pun tersenyum melihat keberhasilan kami, keberhasilan warga Wakatobi dan Indonesia untuk mengharumkan nama bangsa di mata dunia.

Minggu, 24 Juni 2012

Aku Tak Mengerti


Makassar, 20 Juni 2011.

Museum Kota Makassar dilanda kepanikan, pagi itu telah terjadi kebakaran di museum, tepatnya di  ruang penyimpanan koleksi keramik kuno, dan ruang tempat penyimpanan barang-barang pernikahan adat Bugis. Sontak kejadian itu membuat geger kota Makassar, namun untungnya tidak ada koleksi museum yang rusak maupun terbakar.

Tak urung, media-media cetak serta portal berita nasional menjadikan kebakaran ini sebagai headline di bagian peliputannya. Okezone.com, detik.com, metrotvnews.com, hingga inilah.com serentak memasang judul: “Museum Kota Makassar terbakar” sebagai headline di masing-masing situs berita. Kejadian kebakaran ini membuat masyarakat Makassar prihatin sekaligus lega. Prihatin karena pihak museum bisa kecolongan terjadi kebakaran, sekaligus lega karena tidak ada benda-benda kuno bersejarah yang rusak maupun hilang. Jauh daripada itu, ada sepasang suami istri yang begitu kecewa, tidak mengerti, tidak percaya dengan keadaan yang mereka hadapi terkait dengan kebakaran yang terjadi pagi itu.

Sehari sebelumnya, Makassar, 19 Juni 2011.

Sepasang suami-istri  asal Inggris, Matt dan Cindy Baker adalah sepasang suami-istri kaya raya penjelajah dunia. Bukan tanpa alasan mereka berkeliling dunia, karena mereka merupakan kolektor keramik ternama di dunia, terutama keramik-keramik kuno yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Banyak cara mereka lakukan untuk mendapatkan koleksi keramik kuno itu, namun yang terutama ialah dengan cara mencurinya. Hebatnya, belum pernah sekalipun mereka terbukti bersalah atas beberapa kasus pencurian keramik kuno yang pernah terjadi.

Siang itu, perencanaan yang matang dari Matt dan Cindy telah dibuat. Kali ini targetnya adalah keramik kuno Cina dan Jepang dari Dinasti Ming abad ke 14-17 yang disimpan di Museum Kota Makasaar. Tidak main-main, sepasang suamii istri ini telah berada di Makassar sekitar satu bulan untuk melaksanakan dan merencanakan pencurian ini. Dan tibalah waktu yang mereka pikir sesuai untuk melakukan pencurian ini, yaitu hari minggu tanggal 19 Juni malam.

Blue print dari rencana ini telah tersusun rapi, bagaimana cara mereka bersembunyi, cara mencuri, hingga cara mengambil koleksi keramik yang ada secara aman dan bebas tanpa dicurigai petugas. Tidak lupa pula cara mereka melarikan diri telah juga tercetak denga sempurna. Maka minggu siang itu, sekitar pukul 13.30 mereka mendatangi museum yang jam operasionalnya hanya sampai pukul 14.00. Sengaja mereka memilih hari minggu dalam melaksanakan aksinya, karena senin merupakan hari libur bagi museum, museum tutup setiaphari senin. Sesampainya di dalam, mereka langsung bersembunyi di tempat yang telah mereka perhitungkan sebelumnya. Ya, mereka telah berkali-kali datang ke museum untuk memastikan tempat yang kira-kira dapat dijadikan tempat bersembunyi. Toilet yang rusak mereka pilih sebagai tempat bersembunyi, karena  sesuai pengamatan, toilet ini kurang diawasi, dan cenderung diabaikan oleh petugas museum.  Mereka bersembunyi sampai kira-kira pukul 18.00, dimana pada waktu tersebut, museum telah benar-benar sepi, dan jarang sekali petugas museum mengecek hingga ruangan dalam museum, karena museum ini pun terkenal dengan keangkerannya. Mereka pun keluar dari tempat persembunyian, dan segera menyalakan lilin yang telah mereka persiapkan sebelumnya sambil melihat kembali blue print yang mereka bawa. Lilin ini mereka butuhkan sebagai penerangan karena apabila malam tiba semua lampu di museum dipadamkan. Sekitar pukul 03.00 dini hari keesokan harinya, dimulailah aksi pasangan tersebut. Belum lagi dimulai, terdengar suara gemerisik di dekat mereka, ternyata seekor kucing!

“Husssssh,” usir Cindy. Kucing itu menggeram sebentar lalu beranjak pergi.

“Sudah, ayo kita lakukan, jangan lupa matikan lilinnya,” ujar Matt. Cindy pun mematikan lilin dan segera mengikuti suaminya.

Sekitar  tiga jam waktu yang mereka butuhkan untuk mengumpulkan keramik-keramik incaran yang ingin mereka ambil. Namun belum selesai aksi mereka, tiba-tiba Cindy melihat kobaran api yang menyala.

“Matt, ada kebakaran!” raung Cindy kepada suaminya.

“Oh, sial, petugas akan segera kemari kalau begitu. Ayo kita segera melarikan diri!”

“Tapi, keramiknya?” ratap Cindy.

“Sudah, jangan dipikirkan, daripada kita tertangkap nantinya.”

“Aku tidak mengerti  kenapa kita bisa gagal, padahal rencana kita sudah begitu sempurna, aku tidak mengertiii!” Cindy mulai histeris, namun tak urung dia tetap mengikuti suaminya.

Mereka pun segera melarikan diri, dengan meninggalkan buntelan berisi keramik yang tidak sempat mereka bawa. Api pun segera membesar dan membakar sebagian museum.

***

Pemadaman api berlangsung lancar, petugas pun dimudahkan dalam menyelamatkan keramik-keramik kuno karena keramik kuno itu telah berada dalam satu buntelan, tetapi tidak ada yang menyadari keanehan itu, karena konsentrasi petugas hanya pada pemadaman api dan penyelamatan benda-benda museum. Sumber api disimpulkan berasal dari hubungan arus pendek listrik, semua media pun memberitakan begitu. Tetapi sebenarnya, yang terjadi adalah kebakaran berasal dari lilin yang tidak sempurna dimatikan oleh Cindy, dan api yang masih ada pada lilin tidak sengaja tersenggol oleh kucing yang tadi mengagetkan Cindy, sehingga api menjalar membakar  kertas-kertas blue print pencurian Matt dan Cindy yang berada di dekat lilin, dan akhirnya membesar membakar museum.

Sabtu, 23 Juni 2012

Memori Tentang-Mu


Sebuah bar, di bilangan Jakarta Barat.

Asap rokok dan bau alkohol menguar keras di ruangan itu, sementara itu di sebuah meja ada dua orang pemuda yang sedang bermain kartu.

“Coy, daripada iseng-iseng, mening kita taruhan aja yuk!” ajak Dedi, pemuda pertama. Dari nada bicaranya dia sudah dalam keadaan mabuk.

“Boleh coy, siapa takut?!” tantang pemuda kedua, Lilik, yang dalam keadaan tak kalah mabuk.

“Oke, yang menang dapet tiket liburan ke Bali ya, setuju?” Dedi mengajukan tawaran.

“Boleh, siapa takut?” Sambut Lilik.

Setengah jam berlalu, akhirnya muncul pemenang.

“Haha, gw yang menang coy, siapin tiket buat besok ya?” Dedi tertawa gembira.

“Sial,” teriak Lilik sambil membanting kartu. “Oke, besok gw pastikan tiket telah siap.

Dedi pun pulang ke rumah dengan hati senang, walaupun dalam keadaan mabuk, ia bisa sampai rumah dengan selamat.

Sesampainya di rumah, dia menemukan dinding rumahnya berlumuran darah, bahkan bau amisnya masih tercium, dan bau bangkai pun semakin menyengat hidung. Sambil curiga, Dedi mengendap-mengendap masuk ke dalam rumah, tanpa ia sadari, ada seseorang di belakangnya, hendak menusukkan pisau. Ketika Dedi berbalik...
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaa,” Dedi terbangun keesokan siangnya, ternyata dia hanya bermimpi. Saking mabuknya, dia tidur di sofa di ruang tamu. Masih teringat taruhannya kemarin dengan Lilik, dia pun menelepon rekannya itu.

“Halo Lik,”

“Yoi coy, kenapa?”

“ Udah siap tiketnya?”

“Udah dong, kita ketemu di bandara aja, tar gw yang urus disana.”

“Oke deh, gw berangkat sekarang.”

Dedi pun bergegas mandi dan berkemas seadanya. Singkat cerita,  Dedi pun bertemu Lilik di bandara, dan tanpa banyak basa-basi, tiket pun diberikan, sehingga Dedi bisa segera berangkat ke Bali.

Di pesawat, Dedi pun kembali bermimpi buruk. Kali ini dia didatangi oleh sesosok perempuan yang jelita.  Perempuan itu mengajaknya berhubungan intim, dan ketika mereka saling berhadapan, ternyata wanita itu memiliki gigi taring laiknya drakula, dan bola matanya keluar. Dedi pun terbangun sambil terengah-engah  dengan diikuti tatapan heran dari penumpang lainnya.


Bali, Pura Besakih.

Sesampainya di Bali, Dedi langsung ke Pura Besakih, entah mengapa, dia sangat mengagumi obyek wisata ini. Sekitar pukul 16.00 Dedi masih berjalan-jalan di sekitar Pura. Tak luput jari-jemarinya yang memegang kamera dengan lihai memotret setiap wanita yang lewat. Ya, Dedi memang mempunyai kebiasaan buruk, dengan mabuk, judi, dan wanita adalah tiga hal yang telah biasa ia gauli. Anehnya, kali ini, setiap dia melihat hasil potretannya, foto yang terlihat selalu wanita yang sedang menyeringai tajam kepadanya. Ini terjadi berkali-kali, setiap foto selalu seperti itu. Namun Dedi tidak ambil pusing, dia selalu langsug menghapus foto itu, dan kembali memotret wanita lainnya. Tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul 17.30, Dedi mulai kehilangan arah, dia mulai bingung dengan keadaan sekitarnya. Pura yang biasanya ramai kini hening, bahkan semilir angin pun tidak terasa. Gelap pun mulai turun, padahal Maghrib belum lagi tiba. Dedi kini berada di hutan! Kanan-kiri yang ia lihat hanyalah pepohonan, pura yang tadi menjulang di hadapannya kini hilang! Dedi pun mulai berteriak memanggil orang-orang, namun keadaan tetap hening, tidak ada yang menyahut, sampai kemudian terdengar bisikan dari pepohonan di depannya.

“Dediii...”

Dedi pun terdiam.

“Dediii...”

Bisikan itu terdengar lagi, bahkan angin yang tadi tak terasa kini mulai kencang, menerbangkan pepohonan di sekitarnya.

“Hei, siapa disana?!” Dedi akhirnya memberanikan diri untuk berteriak.

Hening, tidak ada jawaban, hanya ada suara angin bergemuruh. Dedi pun mendekati arah asal suara, dan ketika dia menyibakkan pepohonan di depannya, dia ternyata melihat...Leak!!! leak itu sedang menyeringai kepadanya. Sambil berteriak ketakutan, Dedi pun berbalik lari dan pergi dari situ. Sayangnya, secepat apapun Dedi berlari, leak itu berhasil mengejarnya, dan menikamnya dari belakang...

Dedi tidak sadarkan diri, dia pingsan. Kali ini dalam pingsannya dia bermimpi sedang terombang-ambing di sebuah jembatan, dengan lautan api di sebelah kanan dan kirinya! Itu mengingatkannya pada neraka! Bayangan-bayangan dirinya melakukan judi, mabuk-mabukan, bahkan bermain wanita berkelebat di sekitarnya, seolah seperti film yang sedang diputar di teater.  Dedi pun mulai menangis, meratapi nasibnya, menyesalkan tindakannya di masa lalu, dan mulai mengingat kembali Tuhannya. Tuhan yang hanya berada di dalam memorinya, bahkan dia telah lupa sama sekali dengan Tuhan, karena terlalu asyik mengejar kesenangan di dunia. Teringat kembali dirinya sewaktu kecil, yang begitu rajin sembahyang, mengaji, bahkan sempat pula menjadi juara Azan se-nasional. Semua berubah ketika dia SMP, ketika ibunya meninggal, membuat dunianya berubah 180 derajat. Dia pun mulai menangis...

Keesokan harinya, mayat Dedi ditemukan di sekitar Pura Besakih, kematiannya terindikasi karena tersambar petir yang tiba-tiba muncul di sore yang padahal begitu cerah.

Jumat, 22 Juni 2012

Sasirangan



Kiki, 23 tahun merupakan seorang pemuda tanggung dari daerah Banjarmasin. Sehari-hari tidak ada hal rutin yang ia kerjakan. Ya, dengan kata lain dia adalah pengangguran. Ia sesekali hanya membantu orangtuanya berdagang. Setelah lulus SMU enam tahun yang lalu, Kiki tidak melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi karena masalah klasik, biaya.

Seperti pagi ini, Kiki masih bermalas-malasan di dalam kamarnya. Sembari mendengarkan siaran radio pagi, Kiki masih asyik menghayalkan Rina, perempuan cantik yang sering diajaknya chatting di facebook. Kiki merasa dia jatuh cinta pada Rina, namun sayang, jarak yang jauh memisahkan mereka. Rina tercatat sebagai seorang mahasiswi di sebuah institut di kota Surabaya. Suasana rumah di pagi ini memang sepi, ayah dan ibu Kiki sudah berangkat sejak subuh tadi ke pasar terapung untunk berjualan. Orangtua Kiki berjualan sasirangan, kain khas Banjar yang banyak orang menyebutnya batik-nya Banjar, padahal anggapan tersebut salah, batik dan sasirangan sangat berbeda dalam hal pembuatannya, juga motifnya, mungkin yang sama hanya kekhasannya, batik dari Jawa, sedangkan sasirangan dari Banjar.

Kiki beranjak ke dapur untuk sarapan Soto Banjar yang telah disiapkan oleh ibunya. Semalam Kiki tidak bisa tidur, itu diakibatkan oleh pernyataan Rina semalam melalui chatting facebook, bahwa Rina akan menghabiskan liburan semesterannya di kota Banjar, menginap di rumah tante temannya. Di percakapan tadi malam juga Rina mengatakan ingin bertemu secara langsung dengan Kiki, pacar virtualnya. Mengenai pacar virtual ini, sebenarnya Kiki sendiri yang pertama kali mengajak Rina untuk berpacaran meskipun lewat dunia maya, Kiki tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat Rina akan benar-benar datang ke Banjar untuk menemuinya. Sebenarnya, masalahnya adalah, bahwa Kiki telah mempunyai tunangan, nama gadis itu adalah Siti, dan pagi ini mereka berjanji akan bersama-sama mengunjungi Pasar terapung untuk membantu orang tua Kiki.

Sekitar pukul sepuluh, Kiki telah siap untuk berangkat ke pasar. Sambil menggandeng Siti, mereka berdua asyik bersenandung sambil bercanda. Butuh sekitar dua puluh menit untuk mencapai pasar terapung. Suasana Banjar pagi itu yang cukup sejuk membuat perjalanan mereka berdua terasa begitu menyenangkan, seakan segala masalah hidup dapat terlupakan. Sesampainya di bantaran sungai Barito, Kiki segera mencari perahu orangtuanya. “Ah, itu dia,” ujar Kiki sambil menunjuk ke sebuah perahu yang nampaknya sedang ada pelanggan. Siti pun berinisiatif memanggil orang tua Kiki, “maaak... paaak...” panggilnya sambil melambai. “Hei Siti, ayo cepat bawa Kiki kemari, suruh dia bantu orangtuanya,” ibu Kiki membalas panggilan Siti. Mereka berdua pun beranjak ke perahu orang tua Kiki.

Sekilas Kiki melihat beberapa perempuan sedang bertransaksi dengan ibunya. Perempuan-perempuan ini tampaknya bukan dari Banjar, karena mereka terlihat sedikit asing dan juga kelewat antusias memilih sasirangan. Mungkin untuk oleh-oleh, pikir Kiki. Begitu sampai di perahu, Kiki langsung disambut ayahnya, “Ayo Kiki, layani pembeli, gadis-gadis ini dri Surabaya, mereka mau membeli sasirangan kita buat oleh-oleh katanya,” sambil berkata demikian, salah seorang perempuan calon pembeli sasirangan itu menoleh ketika disebutkan nama Kiki. Tanpa sengaja pandangan Kiki dan perempuan itu beradu, dan sesaat mereka terkesiap.

“Kiki...” kata sang perempuan.

“Rina...” balas Kiki sama terkejutnya.




P.S: bersambung ke http://putrinusantara.blogdetik.com/2012/06/22/sasirangan-2/

Kamis, 21 Juni 2012

Aku kembali




Lelaki tua itu sedang termenung sendiri di rumah tua-nya. Dia memang hidup sebatang kara setelah ia bercerai dengan istrinya. Anak satu-satunya, Rini, ikut dengan sang istri, dan mereka menetap di Bandung, sementara sang lelaki tua yang bernama Jun memutuskan untuk hijrah ke Surabaya demi menghilangkan segala jenis kenangan tentang keluarganya. Sampai beberapa saat lalu, ada pria penelepon gelap yang meminta untuk bertemu di Kota Tua Surabaya, itu jelas bukan telepon salah sambung, karena si penelepon tahu nama asli si lelaki tua, dan dia mengatakan bahwa dia memiliki satu kejutan untuk Pak Jun. “Topi kuning,” begitulah ciri-ciri si penelepon gelap tanpa memerinci lebih jelas posisinya, pokoknya Kota Tua Surabaya, titik.

Keadaan Pak Jun kala itu bimbang, ingin rasanya dia mengabaikan telepon gelap itu, mengingat maraknya kejahatan yang sering terjadi akhir-akhir ini. Di sisi lain, dia juga penasaran dengan si penelepon misterius, karena ciri-ciri “Topi Kuning” itu telah mengingatkannya pada suatu hal, yang ia sendiri celakanya lupa apa itu. Namu, walaupun lupa, firasat dan hatinya mengatakan bahwa ini merupakan suatu kejutan yang benar-benar kejutan untuknya, dan ia sendiri tak yakin apakah “Topi Kuning” itu berhubungan dengan masa lalunya atau tidak.

***

Sore hari, akhirnya dia putuskan untuk berangkat, si penelepon memintanya datang pukul 18.00, sehingga Pak Jun harus berangkat dari rumah sekitar pukul 17.00 kalau tidak mau terlambat. Syukurlah, dia datang tepat pukul 18.00, lalu dia pun mulai mencari si Topi Kuning tersebut.

Pak Jun mulai menyusuri Kota Tua Surabaya dengan berjalan kaki, mulai dari masjid tua Sunan Ampel, masjid merah Cheng Hoo, Tugu Pahlawan, hingga Jembatan Merah, ia tetap tidak menemukan seseorang ataupun sesuatu yang berhubungan dengan topi kuning itu. Setelah agak lelah berjalan, dia beristirahat di depan gedung tua di dekat Polrestabes Surabaya. Ingin rasanya ia melapor ke polisi untuk meminta bantuan mereka, tapi batinnya tetap memaksa dirinya untuk tidak menyerah. Akhirnya, dia memutuskan untuk masuk ke dalam sebuah warung nasi di dekat situ untuk sekedar beristirahat.

Baru sedikit Pak Jun melewati pintu, terlihat sesosok wanita berciri-ciri seperti yang dicarinya sedari tadi, yaitu “Topi Kuning”, bergegas dia menemui sosok perempuan muda itu.

“Permisi mbak.”

Perempuan itu terlonjak kaget, “oh iya, ada apa Pak?”

“Benar ini yang menelepon saya tadi pagi?”

Perempuan itu menerawang jauh, hening, dia lalu berkata, “anda tidak mengenali saya?” tanyanya. “Atau anda tidak ingat tentang topi kuning ini?” tanyanya lagi.

“Saya...,” belum sempat Pak Jun menyelesaikan kalimatnya, perempuan itu langsung memeluknya. “Saya Rini Paaak,” si perempuan berkata lirih sambil menangis. Sementara Pak Jun hanya tertegun dan mulai menyadari sesuatu. Dua puluh tahun lalu, ketika meninggalkan mantan istri dan anaknya untuk hijrah ke Surabaya, Rini yang waktu itu masih berusia 7 tahun sempat berujar, “Ayah, aku pasti kembali padamu, dengan mengenakan topi kuning.” Pak Jun pun tak bisa menahan air matanya, dan mulai menangis.

“Benar kamu Rini nak?”

“Benar Pak, topi kuning ini buktinya, tidakkah Bapak mengingatnya?” Sahutnya sambil melepaskan pelukannya.

“Bapak sudah ingat sekarang nak, maafkan Bapak telah melupakanmu. Lalu tadi yang menelepon siapa? Bukankah laki-laki?”

“Perkenalkan Pak, nama saya Ali, saya yang menelepon tadi,” kata sebuah suara pria tiba-tiba.

“Iya Pak, ini Ali. Inilah kejutan yang Rini ingin berikan kepada Bapak. Ali ini calon suami Rini, dan Rini kesini ingin meminta doa restu dari Bapak. Sengaja Rini meminta Bapak kesini, karena Rini tidak tahu alamat Bapak di Surabaya.”

Tidak terdengar suara lagi dari Pak Jun, hanya ada tangisan bahagia yang terdengar, setalah dia mendapat kejutan dari anaknya Rini yang sudah dua puluh tahun tidak bertemu.

Rabu, 20 Juni 2012

Genggaman tangan




Solo, Jawa tengah, pertengahan 1998.

Liburan sekolah kali ini aku bersama keluargaku mengunjungi paman-bibiku di kota Solo. Sebenarnya di Karang Anyar sih, tapi entah kenapa lebih familiar dengan sebutan Solo saja di keluarga kami. Sekitar pertengahan tahun ini sebenarnya sedang ada pesta sepakbola dunia di Prancis, tapi apa boleh buat, terpaksa aku tertinggal beberapa pertandingan, biar nanti aku menonton di rumah bibiku saja, batinku.

Beberapa hari di Solo, kami jalan-jalan seolah gak mau rugi, mulai candi Prambanan, Candi Borobudur, hingga Keraton Yogya kami kunjungi. Tidak lupa juga toko baju dagadu kami sambangi, maklum, belum begitu banyak produk dagadu yang ada di daerah kami, jadi mumpung jalan-jalan ke Jawa Tengah, sekalian saja mampir.

Hari terakhir di Solo, rencana dadakan muncul, yaitu untuk mengunjungi Tawang Mangu atau Grojogan Sewu. Ya, setelah berputar-putar di Jawa Tengah – Yogya, rasanya ironis apabila obyek wisata yang dekat dengan rumah bibi tidak kamu kunjungi, maka dari itu diputuskan siang itu untuk berangkat. Sekitar pukul 13.00 kami berangkat, cuaca cerah dan lumayan agak panas. Perjalanan pun memakan cukup waktu, maka kuhabiskan waktuku untuk tidur di mobil. Sekitar pukul 15.30 kami sampai di Tawang Mangu, akhirnya aku berhasil menginjakkan kaki disini, setelah sebelumnya hanya mengetahui tentang Tawang Mangu ini di teks buku Bahasa Indonesia. Tanpa pemberitahuan, tiba-tiba hujan muncul, tidak terlalu besar, namun menyurutkan niat keluargaku untuk turun dari mobil. Ayahku akhirnya memutuskan untuk turun hanya berdua saja denganku, karena beliau melihat betapa aku sangat ingin untuk mengunjunginya.

Disinilah aku, di bawah hujan rintik-rintik, aku menyaksikan air terjun Tawang Mangu dari dekat, juga ikut merasakan air yang ada disana, yang dipercaya orang sebagai air yang suci, air yang bisa menyembuhkan penyakit. Kami juga menyaksikan monyet-monyet yang memang banyak tersebar di Tawang Mangu. Tidak lama aku disana, karena hujan semakin deras. Kuputuskan untuk menyudahi perjalanan ini, dan mulai naik kembali menyusuri Grojogan Sewu. Tak disangka, di tengah perjalanan, banyak ranting yang jatuh hampir menimpa kami. Aku pun menggenggam tangan ayah keras-keras, karena takut kehilangan pegangan dan juga tertimpa ranting-ranting yang berjatuhan. Bisa dibilang inilah saat pertama kami berpegangan tangan dengan erat, karena sudah menjadi rahasia umum di keluarga kami, bahwa aku dan ayah seperti tikus dan kucing, tak pernah akur, apalagi sampai bergenggaman tangan. Setelah perjalanan yang agak melelahkan, kami pun sampai di mobil, tanpa kurang apapun, dan untungnya tidak tertimpa ranting-ranting yang berjatuhan.

Malamnya, kami sekeluarga mengakhiri liburan dan melanjutkan perjalanan pulang. Malam itu adalah malam final pesta sepakbola dunia antara Brazil dan Prancis, dan aku harus puas hanya mendengarkan siaran langsung final ini di radio mobil.


Juni 2012

Aku menulis cerita ini di suatu tempat, mungkin kau bisa menyebutnya surga. Malam di saat kami pulang itu, telah terjadi kecelakaan hebat yang menimpa mobil kami. Perjalanan pulang yang berlangsung tengah malam, disertai hujan lebat dan juga kurangnya konsentrasi ayahku ketika mengendarai mobil karena terbagi dengan mendengar siaran langsung sepakbola, telah merenggut nyawa kami sekeluarga. Mobil kami menabrak pembatas jalan, dan terjun ke jurang setinggi 10 meter. Hingga saat ini, mobil beserta seluruh jenazah keluargaku masih belum bisa ditemukan polisi.

Oh ya, genggaman tangan antara ayah dan aku yang terjadi pertama kali di Grojogan Sewu itu akhirnya juga menjadi genggaman tangan terakhir di antara kami. Di dunia.

Selasa, 19 Juni 2012

Ramai



"Di persimpangan, langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera, orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, di tengah deru kotamu"



Lirik lagu Yogyakarta dari KLA Project ini sedang mengalun lembut di telingaku. Tanpa sadar, pikiranku menerawang jauh ke beberapa tahun yang lalu, mungkin tepatnya puluhan tahun yang lalu, ketika aku sedang berjalan sendirian di tengah keriuhan Malioboro.

***

Siang itu, aku tak punya rencana apa-apa untuk menghabiskan waktuku di kota Yogyakarta ini. Acara yang kususun di kota ini telah berjalan sesuai rencana, hari ini memang hari terakhirku di Yogyakarta, hari yang sengaja kubuat untuk bersantai, sekedar melepaskan penat setelah lelah bekerja. Lebih dari itu, hari ini sengaja kupakai untuk bernostalgia, mengenang Yogyakarta-ku yang telah menggoreskan kisah pedih di dalam hatiku. Kuputuskan untuk berjalan-jalan ke Malioboro, sekedar untuk berinteraksi dengan masyarakat Yogya yang ada di daerah itu, sengaja tempat ini kupilih karena di tempat ini pula aku sempat menghabiskan waktu dengan gadis pujaanku yang telah tiada.

Sebenarnya aku tidak sengaja mencintai kota ini, aku pun tak sengaja hadir di kota ini, aku kesini karena dirinya, gadis pujaanku, yang memang tinggal di kota ini. Banyak hal yang telah kami lakukan bersama di kota ini, sekedar nongkrong bareng di angkringan yang ada, mencicipi  jajanan di pedagang kaki lima yang bertebaran di sepanjang jalan, hingga menikmati alunan nada dan suara yang dilagukan oleh para musisi jalanan yang memang banyak tersebar di kota ini.

Kini aku berjalan sendirian tanpa gadisku, aku mengenang tempat-tempat yang dari dulu masih lestari hingga kini. Sempat pula aku berbincang dengan pedagang langgananku dahulu yang sampai sekarang masih ada di Malioboro ini. Aku tersenyum sendiri menikmati Malioboro ini, seakan membalas senyuman yang diberikan Malioboro kepadaku. Bisa dikatakan, senyum Malioboro ini tidak akan lekang oleh waktu, sampai sekarang aku masih bisa merasakan keasrian dan keaslian daerah ini, seakan tak berubah digerus oleh waktu. Yang menakjubkan, nampaknya daerah Malioboro ini tidak pernah sepi, tidak pernah kehabisan pengunjung, baik itu warga asli maupun wisatawan. Walau bukan asli Yogya, aku yang menganggap diriku “pulang” ke Yogyakarta tetap bangga dengan keadaan ini. Terselip rasa haru di dadaku, andai saja gadisku masih ada, tentu akan kunikmati Yogya ini bersamanya.

Setelah lelah berjalan, aku putuskan untuk duduk di salah satu warung kaki lima, setelah memesan makanan, akupun mulai mengeluarkan buku catatan yang biasa kubawa-bawa, dan mulai menulis...

***

“Ayah...” aku dikejutkan oleh suara istriku. “Lagi nostalgia ni yee..” cibirnya.

“Ah, Mama ngegangguin Ayah aja nih,“ sahutku sambil merangkul istriku.

“Mau nih kapan-kapan kita nostalgia ke Yogyakarta lagi?” istriku mulai menggoda.

“Boleh banget Ma, tapi nanti aja ya ngomonginnya, sekarang Ayah pengen makan,” usirku secara halus.

“Huu...bilang aja gak mau digangguin,” sahut istriku sambil beranjak pergi mengambilkan makanan.

Ah, beruntungnya aku, walau gadisku telah tiada, namun aku telah menemukan penggantinya di dalam diri istriku. Aku juga merasa bersyukur karena tulisan yang kutulis di warung kaki lima dahulu itu (yang akhirnya disempurnakan secara bersama-sama dengan temanku) akhirnya menjadi salah satu kenangan yang abadi sampai sekarang.

Oh ya, kalau kalian penasaran, nama istriku adalah... Ira Wibowo.

Senin, 18 Juni 2012

Biru, Jatuh Hati


Seberapa banyak hal-hal unik yang mungkin membuatmu  jatuh hati? Mungkin cukup banyak, karena setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda tentang apa itu unik, dan apa itu jatuh hati. Selama itu masih dalam koridor hukum dan norma yang sesuai, jatuh hati tidak akan pernah dilarang, itu adalah hak asasi setiap manusia.

Aku sedang dalam perjalanan menuju tanah Ciamis, dengan mobil butut satu-satunya yang aku punya, aku memulai perjalanan dengan santai dari Bandung, karena memang tidak ada yang perlu kukejar dengan terburu-buru kali ini. Pantai Pangandaran, ya, inilah tempat yang akan kutuju. Sebuah pantai yang istimewa di pesisir selatan Jawa Barat. Sebuah pantai yang menyimpan banyak sejarah karena sempat digunakan sebagai tempat pendaratan tentara Jepan semasa Perang Dunia ke 2. Sebuah pantai yang lekat dengan legenda sang Nyi Roro Kidul. Sebuah pantai yang berpantangan berpakaian hijau bagi para pengunjungnya.

Ngomong-ngomong tentang hijau, aku langsung melirik pakaian yang kukenakan, untungnya bukan baju hijau yang kupakai. Sebenarnya aku tak percaya dengan pantangan itu, ingin sekali-kali aku membuktikan bahwa teori itu salah, tapi aku belum punya waktu untuk membuktikan itu. Aku sekarang disini, di perjalanan ini untuk mengejar satu warna lain yang bukan hijau yang telah membuatku jatuh hati.

Sesampainya di Pangandaran, aku langsung berkeliling untuk mencari satu warna yang membuatku jatuh hati, yaitu biru. Warna yang mempunyai banyak makna, terutama bagiku. Entah mengapa warna ini sangat membuatku mabuk kepayang, aku pun tidak pernah menyangka akan sejatuh hati ini. Kulihat banyak warna biru yang kutemui di pantai ini, tapi hanya satu yang kutuju.

Laut biru? Ah, itu memang indah, tapi tidak cukup untuk membuatku jatuh hati, aku tidak semelankolis itu.

Langit biru? Tak kalah indahnya, tapi sama seperti laut biru alasan yang kugunakan.

Gadis berbaju biru? Well, cukup menggoda, tapi itu belum mampu membuatku jatuh hati.

Gadis berbikini biru? Itu sangat menantang, tetapi aku bukan tipe pria seperti itu, jadi aku tidak jatuh hati pada bikini biru.

Ah, akhirnya kutemui si biru yang membuatku jatuh hati. Jauh di tepi pantai sana aku melihat si biru ini. Bukan benda tunggal memang, karena cukup banyak si biru ini yang kulihat. Ya, yang kulihat disana merupakan segerombolan orang yang mengenakan pakaian biru, well ya, memang segerombolan pria, tapi aku masih normal kok. Karena si biru yang membuatku jatuh hati ini ialah si biru kebanggaan masyarakat Jawa Barat. Pangeran biru, Maung Bandung, Persib Bandung, apapun sebutannya. Biru inilah yang membuatku jatuh hati. Sengaja aku kejar sampai Pangandaran sini karena memang mereka sedang mengadakan pemusatan latihan di pantai Pangandaran ini.

Minggu, 17 Juni 2012

Sehangat Serabi Solo


Serabi Solo... Apa itu? Walaupun asli Solo, aku sekarang bekerja dan tinggal di Bekasi, dan otomatis Serabi Solo yang asli aku sangat jarang sekali menikmatinya. Oh ya, bukannya tidak mencintai kuliner daerah sendiri, tapi jujur saja, aku lebih familiar, dan bahkan menganggap bahwa serabi hijau Rengasdengklok Karawang ialah makanan paling enak sedunia. Lalu apa hubungannya? Aku kan di Bekasi, bukan Karawang? Bersyukurlah Chairil Anwar diciptakan, karena berkat beliau, semua orang jadi tahu bahwa Bekasi – Karawang itu dekat. Berkaitan dengan serabi Dengklok itu, sebenarnya makanan ini pertama kali disajikan oleh sang pujaan hatiku yang asli Rengasdengklok, Karawang, sehingga wajar saja kalau aku menganggap serabi hijau Rengasdengklok adalah makanan paling enak sedunia. Kalau kalian pria, kawan, kalian pasti mengerti apa yang terjadi apabila kita blak-blakan menyebutkan makanan khas daerah wanita pujaan kita TIDAK ENAK. Tolong jangan dibayangkan.

Sudah beberapa hari ini aku pulang kampung ke Solo, menemui orangtuaku yang telah lama tidak bertemu. Mungkin sudah sekitar 25 tahun semenjak kecelakaan yang menimpa kedua orangtuaku, dan merenggut nyawa mereka. Sehingga aku yang waktu itu masih berusia 3 tahun, terpaksa pindah ke Bekasi, tinggal di tempat pamanku, satu-satunya keluarga yang kumiliki. Maka dari itu kawan, kalian harus mengerti mengapa aku jarang, bahkan bisa dikatakan belum pernah makan serabi Solo. Mungkin sudah, tapi kau mengertilah, anak berusia 3 tahun, dan kini berusia 28 tahun, pasti lupa apa-apa saja yang pernah dimakannya sewaktu kecil.

Sekarang, saat ini, aku berdiri di wilayah Pasar Klewer. Niatku cuma satu, bertekad menikmati dan mengobati rasa penasaranku terhadap makanan yang satu ini, Serabi Solo. Masuk sedikit ke dalam area pasar, aku langsung menemukan satu kedai serabi yang tertera di spanduknya: Serabi Solo No.1. Aku langsung masuk dan menikmati kuliner khas Solo ini. Yang mengagetkan, ternyata tampilannya tidak beda dengan serabi Dengklok, serabi hijau, dengan “sambal” gula merah. Aku tak ambil pusing, aku pun menikmati makanan ini. Aku excited, makanan ini sama enaknya dengan Serabi Dengklok. Setelah beres makan, aku sambil senyum-senyum keluar dari kedai dan melanjutkan perjalanan, karena rencanaku memang hari ini adalah hari terakhirku di Solo.
***
Aku sekarang berada di bus antarkota Solo-Bekasi, tiba-tiba di sebelahku duduk sosok yang aku rasa sudah familiar denganku, aku mengambil inisiatif untuk menyapanya.

“Maaf Mas, mau kemana ya?”

Dia menjawab, “Oh, saya mau pulang kampung Mas.”

“Memangnya asli mana Mas?”

“Saya asli Karawang, tepatnya di Rengasdengklok. Mas tahu dong Rengasdengklok?” sahut dia sambil tersenyum.

Aku terperanjat, “jadi, Mas asli Karawang? Tahu cara membuat serabi Dengklok?”

“Ya jelas tahu lah Mas, serabi Dengklok kan tidak ada bandingannya, bahkan Serabi Solo pun kalah. Satu-satunya resep serabi yang saya tahu ya serabi Dengklok itu, gak ada lawannya deh.”

Aku pun termenung, berpikir keras, apakah butuh 25 tahun lagi aku menikmati Serabi Solo yang sebenarnya? Asal kau tahu kawan, orang yang kuajak ngobrol di bus itu ialah penjaga kedai Serabi Solo No.1 yang tadi kunikmati!

Sabtu, 16 Juni 2012

Sepanjang Jalan Braga


Aku menerawang jauh, tiket kunjungan ke Braga telah kupegang erat di tangan. Ya, liburan kali ini aku memutuskan untuk jalan-jalan ke Portugal, tepatnya ke kota Braga. Telah terbayang di benakku galeri seni House of Coimbra, museum arkeologi Museu D. Diogo de Sousa, hingga tempat spa Aquafalls Spa. Yah, lumayan lah untuk sejenak refreshing, bukannya aku tidak cinta tanah airku, meskipun aku tinggal di Bali, aku telah cukup jenuh berada disini, apalagi dengan aktivitas pekerjaan sehari-hari yang sangat menyita waktu dan tenagaku. Beruntungnya aku, ada yang menjual tiket paket wisata murah ke Braga, tanpa pikir panjang aku langsung ambil kesempatan itu, kapan lagi aku bisa ke luar negeri dengan harga yang murah meriah.

Tibalah saat keberangkatan. Setelah check-in dan mengurus segala tetek bengek, akhirnya aku dapat duduk dengan nyaman di pesawat, seketika aku langsung tertidur untuk menikmati perjalanan panjang. Aku terbangun ketika pesawat telah mendarat, wah, cepat sekali pesawat ini mendarat, pikirku, aku pun siap-siap untuk turun dari pesawat. Masih dalam keadaan setengah mengantuk, aku pun langsung naik mobil travel jemputan yang memang akan menjemputku sesuai dengan perjanjian di paket perjalanan ini. Sejenak aku membatin, ah, Portugal ini mirip-mirip Indonesia juga ternyata, tak lama aku pun langsung terlelap kembali.

Aku dibangunkan oleh pak supir tak lama kemudian, “Welcome to Braga, Sir,” aku hanya tersenyum. Aku turun dari mobil, lalu aku menelusuri jalan di Braga ini, aku agak heran juga mengingat situasi disini sangat mirip Indonesia, tetapi walau demikian, keindahan arsitektur kuno khas Eropa yang ada di sepanjang jalan ini sangatlah indah, belum lagi pedagang lukisan yang ada, menambah keyakinanku bahwa ini adalah taman impianku, Eropa. Aku pun mulai menuju obyek wisata pertama yang aku ingat, House of Coimbra. Malu bertanya sesat di jalan, begitu pikirku, lalu aku bertanya pada seseorang yang kutemui di pinggir jalan, nekat aku bicara dengan bahasa Inggris, karena itu bahasa internasional, walaupun aku ragu juga dia akan mengerti, mengingat bahasa Portugis yang memang lebih dominan disini.

“Excuse me Sir,” aku memulai pembicaraan.

“Yes?” dia hanya menjawab singkat.

“Where is House of Coimbra?”

“Eh?” dia tampak kebingungan, lalu dia bertanya lagi kepada temannya, “Kang, ngartos teu eta bule nyarios naon? Abdi mah kirang tiasa nyarios Inggris euy,” orang kedua tersebut lalu menghampiriku.

“What happen Mister?”

“Where is House of Coimbra?” aku mengulang pertanyaanku.

“Eh, what is that?”

“It’s an art gallery,”

“And where is it?”

“Don’t be kidding, of course in Braga,” aku mulai kesal.

“Wait a minute,” dia lalu mengambil hp-nya dan mulai mengetik sesuatu, dan dia tersenyum, “oh, it’s not in 
this Braga.”

“Eh, what do you mean?” aku mulai bingung.

“It’s Portugal’s Braga, but this is Indonesian’s Braga.”

“Hah? What do you mean with Indonesian’s Braga?”

“This is Bandung sir, not Portugal.”

“Apa??? Masa sih ini di Bandung?” Aku seketika pingsan, shock. Sesaat sebelum pingsan, aku sempat melihat orang itu tak kalah kagetnya mendengar aku yang memang berwajah indo ini berbicara bahasa Indonesia.

Jumat, 15 Juni 2012

Kerudung Merah




Aku terjebak...

Entah apa yang ada di pikiranku ketika aku memutuskan untuk liburan dan bersantai di Danau Toba ini, apa memang aku sangat penasaran dengan Danau Toba ini, atau Pulau Samosirnya kah yang membuat aku penasaran? Atau bahkan cerita-cerita yang terdengar bahwa di sekitar Danau Toba ini selalu ada perempuan-perempuan cantik yang konon kecantikannya telah melegenda? Yang jelas sekarang aku telah aku berada disini. Well, sebenarnya tidak masalah juga liburan kesini, yang jadi masalah adalah, ketika tak sengaja aku melihat berita sehari sebelum aku berangkat kesini, aku melihat adanya pertempuran antara Gerakan Pemberontak dengan Tentara Indonesia. Aku tidak berpikir panjang waktu itu, aku pikir toh itu hanya sesaat saja, tidak bakal ada lagi pertempuran. Landasan pemikiranku waktu itu ialah bahwa aku sudah sangat tidak mempercayai media , tidak akan pernah, tetapi ternyata kali ini aku salah, media-media sialan itu kali ini benar, sedang terjadi pertempuran sengit disini, dan aku terjebak di dalam hotel –yang untungnya mau menampungku, tidak bisa kemana-mana, sudah tiga hari terus berlangsung seperti ini.

Hari keempat, akhirnya pegawai hotel mengabarkan bahwa situasi telah aman, dan aku diijinkan untuk keluar berjalan-jalan, bahkan disarankan untuk segera mengakhiri liburan. Aku berkata bahwa aku akan berpikir terlebih dahulu, aku masih ingin menikmati keindahan Danau Toba ini. Aku pun mulai berjalan-jalan, dan benar sekali, Danau Toba dan Pulau Samosir memang sangat indah, tinggal menunggu perempuan cantik yang legendaris, yang aku sendiri kurang yakin bahwa mereka bakal keluar rumah, mengingat situasi masih panas, masih rawan konflik. Tidak lama aku berjalan, akhirnya aku melihatnya, seorang perempuan cantik berkerudung putih, nampaknya ia sedang tergesa-gesa menuju kediamannya. Sempat aku mengabadikan wajahnya melalui kamera digital yang aku bawa, dan beruntungnya aku, foto yang aku ambil begitu sempurna, sesempurna wajahnya. Tak bosan-bosannya kupandangi foto dalam kamera itu, kupandangi wajahnya, seakan mengingatkanku kepada seseorang yang telah lama hilang di dalam kehidupanku.

DORR..

Letusan senjata menyadarkanku, baku tembak ternyata belum selesai, aku pun lari terbirit-terbirit menuju hotel, sempat terpikirkan nasib si wanita berkerudung putih, tetapi hanya sekilas, karena aku tidak mengenalnya, aku memutuskan untuk terlebih dahulu menyelamatkan nyawaku.

Sesampainya di hotel, aku langsung mendekam di dalam kamar, seharian, bahkan sehari semalam, karena kuputuskan untuk tidak keluar kamar lagi, dan langsung tidur ketika malam telah turun. Tak kupedulikan suara baku tembak yang terjadi di luar, yang kupikirkan hanya satu, besok aku harus segera pergi dari sini.

Keesokan harinya aku dibangunkan oleh suara-suara teriakan orang-orang dari luar hotel. Setelah aku longokkan kepala keluar, ternyata telah ditemukan mayat seorang wanita di luar hotel. Aku pun segera bergegas turun untuk melihat lebih jelas.
Sesampainya di luar, ternyata korban seorang perempuan, dan berkerudung. Untungnya kerudung perempuan ini merah, bukan putih seperti perempuan yang kupotret kemarin. Terdengar selentingan bahwa korban merupakan korban peluru nyasar, ya, peluru nyasar yang sayangnya memakan korban orang tidak berdosa. Aku pun terus mendekat ke arah sang perempuan yang telah menjadi mayat, kuperhatikan dengan seksama bahwa wajahnya mirip dengan perempuan yang kupotret kemarin. Sesaat, aku tak bisa menahan emosiku, akupun berteriak histeris, karena ternyata perempuan ini memang perempuan yang sama dengan yang kemarin, dan warna kerudungnya yang merah merupakan warna merah darah, darah yang mengaliri kerudungnya akibat peluru nyasar yang menembus kepalanya.

Kamis, 14 Juni 2012

Jingga di Ujung Senja


Seorang kakek tua berusia 60 tahun yang divonis mengalami kanker paru-paru akut dan telah diramalkan oleh dokter bahwa usianya tidak akan lama lagi sedang melamun dan merenung di sisi sebuah sungai terkenal di Palembang. Dengan disaksikan oleh jembatan ampera yang kian lama kian menua, sang kakek tua seakan bernostalgia dan menerawang jauh menuju zaman mudanya dulu, zaman ketika dia mulai mengenal seorang wanita yang ia yakin merupakan cinta sejatinya.

***

Armyn, seorang asli Palembang, berangkat untuk menuntut ilmu dan kuliah di Institut Pertanian Bogor, dengan berbekal beasiswa dari kampus atas prestasi yang telah dicapainya semasa sekolah. Di kampus ini, Armyn berkenalan dengan seorang wanita, dan Armyn yakin, wanita ini merupakan cinta sejatinya, karena Armyn langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Beruntungnya Armyn, karena ternyata wanita ini satu jurusan dengannya di kampus, sehingga tidak sulit bagi Armyn untuk bersahabat dan berbagi masalah serta mencurahkan hati kepada wanita ini.

Seiring perjalanan waktu, Armyn tetap tidak mampu untuk mengungkapkan perasaannya kepada wanita tersebut. Ya, pada dasarnya Armyn memang orang yang pemalu dan pengecut, dia lebih rela dan memilih tetap bersahabat dengannya. Dia takut hubungannya dengan wanita ini rusak apabila perasaan cintanya yang menggebu, dia katakan dan curahkan kepada sang wanita.

Di sisi lain, wanita ini tidak tahu dan tidak mengerti kalau Armyn menyimpan hati untuknya. Wanita ini hanya menganggap Armyn sebagai sahabatnya, sahabat tempat ia berbagi cerita-cerita seru, bahkan tempatnya curhat juga ketika dia sedang ada masalah dalam hidup, terutama ketika wanita ini sedang bermasalah dengan pacarnya. Ya, wanita ini sering mencurahkan perasaannya dan kejadian-kejadian yang terjadi antara dirinya dengan pacarnya kepada Armyn, tanpa ia tahu bahwa hati Armyn seperti tertusuk-tusuk setiap kali wanita pujaannya curhat mengenai kehidupan asmaranya. Sementara itu Armyn hanya bisa pasrah dan menjadi pendengar serta penasihat yang baik ketika sang wanita pujaan mencurahkan isi hatinya, Armyn berlapang dada dan berbesar hati karena dia menyadari tidak ada hal lain yang bisa ia perbuat, tidak juga untuk jujur mengatakan isi hatinya kepada sang wanita pujaan.

Untuk mencurahkan dan mengungkapkan isi hatinya tentang sang wanita, Armyn bercerita kepada teman satu kosnya yang kebetulan sama-sama berasal dari Palembang, namun berbeda jurusan dengan Armyn. Okta, nama sahabatnya itu, dialah yang selama ini menjadi tempat sampah bagi Armyn dalam mencurahkan perasaan hatinya tentang sang wanita.

Beberapa tahun berlalu, mereka pun lulus dari kampus. Wanita itu mengambil langkah drastis dengan mengiyakan ajakan menikah dari pacarnya. Sementara itu, Armyn yang makin patah hati setalah ditinggal menikah oleh sang wanita pujaan hati, bertekad untuk tidak menikah seumur hidupnya, karena ia tidak yakin dapat mengganti posisi sang wanita dengan wanita lain. Ia juga takut apabila menikah, ia hanya akan menyakiti pasangannya, karena di hatinya, sang wanita pujaan tetap menempati porsi terbesar, tidak dapat terganti oleh siapapun. Okta, sang sahabat, terus menasehati Armyn untuk segera melupakan sang wanita pujaan, karena ia telah milik orang lain. Tetapi Armyn hanya berkata iya di mulut saja, sementara hatinya berkata tidak, dan ia tetap hidup sendiri sepanjang hidupnya.

***

“Armyn,” suara merdu seorang wanita seakan membangunkan Armyn dari lamunannya tentang masa lalu. Armyn yang sedari tadi matanya memperhatikan sungai Musi berbalik untuk mencari asal suara merdu itu. “Kamu...” Armyn tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya terpana menyadari sang wanita yang ada di hadapannya. “Sudah, jangan berkata apa-apa lagi. Aku sudah tahu semuanya, Okta telah menceritakan semuanya. Tekadmu, penyakitmu, vonis dokter tentangmu, dan terutama perasaanmu padaku,” wanita itu menjelaskan panjang lebar, “Andai saja aku tahu dari dulu, andai saja kita bisa memutar ulang waktu, andai saja kamu tidak terlalu takut untuk mengungkapkan kepadaku, maafkan aku...”

 “Kamu tidak perlu meminta maaf, seharusnya aku yang meminta maaf karena memendam perasaan ini kepadamu. Kamu tahu sendiri bagaimana watak dan sifat aku. Namun yang pasti, aku tidak menyesal telah mencintaimu, aku tidak menyesal tidak mengatakan ini padamu, aku bahkan menikmati perasaan ini. Aku pun menikmati saat-saat kita bersahabat dahulu, walaupun tanpa cinta. Aku pun turut berbahagia atas pernikahanmu, kehidupan bahagiamu, anak-anakmu, aku sama sekali tidak menyesal,” Armyn berkata dengan penuh kebanggaan.

“Terima kasih atas semuanya Myn, kamu memang sahabat terbaikku. Kamu rela tidak berbahagia demi aku, aku bangga padamu. Sekarang izinkan aku untuk menemanimu disini, menikmati indahnya sungai Musi dari dekat,”

“Tidak masalah, aku pun berterimakasih kamu mau menemaniku disini.”

Suasana kemudian hening, tidak ada diantara mereka berdua yang berbicara, hanya suara kendaraan dan suara orang-orang yang lalu-lalang di sekitar mereka yang terdengar. Akhirnya Armyn memutus kebisuan diantara mereka, “Sekali lagi, aku berterimakasih karena kau telah bersedia menemaniku. Menemaniku di ujung usiaku, menemaniku di saat senjaku, walaupun hanya sejenak, hal ini sangat berarti bagiku,” Armyn menghela nafas, “Aku akan selalu mencintaimu, Jingga, sampai akhir hayatku.”

Rabu, 13 Juni 2012

Pagi Kuning Keemasan


30 Desember 2011, Pulau Belitung, Bangka Belitung, pukul 23.00 WIB.


Tiga orang sahabat asal Jakarta yang sedang berlibur ke tanah Laskar Pelangi di Pulau Belitung, sedang merencanakan liburan lanjutan di sebuah pulau eksotis bernama Pulau Lengkuas.

“Nah, jadi kita berangkat kesana besok pagi pukul 04.00, tenang saja, aku telah berhasil menyewa kapal dari seorang penduduk,” Winky sang pemimpin tak resmi kelompok itu mencanangkan rencana mereka untuk esok hari.

“Tapi Win, bukankah akhir tahun ini biasanya ombaknya tidak bersahabat dan sering hujan, kamu yakin aman?” Sammy yang paling penakut diantara ketiga orang tersebut mulai khawatir.

“Alah, pengecut amat kamu Sam, sedari dua hari yang lalu kita mendarat disini, tidak aja hujan bukan? Sudah, kamu ikut saja, tidak bakal ada apa-apa kok.” Orang ketiga, Derry, turut mendukung rencana Winky.

“Aku setuju dengan Derry, dan aku yakin semua bakal aman, jadi kamu tenang saja Sam.” Winky meyakinkan lagi.

“Tapi...” Sammy membantah.

“Tidak ada tapi-tapian!” Sahut Derry dan Winky berbarengan.


 31 Desember 2011, Pulau Lengkuas, Bangka Belitung, pukul 06.00 WIB.


“Akhirnya sampai juga, benar kan Sam, tidak ada apa-apa, bahkan langit pun tidak menunjukkan tanda-tanda akan menurunkan hujan.” Winky berkata pada Sammy.

“Mudah-mudahan kamu benar Win, tapi perasaanku tetap tidak enak nih.”

Derry langsung memotong Sammy, “Sudah, tak ada gunanya kamu khawatir, ayo lebih baik kita jalan-jalan, kapan lagi kita “punya” pulau sendiri. Lihat, mercusuar itu telah memanggil kita tuh.”

Pulau Lengkuas memang sedang “kosong” saat itu, tiga orang petugas penjaga mercusuar yang biasanya bertugas sedang tidak ada di tempat, biasanya mereka datang menjelang sore hari ke pulau itu.
Kemudian terjadilah peristiwa itu, kira-kira pukul 13.00, langit tiba-tiba gelap gulita, suara petir dan gemuruh ombak mulai terdengar bersahutan, khas suasana pulau Lengkuas di bulan Desember-Januari yang memang berombak lebih besar dari biasanya, dan kadangkala hujan sepanjang hari. Ketiga sahabat itu belum lagi mencapai mercusuar ketika hujan besar yang biasa disebut badai menghujani mereka.

“Ayo, cepat berlindung di mercusuar!” Winky memimpin teman-temannya.

Mereka sampai di mercusuar dalam keadaan basah kuyup, dan untung saja pintu mercusuar tidak terkunci, jadi mereka tidak kesulitan untuk masuk ke dalamnya.

“Benar kan kataku, memangnya kalian tidak melihat di situs internet kemarin kalau Desember tuh situasinya seperti ini, kalian sih sok jagoan segala. Sekarang gimana nih, mana gak bawa baju ganti pula, kamu gagal jadi pemimpin Win!” Sammy mulai putus asa.

“Berisik kamu Sam, yang penting kan kita sekarang bisa berteduh dulu,” Winky pun mulai terpancing emosinya.

“Sudah diam kalian berdua, lebih baik kita cari sesuatu yang bisa menghangatkan kita di dalam mercusuar ini,” Derry coba menenangkan mereka berdua.

Masih dalam keadaan basah kuyup, mereka mulai mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menghangatkan tubuh, entah itu sumber api ataupun pakaian yang mungkin bisa mereka pakai untuk mengganti pakaian mereka yang basah kuyup. Sementara di luar mercusuar, hujan dan badai masih terus terjadi, tanpa ada tanda-tanda akan berhenti. Sayangnya, pencarian mereka nihil, mereka tidak menemukan apa-apa, mercusuar itu kosong melompong.

“Lihat, tidak ada apa-apa disini. Bagaimana pertanggungjawabanmu wahai Winky sang pemimpin?” ujar Sammy sinis. Winky yang sudah sangat tidak tahan dengan ocehan Sammy mulai terpancing emosinya, dan celakanya dia tidak membalas dengan ucapan, tetapi dengan suatu pukulan yang telak mengenai ulu hati dari Sammy.

Bugh...

Sammy seketika tersungkur, diam tak bergerak, tak terdengar helaan nafasnya.

“Gila kamu Win, emosi sih emosi, tapi gak sampai ngebunuh orang juga kali,” Derry dengan panik memeriksa denyut nadi Sammy, dan dia tidak merasakan apa-apa, tidak ada tanda kehidupan lagi dalam diri Sammy. Winky masih terdiam, dia masih shock dengan situasi yang tengah berlangsung. “Win!” Derry berteriak kembali ke arah Sammy, “Sekarang bagaimana ini? Jangan diam saja kamu! Lihat akibat perbuatanmu!” Tiba-tiba saja Winky berlari ke arah jendela dari mercusuar yang kebetulan terbuka, dia berniat untuk menyusul jejak Sammy dengan cara melompat dari jendela itu. “Win!” Derry menyadari apa yang bakal terjadi, sambil mengejar Sammy ke arah jendela, Derry mencoba untuk terus memanggil Winky, “Winky, jangan gila! Semua gak bisa diakhiri dengan cara itu!” Winky telah mencapai sisi jendela, bersiap-siap untuk melompat, ketika tanpa sengaja Derry yang tengah berlari kencang mengejarnya, terpeleset akibat keadaan sekitar yang licin, dan malah mendorong Winky keluar jendela! Mereka berdua jatuh dari jendela mercusuar yang letaknya lumayan tinggi tanpa bisa dicegah. Sementara hujan dan badai di luar tetap bergemuruh, masih belum berhenti.


01 Januari 2012, menara mercusuar Pulau Lengkuas, Bangka Belitung, 06.00 WIB.


Cahaya matahari pagi yang berwarna kuning keemasan masuk melalui jendela yang terbuka akibat kejadian semalam. Tidak ada tanda-tanda bahwa kemarin telah terjadi hujan badai, tidak ada tanda pula bahwa telah terjadi tragedi yang menimpa tiga sekawan.

Sammy yang sedang terbaring ikut tersiram cahaya kuning keemasan. Dia tiba-tiba membuka mata karena merasa silau, dia telah siuman, tanpa tahu kejadian yang menimpa kedua temannya...

Selasa, 12 Juni 2012

Menunggu Lampu Hijau



Di sebuah mobil sewaan...

Ah, sampai juga akhirnya gue di Sumatera Barat. Ya, gue tau ini bukan Padang, tapi gak rugi juga nyasar ke Bukittinggi, bisa lihat jam gadang yang terkenal itu. Sebelah mana ya jamnya, kok belum kelihatan? Malah adanya lampu merah di depan sana, ah, mana gak ada indikator waktunya pula tuh lampu merah.

Mobil pun berhenti di belakang zebra cross, karena memang lampu sedang merah.

Tumben ya jalanan sepi begini, sambil ngubek-ngubek isi laci mobil sewaan, Wah, ada teropong juga di mobil ini, sesuatu banget, kayanya ketinggalan nih penyewa sebelumnya.

TEEEEEEEEEEEEEEETTTT, tiba-tiba suara klakson mengagetkan, dan mobil yang mengklakson tadi menerobos lampu merah.

Gila kali ya, mentang-mentang yang punya daerah, lampu merah diterobos aja. Daripada bengong nunggu lampu hijau, mening iseng-iseng gue pake nih teropong.

Setelah browse sana-sini.

Waaaaah, ternyata jam gadangnya udah deket, keliatan jelas banget tuh di depan. Eh, tapi kok ada badut-badut segala ya, apa lagi ada event ya? Ih, mau-mauan juga jadi badut, mana kostumnya gak banget lagi. Ogah deh gue kalo disuruh jadi Winnie the Pooh atau Teletubbies. Pandangan beralih ke arah jam gadang. Hehehe, ternyata bener juga gue browsing selama ini kalo jam gadang ini angka empat romawinya pake “IIII” bukan “IV”, sayangnya kejauhan nih, belum bisa mengabadikannya deh gue.

TEEEEEEEEEEEEEEETTTT, suara klakson kedua kembali mengagetkan, dan mobil yang mengklakson lagi-lagi menerobos lampu merah.

Weleh, gue diklakson lagi. Tuh mobil nerobos lampu merah juga pula, apa udah gak pada sadar hukum ya orang-orang sini, parah banget. Errr, nyampe mana tadi gue meneropongnya ya, jadi lupa gara-gara klakson sialan itu, udahan aja ah, takut rusak juga nih teropong. Teropong dikembalikan ke tempatnya. Ngomong-ngomong ini lampu merah lama amat ya, udah hampir 3 menit belum berubah-berubah, mana perut laper pula.

TETOTETOTETOTET, klakson ketiga, kali ini si pengendara mobil berklakson unik senyum-senyum sendiri ke arah mobil sewaan.

Sial, dizolimi lagi gue, mana tuh orang pake senyum-senyum segala, udah ngelanggar peraturan tapi gak ngerasa bersalah, ya Tuhan, ampunilah bangsamu ini. By the way, udah hampir 5 menit nih, apa rusak ya lampu merah ini, kok gak berubah-rubah warna. Argh...

Tok...Tok...Tok..., tiba-tiba kaca jendela mobil diketuk dari luar.

Siapa pula ini, orang lagi misuh kok malah mau ngajak ngobrol. Jendela pun dibuka.
“Iya, ada apa Uda?”
Sambil senyum-senyum, “Maaf dik, bukan orang Bukittinggi ya?”
“Iya Uda, saya asli Jakarta, tadinya mau ke Padang, tapi malah nyasar ke Bukittinggi.” Sial nih orang malah senyum-senyum.
“Hehehe... Pantesan.”
“Lho, pantesan kenapa Uda?” bikin penasaran aja nih orang, siaaaal.
“Lampu merah ini kan memang khusus lampu merah, jadinya ya ditunggu sampai kapan pun tidak akan berubah warna menjadi kuning, apalagi hijau. Semua orang di Bukittinggi sudah tahu tentang lampu merah ini, jadi gampang ketahuan kalau Adik ini bukan asli sini. Habis, saya perhatikan dari tadi, kok mobil adik berhenti terus, seakan bingung kenapa lampunya tidak berubah warna.” Si Uda mulai tertawa terbahak-bahak.
“Saya sudah tahu kok Uda, saya tadi ketiduran di mobil,” Siaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaal, malu gueeee...

Mobil sewaan itu pun melaju tanpa memedulikan Si Uda yang masih terbahak-bahak di belakangnya.